Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Pil Mutiara Hijau


__ADS_3

“Terima kasih Tuan muda Chen, kalau anda masih tinggal lebih lama di sini datanglah ke toko kami kapanpun." Lien Xianyin mengantar Ho Chen hingga sampai di pintu keluar.


“Baiklah Terima kasih atas kebaikan Nona Lien. Saya mohon pamit." Lien Xianyin membungkukan badan. Ho Chen pun melangkah pergi meninggalkan Toko.


Lien Xianyin memandangi Ho Chen hingga tidak terlihat, kemudian menghela nafas panjang. Sebenarnya Lien Xianyin ingin mengetahui dimana Ho Chen menginap. Namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya dan akhirnya hanya bisa melihat Ho Chen yang sudah menghilang.


Ho Chen berniat untuk mencari Toko penjual obat karena dia ingin membeli obat penyembuh luka luar. Untungnya tidak terlalu jauh lokasinya sehingga Ho Chen bisa menemukan toko tersebut.


“Tuan muda apa yang bisa saya bantu." Ho Chen memasuki Toko tersebut dan di sambut oleh seorang Nenek tua.


“Apa Nenek menjual Pil penyembuh luka luar?." Tanya Ho Chen.


“Tentu saja saya menjualnya, mari silahkan masuk." Sang nenek masuk kedalam dan di ikuti oleh Ho Chen.


“Ini semua adalah Pil penyembuh luka luar, silahkan di pilih sendiri yang ingin anda beli."


Ho Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung untuk memilih Pil yang begitu banyak jenisnya.


“Eeh..apa ada pil penyembuh yang memiliki hasiat sangat cepat Nek?." Tanya Ho Chen yang tidak mengetahui tentang dunia pengobatan sama sekali.


“Saya tidak mengerti apa yang Tuan muda maksud, namun kalau anda mencari Pil yang bisa menyembuhkan dengar sangat cepat, itu mustahil, karena tidak ada Pil yang seajaib itu Tuan muda." Sang nenek menggelengkan kepala.


“Bukan begitu maksud saya nek..! Saya hanya mencari Pil yang memiliki kualitas terbaik itu saja." Ho Chen merasa salah berbicara.


Nenek tersebut tersenyum mendengar perkataan Ho Chen. Kemudian dia mengambil kotak kecil berwarna hitam. “Ini adalah Pil Mutiara Hijau, sangat efektif untuk menyembuhkan luka luar." Kata sang nenek menjelaskan kepada Ho Chen.

__ADS_1


Ho Chen memeriksa Pil yang berwarna hijau muda tersebut, di dalam kotak kayu tersebut ada 5 butir Pil di dalamnya, tercium aroma obat yang begitu kuat dan kental dari Pil tersebut.


“Berapa harga Pil ini Nek?." Tanya Ho Chen setelah selesai memeriksa Pil tersebut.


“Harga setiap Butirnya 300 keping Emas Tuan." Kata sang nenek.


Walau Ho Chen memiliki banyak Koin Emas di gelangnya, namun harga tersebut membuat Ho Chen cukup kaget, tidak dia duga harganya cukup mahal.


“Baiklah nek saya akan membeli satu kotak ini." Kata Ho Chen.


Nenek tersebut yang awalnya ragu kepada Ho Chen seakan tidak akan mampu membeli sebutir dari Pil tersebut langsung kaget kemudian tersenyum lebar ketika Ho Chen mengatakan akan membeli satu kotak Pil Mutiara Hijau tersebut. “Baiklah Tuan muda, harga satu kotak adalah seribu lima ratus keping Emas." Jawab sang nenek.


Ho Chen mengangguk lalu mengeluarkan Koin sebanyak seribu lima ratus keping Emas. Sang Nenek begitu kaget ketika Ho Chen memberikan Koin Emas nya, karena dari awal Ho Chen tidak terlihat membawanya, namun sekarang Koin tersebut tiba-tiba muncul di atas meja dengan di bungkus kantong hitam yang besar.


Ho Chen hanya tersenyum melihat reaksi Sang Nenek, dia tidak berniat untuk menjelaskan dari mana koin itu di keluarkan. Sang Nenek menyerahkan Kotak Pil tersebut, Kemudian Ho Chen pamit untuk pergi karena hari sudah semakin sore.


Ho Chen berjalan menuju ke istana, dalam perjalanan dia melihat seorang pemuda seumurannya berlari seperti di kejar sesuatu.


