
Ho Chen menghela nafas sekaligus bingung untuk menjawab pertanyaan dari Qiao Lin, lagi-lagi dia di hadap kan pada masalah seperti ini.
Bagi Ho Chen cukup Yihua saja yang sudah membuatnya kerepotan dia tidak berharap masalah ini terulang kembali.
"Kenapa diam saja? Ayo jawab dengan jujur." Kata Qiao Lin.
"Aku.. Eh Ini..!."
"Adik Chen, aku mencari mu dari tadi, ternyata kamu disini!." Ho Chen yang kebingungan untuk menjawab tiba-tiba di kejut kan oleh kehadiran Jiu Rui dari depan pintu.
Ho Chen bernafas lega, setidaknya untuk saat ini dia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Qiao Lin karena kedatangan Jiu Rui yang datang di saat yang tepat bagi Ho Chen.
Namun berbeda dengan Qiao Lin yang merasa kesal atas kedatangan Jiu Rui, jika Ho Chen merasa kedatangan Jiu Rui sangat tepat, bagi Qiao Lin ini bukan waktu yang tepat untuk Jiu Rui datang.
"Kak Rui, ada perlu apa mencari Chen?." Tanya Qiao Lin kepada Jiu Rui namun dengan tatapan dingin dan tidak senang.
Jiu Rui langsung menyadari itu, dia menelan ludah ketika di tatap tajam oleh Qiao Lin. "Sial, sepertinya aku datang di waktu yang salah..!." Batin Jiu Rui.
"Ti-tidak, tidak ada sesuatu yang penting! Aku mau keluar dulu untuk memberi makan kuda." Kata Jiu Rui dan ingin segera keluar dari tempat itu.
"Biarkan aku ikut membantu mu!." Kata Ho Chen.
"Kamu jangan kemana-mana dulu sebelum menjawab pertanyaan ku!." Qiao Lin segera melarang Ho Chen untuk pergi.
Bulu kuduk bagian belakang leher Ho Chen merinding ketika melihat tatapan Qiao Lin yang merasa tidak senang, dia hanya bisa menurut dan tidak lagi mau membantah Qiao Lin khawatir Qiao Lin nantinya semakin marah.
Jiu Rui tidak lagi mau melihat mereka, dia takut menjadi sasaran kemarahan Qiao Lin dan segera keluar meninggalkan mereka berdua.
Kini hanya tinggal mereka berdua lagi di ruangan tersebut. Ho Chen bisa melihat tatapan Qiao Lin yang menunggu nya menjawab.
__ADS_1
"Maafkan aku jika sikap ku tadi membuat mu tidak nyaman!." Kata Qiao Lin yang menyadari akan sikap nya yang sedikit berubah. Qiao Lin khawatir sikap yang barusan ia tunjukkan akan membuat Ho Chen semakin menjauh darinya.
"Lin, Aku tidak bisa menyampaikan perasaan ini padamu! Bukannya aku tidak memiliki perasaan pada mu! Sebelum aku menjalin hubungan seperti ini, alangkah baiknya jika aku menyelesaikan dulu hal penting yang sedang aku hadapi saat ini." Kata Ho Chen menyampaikan dengan sedikit ragu, dia takut Qiao Lin tidak bisa menerima akan penjelasannya.
Namun nyatanya Qiao Lin justru tersenyum lembut, di mengerti akan situasi yang Ho Chen hadapi, namun ketika Ho Chen mengatakan bahwa dia bukan tidak memiliki perasaan padanya! Qiao Lin bisa mengartikan jika Ho Chen juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Chen, orang bijak berkata! Asmara bukan hanya sekedar saling memandang satu sama lain. Tapi juga sama sama melihat ke satu arah yang sama." Kata Qiao Lin.
Ho Chen terdiam memandangi Qiao Lin, bukannya dia tidak mau untuk menjalani hubungan sekaligus bersama-sama menghadapi masalah yang akan dia hadapi. Namun Ho Chen tidak mau jika hal buruk harus terjadi, kerena masalah yang akan dia hadapi akan lebih sulit dari apa yang ia perkirakan.
"Lin, kalau sudah tiba waktunya nanti, aku harap kau kembali dulu ke Gunung Es! Jika aku sudah berhasil membereskan kekacauan ini, aku akan segera menyusul mu kesana." Kata Ho Chen namun dia sendiri tidak yakin semua itu akan berjalan dengan baik atau tidak.
Qiao Lin jelas tidak setuju. "Aku akan tetap ikut dengan mu! Kamu pikir aku mengikuti mu karena apa? Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu."
"Tapi aku juga tidak ingin terjadi sesuatu padamu!." Ho Chen juga menyampaikan rasa ke khawatiran nya.
"Kenapa kamu mengkhawatirkan ku?." Tanya Qiao Lin.
