Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 229 - Enam Tuan Rumah II


__ADS_3

"Chen jangan bilang ide gilamu aktif sekarang..." Xin Fai mulai ketar-ketir. Benar saja dengan gegabah anak keduanya itu mengaktifkan semua jebakan, ledakan dan ribuan serangan masuk. Jarum kecil beterbangan menyerbu dari berbagai sisi, begitu pun senjata tajam lainnya yang tiba-tiba menyergap. Namun Xin Chen dengan sigap pula menciptakan perisai roh untuk melindungi Xin Fai dan Lian Ning.


Lian Ning tak menyangka Xin Chen melakukan yang lebih gila dari dia.


"Otak kalian sama-sama tertinggal di Pulau Seizu, ya?" Xin Fai mendengus lelah.


Di tempatnya Yue Ling'er memerhatikan kehancuran yang dibuat Xin Chen, tertawa-tawa sampai orang di sebelahnya heran.


"Boleh juga, membongkar semua jebakan mereka untuk memudahkan pertarungan Selanjutnya. Ini akan menguntungkan bagi kita agar bisa bertarung tanpa memikirkan jebakan yang mereka persiapkan."


"Oi, oi, keributan apa ini?"


Di saat bersamaan Yue Ling'er, Tao Gui Xiang, Zian Ning, Xiu Qiaofeng, Yue Huanran keluar dari persembunyian. Membuat si Topeng Gajah tertarik.


"Oh, kawanan lainnya muncul. Sepertinya Kaisar Qin tak main-main lagi setelah para keroco nya mati tanpa kabar, hmm?"


Baru saat itu seseorang datang.


Tao Gui Xiang membuka matanya lebar, ini seperti yang dikatakan dari laporan. Tenaga dalam di tubuh sosok itu memang benar-benar mengerikan, meluap-luap seperti air terjun yang tak pernah habis dan berwarna merah tak seperti kebanyakan pendekar.


Xin Chen menangkap kehadiran itu, menendang salah satu tong beracun ke arah musuh. Benda itu meledakkan racun, lelaki itu menghindar namun beberapa pecahan sempat mengarah ke wajahnya, membuat lelaki dengan Topeng Gajah itu marah besar. Terlihat dari tangannya yang kini mencengkram sampai hancur besi yang melayang ke arahnya. Seperti mencengkram kulit telur.


"Kau mencari masalah ya di sini?"


"Biasanya masalah yang suka mencariku, karena akhir-akhir ini tidak ada masalah makanya aku mencarinya di sini."


"Aku benar-benar membenci manusia menyebalkan sepertimu."


Xin Chen menarik senyuman senang, sudah lama dia tak bertarung melawan sesama petarung. Melawan terinfeksi yang bahkan tak bisa dikatakan mempunyai otak membuatnya tertekan lahir batin.


"Sendirian saja? Katanya kalian berenam? Kau ditinggalkan sendirian atau bagaimana?" Lian Ning menyeloteh, tepat ketika itu lima asap putih mengepul di berbagai tempat. Dua orang di atap bangunan, dua orang di depan mereka dan satunya lagi berada di atas tiang tinggi yang letaknya agak jauh. Enam Tuan Rumah telah datang menyambut mereka.


Masing-masing dari mereka memakai topeng dengan wajah berbeda. Rubah, Beruang, Kera, Singa, Gajah dan Serigala yang berada paling jauh di atas tiang.


Yue Ling'er tersentak.


Lian Ning yang niatnya ingin berdiri tiba-tiba jatuh berlutut, tubuhnya diserap gravitasi. Begitu berat pundak dan kakinya.


"Apa-apaan kekuatan yang begitu besar ini?"


Tao Gui Xiang melihat jari-jarinya tanpa sadar gemetar, bukan main-main, aura kekuatan enam orang itu mampu membuat pendekar sekelas Pilar Kekaisaran sepertinya gemetar tanpa sebab.


"Benar-benar kekuatan yang mengerikan..."

__ADS_1


"Ditinggalkan? Khawatirkan dirimu sendiri anak muda, teman-temanmu mungkin akan meninggalkan mu saat kau sekarat nanti."


Xiu Qiaofeng kesusahan memasukkan udara di paru-parunya. Racun di tempat itu sangatlah berbahaya jika dihirup terus-menerus.


"Omong-omong karena aku sedang berbaik hati maka akan kuberitahu sesuatu pada kalian."


Seseorang wanita dengan topeng Rubah berbicara. "Jika terus-terusan menghirup udara di tempat ini maka kalian akan mati kurang dari tiga hari."


"Pantas saja mereka menggunakan topeng itu." Xiu Qiaofeng menyadari itu sejak awal, tapi dia masih tak mengetahui alasan pasti mereka menggunakan topeng.


Zian Ning di sebelahnya bersiap, tampaknya musuh mereka sangatlah kuat. Dari energi kekuatan yang mereka keluarkan, Enam Pendiri itu memiliki warna kekuatan yang berbeda-beda.


Rubah Hijau, Beruang Putih, Serigala Merah, Kera Kuning, Singa Hitam, Gajah Abu-abu. Tak ada yang mengetahui pasti warna yang dilambangkan oleh mereka. Namun dari keenam pendiri tersebut, hawa kekuatan merah milik Serigala terasa sangat mengancam.


"Datang jauh-jauh untuk menjadi samsak, heh."


Gajah Abu-abu mengangkat kapak berat yang dibuat dari tulang binatang, kekuatan mistis dari senjata tersebut menyebar seketika. Dia melebarkan kuda-kuda kakinya sehingga angin berhembus dari tempatnya berada. "Baiklah, aku juga sedang mencari kerjaan selain memindahkan tong-tong busuk itu."


