Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 159 - Kembali ke Fraksi Militer Pusat


__ADS_3

Lang dengan jubah hitam di tubuhnya sudah menjelajahi Sentral Pusat dari ujung ke ujung, menemukan satu petunjuk di mana dirinya melihat sebuah lambang dan tulisan yang mirip dengan tatahan pemberian Luo Li.


Dengan menyamar sebagai manusia ke sebuah kedai obat, Lang berhasil mengorek informasi lebih dalam soal siapa Guru Luo Li. Dia tinggal di sebuah kuil di mana sebuah perguruan tua berdiri. Berada di sebuah daerah terpencil di Kekaisaran Wei, jauh di dalam hutan dan perbukitan. Diisi oleh biksu dan para ahli obat yang menciptakan obat tradisional, tapi tempat itu sulit digapai. Dan dari penjelasan pemilik kedai obat yang menjual hasil obat dari perguruan itu, sosok yang dia cari sudah tua renta.


Tapi dia adalah seorang Guru Besar di sana. Tempat itu bernama Kuil Hujan. Karena wilayah tersebut selalu diselimuti mendung dan hujan dalam frekuensi tinggi. Banyak tanaman obat tumbuh rimbun di sana. Lang sempat membeli obat-obatan, sebagai basa-basi saja agar pemilik kedai tak mencurigainya. Dia berputar arah, keluar dari kedai dan menemukan begitu banyak petugas berhamburan di jalan.


Dia mendengar kabar tentang terbunuhnya Kaisar Shi dari salah seorang warga. Matanya menatap pada selebaran kertas berisi sayembara. Terkejut.


"Xin Chen anak setan. Habis kujitak kepalamu nanti." umpat Lang sepanjang jalan, dia dapat membaui aroma tubuh Xin Chen. Bukan hal sulit baginya melakukan itu dan menemukan tempat persembunyiannya.


Tak perlu ditanya, datang-datang Lang langsung menimpuk jidat Xin Chen pakai batu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Oi, oi, santai Lang. Santai-"


"Kepala nenekmu santai!"


"Jangan bawa-bawa nenekku, tahu orangnya saja tidak sudah kau kata-katai."


Lang ingin marah lebih dahsyat lagi tapi mengingat keadaannya sekarang mereka harus bersembunyi, serigala itu menahan amarahnya pelan-pelan. Tapi tangan besarnya masih terus menoyor kening Xin Chen.


"Bisa tidak jangan membuatku sakit kepala?"


"Oh pantas kau membeli obat sakit kepala." Xin Chen melihat barang bawaan Lang. Obat herbal. Tak menyangka siluman sejenis Lang bisa pusing seperti orang tua.


"Pantas si Xin Fai tertekan batinnya saat menjagamu. Kau tidak melakukan apa pun saja sudah bikin naik darah, belum berulah lagi. Kau tahu sekarang kau terlibat apa?"


"Harus aku jelaskan dari mana?"

__ADS_1


"Anak sialan. Kau tahu apa yang kau perbuat, tapi kenapa masih nekat kau lakukan?"


Xin Chen mengeluarkan kotak biru yang dikunci rapat-rapat, membuat Lang diam seketika dari cerewetnya yang nyaris tak berhenti. Dia menyembunyikan kotak itu kembali, melihat sekitar waspada.


"Benda ini harus dimusnahkan. Atau jika tidak, jutaan nyawa bisa musnah. Kau paham? Aku berani terlibat dalam sesuatu yang besar karena ada ancaman besar pula di dalamnya."


Tampaknya Lang masih tak begitu setuju, tapi semua sudah terjadi, apalagi yang hendak diprotesnya.


Dia mulai berpikir, Xin Chen adalah satu-satunya manusia yang tidak bisa dia kendalikan berbeda dengan Xin Fai dulu. Minimal sahabatnya itu masih mendengarkan dan mengerti perkataannya. Tapi tidak dengan Xin Chen. Dia jauh lebih nekat dan gila dari Ayahnya.


"Kasihan sekali anak kedua ini. Lahir mungkin otaknya tertinggal di perut ibunya."


Xin Chen tertohok. Kalimat terakhir nan menusuk yang dikeluarkan Lang sebelum tidur menggulung ekornya di pojok ruangan membuat batinnya tersinggung.


Tapi Xin Chen sadar dia juga salah. Dia tahu maksud Lang. Serigala itu mencemaskannya, jika Xin Fai tahu akan hal ini pun lelaki itu pasti sama cemasnya seperti Lang.


Dan inilah keputusannya. Xin Chen hanya bisa menjamin bahwa dia akan mempertanggungjawabkan keputusan ini. Dia sudah dewasa dan tahu betul apa yang dilakukannya.


