Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Pertempuran Pilar Angin (2)


__ADS_3

Yuen dan jagoan lainya yang masih bisa sedikit bertahan dari tekanan tersebut berusaha untuk tetap berusaha bergerak namun tetap kesulitan.


Para pasukan musuh sudah mendekat, terlihat Peiyu yang berada di barisan depan yang sudah mulai mempersiapkan racunnya, namun ketika mereka hampir sampai, ada sebuah halilintar yang begitu besar jatuh dari atas dan menghantam ke arah sebagian pasukan musuh, sehingga membuat beberapa pasukan musuh terlempar jauh dan beberapa tewas di tempat.


Dari sisa hantaman Halilintar besar tersebut, membekas sabuah lubang besar, dan berdiri 11 orang di lubang tersebut.


“Kang Jian...?" Peiyu melihat Kang Jian yang baru muncul.


Dua jagoan yang datang bersama Kang Jian terlihat seperti hampir kehabisan energi. Namun mereka bergerak ke belakang Kang Jian dan memberikan sisa energi mereka kepada Kang Jian, sehingga energi Kang Jian kembali dengan cepat, yang lain juga melakukan hal yang sama kepada teman mereka, dan kini tersisa 4 orang yang tersisa.


“Terima kasih, sekarang kalian pergi kedalam untuk memulihkan tenaga kalian, serahkan saja disini kepada kami." Ucap Kang Jian.


Wei Heng dan Touli melihat hal tersebut sedikit tidak percaya, Wei Heng segera mencari keberadaan ketua sekte yang lain, namun tidak dia temukan, kecuali hanya Yuen dan Kang Jian saja.


“Ternyata hanya beberapa tikus saja yang datang untuk mengantarkan nyawa ke sini." Ucap Wei Heng dengan tersenyum sinis.


Kang Jian menoleh ke atas, dia mengerutkan dahinya ketika mengetahui Wei Heng dan Touli yang berada di atasnya. “Bagaimana mereka bisa menjadi sekuat itu?." Batin Kang Jian.


Kemudian Kang Jian menoleh ke arah Peiyu. “Kita bertemu lagi saudari Peiyu, sekarang aku akan meminta pertanggung jawabanmu atas ulahmu yang sudah menyuruh para pembunuh bayaran untuk membunuh anak ku." Kata Kang Jian dengan dingin.


Peiyu hanya tertawa kecil mendengarnya. “Anggap saja anakmu masih beruntung karena tidak jadi mati." Kata Peiyu mengejek.


“Benar anak ku cukup beruntung, namun aku tidak yakin jika hari ini akan menjadi keberuntungan mu." Kang Jian berkata sambil mempersiapkan Tehniknya.


“Kita lihat siapa yang akan mendapatkan keberuntungan tersebut." Peiyu juga mulai mempersiap Tehniknya.


Mereka berdua sama-sama maju dan saling menyerang. Sedangkan tiga lainnya juga mencari lawan masing-masing.


Yuen di sisi lain ingin membantu, namun mereka kesulitan untuk bergerak. “Jangan kalian pikir aku akan membiarkan kalian." Kata Touli yang segera turun dan mempersiapkan Tehniknya.

__ADS_1


Touli hampir mendarat dan ingin menyerang mereka, namun 4 batu besar melayang di udara dan mendarat tepat di depannya. Seketika tempat tersebut penuh dengan debu yang berterbangan.


Batu-batu tersebut terbelah dan empat biksu keluar dari pecahan batu tersebut. “Kuil Lonceng Suci..!" Touli mundur beberapa meter.


Dia melihat biksu Shao sheng, Tao Yaoshan, dan yang lebih aneh lagi kemunculan dua biksu yang salah satunya memiliki kekuatan yang setara dengan Wei Heng, dia adalah Maha Guru generasi ke tiga An Xuan.


“Ternyata selama ini Kuil Lonceng Suci menyembunyikan kekuatanya..!" Gumam Yuen.


“Amithaba.... Budha maha pengasih, bertobatlah kalian sebelum kalian terlambat dan menyesalinya..!" Guru An Xuan berbicara dengan penuh kharisma.


“Hehh.. bicara apa kamu biksu tua." Kata Touli yang segera maju menyerangnya.


“Tehnik Api Bumi - menembus Langit." Touli melepaskan api dari tanganya dan api tersebut seperti sebuah tombak dan mengarah lurus ke arah Guru An Xuan.


Guru An Xuan tetap terlihat tenang, dia diam di tempat tidak menghindari Api yang berbentuk tombak tersebut. Ketika api tersebut sudah hampir sampai, Guru An Xuan menangkap Api tersebut dan melemparkannya ke atas.


