Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Tidak mengenalinya


__ADS_3

Feng Ying mengangguk, kemudian Ho Chen menyentuh pundak Feng Ying dan mengalirkan Energi Es untuk menyembuhkan luka dalamnya sekaligus mengembalikan energi miliknya.


"Tubuhku rasanya seperti dipenuhi energi!" Feng Ying menggerakkan-gerakkan tubuh serta tangannya.


"Dengan kondisiku sekarang ini, aku sudah siap untuk ikut denganmu pergi ke Sekte Gunung Es!" kata Feng Ying dengan semangat.


"Maaf Guru sebelum kita pergi, aku ingin meminta sesuatu kepada Guru!" kata Ho Chen.


"Katakanlah Chen'er!" Feng Ying tidak tahu apa yang ingin Ho Chen minta, namun dia tetap ingin mendengarkannya.


Ho Chen melirik ke arah Ziu Huan yang sejak tadi berdiri menyaksikan mereka berdua. "Maaf ketua Ziu, saya ingin berbicara berdua dengan guruku, jadi saya bisa pinjam satu ruangan untuk kami berdua?" kata Ho Chen.


"Tentu! Mari ikut saya!" kata Ziu Huan kemudian mengantarkan mereka berdua ke suatu ruangan yang tidak terlalu besar. Setelah tiba di ruangan tersebut, Ziu Huan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang ingin kamu minta dariku Chen'er?" tanya Feng Ying setelah Ziu Huan sudah keluar.


"Guru, aku ingin mempelajari ilmu Mata Dewa milik Guru!" kata Ho Chen.


"Bukankah kamu sudah memilikinya?" tanya Feng Ying.


"Saat ini aku hanya menguasai ilmu ruang dan waktu, namun jika ingin berpindah ke tempat yang jauh, aku membutuhkan ilmu itu, karena aku berpindah hanya dengan cara merasakan energi dan mengingat lokasinya saja," kata Ho Chen.


"Aku mengerti Chen'er! Namun untuk memperlajari ilmu ini butuh waktu yang tidak sebentar, aku saja bisa menggunakan ilmu ini setelah berlatih selama 10 tahun," kata Feng Ying.


"Tidak masalah guru, guru cukup mengajarkannya saja padaku, setelah itu aku akan berlatih sendiri!" kata Ho Chen.


"Baiklah jika itu kemauanmu!" Feng Ying akhirnya mengabulkan permintaan Ho Chen.


Feng Ying memberinya gulungan kertas, gulungan kertas tersebut adalah Ilmu Mata Dewa pemberian Ming Hao.


Ho Chen membaca tulisan yang ada di dalam gulungan tersebut, dan ternyata ilmu Mata Dewa sama persis dengan ilmu penghentian waktu, hanya cara mengalirkan energi dan matra tangannya saja yang berbeda.


"Kalau begini caranya tidak akan membutuhkan sampai sepuluh tahun untuk mempelajarinya!" kata Ho Chen yang didengar oleh Feng Ying.


"Coba kamu lakukan!" kata Feng Ying penasaran, dia belum menjelaskan sama sekali tentang cara mengunakan dan mengaktifkan ilmu tersebut, namun Ho Chen dengan mudahnya berkata jika itu adalah hal mudah untuk dilakukan.


Ho Chen membuat mantra tangan dengan sangat cepat, kemudian mengalirkan enrgi murni ke matanya.


Kedua mata Ho Chen langsung bercahaya, namun bukan bercahaya putih seperti Feng Ying, melainkan bercahaya emas.


Ho Chen amerasa dunia ditarik kematanya, pandangannya mampu menembus lapisan langit di atas, bahkan melihat isi dalam setiap bintang.


"Chen'er, bagaimana? Sejauh mana kamu dapat melihat?" tanya Feng Ying penasaran.

__ADS_1


Ho Chen tidak menjawab, dia memandang kapal layar yang disewanya masih berada diperairan kekaisaran Ming. Bukan hanya itu, dia juga mampu melihat Kaisar Cao yang sedang berbicara dengan putrinya.


"Aku dapat melihat Kaisar Cao yang sedang berbicara dengan putri dan istrinya, dan aku juga bisa melihat seluruh Alam semesta," kata Ho Chen.


Feng Ying terkejut serta menelan ludah, dia tidak menduga jika Ho Chen benar-benar bisa menguasai ilmu Mata Dewa hanya beberapa saat saja, ditambah lagi padangannya yang mampu menembus langit.


Feng Ying hanya bisa melihat sampai di kekaisaran Ming saja, sedangkan Ho Chen bisa melihat hingga mencapai di kekaisaran Liu bahkan hingga Alam semesta


"Aku akan membuat tubuh bayangan terlebih dahulu!" Ho Chen membuat mantra tangan yang lain kemudian muncul 15 sosok yang memiliki wajah yang sama dengan Ho Chen, bahkan pakaiannya pun juga sama.


"Pergilah kalian ke sekte-sekte besar aliansi, sekaligus lindungi sekte-sekte kecil dan menengah jagalah mereka dsei serangan pasukan iblis lain!" kata Ho Chen.


Ke 15 belas sosok yang menyerupai dirinya segera menghilang dari hadapan mereka berdua, sedangkan Feng Ying hanya bisa terpana melihatnya, namun tidak bertanya akan apa yang Ho Chen lakukan.


Ho Chen dan Feng Ying keluar dari ruangan tersebut dan pergi menemui Ziu Huan. "Ketua Ziu, kami akan pergi ke Sekte Gunung Es, terimakasih atas semuanya!" Ho Chen membungkukkan badannya.


"Guru bes...! Maksud saya saudara muda, jika diijinkan, bisakah kami ikut ke Sekte Gunung Es?" tanya Ziu Huan.


