
Shiao Lang berteriak sekuat tenaga namun tidak di hiraukan oleh pria berkumis.
Ho Chen menutup matanya, dia yakin kali ini tidak akan bisa selamat. “Guru, maafkan aku yang tidak bisa memenuhi janjiku kepadamu" Ho Chen tersenyum kecut. Tujuan dia keluar dari desa adalah untuk pergi ke tempat Feng Ying berada.
“Ayah... Ibu...! Aku datang" Ho Chen masih menutup matanya, entah sudah berapa lama dia menutup mata, namun pedang itu belum juga sampai mengenai dirinya.
Ho Chen membuka sebelah matanya ingin melihat sedikit, dia melihat pria tersebut masih di depannya, namun badannya gemetaran matanya melotot seolah olah melihat sesuatu yang mengerikan.
Ho Chen mencoba menoleh ke arah yang pria berkumis itu lihat. Namun Ho Chen tidak melihat apa pun. “Ada apa dengan-nya?. apa guru bisa menjelaskan?" Tanya Ho Chen kepada Ming Hao. Namun tidak ada jawaban sama sekali darinya. “Guru..! Apa guru bisa mendengarku?" Ho Chen kembali bertanya.
Pria berkumis perlahan lahan mundur, keringat dingin membasahi keningnya.
“Cepat kita harus pergi dari sini..!" Seru pria berkumis dan berlari sekuat tenaganya.
Ho Chen menatap dengan heran melihat pria berkumis tersebut lari seperti ketakutan. Kemudian Ho Chen mengeluarkan Pil Mutiara Salju dan Pil Akar Kayu Surga yang ia beli di desa Daan, dan segera menelan ke dua pil tersebut.
Luka dalam Ho Chen sedikit membaik dan pendarahannya pun juga berhenti. Ho Chen perlahan lahan bejalan ke rumah Nenek Kiew. “Kakak Chen..!" Shiao Lang dan Nenek Kiew segera menuntun Ho Chen kedalam rumahnya.
“Terima kasih Tuan Chen sudah mau menolong kami!. Kami tidak tau harus membalas kebaikan Tuan dengan cara apa." Ucap Nenek Kiew.
“Tidak nek, saya tidak melakukan apapun. Sepertinya ada orang lain yang membantu tadi." Ucap Ho Chen.
Ho Chen tidak tau apa yang dilihat oleh pria berkumis tadi, namun Ho Chen merasa lega karena berhasil selamat dari kematian. “Siapapun orang itu, aku berhutang nyawa padanya." Gumam Ho Chen.
Ho Chen duduk bersila untuk memulihkan energinya. Baik Nenek Kiew atau Shiao Lang tidak ada yang menganggu Ho Chen. Mereka membiarkan Ho Chen beristirahat.
“Chen'er kamu sedikit ceroboh." Suara Ming Hao kembali terdengar ketika Ho Chen sedang meditasi.
__ADS_1
“Guru dari mana saja?" Tanya Ho Chen.
“Aku keluar sebentar karena ada sedikit urusan." Jawab Ming Hao Tanpa menyadari expresi wajah Ho Chen yang sedikit kesal atas tingkah gurunya tersebut.
“Guru. Ketika aku hampir mati tadi, orang itu tiba-tiba berhenti dan gemetar, sebenarnya siapa yang dia lihat tadi?" Ho Chen menceritakan kepada Ming Hao tingkah laku pria berkumis tersebut.
“Yang penting kamu sudah selamat dari maut." Jawab Ming Hao singkat. Seolah olah mengetahui apa yang sudah terjadi.
Ho Chen tidak memikirkan itu lagi, kini dia hanya memusatkan pemulihan energinya. Setelah hampir satu jam, Ho Chen berhasil memulihkan 10 persen energinya.
Ho Chen bangkit dan melangkah keluar. Ketika sampai di luar, Ho Chen menghampiri Nenek Kiew dan 3 warga lainnya yang baru tiba. Mereka segera mengucapkan terima kasih kepada Ho Chen karena sudah berhasil mengusir kelompok Rantai Besi yang sering mengganggu mereka.
