
“Adik, sekarang tujuan kita kemana?." Jiu Rui bertanya setelah setengah hari berjalan.
“Kita akan menuju ke sekte Gunung Es." Jawab Ho Chen dengan santai.
“Apa..? Sekte Gunung Es..? Kenapa kamu mau kesana?." Jiu Rui begitu kaget mendengar tujuan mereka adalah sekte Gunung Es.
“Aku hanya ingin menemui Ketua Qiao itu saja." Kata Ho Chen. Dia tidak mau menceritakan kepada Jiu Rui alasan yang sebenarnya.
“Kakak, malam ini kita harus mencapai desa dan mencari penginapan di sana."
Ho Chen merasa sangat berbahaya jika bermalam di jalan, pasukan iblis akan dengan mudah menemukan keberadaan mereka, di tambah lagi dengan ke ikut sertanya Jiu Rui yang masih di Tingkat Jiwa.
“Tenang saja adik, sebelum kita berangkat tadi, aku sempat membeli peta." Jiu Rui mengeluarkan gulungan kertas dari dalam buntilan perbekalannya.
“Kakak, apa isi buntilan itu?." Ho Chen lebih penasaran dengan buntilan yang di bawa Jiu Rui, dari pada peta yang ada di tangan Jiu Rui.
“Ini hanya beberapa pakaian ganti dan satu kitab pemberian guru." Kata Jiu Rui dengan melihati buntilan kain tersebut.
“Kenapa tadi saat beli peta tidak sekalian membeli kotak kain?."
“Aku tidak memiliki cukup banyak uang." Ucap Jiu Rui dengan sedikit malu.
Kotak kain adalah sebuah kain yang sudah di jahit dan hampir membentuk kotak, fungsinya untuk mengisi barang-barang keperluan seperti Baju, kitab, makanan dan semua benda kecil lainya.
“Berikan itu padaku, aku akan menyimpannya di dalam gelangku." Pinta Ho Chen.
“Tidak usah adik biar aku membawa seperti ini."
“Untuk sekali ini saja, setelah tiba di desa kita akan membeli Kotak kain untuk tempat bajumu." Kata Ho Chen dengan sedikit memaksa.
Ho Chen membujuk Jiu Rui cukup lama sebelum akhirnya Jiu Rui mau menyerahkan buntilan kain tersebut dan kembali melanjutkan perjalanan.
Sore harinya mereka bisa melihat desa yang tidak jauh di depan mereka, Ho Chen menghela nafas lega dan segera menuju ke desa tersebut.
Ho Chen memasuki desa tersebut dan tidak langsung mencari penginapan, melainkan mencari rumah makan karena mereka merasa sangat lapar.
__ADS_1
“Selamat datang Tuan muda silahkan masuk." Ho Chen di sambut oleh pelayan.
Ho Chen bersama Jiu Rui mengemati ruangan yang begitu ramai, terlihat ada beberapa pendekar yang juga ikut makan di ruangan tersebut.
Ho Chen memilih meja yang kosong di sudut ruangan, Jiu Rui segera memanggil pelayan restoran untuk memesan makanannya.
“Silahkan di pilih tuan muda.." Pelayan tersebut menyerahkan daftar menu makanan.
“Aku pesan sup daging ikan ini, ini dan ini saja." Jiu Rui menunjuk beberapa menu makanan.
“Saya juga pesan makanan yang sama." Kata Ho Chen.
“Apa Tuan muda ingin kami menyediakan arak selagi menunggu makanan tiba?." Tawar sang pelayan.
“Boleh..! saya mau itu." Jawab Jiu Rui dengan cepat.
“Adik apa kamu juga mau minum arak?."
“Tidak usah kak, kakak saja yang minum."
Pelayan tersebut kemudian pergi kedalam, dan tidak lama pelayan tersebut keluar membawa satu guci kecil dan di letakkan di depan Jiu Rui.
Jiu Rui menikmati arak tersebut, sedangkan Ho Chen mengamati seluruh ruangan yang begitu ramai. Ho Chen bisa menebak beberapa pendekar yang berada di ruangan tersebut adalah pendekar yang sedang berburu Pasukan iblis.
