
“Kau terus awasi dia, aku akan kembali untuk melapor kepada Raja iblis hitam." Kata Jendral Ori kepada Touli.
Touli sedikit ragu dia hawatir jika Ho Chen menyadari akan keberadaannya. “Jendral apa tidak ada cara lain untuk memberitahukan Raja hitam Tampa harus pergi kesana?."
Jendral Ori menggelengkan kepala. “Andai kekuatan ku sudah pulih aku hanya butuh setengah hari untuk sampai kesana." Kata jendral Ori.
Wajah Touli sedikit buruk, dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan jendral Ori. Dengan berat hati dia menyanggupinya.
“Baiklah aku akan pergi dulu, bawalah ini bersamamu, dengan benda ini aku bisa melacak keberadaan mu."
Jendral Ori memberikan sebuah benda menyerupai batu dan berwarna merah, dari dalam batu tersebut terpancar Aura energi yang agak panas. Walau mengeluarkan energi panas namun jika di pegang tidak akan terasa panasnya.
Touli menerima benda tersebut, dia ingin bertanya nama benda yang ada di tangannya, namun jendral Ori sudah lebih dulu meninggalkannya.
Touli memandangi Ho Chen dari jauh, dia menekan seluruh energinya agar Ho Chen tidak menyadari akan keberadaannya dan bersembunyi di semak-semak yang rimbun.
Touli heran melihat Ho Chen yang duduk bersila tidak bergerak, bahkan tidak berbicara sama sekali, Touli yakin Ho Chen sedang meditasi, namun anehnya dia bisa meditasi di situasi sedang ada kedua temannya yang sedang berbincang, seolah-olah Ho Chen tidak terusik akan pembicaraan dari kedua temannya.
“Benar-benar hebat bisa meditasi dengan tenang dalam keadaan yang begitu berisik seperti itu." Batin Touli, dia sendiri tidak yakin bisa melakukan hal yang sama dengan Ho Chen.
***
Saat ini Ho Chen sedang berada di Alam batin, dia sedang berlatih dengan energi Kun atau naga putih.
“Kamu sudah membuka 4 pintu, apa sekarang kamu bisa membuka pintu selanjutnya?." Tanya naga putih.
__ADS_1
Ho Chen mengelengkan kepalanya. “ aku tidak bisa membuka pintu ke 5, sepertinya agak sulit bagiku untuk membuka pintu ke abadian itu." Kata Ho Chen dengan sedikit Lesu.
Naga putih di depanya saat ini sudah tidak lagi berbentuk kuda, namun berbentuk energi bulat yang sangat terang, andai di dunia luar dia menunjukkan nya pasti akan sangat terang bagai di siang hari.
“Jika kamu ingin membuka pintu ke lima yaitu pintu menuju ke abadian, ada caranya, aku akan mengajarkan cara tersegut padamu." Kata naga putih.
Seperti biasa Ho Chen duduk bersila dan memejamkan matanya, dia berusaha berkonsentrasi. Setelah cukup naga putih segera memberi arahan dan penjelasan.
“Pintu kelima adalah pintu untuk menuju ke tingkat ke abadian, dengan membuka pintu tersebut kamu tidak akan mudah untuk di kalahkan. jika lawanmu hanya berada di tingkat Jiwa puncak 3 sekalipun tidak akan mudah untuk membunuhmu, kecuali orang tersebut memiliki kekuatan Raja Alam, atau Dewa abadi! Jadi apa kamu sudah siap?." Tanyanya setelah selesai menjelaskan.
Ho Chen mengangguk, kemudian naga putih mulai menjelaskan cara-cara nya.
“jika kamu ingin membuka pintu ke abadian kamu harus bisa memutuskan semua yang terikat denganmu, apapun dan siapapun itu. Ho Chen jika kamu memiliki sebuah ikatan kepada seseorang, maka putuskan lah ikatan tersebut sekarang." Kata naga putih.
Ho Chen yang duduk bersila sedikit goyang. Satu persatu orang-orang yang memiliki ikatan dengannya mulai mengisi ingatannya.
Kini muncul Jiu Rui, orang pertama yang mengangkatnya menjadi saudara, walau terlihat bodoh dan konyol namun bagi Ho Chen, Jiu Rui adalah sosok yang sangat dia sukai, karena dia pernah berusaha meyelamatkan nya ketika terjadi penyerangan di bukit halilintar. Jelas Ho Chen sangat berat jika harus memutuskan ikatan sekaligus melupakan dari ingatannya.