Ho Chen berpikir sesaat sebelum bertanya kepada gurunya. "Bagaimana menurut Guru?"


"Terserah kamu saja!" kata Feng Ying.


"Ketua Ziu, jika ketua ingin ikut, mari! Namun cukup membawa 2 orang saja, sisanya biar menjaga sekte.


***


Sudah hampir sebulan, namun tidak ada tanda kemunculan mereka sama sekali. murid-murid Sekte Gunung Es terus berjaga siang dan malam secara bergantian dan tanpa mengurangi kewaspadaan sedikitpun.


"Apakah kabar itu salah?" Qiao Jin bertanya kepada Qiao Ho.


"Benar atau tidak, kita tetap harus waspada, musuh bisa datang kapan saja, jadi jangan lengah walau sedikitpun!" kata Qiao Ho.


"Kakek, aku melihat ada beberapa burung besar yang datang mendekat!" Qiao Lin baru datang dari luar dan memberitahukan kepada Qiao Ho jika dia melihat beberapa ekor burung besar datang kearah meraka.


Qiao Lin di samping latihan, dia juga sering membantu ikut menjaga di luar bersama murid-murid yang lain. Saat ini Qiao Lin berumur hampir 20 tahun, namun kekuatannya sudah mencapai Tingkat Langit puncak 4 dan sebentar lagi menembus Tingkat Alam.


"Siluman burung! Apa mungkin pasukan mayat burung yang datang?" kata Qiao Jin.


Qiao Ho, Qiao Jin, serta Qiao Lin sama-sama keluar untuk melihatnya. setelah berada di luar, mereka melihat sekitar 10 ekor siluman burung terbang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.


"Anggota pemanah, bersiap di posisi kalian..!" Wen Hua berseru keras, semua murid-murid bagian pemanah segera menempati posisi mereka dan bersiap melepaskan anak panah.


"Anggota pertahanan garis depan, bersiap untuk bertempur!" Qiao Jin juga berseru memerintahkan anggota kelompoknya untuk bersiap.

__ADS_1


Semua murid anggota Sekte Gunung Es segera memasang pertahanan untuk menyambut kedatangan para siluman burung yang mendekat.


Qiao Lin mencabut kedua pedangnya, dia juga sudah sangat siap untuk bertarung. Namun setelah para siluman burung mulai mendekat, Qiao Ho menyipitkan matanya, dia melihat jika di atas siluman burung tersebut ada yang menungganginya, dan setiap burung ada lima orang, dan Qiao Ho mengenali baju mereka.


"Sejak kapan Bukit Halilintar memelihara siluman burung?" kata Qiao Ho.


Qiao Jun dan Qiao Lin juga baru menyadari jika siluman burung itu ada penunggangnya, Qiao Jin melihat salah satu penunggang paling depan dan tersenyum lebar. "Itu adalah Kang Jian Ketua Bukit Halilintar, sepertinya mereka datang untuk membantu kita!" kata Qiao Jin.


"Tahan serangan, mereka bukan musuh!" Qiao Jin langsung menarik kembali anggotanya, begitu juga dengan Wen Hua.


Siluman burung tersebut mendarat di depan pintu gerbang, karena disitulah tempat yang paling luas.


Qiao Ho bersama anak dan cucunya segera menemui mereka, namun ketika mereka ingin bertegur sapa, tiba-tiba muncul lima orang secara mendadak tepat di hadapan mereka semua.


"Apa-apaan..!" Jantung Qiao Jin hampir copot, dia sampai melompat mundur dan menarik pedangnya. Begitu juga dengan Qiao Lin, dia menarik kembali kedua pedangnya karena kaget.


Qiao Ho juga sempat kaget, namun dia segera mengenali siapa yang datang secara tiba-tiba itu. "Sesepuh Feng," Qiao Ho menyapa.


Qiao Jin dan Qiao Lin kembali menyarungkan pedang mereka dan mengikuti Qiao Ho berjalan di belakangnya untuk menemui Feng Ying.


"Sesepuh Feng, ketua Ziu, terimakasih atas kedatangan untuk membantu kami," kata Qiao Ho, dia hanya mengenal keduanya sedangkan tiga orang lainnya tidak dia kenal.


Qiao Jin juga maju dan menyapa meraka, begitu juga dengan Qiao Lin. "Owh, bukankah ini cucumu? sangat cantik sekali, aku yakin Chen'er pasti setuju denganku!" kata Feng Ying, dia kagum akan kecantikan Qiao Lin.


"Sesepuh terlalu memuji, jika Chen berada di sini, belum tentu dia akan berpendapat demikian!" kata Qiao Lin, dia sangat mengetahui sifat Ho Chen yang tidak terlalu peduli dengan kecantikan seseorang.


"Kenapa kamu tidak tanya sendiri padanya?" kata Feng Ying membuat Qiao Lin, Qiao Ho, dan Qiao Jin terkejut.


"Sesepuh, apa Chen'er juga disini?" tanya Qiao Ho.


"Apa kalian tidak mengenalinya? bukankah saat ini dia berada dihadapan kalian!"


Mereka menoleh kearah tiga orang yang berdiri dibelakang dan menemukan satu diantara mereka yang masih muda.


"Apakabar Lin? Lama tidak bertemu!" sapa Ho Chen sambil tersenyum.


"Deepp!


Jantung Qiao Lin terasa berhenti berdetak setelah mengenali wajah yang tidak asing baginya, dia mematung sesaat sebelum memanggil namanya.


"Chen..!" suara Qiao Lin pelan namun panggilannya didengar oleh Ho Chen.


Ho Chen mengangguk pelan lalu berkata, "Aku sudah kembali!"

__ADS_1


__ADS_2