
"Kau telah kalah."
Qin Yujin tersenyum penuh kemenangan, hingga cahaya merah bercahaya mulai menipis hanya menyisakan berkas-berkas cahaya. Sebuah lubang besar tercipta di bawah.
Tidak akan ada yang mampu selamat dengan serangan sekuat itu. Qin Yujin makin yakin saat tak mendapati siapa pun dari sana.
Di sisi lain Dewa Iblis berhenti melakukan penyerangan, hanya memperhatikan ke arah di mana lubang raksasa tercipta. Seperti kejatuhan bulan di sana, apa pun yang tertimpa pasti langsung hancur dibuatnya.
Namun, ada alasan mengapa Dewa Iblis tak pernah melepaskannya pandangan dari tempat Xin Chen diserang.
"Sudah kukatakan ..."
Suara itu dalam sekejap membuat Dewa Iblis berubah serius, begitu pun dengan Qin Yujin yang mulai melangkah satu tapak demi melihat lebih jelas sesuatu yang mulai merangkak dari lubang mematikan itu.
"Aku akan merangkak dari kerak neraka sekalipun untuk membunuh musuhku, sampai tugasku selesai ..."
Darah mengalir dari kening hingga menetes di dagunya, babak belur sekali pun dia sudah tidak peduli. Xin Chen akan tetap berdiri.
"... Jangan berharap bisa menyeret ku ke neraka."
Tangan Qin Yujin turun, sedikit gentar dengan perkataan Xin Chen sekaligus melihat ekspresinya yang begitu yakin.
"Aku akan membunuhmu," ancam Xin Chen langsung ke arah Qin Yujin.
Qin Yujin tak akan pernah memberikan ruang untuk Xin Chen membunuhnya. Dewa Iblis kembali menyerang Xin Chen yang mulai terlalap oleh Api Keabadian. Cahaya biru itu memuncak hingga membakar tanah di sekitarnya, sementara itu aliran darah terus mengalir di wajah pemuda itu. Dia baru saja terkena serangan mematikan dan dapat bangkit lagi. Hal itu memberikan ancaman besar kepada Qin Yujin.
Bola hitam dari tongkat di tangan Qin Yujin mulai bergerak, mereka melesat cepat dan terbang menuju tempat Xin Chen berada. Petir membara di atas langit, Xin Chen menghilang saat bola itu hampir menghantam bumi.
Satu bola hitam ditendang oleh Xin Chen yang tiba-tiba muncul ke arah Dewa Iblis. Musuhnya itu belum sempat merespon, kecepatan Xin Chen meningkat dua kali lipat dari sebelumnya.
Dia menahan ledakan menyakitkan itu dengan dua lengan kekar, melotot marah penuh kebencian. Dewa Iblis menarik kedua pedang dan melompat mengejar Xin Chen di atas.
Pertarungan di atas udara terjadi, pertarungan yang sama-sama mampu merenggut nyawa mereka. Pedang Dewa Iblis menebas berkali-kali ke titik vital, Xin Chen menangkis dengan bilah pedang. Sesaat kedua senjata saling tertahan satu sama lain. Sama seperti sebelumnya, tapi kali ini kekuatan mereka berdua seimbang.
Xin Chen dan Dewa Iblis saling menahan serangan. Bunga Api Biru di keningnya terlihat jelas saat angin berhembus kencang menerbangkan rambutnya.
" ... Jadi kau anaknya sang Iblis?!"
"Anak iblis, katamu?" Xin Chen menanggapi, alisnya menukik tajam. Dia tak berniat berbicara panjang lebar dengan Iblis tersebut. Cukup sudah Raja dan Ratu Iblis menjadi ancaman kepada para manusia.
__ADS_1
"Pewaris tubuh iblis ... Darah Raja kami, seharusnya tubuh itu masih mewarisi kekuatan Raja Iblis. Beritahu padaku! Di mana dia sekarang dan apa yang terjadi?!"
Sosok yang dimaksud Dewa Iblis pasti adalah Xin Fai, tubuhnya hanya terlahir seribu tahun sekali. Dan Bunga Api di kepalanya menjadi satu ciri-ciri kekuatan iblis berada di dalam diri mereka.
"Bunga Api Biru yang begitu indah. Jika kau seorang iblis-"
"Tutup mulutmu, aku akan mengakhiri ini semua. Aku bukanlah seorang iblis sepertimu.. membenci manusia dan menyalahkan keadaan dengan menghancurkan kehidupan orang lain..."
"Dan aku bukanlah seorang manusia yang membenci para iblis. Namun aku membenci kalian yang menggunakan kekuatan untuk membunuh orang tak bersalah."
Kalimat Xin Chen membuat Dewa Iblis membelalakkan mata, kedua pedang di tangannya mulai tak sanggup menahan kekuatan Xin Chen yang semakin membesar. Sebuah kekuatan dengan jumlah yang tak pernah dimiliki manusia manapun keluar.
