
"TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN!"
Teriakan yang kentara akan kemarahan serta kebencian menggaung seisi ruangan tembok luas berwarna putih gading, gema suara tersebut berhenti ketika akhirnya sosok yang berteriak itu hanya menarik napas terengah-engah. Kemarahan memakan pikirannya. Mata merah keruh miliknya menatap nyalang ke hadapan, membayangkan sebuah wajah yang saat ini ingin sekali dibakarnya. Seluruh sudut ruangan diisi oleh para panglima dan orang-orang penting Kekaisaran Militer itu. Kekaisaran Gila Perang yang telah jatuh untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.
Lampu lilin yang menyala di dinding tembok bergerak-gerak pelan saat angin yang dibawa oleh sesosok berjubah emas meniup. Langkah penuh wibawa di tengah kekalutan yang melingkupi sosok lelaki di tengah ruangan mulai mendatangkan hawa sunyi yang mengintimidasi. Tokoh Elit dengan riak wajah selayaknya api yang membara.
Qin Yujin diam. Tapi wajahnya masih merah membara akan kekesalan.
Laki-laki itu sungguh hancur. Dan Xin Chen telah menghancurkannya. Di depan Kaisar Yin yang telah datang, tak menampakkan keramahan seperti yang sudah-sudah. Diam-diam tangan Qin Yujin bergetar apalagi saat suara yang begitu diagungkan di Kekaisaran Qing mulai mendominasi ruangan sepi ini.
"Kau menjanjikan kemenangan ... namun, kekalahan yang kudapat."
Sepatah kata yang menggores hati Qin Yujin, matanya yang merah mulai berair. Gigi-gigi runcingnya menyatu rapat, andai Fu Hua tak menggagalkan rencananya hari itu Qin Yujin yakin hari ini tak akan pernah terjadi padanya.
Hari di mana kematian terasa semakin dekat dengannya. Kematian yang dibawa di tangan sekutu nya sendiri. Qin Yujin tak menginginkan itu, seumur hidupnya sekalipun. Masih begitu banyak hal yang memenuhi pikirannya dan mendesaknya untuk tetap hidup.
"Maafkan aku yang Mulia!"
Qin Yujin bersujud ampun di depan lelaki itu, dia menempelkan dahinya ke lantai bersungguh-sungguh dengan mata berurai air mata. Telah dipastikan dia akan mati di tangan Kaisar Yin. Lelaki bertangan besi itu akan membuang siapa pun yang tak berguna baginya.
Dan posisi Qin Yujin sama sekali tak menguntungkan. Dia telah mengecewakan Kaisar Yin. Apalagi yang dia tunggu selain kematian.
"Aku memercayakan begitu banyak kekuatan Kekaisaran ini padamu. Semuanya kau rancang sedemikian indah ..." Kaisar Yin mengetuk-ngetuk kipas emas di tangannya, lalu mengipasi wajahnya yang terasa gerah. Pelayan dan pengawal terus mengikutinya sambil sibuk melayani lelaki kharismatik itu.
Pelan-pelan, Qin Yujin dapat merasakan sebelah telapak tangannya di lantai diinjak oleh ujung sepatu sang Kaisar yang runcing. Darah mulai membasahi lantai.
__ADS_1
"Aku bisa membuatmu kehilangan kedua tanganmu."
Nyali Qin Yujin dibuat ciut, matanya berusaha melihat ke atas dan langsung disambut oleh tatapan membunuh dari Kaisar Yin. Detik itu Qin Yujin tak berani lagi mengangkat wajah, darah berdesir cepat di sekujur tubuh. Setiap ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu adalah mutlak. Jika Kaisar Yin menginginkan dirinya mati, maka seluruh orang-orang di ruangan ini akan langsung menghabisinya.
Meski Qin Yujin masih mempunyai kesempatan untuk melarikan diri, tapi dia tahu dirinya tak akan bisa lepas dari lelaki bermata elang itu. Kaisar Yin berjalan mengelilinginya.
Beberapa detik hanya terdengar derap langkah kaki Kaisar Yin. Karena begitu sunyinya, ketika Kaisar Yin berucap Qin Yujin sampai tersentak kecil.
Dia bisa sampai seciut itu jika di hadapan Kaisar Yin.
Langkah Kaisar Yin terdengar gusar, pun dengan raut wajahnya yang benar-benar sulit.
