
Tetesan air jatuh, satu per satu menimbulkan bunyi gema yang berulang-ulang. Mata itu tertutup, perlahan terbuka lemah. Darah telah masuk ke dalam kelopaknya, sakit tak lagi terasa seperti sebelumnya. Hampa. Xin Chen bahkan tak tahu apakah dia masih hidup atau tidak, hanya terdengar samar-samar keributan.
Dia dapat melihat tangan kanannya, kehilangan daya sementara keputusasaan mulai membuatnya merasa tak berguna. Qingou akan keluar dan membunuh banyak manusia, Xin Chen khawatir dia terlambat seperti yang orang itu katakan, sampai masa nya tiba dia tak akan mampu menyelamatkan keluarganya dan semua orang dari bencana menakutkan ini.
"Kalau kau jadi aku ... Apa yang akan kau lakukan?" Xin Chen berbicara sendiri, membayangkan sosok bermata merah itu berada di dekatnya. Orang itu pernah mengalami wabah ini di masa lalu, dan sekarang jika semua yang ditakutinya benar-benar terjadi, Xin Chen tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ketakutan itu membuatnya mati rasa, Qingou mulai mencabik-cabik manusia mana pun yang ditemuinya di ruang belakang Laboratorium. Serta sisa-sisa manusia yang terjebak dalam bangunan. Cipratan darah membasahi dinding, Xin Chen dapat mendengar satu jeritan yang sangat memohon.
"Tolong aku! Tolong ...!"
Wanita itu bersama seorang anak kecil, dia ingin melarikan diri namun terpisah dari rombongan dan terhalang oleh karena pertarungan Xin Chen dan terinfeksi itu. Dia berlari kencang k arah Xin Chen sambil menggendong putranya yang menangis, baru berumur 6 tahun, usia yang cukup belia untuk melihat bagaimana setengah tubuh badan ibunya di makan oleh Qingou.
Wanita itu menjerit, mendorong anaknya yang langsung terbaring di sebelah Xin Chen.
"Selamatkan putraku ... Aku mohon padamu! Jangan biarkan dia mengalami hal yang sama seperti yang kami rasakan! Selamatkan dia ... Selamatkan dia!!"
Rintihan ibu diselingi jeritan sang anak yang tahu bahwa ibunya itu akan mati seperti para manusia yang pernah dilihatnya, dia menarik-narik tangan Xin Chen agar terbangun.
"Kak, selamatkan ibu! Selamatkan ibuku! Dia sedang kesakitan, aku mohon!" Tangisnya pecah seketika itu pula, melihat Qingou mulai mendekati ibunya yang terkulai kehabisan darah. Xin Chen menatap wajah anak itu, dirinya sudah terlalu babak belur namun rasa ingin melindungi membuatnya berhasil bangkit.
Tulang-tulangnya yang telah patah mengalirkan sakit yang luar biasa, Xin Chen menahannya. Memegang pundaknya yang berdarah hebat, tak berniat memulihkan tubuhnya karena saat ini yang dilihatnya hanyalah Qingou.
Mahkluk itu melahap ibu sang anak dengan rakus, teriakan putus asa memenuhi ruangan tersebut. Sang anak kecil berusaha meraih ibunya yang tengah dikunyah dalam mulut Qingou, Xin Chen menahannya dengan menarik tangan sang bocah.
"Ibumu sudah mati. Aku tahu kau sudah mengetahui itu, dan kau masih kecil. Tapi mengertilah, kau harus melepaskannya dan tetap hidup untuknya."
"Tidak! Tidak! Ibu masih hidup, dia hanya tidur di perut monster jelek itu ...! Kakak, ku mohon, ibu terperangkap sendirian di sana ... Dia pasti kedinginan, dia pasti..." Bibir anak itu bergetar hebat, kedua tungkai kakinya lemas hingga dia jatuh berlutut. Tidak bisa membendung kesedihannya sama sekali, anak itu marah.
Xin Chen yang masih mengumpulkan sisa kesadarannya tak menyadari bahwa bocah itu terlepas dari tangannya dan berniat melukai Qingou dengan tangan mungilnya, jelas dia akan penyet duluan.
"Hoh ... Santapan yang cukup segar!" Qingou meloncat seperti katak, menangkap anak kecil itu dengan ujung jarinya. Si anak kecil tergantung terbalik, mengais-ngais udara berteriak meminta diturunkan. Namun Qingou tak mendengarnya dan mulai mengarahkan kepala anak itu ke mulut.