“Kalian harus pindah dari tempat ini, bukan tidak mungkin mereka akan kembali dan membawa anggota yang lebih banyak." Ucap Ho Chen sambil menoleh kesana kesini seolah mencari sesuatu.
“Apa yang anda cari tuan?" Tanya salah satu warga.
“Tuan tidak usah hawatir, Mayat itu sudah kami kubur." Seru salah satu pria tua tubuhnya juga terlihat kurus.
“Tuan kami tau tuan menghawatirkan kami. Namun kami mau pindah kemana? Hanya ini satu satunya tempat tinggal kami." Seorang wanita yang hampir sama tuanya dengan Nenek Kiew ikut besuara.
Ho Chen terdiam memang yang di katakan wanita tersebut ada benarnya. “Bagaimana kalau kalian membeli rumah saja?" Pertanyaan Ho Chen membuat mereka saling berpandangan.
“Mau beli pakek apa tuan? Jangankan membeli rumah, untuk makan sehari-hari saja kami sangat susah." Pria tua menjawab dengan lesu.
“Kalau hanya masalah uang itu tidak jadi persoalan, asal kalian mau pindah, maka aku akan membantu kalian." Jawab Ho Chen
Mereka diam namun di hati mereka sungguh sangat ingin menerima bantuan yang akan Ho Chen berikan. Namun mereka sedikit ragu.
__ADS_1
“Maaf tuan, kalau boleh bertanya, apa alasan tuan muda mau membantu kami? Kami hanyalah orang miskin, dan mungkin nantinya tidak bisa membalas kebaikan Tuan!" Mereka bertiga menyuarakan hal yang sama dengan perkataan wanita tua itu.
“Aku memberi bantuan tanpa alasan itu saja. Namun kalian tidak perlu membalas apa-apa, ini semua aku lakukan atas ke inginanku sendiri." Ho Chen memandang mereka, “Jadi bagaimana? Apa kalian setuju untuk pindah?" Ho Chen kembali bertanya.
Mereka saling berdiskusi butuh beberapa waktu sebelum ahirnya mereka setuju untuk pindah. Ho Chen mengangguk puas dan memberikan mereka masing masing 200 keping koin emas.
Dengan 200 keping Koin emas, mereka bisa membeli rumah yang sederhana dan sisanya akan mampu untuk membuat usaha.
Mereka semua bersujud dan berterima kasih kepada Ho Chen, Ho Chen pun meminta mereka agar cepat berdiri.
“Shiao Lang, aku harap kamu bisa menjadi anak yang hebat." Ho Chen duduk berjongkok di depan Shiao Lang dengan memegang kedua pundak anak itu.
Shiao Lang mengangguk cepat dengan mengusap air matanya. “Anak pintar.." Ho Chen tersenyum dan mengusap kepala Shiao Lang.
“Aku harap bantuanku bisa sedikit meringankan beban kalian.! Selamat tinggal jaga diri kalian baik baik." Ho Chen melambaikan tangan dan pergi meninggalkan mereka semua.
Mereka memandangi Ho Chen hingga tidak terlihat lagi. Nenek Kiew dan 3 warga lainnya pun bergegas meninggalkan tempat itu, mereka segera maencari rumah baru di dalam kota.
Ho Chen bejalan dengan sangat lemas, energinya yang hanya 10 persen tidak cukup untuknya. Saat perjalanan pulang ke istana, semua orang memandangi Ho Chen, noda darah di bajunya berhasil menarik perhatian semua orang.
“Pendekar Dewa..! Anda kenapa?." Ho Chen tiba di gerbang istana, penjaga istana kaget ketika mengetahui baju Ho Chen yang banyak noda darahnya.
“Aku... Aku tidak a....!" Ho Chen belum sempat menyelesaikan kalimatnya dan langsung menjatuhkan badan karena terlalu letih dan energinya pun kembali habis.
Untung nya salah satu penjaga dengan cepat memegang tubuh Ho Chen yang sudah tidak sadarkan diri. Luka di pinggang Ho Chen pun kembali mengeluarkan darah.
“Cepat bantu aku...!" Teriak penjaga yang mendekap tubuh Ho Chen. “cepat Beritahu kaisar." Salah seorang penjaga pun berlari kedalam dengan cepat.
__ADS_1