Api tersebut melesat ke atas dan meledak menimbulkan cahaya terang di langit malam.


“Maha Guru, kami akan mengurus yang lainya." Kata Biksu Shao Sheng bersama biksu Tao Yaoshan dan satu biksu lainya.


Guru An Xuan mengangguk, Shao Sheng bersama yang lainya segera pergi ke arah Kang Jian dan lainya yang sedang bertempur.


Guru An Xuan melirik Yuen dan yang lainya yang belum bisa bergerak, kemudia dia mengeluarkan aura energinya untuk membalas tekanan dari Wei Heng.


Yuen bernafas lega setelah terbebas dari tekanan aura energi kematian milik Wei Heng, dia berterima kasih kepada Guru An Xuan dan kemudian pergi menyusul Biksu Shao Sheng di ikuti oleh jagoan yang lain.


Wei Heng begitu kesal karena aura energi kematiannya di patahkan oleh Guru An Xuan. “Biksu Tua beraninya kamu ikut campur urusanku." Wei Heng segera melesat ke bawah dan berniat menyerang Guru An Xuan.


Namun sebelum sampai kebawah, mendadak hawa di sekitarnya menjadi dingin. Jendral iblis yang sebelumnya hanya menyaksikan dari atas juga merasakan hawa tersebut, dia segera terbang lebih tinggi untuk menghindari hawa tersebut.

__ADS_1


Secara perlahan-lahan terlihat 6 bongkahan es yang tercipta dari air yang sempat di gunakan oleh dua jagoan dari sekte Bunga teratai.


Kini 6 bongkahan es tersebut berdiri kokoh, hawa dingin segera menyebar sehingga membuat ratusan pasukan iblis tidak mampu bergerak.


Bongkahan es tersebut kemudian retak sedikit demi sedikit, kemudian hancur, terlihat sosok orang yang berdiri dari pecahan es tersebut, dia adalah Qiao Ho bersama 5 jagoan yang ia bawa dari sektenya.


“Ini di luar perkiraan, kenapa mereka semua bisa muncul di sini?." Gumam Wei Heng.


Menurutnya Qiao Ho beserta ke Lima rekanya di tambah dua jagoan yang sudah lebih dulu berada di sekte Pilar Angin sudah cukup untuk melenyapkan sebagian pasukan iblis. Yang membuat Wei Heng sedikit kesal kehadiran seorang biksu yang ternyata memiliki kemampuan yang setara dengannya.


Qiao Ho menatap Wei Heng dengan tajam, kemudia menatap sosok yang bercahaya merah menyala yang jauh di atas.


“Ternyata memang benar, kamu sudah bersekutu dengan mahluk terkutuk itu." Ucap Qiao Ho kepada Wei Heng sambil menunjuk ke arah jendral iblis yang jauh di atas sana.


“Jika iya kamu mau apa? Apa kamu pikir kamu bisa melawanku?" Kata Wei Heng berkata dengan penuh percaya diri.


Qiao Ho hanya tersenyum tipis. “Menurutmu apa hanya kamu saja yang memiliki kekuatan besar?." Ucap Qiao Ho.


Secara perlahan-lahan Qiao Ho mulai melayang di udara dan sekarang sama tingginya dengan Wei Heng. “Kau... Sejak kapan kamu memiliki kekuatan ini?." Wei Heng sedikit terkejut, dia tidak menduga kalau Qiao Ho juga memiliki kekuatan yang sama besarnya.


“Apa itu penting? Aku sendiri saja tidak perduli kamu dapat kekuatan yang besar itu dari mana. Yang terpenting sekarang menghentikan perbuatanmu yang selama ini membuat keresahan." Ucap Qiao Ho dengan melepas energinya.


“Kalau aku tidak meladeninya, bisa-bisa dia menyerang jendral iblis." Batin Wei Heng.


“Baiklah, kita buktikan siapa di antara kita yang terhebat."


Wei Heng maju menyerang Qiao Ho dengan telapak tangan berwarna merah menyala. Qiao Ho juga maju, kedua tanganya juga bercahaya putih.


Mereka berdua saling beradu tapak, setelah kedua tapak saling bertemu, gelombang kejut yang sangat besar keluar dari hantaman mereka berdua.

__ADS_1


Untungnya mereka bertarung cukup tinggi sehingga tidak menimbulkan kerusakan di daratan. Walau begitu suara benturan sangat terdengar dengan jelas.


__ADS_2