Ibu dari anak itu telah menyelamatkannya dengan mengorbankan nyawa, Xin Chen tak berniat membuat kematiannya sia-sia dan membiarkan bocah itu mati.
"Ayolah keluar ... Kita punya banyak makanan yang cukup untuk membuat kalian kenyang berbulan-bulan."
Aliran kekuatan roh telah lama tak dirasakannya, Xin Chen menatap anak kecil itu yang mulai menjerit ke arahnya.
"Aku tidak mau mati! Selamatkan aku, tolong ...! Aku tidak ingin mati sekarang," jeritnya ketakutan setengah mati. Bau amis dari mulut Qingou dan gigi tajam miliknya membuat bocah itu hampir pingsan. Dia bergerak tak karuan, memohon untuk dilepaskan.
Mata biru itu menyala terang, "Ini dia."
Kekuatan yang telah menghilang kembali bangkit, dalam hitungan detik membuncah hingga Xin Chen tak bisa mengontrol jumlah kekuatan yang keluar.
__ADS_1
"Mengapa bisa sebesar ini-?!" Xin Chen sampai terkejut bukan main, "apakah ini kekuatan dari lima ratus ribu jiwa? Aku bisa kehilangan kendali-"
Dirinya sendiri belum pernah menggunakan kekuatan roh semenjak terakhir kali pingsan. Sensasi luar biasa membuatnya terkejut, bagaikan dialiri oleh kekuatan yang terus membesar setiap detiknya. Puncak dari itu semua dimulai dengan goncangan yang membuat retak seluruh lantai, atap bangunan rubuh dalam sekejap mata dan menghantam apa pun yang berada di bawahnya. Xin Chen menyelamatkan anak kecil tadi, menghilang sesaat dan ketika muncul terjangan kuat membuat Qingou terpental.
Kekuatan roh mengamuk sejadi-jadinya, setelah membawa anak tadi ke tempat yang aman Xin Chen jatuh. Dia kembali ke tubuh roh, kepalanya berdenging. Jumlah kekuatan itu mulai tak bisa dibatasi dan akan terus keluar.
Kabut hitam memenuhi seisi Laboratorium Baru, Qingou waspada. Dia melihat seberkas cahaya di dalam kegelapan dan sebuah kitab melayang di hadapan Xin Chen. Pemuda itu bangkit susah payah, menatap lembaran yang terus terbuka hingga ke beberapa kertas terakhir yang kosong.
Kabut hitam mengukir sebuah tulisan acak yang menjadi pertanda bahwa Jurus Tahap Tiga telah terbuka.
Tak seperti sebelumnya, hanya ada satu jurus di sana.
Angin kencang menerpa, di balik kabut hitam itu sesosok makhluk muncul hendak mengenainya dengan hantaman tinju. Namun kabut hitam ini adalah medan perang Xin Chen, dia masih bisa melihat jelas meski semua tempat tertutupi. Qingou terdiam ketika satu jurus dikeluarkan, membuat kakinya gemetar.
"Kitab Pengendali Roh - Hawa Kosong."
Tak ada yang terjadi selama beberapa detik, kabut hitam menghilang dan di tengah-tengahnya terlihat Qingou berlutut. Gravitasi bumi menariknya untuk bersujud. Atau tekanan besar yang memaksanya seperti itu. Qingou mencebik, "hanya kekuatan biasa tak akan mampu membunuhku."
Kitab Pengendali Roh kembali menutup, gerakan dari tiap lembar yang menutup menimbulkan bunyi hingga bagian sampul tertutup. Sunyi senyap yang ganjil menghadirkan hawa aneh yang bertiup di balik punggung Qingou, dia berusaha menelaah berbagai sisi.
Dalam tiba-tiba tubuh Qingou pecah, puluhan puing-puing dan reruntuhan hancur menjadi debu. Xin Chen mulai dapat mengendalikan ratusan ribu kekuatan roh itu dengan Hawa Kosong, jauh lebih mudah dari sebelumnya.
Dari yang diketahuinya Hawa Kosong sendiri bukan sebuah jurus untuk membunuh, pada dasarnya hanya jurus untuk menetralkan kekuatan roh. Bahkan jika harus mengendalikan lebih banyak dari yang dia miliki sekarang, pikirannya tak akan terganggu dan kekuatan itu sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Xin Chen merasa Hawa Kosong benar-benar berguna dan dia butuhkan selama ini, namun jika dipikir lagi munculnya Hawa Kosong di tahap ketiga dan sebagai satu-satunya jurus di tahap ini pasti memiliki alasan. Dia mulai menebak sembari mengontrol kekuatan tersebut.