Qiao Lin tersenyum lebar, dia sengaja memojokkan dan menjebak Ho Chen dengan pertanyaan cepat agar Ho Chen bisa menjawab mengatakan hal yang sebenarnya mengenai perasaannya tanpa harus berpikir dulu. Andai saja Qiao Lin tidak memikirkan harga dirinya, pasti dia sudah berlari memeluk Ho Chen, namun dia tidak melakukannya.
"Kau sudah mengatakannya, setidaknya aku sudah mengetahui perasaan mu padaku." Kata Qiao Lin dengan suara pelan namun cukup jelas terdengar oleh Ho Chen.
Ho Chen mengumpat dalam hatinya. Ho Chen akui dia sangat mencintai Qiao Lin, sejak pertama kali bertemu di sekte Bukit Halilintar, rasa kagum sudah muncul dalam hatinya, namun Ho Chen tidak menyadari akan perasaannya sendiri, baru kali ini dia mengerti akan perasaanya yang sempat menghilang akibat efek dari membuka pintu ke abadian.
Namun ketika perasaan nya mulai kembali, dia baru menyadarinya dan juga mulai mengerti. Namun yang membebani Ho Chen ialah akan ungkapan perasaan Yihua kepada dirinya. Kini dia harus menghadapi dua masalah sekaligus, dia juga tidak mampu untuk melukai perasaan kedua wanita tersebut.
Ho Chen menjadi dilema, dia bimbang untuk memilih salah satu dari mereka. Ho Chen tidak mengetahui jika masih ada satu perempuan lagi yang menunggu kedatangan dirinya.
"Aku mau pergi membantu kak Rui dulu!." Kata Ho Chen.
__ADS_1
Qiao Lin mengangguk dia sudah tidak lagi menahannya kerena sudah mendapat kan jawaban yang ia inginkan.
Wajah Qiao Lin semakin cerah dengan senyum nya yang sumringah karena merasa sangat bahagia. Berbeda dengan Ho Chen, wajah Ho Chen sedikit merengut karena memikirkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan.
"Sebaiknya aku mencari orang yang mengerti akan masalah ini, tapi siapa? Kak Rui! Ah tidak jangan dia. Guru Ming Hao? Benar, seharusnya Guru Ming bisa membantu ku." Ho mengalirkan energi ke matanya dan mencoba melihat ke salah satu permata yang berada di gelangnya.
"Kemana Guru Ming? Apa dia sudah bangun?." Ho Chen kebingungan melihat Ming Hao sudah tidak ada di dalam gelangnya.
Beberapa saat kemudian, terlihat Jiu Rui yang datang dengan tergesa-gesa menuju ke arahnya. "Adik.. Adik! Ikutlah dengan ku ke kandang!." Kata Jiu Rui yang terlihat panik.
"Ada apa, ambillah nafas dulu baru bicara!." Kata Ho Chen melihat Jiu Rui yang sepeti habis melihat hantu.
Jiu Rui menarik nafas sejenak kemudian kembali berbicara. "Naga Putih tidak ada di tempatnya!."
"Apa! Naga Putih tidak ada di kandang?." Tanya Ho Chen namun tetap berusaha tenang.
"Benar adik, tadi ketika aku mengambil makanan kuda dan ingin memberinya makan, ternyata Naga Putih sudah tidak ada di tempatnya. " Kata Jiu Rui.
Ho Chen mulai melacak energi Naga Putih. Ho Chen dapat mendeteksi energi Naga Putih dengan energinya sendiri. Jika Naga Putih masih berada di area sepanjang 500 meter, maka Ho Chen akan dapat mendeteksi keberadaan nya.
Ho Chen berhasil menemukan Naga Putih yang ternyata tidak jauh keberadaannya. "Kakak tunggulah di sini aku mau menyusul Naga Putih." Kata Ho Chen kemudian pergi menuju ke arah Kuda tersebut berada. Sedangkan Jiu Rui hanya bisa memandang kepergian Ho Chen dengan heran.
Sesampainya di tempat Naga Putih, Ho Chen terkejut melihat Naga Putih, energi Naga Putih sudah kembali, artinya Energi Kun sudah bangun. Yang lebih mengagetkan lagi, di hadapan Naga Putih terlihat sosok bercahaya sedang berbincang dengan nya.
Ho Chen segera menghampirinya kemudian menyapa sosok tersebut. "Guru Ming, sejak kapan guru bangun?." Tanya Ho Chen setelah berada bersama mereka.
"Ah Chen'er sepertinya baru kemarin aku tertidur, namun sepertinya aku tertidur cukup lama, lihat saja dirimu! Kini kau sudah terlihat besar dan kekuatan alami mu juga sudah meningkat." Kata Ming Hao memperhatikan Ho Chen dari atas sampai bawah.
****
__ADS_1
Terima kasih kepada kalian yang sudah mendukung PDA, baik melalui vote maupun melalui like.