Kekuatan roh dengan lima ratus jiwa sekaligus di dalamnya, itu adalah kekuatan terhebat Xin Chen saat ini. Mereka keluar dari Kitab Pengendali Roh yang melayang di udara dengan lembaran yang terus terbuka.
Di titik itu Dewa Iblis dapat melihat mata biru menyala itu begitu mengerikan, salah satunya mulai berubah menjadi hitam seluruhnya akibat kekuatan roh tingkat keempat. Xin Chen termakan amukannya sendiri.
"Katakan padaku," ucap Dewa Iblis mengencangkan pegangannya pada pedang.
"Di mana Raja dan Ratu kami?"
"Mereka sudah hidup tenang di dimensi yang tidak kuketahui." Gigi Xin Chen merapat, amarah mengamuk dalam dadanya. "Maaf, aku harus mengakhirimu sekarang."
Xin Chen sendiri yakin jika Dewa Iblis menghindar dari serangannya dia masih akan selamat, kekuatan besar dalam Dewa Iblis mampu menyembuhkan dan melindungi dirinya dari serangan mematikan hingga puluhan kali.
Namun, Dewa Iblis memilih membiarkannya menyerang. Serangan mematikan tersebut mengenai Dewa Iblis sepenuhnya.
Amarah yang tadinya menggebu-gebu dalam hati Xin Chen perlahan lenyap. Pedang di tangannya turun, kekuatan api Keabadian dan kekuatan roh telah mementalkan tubuh Dewa Iblis jauh. Saat Xin Chen mendekat dia hanya melihat sosok itu menatap hampa ke langit merah.
*
"Ayah!"
Seseorang dengan jubah merah bercorak api membalikkan badan, sang anak menyentuh tanduk di kepalanya.
"Apakah aku boleh bermain dengan manusia? Mereka kelihatannya sangat menyenangkan!"
Lelaki yang dipanggil ayah itu belum menjawab, namun pamannya datang dengan gegabah, menarik tangan sang anak.
"Manusia akan membunuhmu!"
__ADS_1
"Tapi mereka kelihatan baik-" Anak kecil itu kelihatannya akan merengek beberapa detik lagi.
Sang Paman menampakkan tangan yang ditutup lengan jubah panjang. Tangannya telah buntung, "Manusia itu memotong tanganku! Kau paham artinya apa?! Mereka akan membunuhmu, sekalipun kau hanyalah anak kecil!"
Sang Ayah berjongkok setelah pamannya pergi meninggalkan anaknya menangis.
"Jangan bersedih," tenangnya.
"Kebencian di antara manusia dan iblis memang telah menghancurkan kita, tapi percayalah selalu di dalam hatimu."
Lelaki itu tersenyum, "Jika ada ayah iblis yang baik, maka ada ayah manusia yang baik. Jika ada anak iblis yang baik maka sama halnya seperti anak manusia. Terkadang, bukan hanya kita, iblis sendirilah yang menciptakan garis kebencian itu."
Anak kecil melihat ke pintu di mana pamannya terakhir terlihat, laki-laki itu sangat membenci para manusia dan telah membunuh puluhan dari mereka dengan keji.
"Keadaan membuat kita terpaksa menjadi penjahat. Kekuatan di dalam diri kita membuat mereka ketakutan. Namun, suatu saat nanti kau akan menemukan manusia yang tidak membenci kita. Entah saat kita masih hidup atau mati ..."
Kesadaran Dewa Iblis menipis. Bayangan masa lalu itu entah mengapa terlintas, senyum pahit terukir di wajahnya. Dia tak bisa mengingat kalimat terakhir yang dikatakan ayahnya.
¥
Sebuah meteorit akan jatuh menimpanya. Dewa Iblis tahu akan hal itu, lagipula tubuhnya tak bisa kabur ke mana-mana, dia telah kalah telak.
"Jadi ... Seperti ini rasanya mati dua kali."
Benda raksasa itu menghantam bumi, kepulan debu berterbangan, bunyi besar menggema. Dewa Iblis membuka matanya, seseorang baru saja menariknya dari maut.
"Kenapa kau-!?" Dewa Iblis terkejut, sampai Xin Chen meletakkan tubuh kekarnya di tanah, pemuda itu menatap masih dengan tatapan marah.
"Singkat saja. Aku melihat kau masih ingin hidup dan menyelamatkanmu."
Xin Chen pergi dari sana, bersiap untuk bertarung satu lawan sepuluh ribu melawan para iblis. Dewa Iblis masih menatapnya dari tempatnya berbaring, wajahnya yang semula begitu mengerikan dan kejam berangsur pias, pandangannya memburam. Terdengar bisikan darinya.
"Jika ... Kau ada sebelum para iblis punah ..."
Xin Chen sempat menoleh ke belakang, dari kejauhan telinganya masih mendengar apa yang dikatakan Dewa Iblis.
"Maukah kau menyelamatkan para iblis dari lingkaran kebencian itu?"
Saat itu Dewa Iblis memejamkan matanya. Dia tak bergerak lagi setelahnya.
__ADS_1