Pemuda tersebut berlari ketakutan, sedang orang-orang hanya memperhatikan tidak ada yang menghentikannya.


“Tunggu... jangan lari kamu...!" Kata orang paruh baya yang mengejarnya, orang tersebut tidak sendirian ada Lima orang yang ikut di belakangnya dengan membawa kapak besar di tangannya.


Ho Chen diam-diam mengikuti mereka, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ho Chen mencari jalanan yang sepi kemudian melompat ke atap bangunan dan berlari mengikuti pera pengejar tersebut.


“Hahaha.. mau lari kemana lagi kamu sekarang ha..?." Pemuda tersebut berhenti di gang buntu, nafasnya sudah tidak karuan dia terlihat panik karena terjebak di gang tersebut.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya kalian inginkan..? Kalau kalian memiliki dendam dengan ayahku, seharusnya kalian menemui ayahku di sekte dan bukan mengejarku..!" Kata Pemuda tersebut dengan nafas yang masih tidak teratur.


“Heh... Kamu pikir kamu bodoh..! Kami tidak memiliki dendam apapun dengan ayahmu, kami hanya di bayar untuk melenyapkan nyawamu itu saja." Kata Orang paruh baya tersebut dengan senyum penuh kemenangan.


“Katakan siapa yang menyuruh kalian?" Tanya pemuda tersebut.


“Karena kamu akan mati hari ini, baiklah aku akan berbaik hati mengatakannya!. Yang menginginkan nyawamu adalah orang dari sekte Racun Langit." Jawab pria tersebut.


Ho Chen yang menyaksikan dari atap bangunan yang tinggi juga mendengar dengan sangat jelas, Ho Chen mengerutkan dahinya, dia bisa menduga kalau sekte Racun Langit tidak berani turun tangan langsung, karena ini daerah kota kekaisaran jadi sekte Racun Langit menyuruh pembunuh bayaran untuk melenyapkan seseorang, namun yang jadi pertanyaan Ho Chen siapa pemuda tersebut? Dan ada masalah apa ayahnya dengan sekte aliran hitam tersebut?.


“Sekte Racun Langit? jadi kalian adalah orang suruhan sekte sialan itu?" Tanya pemuda tersebut.


“Kamu sudah mengetahuinya, jadi sekarang kamu bersiap menerima kematianmu..!" Kata pria tersebut, kelima rekannya pun tertawa terbahak-bahak melihat calon korbannya yang begitu ketakutan.


Ho Chen yang menyaksikan dari atap bangunan hanya menghela nafas, dia bisa mengukur kekuatan pemuda tersebut yang masih berada di Tingkat Jiwa puncak 4, namun lawannya semuanya berada di Tingkat Bumi Awal 3. Jelas lawan yang berat bagi pemuda tersebut.


Pemuda tersebut terlihat pasrah, tubuhnya bergetar, lalu jatuh dengan posisi berlutut di karenakan kakinya sudah lemas.


Keenam pria paruh baya tersebut semakin tertawa melihat pemuda tersebut begitu ketakutan. “Sungguh memalukan, ternyata anak seorang ketua sekte Bukit Halilintar adalah seorang anak yang pengecut. Hahahah...!" Mereka mengejek dan tertawa keras.


Ho Chen yang mendengar mereka menyebut nama Bukit Halilintar langsung kaget bagai di sambar petir, dia hampir lupa kalau sekte Racun Langit dan Bukit Halilintar memang bermusuhan. Kini Ho Chen mengetahui siapa pemuda tersebut, dia tidak lain adalah Anak satu-satunya Kang Jian yaitu Kang Yelu.


“Kalau begitu bersiaplah untuk menyambut ajalmu.!" Kata pria tersebut beserta ke Lima rekannya, mereka maju bersamaan dengan mengangkat kapak mereka di sertai dengan Aura Energi kematian.


“Selamat tinggal Ayah, maaf sepertinya aku harus pergi menyusul ibu." Kata Kang Yelu dengan suara rendah.

__ADS_1


“Jangan dulu mengucapkan selamat tinggal karena hal itu belum tentu terjadi...!"


Terdengar suara yang menepis perkataan Kang Yelu, dia kaget mendengar suara tersebut, dia mengangkat kepalanya dan melihat seorang pemuda yang sedang berdiri di hadapannya, Kang Yelu tidak bisa melihat wajahnya karena pemuda tersebut berdiri membelakanginya.


__ADS_2