Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Raja Tang


__ADS_3

"Guru di dunia ini apa tidak ada pergantian hari?." Yang pertama kali Ho Chen temui di dalam adalah Ming Hao.


"Tidak ada! Di sini akan selalu terang seperti ini." Jawab Ming Hao.


Ho Chen mengangguk ternyata bukan perasaanya matahari yang yang tidak bergeser, melainkan memang tidak akan pernah bergeser, jadi tidak ada malam di Dunia Awan, dan matahari nya hanya menerangi tidak ada rasa panas sama sekali.


Ho Chen berjalan ke arah Yinfei berada yang saat ini sedang duduk sendiri menghadap ke arah nya. "Bagaimana, apa kamu sudah siap untuk pergi?." Tanya Yinfei.


"Tentu senior, aku sudah siap untuk mencari keberadaan Bunga Lotus Emas ini!." Jawab Ho Chen.


"Aku ingatkan kamu, jika kamu berhasil menemukan Bunga Lotus Emas, maka mintalah baik-baik kepada pemiliknya!." Kata Yinfei sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Aku mengerti Senior, aku akan mengingat itu." Kata Ho Chen.


"Owh iya satu lagi, jika sempat, bantulah salah satu kubu di sana, yang kamu yakini pantas untuk di bantu." Kata Yinfei sambil mengangkat satu jari telunjuk nya.


Ho Chen terlihat bingung, dia tidak mengerti akan maksud dari perkataan Yinfei, begitu juga Yinfei yang mengerti akan kebingungan Ho Chen. "Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri." Ucap Yinfei kemudian mengerakkan tangannya ke arah gelang Ho Chen.


"Kamu tidak perlu membawa Hanzi, Yu, Yin, dan Yang. Biarkan mereka di sini menunggu mu!." Kata Yinfei kemudian menarik semuanya dari Ho Chen.


Hanzi muncul di samping Yinfei sedangkan tubuh Ho Chen mengeluarkan cahaya putih kemudian cahaya itu berubah menjadi sosok pria sepuh berdiri di samping Yinfei, dia adalah wujud energi Yu. Pedang Lidah Api dan Dewa Air juga berpindah ke tangan Yinfei.


Ho Chen sebenarnya kaget, namun dia memilih untuk tidak menayakannya, dia yakin Yinfei memiliki alasan yang kuat untuk semua ini.


"Sekarang bersiaplah, aku akan mengirim mu!." Kata Yinfei yang bersiap menjentik kan jarinya.


Ho Chen ingin mengatakan sesuatu kepada Ming Hao, Hanzi, dan yang lainnya, namun jentikan dari Yinfei lebih dulu bergerak.


Dengan satu jentikan saja, Ho Chen sudah menghilang. "Hmm, sepertinya ada yang ingin dia katakan tadi..!." Kata Yinfei setelah Ho Chen menghilang.


Sebenarnya Yinfei bisa saja mengambilnya sendiri, namun dia ingin Ho Chen berjuang dengan pikiran usahanya sendiri agar lebih banyak belajar tentang beragam dunia lain.


Hanzi menghela nafas dengan menggelengkan kepala, dia sudah mendengar semuanya ketika berada di dalam gelang, dia tidak habis pikir jika Ho Chen menyetujuinya demi dirinya agar tidak menghilang.


Ming Hao dengan yang lainnya juga sama, mereka hanya beranggapan jika Ho Chen terlalu bersikap polos dengan mengikuti hatinya sendiri yang menurut nya dia anggap benar.


***

__ADS_1


Ho Chen muncul di tanah yang sangat luas, namun tidak melihat tumbuhan sama sekali, sebelum akhirnya dia terkejut dengan suara teriakan orang yang kemudian terdengar ribuan langkah kuda dan kaki manusia dari arah kiri dan kanan.


"Serang..!!!."


Ho Chen terkejut melihat itu, dia melihat dari arah kanan orang-orang berlari ke arahnya dengan mengunakan baju hitam seperti prajurit, dan di sebelah kiri juga terlihat sama, namun baju di sebelah kiri berwarna biru tua.


Sekilas di amati, ini adalah sebuah pertempuran, entah dari aliran atau penguasa pemerintahan.


Ho Chen juga melihat ke langit yang terlihat gelap, dan ternyata ribuan anak panah dari kedua belah pihak sedang di lepaskan, sedangkan Ho Chen berdiri di tengah-tengah tempat titik temu mereka untuk bertempur.


"Kenapa aku malah muncul di sini..?." Ho Chen menggaruk kepalanya.


Dia mencoba memeriksa semua orang yang ternyata kebanyakan manusia biasa, sebagian hanya pendekar Tingkat Jiwa dan yang terbesar hanya tingkat Bumi puncak 1.


Ribuan anak panah hanya melewati di atas kepala Ho Chen, andai anak panah itu lebih rendah, mungkin tubuh Ho Chen yang menjadi sasaran walau anak panah itu tidak akan mampu melukainya.


Beberapa pasukan yang paling depan bingung dengan munculnya sosok di tengah-tengah pertempuran.


Masing-masing dari kedua kubu mengira itu adalah anggota lawan sehingga mereka tidak menghentikan serangan.


Mereka jelas terkejut! Dengan mata kepala sendiri, mereka bisa melihat dengan jelas, jika di hadapan kedua kubu ada sosok anak muda berdiri, namun sekarang menghilang secara tiba-tiba seperti di telan bumi.


