
"Saudara kecil, aku tidak memiliki pusaka berharga, jadi maaf kan orang tua ini yang tidak bisa memberi mu apa-apa padamu." Kata Jhin Kwen dengan sedikit rasa tidak enak dan malu.
Ho Chen justru tersenyum lebar mendengar nya. "Seharusnya para senior semua tidak perlu memberikan apa-apa kepada junior ini, dukungan dan kepercayaan yang senior berikan sudah sangat membantu menyemangati junior." Ucap Ho Chen.
"Tentu saja kami mendukung mu, apa lagi ini demi kedamaian seluruh dunia, jadi kami akan siap membantumu kapan saja." Kata Gwo Jian dengan memegang pundak Ho Chen.
"Kalian bicara seperti itu karena kalian tidak ingin memberikan pusaka mu kan? Cocok nya kalian berganti nama gelar saja menjadi si pendekar kikir." Kata Su Hui mengejek mereka berdua.
"Aiya..! Tega sekali kamu saudari Hui." Jawab mereka berdua dengan serempak.
Ho Chen ikut tertawa mendengarnya, mereka berbincang-bincang dan bertukar pendapat cukup lama, bahkan Ho Chen sering mendapat nasehat dari ke tiga sepuh tersebut.
"Guru, aku pergi dulu." Ho Chen merasa terlalu lama berada di sana.
"Baiklah, lagi pula tinggal sedikit lagi kamu akan sampai di Gunung Tirai Kabut." Feng Ying menghela nafas panjang kemudian melanjutkan nya perkataannya kembali.
"Kamu sudah cukup kuat walau tidak menggunakan tehnik gabungan. Seharusnya kamu bisa berlatih tehnik Ruang Waktu dan Tehnik Mata Dewa tanpa harus pergi jauh-jauh ke Gunung Tirai Kabut." Kata Feng Ying, dia tidak mengerti kenapa Ho Chen lebih memilih pergi ke tempat nya, dan setiap kali Feng Ying ingin mengajarinya secara langsung alasannya Ho Chen tetap sama.
"Tidak apa-apa guru, aku lebih suka begini dan sekaligus belajar di tempat guru berada." Jawab Ho Chen, walau alasan sebenarnya adalah ingin melihat dunia yang lebih luas sekaligus mencari pengalaman lebih dengan berkelana, dia juga ingin mengetahui tempat tinggal guru nya, menurutnya sesuatu yang di inginkan di dapat dengan usaha keras, pastinya akan lebih menyenangkan di bandingkan diam menunggu dan mendapatkan sesuatu yang di inginkan dengan instan.
Ho Chen akhirnya pergi meninggalkan mereka berempat, dia kembali menutup wajahnya, namun tidak memakai topeng, Hanya menggunakan kain sebagai penutup separuh wajahnya.
Ketika dalam perjalanan, Ho Chen melihat rombongan prajurit istana sedang berjalan menuju keluar kota, sekaligus ada seorang yang menaiki kuda dengan jubah mewah serta mahkota emas di kepalanya, dia adalah Kaisar Hong yang ingin menjemput sendiri Kang Jian dan Qian Shin untuk ke Istana.
Kaisar Hong melewati Ho Chen yang berdiri di pinggir jalan, Ho Chen membungkukkan badan ketika melihat Kaisar menatap nya.
"Berhenti..!." Ucao kaisar Hong memberi perintah kepada para prajuritnya untuk berhenti.
"Kamu, kemarilah!." Kaisar Hong meminta Ho Chen untuk maju.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun Ho Chen maju menuruti perintah Kaisar Hong.
"Apa kamu salah satu penduduk sini?." Tanya Kaisar Hong.
"Benar Yang Mulia!." Jawab Ho Chen dengan tenang.
"Bukankah seharusnya semua penduduk sudah mengungsi, kenapa kamu masih di sini?." Tanya lagi Kaisar Hong.
Ho Chen berpikir sejenak, dia berusaha mencari jawaban yang menurutnya bisa masuk akal agar tidak di curigai oleh Kaisar Hong. "Saya tidak bisa meninggalkan tempat kelahiran saya ini." Jawab Ho Chen dengan berbohong.
Kaisar Hong mengangkat sebelah alisnya lalu berkata. "Apa kau sadar sikap mu bisa membuat nyawa mu sendiri bisa terancam? Kamu sendiri sudah jika situasi saat ini sangatlah berbahaya, kau tahu! Aku tidak mau ada korban dari salah satu warga kota ini, termasuk kamu!." Kata Kaisar Hong.
"Terima kasih Yang Mulia sudah peduli kepada saya dan seluruh penduduk di Kota ini, kami senang karena Yang Mulia begitu perhatian kepada keselamatan kami, tapi maaf Yang Mulia! Saya benar-benar tidak bisa meninggalkan kota kelahiran saya ini, walau nyawa saya akan menjadi taruhannya saya akan tetap berada di sini."
"Lancang sekali kau membantah Kaisar, Apa kau tahu kau bisa di hukum berat karena melanggar titah Kaisar!." Salah satu prajurit membentak Ho Chen.