Kini muncul Liu Wei, gadis kecil yang dulu pernah berlatih bersamanya di atas bukit kecil, di sekte Bukit Halilintar. Semua ingatan tentangnya juga bisa Ho Chen lihat dengan jelas, menurutnya ada kesan tersendiri baginya.
Semua orang satu persatu bermunculan, seperti Kang Jian dan anak-anaknya, Wang Chungying dan anaknya, Jian Heeng bersama seluruh anggota sekte Bukit Halilintar.
Qiao Ho, Qiao Lin, Ming Hao, Hong Li, Yihua Ming Mei, dan semuanya. Tubuh Ho Chen bergetar hebat, terlihat jelas oleh naga putih jika Ho Chen sangat kesulitan untuk memutuskan dan melepaskan ikatan dengan mereka.
“Apa dia akan gagal?." Batin naga putih.
__ADS_1
Saat semua orang-orang yang Ho Chen ingat bermunculan, dan sangat sulit baginya untuk memutuskannya, tiba-tiba terdengar suara yang sudah lama tidak ia dengar.
“Chen'er! Ada apa dengan mu? Apa yang membuatmu begitu kesulitan?."
Suara wanita dengan lembut bertanya padanya. Ho Chen membuka matanya perlahan-lahan. Setelah ia membuka pemandangan di sekitarnya telah berubah. Dia merasa sudah tidak lagi berada di Alam batinnya. Seluruh tempat tersebut bercahaya putih menyilaukan, udaranya sangat sejuk dan juga sangat wangi.
Pandangan Ho Chen tertuju kepada dua sosok yang bediri di samping kiri dan kanannya. “Ayah! Ibu! Apa kalian masih....!." Ho Chen menghentikan perkataannya. Dia sadar tidak mungkin kedua orang tuanya akan kembali hidup.
Ho Jun tersenyum lembut, begitu pula dengan Wei Shuan, senyum yang sudah lama Ho Chen rindukan. Air mata Ho Chen keluar dengan sendirinya, itu membuktikan betapa rindunya dia kepada kedua orang tuanya.
Menurut Ho walau ini mungkin adalah ilusi atau pun dia sedang berhalusinasi, menurutnya itu tidak masalah, yang penting dia bisa melihat kembali kedua orang tuanya.
Wei Shuan menghampirinya dan mengusap air matanya dengan lembut, kemudian memeluknya. Ho Chen bisa merasakan pelukan hangat dan penuh kasih sayang dari Wei Shuan sangat nyata.
Tampa ragu lagi Ho Chen membalas pelukan ibunya denga erat. “Kau sudah besar gagah dan tampan. Ibu sangat bangga melihatmu tumbuh kuat seperti ini. Pasti begitu banyak penderitaan yang kamu hadapi setelah kepergian kami bukan? Jadi maafkanlah ibu dan ayahmu ini." Kata Wei Shuan sambil memeluk Ho Chen.
Ho Chen melepaskan pelukannya kemudia menggelengkan kepalanya. “Ayah dan ibu tidak salah, ini semua terjadi karena takdir. Jadi kalian tidak perlu bersedih atau merasa bersalah." Kata Ho Chen.
Ho Jun menghampirinya. “Ternyata putraku sudah dewasa. Bisa kau ceritakan pengalaman mu selama ini kepada kami?." Tanyanya.
Sebelum Ho Chen mulai menceritakan kepada kedua orang tuanya pengalaman hidupnya. Ho Chen lebih dulu bertanya sesuatu kepada mereka berdua. “Kenapa aku bisa berada di sini? Dan kenapa aku bisa bertemu denga kalian lagi? Tempat apa ini?."
Wei Shuan tertawa kecil mendengar pertanyaan putranya yang begitu banyak. Kemudia menjawabnya. “Chen'er ini adalah alam yang jauh di bawah alam kesadaran mu. Kami sengaja menemui mu untuk membantu mengatasi kesulitan yang kamu hadapi." Jawab Wei Shuan.
“Apa kamu ingat sama kalung yang ku berikan padamu?." Tanya Ho Jun.
__ADS_1
Ho Chen mengangguk, tentu dia ingat denga kalung giok putih dengan permata biru terang yang di berikan oleh ayahnya.
“Itu adalah kalung mahar, sekaligus kalung pusaka sebagai warisan turun temurun, melalui kalung itulah kita bisa bertemu saat ini. Namun itu cuma satu kali saja, dan tidak akan terulang lagi." Kata Ho Jun.