Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 157 - Pembantaian di Awal Fajar


__ADS_3

Cerah di pagi hari membawa angin kering, halaman istana tampak begitu sepi di awal fajar. Pintu di dalamnya dikunci, kepala pengawal belum juga keluar dari ruangannya semenjak beberapa menit yang lalu. Padahal di hari-hari biasa, lelaki itu tak pernah terlewat jadwal rutinnya.


Asrama berisi pengawal itu mulai gaduh. Sebagian masih tidur sementara sisanya bertanya-tanya ke mana perginya lelaki cerewet itu.


Di kamar lain, seorang lelaki melotot. Matanya merah, riak wajahnya seperti baru disengat racun. Dia memuntahkan darah, memegangi pedang yang sedang menancap di perutnya hingga seseorang di depan menariknya paksa. Mata keruh berwarna merah itu menatap tajam orang di depannya, sekilas terlihat cahaya biru di balik tudung jubah hitamnya. Lambang bunga api dan petir di dada sosok tersebut sepintas terlihat sebelum akhirnya lelaki itu ambruk di lantai. Mengembuskan napas terakhirnya.


Pagi buta itu, langkah kaki sudah berderap di teras depan asrama pengawal istana. Namun sosok yang berjalan ke arah pintu bukanlah kepala pengawal. Pedang berdarah di tangannya dia sentuh. Pintu asrama terbuka, tak ada jalan keluar selain pintu tersebut.


Xin Chen masuk dan mengunci kembali. Mengangkat pedangnya ke sebelah kanan, membuat puluhan orang di kamar mereka kaget tak main-main.


Ujung pedang masih meneteskan darah merah. Hingga tak berapa lama kemudian kegaduhan langsung membuncah. Satu demi satu kepala terpenggal, dinding terciprat noda darah yang begitu kental. Bahkan ada yang tubuhnya tersangkut tanpa kepala, pembantaian terus terjadi dengan sadis. Tak ada satu pun raga yang masih utuh. Darah membanjiri ruangan itu, tak ada lagi nyawa yang tersisa. Mereka habis dalam waktu kurang dari sepuluh menit.


Xin Chen menatap lama pada mayat-mayat yang telah dibunuhnya. Tak ada rasa penyesalan, orang-orang itu pantas mendapatkannya. Meski sebenarnya mereka tak sepenuhnya salah.


Dia menulis sesuatu di lantai papan yang tak tersentuh darah.


"Era Perdamaian akan Tiba."


Dan dalam hati, dia benar-benar menunggu kapan dirinya berkata; "Akhirnya Era perdamaian telah tiba."


Tapaknya berbalik arah menuju pintu, membukanya perlahan. Darah keluar di bawah kaki pintu, Xin Chen membakarnya sampai tak bersisa dan menutup kembali tempat tersebut.


Siapa pun yang pertama kali membuka ruangan itu pasti akan pingsan. Dia pergi secepatnya, menuju Sungai Fangzu yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari sana. Masuk lewat pintu rahasia yang seharusnya sudah aman. Orang yang berjaga di sana sudah dibereskan. Hanya tersisa mereka yang nantinya berjaga di sekitar Sungai Fangzu.


Melihat rombongan lelaki berkuda, Xin Chen membidik mereka dengan panah api dari kejauhan.


Salah satu dari mereka dengan pelindung kepala langsung jatuh dari kuda, kepalanya tembus oleh anak panah. Sementara rekannya kaget bukan buatan, segera mencari sumber ancaman, tapi Xin Chen lebih dulu memanah tiga di antara mereka tepat sasaran. Ketiga orang itu ambruk, hanya menyisakan lima lagi.


Xin Chen melompat dari ranting pohon, membelah kepala satu pria besar sampai tubuhnya terpotong menjadi dua.


Sontak tindakannya membuat yang lain mundur, hendak menyerang tapi tebasan mematikan telah datang bersarang di leher dan dada. Xin Chen menghabisi gerombolan itu, meminggirkan mayat mereka ke dalam semak-semak dan melanjutkan rencana Shi Long Xu.


Wajahnya telah ternoda oleh darah pembantaian, Xin Chen mencari-cari sisa pria buruannya sebelum waktu ritual dimulai. Sialnya dia tak menemukannya dan justru kehabisan waktu.


Diam sebentar, Xin Chen kini telah berada di lokasi di mana seharusnya Shi Yong Gu akan melakukan ritual bersama istrinya. Dia memejamkan mata, merasakan hawa kehadiran manusia di sekitar.