Tubuh-tubuh yang telah mati mengambang di udara, lalu menjadi debu yang lenyap bersamaan dengan kabut hitam yang lewat hanya hitungan detik. Tak menyisakan satu pun, roh-roh itu bertambah kian banyak dari waktu ke waktu.
"Kitab Pengendali Roh - Garis Hitam."
"Seharusnya kau tahu kekuatan kami bisa lebih besar dari yang kau bayangkan, kau memberi kami banyak makan." Ucapan itu muncul dari tengah-tengah kabut hitam, sepasang cahaya putih menghadap ke arahnya. Xin Chen tahu roh itu sedang berusaha menyampaikan sesuatu ke padanya.
"Heh, aku bisa membayangkan sesuatu." Xin Chen mengumpulkan kekuatan roh, menjadikannya satu membentuk sesuatu yang mulai bergerak-gerak. Puluhan kaki yang hitam panjang menjulang tinggi ke atap Laboratorium. Tubuh monster itu terbenam di bawah lantai sana.
Xin Chen menggunakan kekuatan yang semakin di luar batas, hingga monster raksasa yang terbuat dari roh keluar setelah melahap habis bangunan laboratorium Baru. Dia nyaris tak percaya dapat menciptakan mahluk sebesar itu. Kakinya bergerak-gerak di dinding luar, memeluk dan membuat retakan besar-besaran. Lalu ketika Laboratorium Baru runtuh, dia menghabisinya dalam sekali lahap.
Xin Chen melepaskan kekuatan itu secepatnya, menyadari tenaganya telah di ujung. Dia mulai mengkhawatirkan sesuatu.
Benar, biasanya saat dia terlalu banyak menggunakan kekuatan penyakit itu akan kambuh dan membuatnya kehilangan kendali. Sakit yang membuatnya jera itu mulai menghantui pikirannya, Xin Chen tak mau merusak saat-saat seperti ini dengan amukannya. Yu dan yang lain sedang bertarung untuk hak dan kedamaian mereka.
Hanya tersisa debu yang mengepul, perlahan terbawa angin dini hari yang begitu sejuk menusuk tulang. Xin Chen diam, menatap Rubah Petir yang menangkap ketakutan di matanya.
"Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Rubah itu sampai mengeluarkan pertanyaan yang jarang sekali didengarnya, Xin Chen menatap kedua tangan sambil tersenyum kikuk. "Sepertinya ... Penyakit itu benar-benar sembuh."
"Meladeni mereka tak akan ada habisnya," kata rubah sembari melemparkan pandangan ke belakang. Siluman petarung dan prajurit bersenjata lengkap sedang mengepung mereka dari berbagai sisi. Xin Chen mengangguk pelan.
"Sebaiknya bergaung dengan orang Yu dan yang lain," sambutnya. Xin Chen dan Rubah Petir segera hengkang dari sana. Meninggalkan musuh-musuh mereka yang kebingungan saat melihat tempat terakhir kali keduanya terlihat dan hanya kosong. Laboratorium Baru yang semula kokoh telah rata dengan tanah. Dalam waktu cepat, pusat mengetahui kabar tersebut dan mulai melakukan tindakan serius.
Bunyi peringatan terdengar di sepanjang Sentral, aroma darah pertempuran telah menyatu dengan udara di sana. Pagi menjelang dan keributan tak urung hilang. Yu dan Xe Chang memutuskan membuat lima kelompok yang saling berpencar. Yu dan dua puluh orang kawannya berhasil menembus aula Kekaisaran. Meski hanya lima orang dari mereka yang tersisa sebab sisanya disikat tanpa ampun, tembakan demi tembakan mengenai tepat kepala temannya. Hingga akhirnya Yu yang tersisa.
Dia berlutut dengan kedua tangan di sisi kepala sebagai tanda menyerah. Seorang laki-laki yang begitu dikaguminya dulu, berdiri di atas singgasananya dilindungi banyak penjaga terlatih. Wajahnya angkuh dan congkak.
"Yang Mulia yang sangat aku hormati, apakah engkau sudi mendengarkan suara-suara sumbang kami? Suara yang kau tahu bagaimana sakitnya menanggung semua ini, kau memahami itu semua hingga saat kau mengulurkan tangan kami semua meneteskan air mata ..."