"Sombong sekali," sindir Tao Gui Xiang, berusaha untuk tidak termakan oleh kekuatan lawannya yang sedang mereka pamerkan. "Karena kalian banyak orang-orang menderita, kami datang ke sini untuk mengakhiri perbuatan kalian."


"Mengakhiri?" Kera Kuning mengulang dengan nada congkak, "Bukan diakhiri?"


Beruang Putih merapat dengan Gajah Abu-abu, begitu pun dengan Singa, Kera, dan Rubah.


"Kuakui Kaisar Qin adalah orang yang bijak dalam mengambil keputusan. Tapi tampaknya kali ini keputusan yang diambilnya keliru," baru kali ini Xin Chen mendengar Serigala Merah bersuara, nada bicaranya berat dan omongannya bukan asal bunyi. Ada kekuatan spesial yang mengalir dalam nadinya, Xin Chen bisa merasakannya.


Dari Keenam Pendiri tampaknya Serigala Merah adalah pemimpin mereka.


"Kau, siapa?"


Lian Ning menunjuk dirinya bangga saat Serigala Merah mengangkat jari ke arahnya.


"Aku? Aku Lian Ning-!"


"Bukan kau,"


Serigala Merah menatap Xin Chen di balik topengnya, "Tapi yang bermata biru itu."


Xin Chen menyipitkan matanya, berusaha membaca lawannya saat ini. Baru kali ini dia menghadapi situasi setegang ini, aura dari keenam Pendiri Serigala Malam membuat siapa pun ketakutan, termasuk dirinya.


"Xin Chen, kau?"


Lian Ning menatap Xin Chen lalu Serigala Merah bergantian. "Hisshh."

__ADS_1


"Serigala Merah, pemimpin Serigala Malam. Aku tahu kau sudah membacanya."


Dia menarik senyuman lebar di balik topeng serigala bercorak hitam dan merah tersebut, "Akulah lawanmu. Bersiap untuk mati, Xin Chen. Putra Kedua Pedang Iblis," timpalnya sambil menambahkan beberapa kalimat lain. "Aku mengetahui semua kekuatanmu, tiga jenis kekuatan. Api Keabadian, Petir dan Kekuatan Roh. Begitu sulit menemukan pendekar yang menguasai tiga kekuatan sekaligus, kau membuatku tertarik selama bertahun-tahun dan tak kusangka kita akan bertemu di tempat ini."


Rubah Hijau yang tampaknya adalah seorang wanita tertawa-tawa kecil, dia memainkan jari lentiknya sambil membenarkan topengnya. Rantai dari balik jubah hijaunya berkeliaran, "Anak-anak ku sudah tak sabar untuk mencekik wanita kurang dandan itu, bolehkah aku melawannya ketua?" Dia bertanya pada Serigala Merah dengan nada yang genit.


"Tentu saja."


Rubah Hijau bahkan tak menunggu satu detik dan langsung menyerang Yue Ling'er tanpa ampun.


Melihat itu Tao Gui Xiang maju ke depan Singa Hitam yang tengah berdiri dengan angkuhnya, dia tahu sosok itu sedari tadi menatapnya.


"Guru Besar Kuil Teratai, heh? Aku mendengar banyak tentangmu." Singa Hitam tanpa diduga mengetahui dirinya, Tao Gui Xiang menjawab.


"Namaku begitu terkenal sampai terdengar di telinga pelarian dari Kekaisaran Wei seperti mu?"


Tentu Singa Hitam tak menduga jawaban itu yang didapatnya.


"Si pemilik Cakar Pembunuh yang paling terkenal dua puluh tahun yang lalu, sarung besi di tanganmu adalah legenda yang begitu ditakuti. Tak kusangka setelah dikatakan mati kau kembali bangkit."


"Wawasan yang luas, Kakek Tua. Sekarang aku akan mengubur informasi itu sekalian dengan jasadmu."


"Kita saling mengenal, kau mengetahui kekuatan ku dan begitu sebaliknya."


"Tapi kekuatan kita tidaklah sama. Aku akan lebih dulu membungkam mulut keriput itu sebelum kau menggunakan tongkat jelek itu," tantang Singa Hitam yang kini maju menghadapi Tao Gui Xiang.


Di tempat lain Xin Fai buru-buru menyingkirkan Liang saat kapak besar memecahkan tanah hingga dua meter dalamnya. Serangan tiba-tiba itu diiringi tawa laki-laki di balik topeng Gajah.


"Pedang Iblis ... Sudah lama aku mendengar namamu, orang-orang begitu sombong menceritakan keagungan dirimu. Sekarang mari kita buktikan apakah itu benar atau hanya bualan belaka!"


Xin Fai menghalang arus serangan kapak Gajah dengan sebelah lengannya.


"Saat kau membuktikannya kupastikan kau akan belajar satu hal lain," ucapnya dengan tatapan tajam. "Yaitu arti dari kematian."


Xiu Qiaofeng dan Yue Huanran saling merapatkan punggung karena tiba-tiba kabut hijau di sekitar mereka menebal, dengan masing-masing senjata di tangan keduanya mengawasi setiap sudut. Xiu Qiaofeng menangkis satu tinju yang masuk, langsung mengunci pergerakan lawan dengan menghunuskan pedang tepat di bawah leher sementara tangan lawan hampir menhantam pipi Yue Huanran.


Itu Beruang Putih.


"Hm... Refleks yang bagus. Sayangnya kalian berdua adalah lawanku. Dua gadis lemah."


"Apa katamu?! Lemah?" Xiu Qiaofeng terbakar, Yue Huanran menahannya. "Tenanglah Nona Xiu."


"Biar kita buktikan bahwa Pilar Kekaisaran bukanlah lawan yang bisa mereka remehkan."

__ADS_1


__ADS_2