"Itu pasti sihir..! Ayo serang...!." Seru masing-masing kubu.


Pertarungan antar kedua kubu tidak bisa terelakkan, mereka bertemu di tempat yang sebelumnya ada Ho Chen berdiri. Dalam waktu singkat sudah banyak korban yang berjatuhan.


"Hei itu dia orang yang tadi berdiri di tengah pertempuran, dia pasti prajurit pangeran Zin, cepat habisi dia juga!."


Ho Chen yang lagi berpikir keras bagaimana cara nya agar bisa menemukan keberadaan Bunga Lotus Emas justru dikejutkan oleh 70 pasukan berbaju Biru tua yang ingin membunuhnya. Sebagian dari mereka adalah pendekar Tingkat Jiwa dan sebagian manusia biasa.


"Aih.. kenapa kalian di sini? Seharusnya kalian membantu saudara kalian yang bertempur di bawah sana..!." Gerutu Ho Chen, walau begitu Ho Chen tidak mau membunuh mereka, karena dia tidak mau mencari masalah di dunia ini.


Ketika mereka bersiap untuk memanah nya, Ho Chen melayang ke udara dan kemudian terbang menjauhi mereka semua demi menghindari masalah.


"Hei.! Mataku yang salah lihat, atau memang dia terbang di udara?." Pasukan yang berseru untuk membunuh Ho Chen menggosok matanya berkali-kali, bahkan yang lain hanya mematung melihat Ho Chen yang sudah menghilang, namun dengan posisi panah masih mengarah ke tempat Ho Chen berdiri.


"Itu tadi bukan manusia, mungkin...!." Mereka saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya lari ketakutan seperti bertemu dengan hantu.

__ADS_1


"Kenapa Senior Yinfei memunculkan ku di tengah-tengah prajurit yang sedang berperang?." Gerutu Ho Chen setelah terlihat sangat jauh, dia turun dan sekarang berjalan kaki.


"Sekarang aku harus kemana dulu?." Kata Ho Chen memperhatikan ke sekelilingnya.


Ho Chen beristirahat sejenak, dia ingin meditasi dan ingin menyerap Energi Alam, namun sayang, Energi di Dunia tersebut sangat sedikit.


Ketika sedang beristirahat sejenak, Ho Chen mendengar suara langkah kaki kuda yang sedang berlari ke arahnya. Seorang prajurit yang memakai baju berwarna Biru tua sedang memacu kudanya dengan sangat cepat.


Begitu prajurit tersebut melewati Ho Chen sekitar Lima meter, prajurit tersebut jatuh ke tanah, dan kudanya berhenti berlari.


Ho Chen mendatangi prajurit tersebut yang tenyata ada patahan anak panah di punggungnya, prajurit tersebut tidak sadarkan diri, sedang nafasnya juga mulai melemah karena terlalu mengeluarkan banyak darah.


Merasa masih memiliki harapan untuk hidup, Ho Chen mencabut anak panah yang tersisa dan mengalirkan Energi Es ke tubuh prajurit yang tidak sadarkan diri tersebut.


Nafas prajurit tersebut mulai kembali teratur, dan luka akibat anak panah juga menutup, namun prajurit tersebut belum sadarkan diri.


"Siapa Kamu..?." Prajurit tersebut sadar ketika sudah sore, dia kaget setelah membuka mata justru melihat seorang pemuda sedang duduk di samping nya. Secara refleks prajurit itu bangkit dan menghunuskan pedangnya ke arah Ho Chen.


"Tenanglah Tuan, sekarang kamu sudah aman!." Kata Ho Chen dengan tersenyum lembut.


Prajurit tersebut heran, namun beberapa saat kemudian dia sadar jika ada yang salah dengan tubuhnya.


Seharusnya dia sudah mati karena kehabisan darah akibat terkena anak panah, namun dia tidak merasakan sakit sama sekali dari bekas anak panah tersebut, malah tidak ada luka sama sekali di tubuhnya.


"Ini...!." Prajurit tersebut sulit berkata-kata lalu memandang Ho Chen dengan tatapan di penuhi tanda tanya.


"Apakah Tuan yang menolong saya?." Tanya prajurit tersebut yang kini mulai tenang dan menyarungkan kembali pedang nya.


"Aku melihatmu terjatuh dari kuda mu, jadi aku mencoba membantu sebisa ku." Kata Ho Chen.


"Terima kasih karena Tuan telah menolongku. Nama ku Wu Jian." Kata prajurit tersebut.


Ho Chen mengangguk kemudian memperkenalkan diri juga, Ho Chen juga bertanya tentang sebab terjadinya pertarungan yang di lihat nya tadi.


Wu Jian berasal dari kubu pangeran Tang Li, sedangkan pasukan berbaju hitam berasal dari kubu Pangeran Tang Zin. Mereka berdua adalah Para putra mahkota dari Raja Tang Yu Ming, yang sudah meninggal lima tahun yang lalu.


kedua Putra mahkota saling berebut Kursi kerajaan yang kosong, sehingga terjadi bentrok dari kedua pangeran hingga berujung peperangan, masing-masing dukungan akan terus berjuang demi menaikan tahta pangeran yang di dukungnya untuk menjadi Raja di kerajaan Luwuen yang di dirikan oleh Raja Tang.

__ADS_1


__ADS_2