Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Menghadapi Pendekar sewaan


__ADS_3

Liung Bhao tau semua ini akan segera terjadi, dia berpikir andai dirinya dulu berhasil menangkap Qiao Lin dan juga berhasil membunuhnya, pasti Ho Chen tidak akan mengetahuinya.


Namun sekarang, jangan membunuh Qiao Lin, membuat luka di kulitnya pun tidak berhasil, malah dia sendiri yang celaka bahkan harus kehilangan satu kakinya.


"Am-ampuni aku pendekar Chen, aku memang salah, jadi tolong ampuni aku.." Kata Liung Bhao  dan berusaha bangkit dari kursinya angin bersujud di hadapan Ho Chen.


Dia sadar saat ini hanya belas kasih Ho Chen lah dirinya akan selamat, dia tidak mau meminta perlindungan kepada ayahnya, dia tahu walau ayahnya adalah wali kota dan memiliki beberapa pendekar bayaran yang kuat namun semua itu jelas bukalah tandingan Ho Chen.


"Ao'er! Apa yang kau lakukan!." Ayah Liung Bhao terkejut melihat reaksi anaknya yang terlihat ketakutan, dia berusaha membuat anaknya kembali duduk.


Ho Chen tahu kalau Liung Bhao benar-benar menyesali perbuatannya namun dia datang bukanlah untuk berurusan dengan Liung Bhao melainkan ayahnya.


"Tuan Liung kamu pasti sudah tau apa yang menyebabkan kaki putra mu seperti itu?." Tanya Ho Chen.


Ayah Liung Bhao terkejut mendengar Ho Chen yang bertanya, namun tidak menunjukkan kesopanan bahkan rasa hormat nya kepadanya, mengingat dirinya adalah wali kota di kota tersebut.


"Tentu saja aku tahu." Jawabnya.


Ho Chen kembali bertanya padanya. "Apa kamu tahu jika yang membuat kaki anak mu hilang akibat kesalahan nya sendiri?."


 


Wali kota berusaha bersikap tenang dan menjawabnya. "Iya aku juga tahu."


Ho Chen mengangguk. "Bagus berarti kamu sudah mengerti akan duduk permasalahan nya! Jadi bagaimana pendapat mu?."


Ho Chen sengaja bertanya demikian hanya ingin memastikan sikap yang akan di ambil oleh wali kota setelah mengetahui jika semua terjadi akibat ulah anaknya sendiri.

__ADS_1


"Kamu bertanya bagaimana pendapat ku? Tentu saja aku tidak terima kalau perlu aku akan membunuhnya sebagai balasan atas perbuatannya itu." Kata ayah Liung Bhao dengan nada marah.


"Walau kamu sudah tahu kalau anakmu yang salah?."


"Iya! Aku juga tidak peduli mau anak ku yang salah aku tetap akan membunuhnya."


Jawaban wali kota tersebut membuat wajah Ho Chen berubah menjadi dingin, bahkan Liung Bhao merasa ini tidak akan berakhir baik, dia ingin memperingatkan ayahnya namun apakah daya, dia sangat mengetahui sifat ayahnya yang sangat berambisi, sekali menginginkan sesuatu, maka hal itu harus terwujud apapun resikonya, bahkan ayahnya tidak segan-segan melenyapkan seseorang demi mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Sepertinya wali kota di sini memang harus di ganti yang baru." Kata Ho Chen.


Kata-Kata Ho Chen memang pelan namun bisa di dengar oleh semua yang ada di sana termasuk ke empat pendekar sewaan wali kota.


"Apa maksudmu anak muda? Apa kamu berniat menggulingkan ku dari kursi wali kota Dayuan ini? Apa kau pikir sanggup? Aku jamin kau tidak akan bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup." Ucapnya seraya memerintahkan ke empat pendekar untuk membunuh Ho Chen.


Ho Chen menggelengkan kepala lalu menjawab. "Aku tidak berniat untuk menggulingkan mu dari kursi jabatan mu itu, aku hanya berpikir, apa masih pantas kota ini memiliki wali kota yang akan kehilangan salah satu dari anggota tubuh nya." Kata Ho Chen dengan mengejek dan tertawa kecil.