Kaisar Hong memberi tanda agar prajurit itu tidak ikut campur, kemudian kembali menatap Ho Chen. "Aku paham akan perasaan mu, orang yang memiliki tekad kuat dan keinginan bertahan seperti dirimulah yang aku cari." Kaisar Hong turun dari kudanya dan mendekati Ho Chen. "Siapa Namamu?." Tanyanya.
"Wei Jun, bisa kau lepaskan kain penutup wajahmu itu?." Tanya Kaisar Hong sekaligus meminta Ho Chen untuk membuka cadar penutup wajahnya.
"Maaf jika hamba lancang Yang Mulia, Saya sedang Flu jadi saya tidak berani membuka nya, saya takut penyakit ini bisa menular." Jawab Ho Chen.
"Jika kamu sakit, kenapa dari kemarin-kemarin tidak mau berobat ke tabib?."
"Maaf Yang Mulia, saya hanyalah orang miskin yang berpenghasilan tidak seberapa, jadi saya tidak memiliki biaya untuk berobat." Jawab Ho Chen.
"Baiklah begini saja, kau datanglah ke istana, biar tabib istana yang memeriksa penyakitmu, dan jika kamu nanti sudah sembuh, datang lah kembali, aku ingin kau menjadi prajurit istana." Kata Kaisar Hong sekaligus memberikan 10 keping Emas. "Terimalah ini sebagai biaya kebutuhan mu." Kata Sang Kaisar menyerahkan 10 Koin emas tersebut.
Ho Chen ingin menolak, namun mengingat yang memberikannya adalah Seorang Kaisar, akhirnya dia menerima 10 Koin tersebut, Karena tidak mau membuat Kaisar malu di hadapan para prajuritnya.
__ADS_1
"Terima kasih Yang Mulia, saya tidak akan melupakan kebaikan Yang Mulia ini." Jawab Ho Chen.
"Jika kau tidak keberatan, datanglah ke istana kapan pun kau mau sekaligus mengobati sakitmu itu, dan aku juga berharap kau mau menjadi prajurit ku." Kata Kaisar Hong kemudian menaiki kuda nya.
"Akan saya pertimbangkan permintaan Yang Mulia." Jawab Ho Chen dengan membungkukkan badannya.
"Aku harap kau lekas sembuh, dan aku juga berharap agar putri ku pun juga lekas sembuh. Baiklah aku pergi dulu, jaga diri baik-baik." Kata Kaisar Hong.
Ho Chen membungkukkan badannya dengan mundur beberapa langkah, setelah Kaisar Hong pergi dia menghela nafas panjang karena berhasil membuat Kaisar Hong yakin jika dirinya adalah penduduk kota Anming.
"Yihua sedang sakit? Sebaiknya aku menjenguknya dulu kesana sebelum pergi." Batin Ho Chen kemudian terbang ke Istana.
Ho Chen mendarat di atap kamar Yihua, dia melihat Jendral Yin Lun bersama beberapa petinggi istana sedang duduk di depan kamar Yihua.
"Sihir Penghentian waktu!!."
Seketika waktu berhenti, jendral Yin Lun dan beberpa petinggi istana serta para penjaga terdiam bagai patung. Ho Chen turun dan memasuki kamar Yihua, setelah sampai di dalam dia menutup pintu tersebut dan melihat gadis yang sangat cantik sedang duduk di kursi menatap kosong ke arah luar jendela.
"Sebenarnya dia sakit apa?." Batin Ho Chen, walau dia melihat Yihua yang sedikit kurus, namun dari fisiknya Yihua terlihat baik-baik saja.
Ho Chen mendekatinya kemudian menjentik kan jarinya, seketika itu juga waktu kembali berputar seperti sedia kala.
Setelah waktu kembali normal, Yihua terkejut karena tiba-tiba muncul sosok yang memakai penutup wajah di samping nya. "Siapa Kau kenapa kau bisa berada di kamar ku? Penjaga! Penja...! Em..! Em..! Emm..!."
Ho Chen segera membekap mulut Yihua agar tidak berteriak, jelas saja Yihua memberontak. "Yihua tenang lah! Ini aku Ho Chen." Ho Chen mencoba berbicara kepada Yihua sekaligus memenangkannya.
Yihua terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali memberontak, terpaksa Ho Chen membuka penutup wajahnya, agar Yihua lebih tenang dan yakin kalau Ho Chen tidak berbohong.
Begitu melihat wajah Ho Chen yang tidak asing baginya, barulah Yihua berhenti dan terdiam. Ho Chen juga bingung melihat Yihua yang malah terdiam mematung.
__ADS_1
"Kau..! Tidak-tidak ini tidak nyata, ini hanya ilusi." Yihua masih sedikit ragu untuk mempercayainya jika yang ada di hadapan nya adalah Ho Chen.
Ho Chen jelas bertambah bingung kemudian kembali meyakinkan Yihua. "Kamu bicara apa? Ini aku Ho Chen, apa aku terlihat seperti ilusi?." Kata Ho Chen sambil meraba wajahnya sendiri karena bingung.