Kaisar Shi tak mengatakan apa-apa selain menatap Yu, kedua mata yang biasanya menatap penuh iba dan belas kasih itu tak bedanya seorang pembunuh yang sedang merencanakan kematian korbannya. Yu sempat merinding, namun dia harus menyampaikan apa yang ingin dikatakan oleh orang-orang terdahulu yang lebih dulu mati dibandingkan dirinya.
Berharap dengan berbicara seperti ini, akan ada perubahan untuk mereka semua. Perubahan yang lebih baik.
"Aku begitu mengagumi Yang Mulia, semenjak kecil lagi. Anda orang berwibawa besar. Saat Yang Mulia turun ke kampung-kampung dan daerah pinggiran di mana kami yang merupakan korban dari bencana ini berada, aku mulai percaya bahwa masih ada pemimpin kami yang peduli dengan kami."
Kedua pelupuk matanya basah. Yu adalah wanita yang kuat, semasa hidupnya dia dipaksa untuk hidup mandiri dan jarang menangisi keadaan yang kadang berkhianat kepadanya. Namun sekarang, matanya tak sanggup lagi membendung kesedihan yang telah bersarang di hatinya selama bertahun-tahun.
"Semenjak Kekaisaran ini hancur aku melihat begitu banyak penderitaan hingga membuat kedua tanganku bergetar, tak mampu menyelamatkan mereka semua. Suatu saat aku berharap, ketika pemimpin yang baru naik, dia memiliki cara berpikir yang berbeda dari yang sebelumnya. Aku menginginkan sebuah perubahan yang lebih baik."
Yu tak segan berbicara sebanyak-banyaknya meski dia sadar senjata api diangkat siap menembus mulutnya yang masih lancang berbicara.
Wanita itu bersujud, "Aku meminta dengan amat sangat kepada Yang Mulia sebagai seorang rakyat jelata yang menjadi korban dari semua ini. Hapuskan kesengsaraan di tanah tercinta kami,hentikan percobaan yang mungkin dapat memusnahkan semua umat manusia dan tetaplah menjadi sosok anda yang dulu."
"Hanya itu saja yang kau sampaikan?"
Shi Long Xu menyatukan jari-jarinya yang terus bergerak. Yu membungkam mulutnya ketika tahu Shi Long Xu mengeluarkan perintah untuk mengangkat senjata.
Dalam keadaan tertekuk kedua lutut dia mengelilingi pandangan ke seluruh aula, melihat bahwa semua orang di sana memeranginya. Dia adalah musuh. Meski hanya seorang rakyat terbuang yang tak berdaya.
Penyesalan menyeruak di dalam hatinya, Yu berlari sejauh ini, dengan mengorbankan nyawa ratusan orang hanya untuk dibunuh di hadapan Kaisar Shi.
"Ada kalimat terakhir?"
Shi Long Xu berbeda dari yang Yu tahu, sosok mulia itu telah berubah menjadi iblis yang gila kekuatan. Tetesan air mata berjatuhan membasahi lantai. Yu tak pernah takut mati di jalanan dan menjadi santapan terinfeksi. Yang kini ditakutinya adalah mati dengan membawa kekecewaan, bahwa tak ada yang bisa diubahnya meski sudah berjuang sejauh ini.
"Jika Yang Mulia memang telah dibutakan oleh kekuasaan. Maka seseorang akan datang membunuh Anda. Seseorang yang akan menghakimi kalian semua, dia akan datang dan menghancurkan istana ini! Kalian semua pengkhianat busuk, penjilat bangkai-!"
Jantungnya bocor saat peluru tembus, berkali-kali tubuhnya dihujani tembakan bertubi-tubi. Yu berteriak hingga gema suaranya terdengar di aula.
"Kalian semua akan mati!" Sumpah serapah wanita itu diakhiri dengan satu tembakan terakhir sampai tubuhnya ambruk ke lantai. Genangan darah mulai muncul di bawah tubuhnya.
__ADS_1
Kata-kata terakhir wanita itu membuat wajah yang semula angkuh itu mulai berkerut. Merasakan sesuatu akan datang. Suara pertarungan terdengar kian mendekat. Satu tubuh penjaga terjatuh di muka pintu. Lalu sesosok yang tampak samar berjalan masuk. Matanya melebar saat melihat siapa yang tergeletak tak bernyawa di hadapan Shi Long Xu.
"Shi Long Xu ... Kukira kita kawan. Nyatanya kau adalah lawan."