"Aku lupa! Aku hanyalah seorang yang sedang berpetualang, dan kebetulan gadis yang kalian incar itu juga adalah teman ku, jadi..! Ahh. Sudahlah kau pasti tau maksudku." Kata Ho Chen sambil mengibaskan tangannya.


"Hahaha..! Jadi kamu teman gadis murahan itu, kebetulan sekali! begini saja, aku akan membiarkan mu tetap hidup dan bisa keluar dari rumahku, namun kau harus meninggalkan satu kaki mu disini, jika kau mau maka aku akan melepaskan gadis murahan mu itu dan tidak akan lagi mengganggunya."


"Hahaha...! Wali kota ini sangat baik dan murah hati, baiklah aku setuju, namun dengan syarat, kau harus memotong kaki ku sendiri itu pun jika kau mampu, aku beri waktu tiga puluh tarikan nafas untuk memotong kaki ku jika berhasil aku akan pergi dari sini dan tidak akan kembali lagi, namun jika tidak! Maka akulah yang akan memotong satu kaki serta satu tangan mu karena telah berani menyebut temanku dengan sebutan gadis murahan!." Kata Ho Chen yang balik memberikan syarat kepada Wali kota Liung.


"Kalian Tunggu apa lagi cepat potong kaki nya..!." Seru wali kota kepada ke empat pendekar yang hanya berdiri menyaksikan perdebatan antara mereka berdua.


"Aku tidak punya urusan dengan kalian, sebaiknya kalian tidak perlu ikut campur atau kalian akan mengalami nasib yang mungkin akan kalian sesali nanti!." Kata Ho Chen menatap mereka berempat.


"Kau terlalu sombong dan percaya diri pendekar muda, kau pikir akan mampu mengalah kami berempat sekaligus, jangan kami berempat! kamu bahkan tidak mungkin mampu menahan serangan dari satu jariku ini." Kata Salah satu pendekar tersebut kemudian melepaskan aura energi kematiannya kepada Ho Chen.

__ADS_1


Zhu Yu jatuh berlutut terkena imbas dari aura energi kematian milik pendekar tersebut yang di arahkan kepada Ho Chen.


"Em.. tidak buruk..!." Kata Ho Chen kemudian melepaskan aura raja untuk menetralkan aura energi kematian itu.


Zhu Yu bisa bernafas dengan lega setelah Ho Chen menetralkan tekanan aura energi kematian tersebut.


"Tuan Zhu! Sebaiknya anda pulang dan tunggulah aku disana, aku akan menyelesaikan masalah di sini terlebih dahulu kemudian akan kembali ke rumahmu!." Kata Ho Chen kepada Zhu Yu.


Tanpa basa basi Zhu Yu keluar secepat mungkin dari ruangan tersebut, karena dia tidak mau menjadi korban nyasar dari pertempuran yang mungkin bisa menghancurkan rumah besar milik wali kota tersebut.


Ho Chen kembali menatap pendekar tersebut. "Maaf karena sedikit terganggu tadi! Mari kita lanjutkan lagi urusan kita, ku sarankan jangan mengunakan satu jari, lebih baik kau mengunakan semua tangan mu." Kata Ho Chen dengan tertawa kecil.


Perkataan Ho Chen berhasil membuat pendekar tersebut terbakar emosi, walau pendekar tersebut terkejut ketika Ho Chen berhasil menetralkan Aura energi kematiannya, kerena dia mengukur tingkat energi Ho Chen yang ia rasa masih berada di Tingkat energi Bumi.


Pendekar tersebut mengeluarkan cambuk panjang yang di ujungnya ada besi runcing yang sangat tajam, kemudian segera menyerang Ho Chen dengan cambuknya itu.


Ctaaar!!!


Ctaaar!!!


Ctaaar!!!


Suara serangan cambukan terdengar ke seluruh ruangan bahkan membuat bangunan tersebut mulai bergetar.


Ho Chen dapat menghindari serangan cambukan tersebut tanpa masalah, membuat pendekar tersebut semakin menambah kecepatan serangannya.


"Terimalah Ini..!."

__ADS_1


"Tehnik Cambuk Langit - Cambukan Petir."


__ADS_2