“Ahh.. ini baru arak..!" Suara Jiu Rui terlihat puas dengan arak yang ia minum.
Ho Chen yang mendengar segera menatap ke Jiu Rui dan berpindah ke guci arak di depannya. “Apa kamu sudah terbiasa minum arak?." Tanya Ho Chen yang masih menatap botol arak kemudian kembali menatap Jiu Rui.
“Aku pernah minum beberapa kali. Pernah juga saudara Dunrui membawa arak milik ayahnya dan minum bersama kami." Jiu Rui bercerita sambil tertawa.
Umur Jiu Rui memang sudah di perbolehkan untuk minum arak, sedangkan Ho Chen masih harus menunggu sekitar satu atau dua tahun lagi untuk bisa meminum arak.
“Tuan muda maaf sudah menunggu terlalu lama." Pelayan tersebut datang dengan dua pelayan lainnya yang membawa makanan yang di pesan oleh Jiu Rui dan Ho Chen.
Mereka berdua makan dengan santai dan tidak terlalu terburu-buru karena mereka ingin menikmati rasa dari makanan tersebut.
__ADS_1
“Eh kalian sudah dengar tidak kalau Pendekar Dewa Muda sudah pergi meninggalkan istana?."
“Aku sudah mendengar kabar tersebut tadi siang."
“Aku tidak mengetahui kabar itu."
Ho Chen yang sedang menikmati makanannya dan mendengar percakapan para pendekar yang berada di ruangan tersebut.
Walau Ho Chen bisa mendengar, namun dia tidak terlalu peduli, menurutnya itu hal yang tidak terlalu penting untuknya.
“Malam ini kita istirahat di penginapan dulu, aku sudah capek tiga malam tidak tidur hanya untuk mengejar pasukan iblis itu." Ucap salah seorang dari mereka, orang tersebut yang paling kuat, karena dia berada di Tingkat Alam.
“Terserah senior saja, kami hanya mengikuti senior, kalau senior bilang jalan, ya kami jalan." Jawab yang lainya.
Ho Chen hanya bisa menggelengkan kepala. Sebenarnya Ho Chen berharap bisa mendengar informasi tentang pasukan iblis atau jendral iblis, namun dia melah mendengar perbincangan yang tidak terlalu penting.
“Ahh.. perutku kenyang sekali rasanya..." Jiu Rui mengelus-elus perutnya yang kekenyangan.
“Kakak mari kita segera mencari penginapan, karna sebentar lagi sepertinya akan turun hujan." Kata Ho Chen sambil melihat langit yang mulai terlihat mendung.
Jiu Rui segera menyetujuinya, Ho Chen memanggil pelayan dan membayar makanan tersebut. Mereka segera pergi meninggalkan rumah makan dan mencari penginapan.
Ho Chen tiba di penginapan dan segera memesan kamar. Setelah mereka berada di kamar Jiu Rui langsung merebahkan diri. Sedang kan Ho Chen hanya duduk dan mengeluarkan Kitab Raja Api.
Ho Chen membuka halaman pertama dari kitab tersebut. Di halaman pertama ternyata berisi tentang penjelasan dan cara mengubah energi murni menjadi unsur energi api.
Ho Chen mengerutkan dahinya, menurutnya pantas Wang Chungying tidak bisa mempelajari kitab tersebut, karena memang yang di butuhkan adalah energi murni.
Untungnya Ho Chen memiliki energi murni. Dia duduk bersila dan mencoba mengalirkan energi murninya ke telapak tangannya. Telapak tangan Ho Chen bersinar terang, Ho Chen berkonsentrasi penuh untuk mengubah nya menjadi energi api.
Secara perlahan cahaya di telapak tangan Ho Chen sedikit demi sedikit mulai berubah
menjadi sedikit berwarna oranye, walau baru sedikit berubah, Ho Chen dapat merasakan hawa panas di telapak tanganya.
“Kenapa warnanya begini?." Ho Chen bingung, karena menurut penjelasan awal kitab tersebut, kekuatan Raja api berwarna Biru, namun energi milik Ho Chen berwarna oranye.
__ADS_1
“Mungkin butuh waktu..!" Gumam Ho Chen dengan menyemangati dirinya sendiri.