Terucap satu ultimatum, "Aku memberikanmu waktu dan kesempatan untuk mendapatkan untuk mendapatkan apa yang kuinginkan."
Di sela kalimatnya, Kaisar Yin mendengkus. "Tapi berkat itu aku kehilangan banyak hal. Pengorbanan terbesarku berakhir menyedihkan. Aku tak tahu lagi harus menaruh muka ke mana. Negeri Berperang yang begitu disegani ini, harus ternistakan dalam satu peperangan. Yang jika dipikir sekali saja, seharusnya sudah berada di tangan kita sendiri."
"Li Baixuan. Satu Terkuat, bidak terkuatku sudah tumbang. Tanpa dia entah bagaimana jadinya Kekaisaran ini. Penopang utama kita telah ambruk-bahkan mayatnya tidak dikuburkan selayaknya pahlawan pendahulu kita."
Sakit kepala. Seperti ada batu besar yang menghantam kepala Kaisar Yin. Keadaan di depannya benar-benar tidak menguntungkan. Dia berani mengambil resiko besar ini, karena dirinya sendiri telah berusaha menjamin kemenangannya sendiri dengan mengambil semua kekuatan dan pasukan lebih besar. Saat mendapatkan kekalahan yang dibawa Qin Yujin, rasanya membunuh orang itu sama sekali tak cukup. Wajahnya sudah merah menahan malu.
"Zhaohuo. Enam Terkuat. Dibunuh oleh putra pertama Pedang Iblis."
"Ming Che, Delapan Terkuat. Ahli tombak terhebat yang kita miliki. Dia telah mati."
Kaisar Yin mengibaskan kertas itu, mengeraskan suara agar Qin Yujin dapat mendengat lebih jelas meski dia tahu tak mungkin lelaki itu tak mendengarnya.
__ADS_1
"Ghou Fuxi, Sembilan Terkuat. Juga tumbang dalam perang itu."
"Dan terakhir Sepuluh Terkuat, Ning Tian. Nyawanya habis di sana."
Kaisar Yin menutup gulungan kertas tersebut. Pembawaannya yang tenang tak berarti dia dapat menghadapi situasi pelik dengan kepala dingin, hanya saja Kaisar Yin sudah dengan sebaik mungkin menahan marah yang hampir saja meledakkan kepalanya sendiri.
Amarah kian membara. Kaisar Yin mencekik Qin Yujin dengan mata melotot marah.
"Aku sudah menghabiskan pionir terbaikku hanya untuk rencana busukmu! Dan sekarang kita kehilangan semuanya, SEMUANYA!"
Qin Yujin tak dapat menarik napas, lehernya seperti akan diremukkan dalam hitungan detik lagi.
Ternyata julukan Tangan Besi yang disematkan dalam nama Kaisar Yin memiliki arti. Tangan itu sama kerasnya seperti besi, sehingga untuk sekedar mematahkan tulang lehernya bukanlah perkara sulit.
"Pedang Iblis akan kembali menduduki singgasananya, Naga Kegelapan telah hancur, ratusan ribu prajurit telah hangus dibakar Api Keabadian dan jenderal-jenderal terbaik kita ..."
Bibir Kaisar Yin sampai bergetar saat menjelaskan semua yang dikorbankannya demi hari itu. Kaisar Yin melepaskan cengkeramannya dan menghentakkan tangan. Sampai tubuh Qin Yujin terdorong pada kaki prajurit.
Keadaan Qin Yujin sendiri jauh lebih memprihatinkan. Dia hampir mati dicekik oleh Kaisar Yin. Matanya kosong. Dan yang ada di dalam otaknya adalah pembalasan dendam. Terhadap Fu Hua dan pemuda bernama 'Xin Chen'.
"Lalu, Yang Mulia akan membunuhku?"
Kaisar Yin menyeloteh, "Kau berpikir setelah apa yang kau lakukan, dirimu yang hina ini masih berguna? Sampah saja tak akan sudi untuk menerima jasadmu."
Cukup pedas. Tapi Qin Yujin tak memasukkannya ke hati. Karena hatinya yang sekarang penuh dengan kata pembalasan dendam. Dan jika dia ingin menuntaskan dendam itu, hal pertama yang harus dilakukannya adalah bertahan hidup.
__ADS_1
Meski dengan cara menjilat kaki Kaisar Yin sekalipun.
'Tunggu saja ... Aku akan membalas seratus-bahkan jutaan kali lebih menyakitkan dari ini, Xin Chen.'