Dua jam berselang baru Lang mau berbicara, Xin Chen menatap lama pada bekas kayu yang telah menjadi arang.


Dia menjawab. "Mengantarkan kotak ini ke Fraksi Militer Pusat dan memastikannya hangus tak bersisa. Kau sendiri, sudah mendapatkan petunjuk tentang Guru Luo Li?"


Lang menjelaskan semua informasi yang dia dapatkan. Sedikit harapan yang akan mengantarkan mereka kepada satu-satunya orang yang bisa membuatkan obat untuk Ren Yuan. Xin Chen merasa semakin dekat dengan tujuannya. Tapi di sisi lain dia sadar, Qin Yujin pasti tak akan diam setelah tahu rencananya digagalkan.


"Baiklah. Aku mengerti. Malam ini kita bergerak ke Perkemahan Tenggara."


Xin Chen dan Lang menunggu dini hari sampai para petugas yang berjaga di jalanan bubar. Setelah memastikan di luar aman, Xin Chen berniat ke luar lewat pintu belakang. Tapi langkahnya tercegat ketika mendapati sesosok dari kejauhan yang tampak familiar.


Xin Chen berpikir untuk membunuh orang itu, tangannya telah bersiap menarik pedang tapi Lang menahan langkahnya.

__ADS_1


"Percayalah padaku, kita hanya akan mendapatkan masalah baru jika meladeninya. Dia sedang memancing mu untuk keluar."


Lang menatap Qin Yujin yang sedang menggila di jalanan, dia mengamuk membanting apa pun di sekitar. Penduduk hanya bisa bersembunyi di rumah ketakutan oleh tingkahnya yang seperti orang gila.


Qin Yujin berteriak.


"Keluar kau, pengecut! Sudah lama aku ingin mencabik-cabik dagingmu! Anak h*ram! Setelah Fu Hua, sekarang kau lagi?! Ada saja yang kau gagalkan bersama j*lang itu! Paling cocok memang kalian! Si anak h*ram dan anak j*lang!"


Berbagai umpatan dan hinaan membuat darah Xin Chen mendidih. Dia dilahirkan dengan terhormat di Klan Xin dan sekarang dikatai anak haram oleh laki-laki yang tak lebih dari sampah masyarakat itu. Dia telah dibuang dari klan Qin. Seorang Kaisar terhormat di Kekaisarannya.


Kemarahan di dada Xin Chen tak kunjung mereda. Lang menambahi.


"Dinginkan kepalamu. Lihat sekeliling orang itu. Dia menyiapkan pembunuh bayaran dalam jumlah tak wajar. Dia tahu kau akan terpancing jika dikatai soal orang tuamu. Jangan sampai tertipu."


Xin Chen berusaha menulikan telinganya atas makian Qin Yujin yang terus menggema. Mendengarkan kata Lang. Saat ini posisinya sedang dalam bahaya, nama klan Xin sedang dipertaruhkan. Sekali dia tertangkap, nama Pedang Iblis tak akan selamat.


Xin Chen tak mau itu terjadi. kali ini Qin Yujin bisa lepas. Lain kali dia akan membunuhnya tanpa ampun. Dia buru-buru berkata,


"Kita berangkat. Cepat."


Lang mengekori Xin Chen dari belakang, menuju perbatasan Sentral yang dikelilingi kawat listrik. Meninggalkan Sentral Pusat sebelum matahari terbit dan langsung bergerak menuju Fraksi Militer Pusat yang jaraknya cukup jauh dari sentral.


Saat tiba di sebuah pintu yang diawasi ketat oleh sekelompok Fraksi Militer Pusat, seseorang memberikan isyarat pada teman-temannya. Seolah-olah mengenali siapa yang sedang berjalan dari kejauhan bersama seekor siluman serigala.


Wen menyambut Xin Chen sedikit membelalak, seakan tak percaya teman barunya itu kembali dari Sentral Pusat hidup-hidup.


"Wajahmu menunjukkan kabar baik, kawan."


"Benarkah? Sepertinya kali ini kau tidak salah." Xin Chen menyambut uluran tangan Wen. Lelaki berkulit gelap itu melihat kanan kiri dengan waspada.

__ADS_1


"Bergegaslah masuk, aku khawatir mata-mata sedang mengawasi kita. Kau tahu keadaan di Kekaisaran ini sedang kacau-kacaunya."


Setelah memasukkan Xin Chen ke dalam, mereka langsung bergerak ke markas besar di mana puluhan laki-laki memenuhi sepanjang bangunan luas itu. Terdapat banyak ruangan, di lorong jalan pun mereka tak kalah ramai.


__ADS_2