Masih ada empat puluh orang di barat, jaraknya tak begitu jauh tapi masih aman jika dia bermain cerdik. Yang harus diwaspadai adalah dua orang kepercayaan Kaisar, Xin Chen harus mencari cara menyingkirkan dua orang itu sebelum Kaisar mengirimkan sinyal kepada penjaganya.

__ADS_1


Jauh di aliran sungai yang tenang, kedamaian datang bersama sejuknya hawa di Sungai Fangzu. Wanita berusia hampir mendekati 40 tahun dengan gaun panjang dan jubah yang dibuat dari jalinan benang emas berjalan di sisi suaminya. Pakaian yang dikenakannya dibuat dengan bahan-bahan pilihan, terdapat lambang di belakang jubahnya, menandakan dirinya adalah bagian klan Shi.


Dia membawa sebuah botol berwarna emas. Keduanya berdiri di tepi sungai, saling menatap dalam kedamaian. Burung-burung bertengger di pepohonan, menyanyikan lagu untuk keduanya.


Namun sayangnya burung itu bukanlah burung dengan suara merdu yang membuat pagi terasa berwarna.


Itu hanyalah seekor burung gagak, berkoak menyanyikan sebuah lagu kematian. Jeritnya telah berhenti. Angin berhembus pelan menggoyangkan pakaian Shi Yong Gu. Dua orang di belakangnya memasang muka waspada secara mendadak. Sang istri merasakan firasat yang tak enak tiba-tiba.


"Aku ingin pulang."


"Mengapa, istriku? Ada apa?"


"Aku hanya ..."


Sebuah lemparan cakram besi mengagetkan wanita itu, merobek sedikit bajunya. Dia menjerit, begitu ketakutan sampai-sampai terjatuh di atas air. Aliran darah di sungai membuat sang Kaisar melotot, sungai Fangzhu adalah sungai terbersih sepanjang sejarah. Dia mengikuti sumber aliran darah, melihat sebuah kepala sedang tersangkut di atas batu.


Kaget tak main-main salah satu pria yang mengawasi Shi Yong Gu. Dia melihat ke samping di mana rekannya masih berdiri.


Benar, kawannya masih berdiri di sana.


Tapi kepalanya telah menghilang.


Lalu sesuatu bangkit dari dalam air sungai Fangzhu. Sebuah roh keluar dari sana, merangkak. Wajahnya menyerupai pengawal Shi Yong Gu yang telah mati.


Sontak istri Shi Yong Gu menjerit makin menjadi. Roh itu mulai mengejar satu pengawal yang tersisa, dengan pedang roh di tangannya lelaki itu dikejar habis-habisan.


Shi Yong Gu tertinggal sendirian bersama istrinya, dia menghidupkan sebuah petasan. Tapi sebelum petasan itu naik ke atas, sebuah tangan menangkapnya dan menenggelamkan di sungai.


Tangan lelaki itu gemetar. Di atas air, seorang manusia yang wujudnya begitu samar sedang menatapnya. Pagi itu tiba-tiba begitu mencekam. Pedang di tangan sosok itu telah berdarah-darah, dan mata biru tersebut melotot penuh amarah ketika menatapnya.


Shi Yong Gu berpikir bahwa itu adalah arwah, dia tak melihat kaki tersebut menapak di air atau pun di tanah. Sementara itu istrinya pingsan. Dia panik, segera membantu istrinya menepi.


Tapi semakin dia menjauh sosok tersebut semakin mendekat. Kini jelas sudah, pandangannya tak salah. Itu adalah roh. Tapi gerak-geriknya terlihat sangat nyata. Sadar tak sadar, roh itu telah berdiri di depannya, menusukkan pedang ke jantung Shi Yong Gu.


Lelaki itu baru menyadari bahwa darah mulai merembes membasahi mulutnya. Roh itu memegang pundaknya.


"Penghakimanmu telah datang."

__ADS_1


Darah mencuat ketika Xin Chen menarik pedang itu. Tubuh Shi Yong Gu jatuh tertelungkup di pinggiran sungai. Darahnya ikut mengalir bersama jernihnya air di Sungai Fangzu. Tempat di mana leluhurnya diistirahatkan.


Koakan dari burung gagak kembali terdengar. Satu nyawa telah tumbang. Xin Chen menatap wanita tak jauh dari sisi Shi Yong Gu.


Wanita itu adalah sosok yang melahirkan Shi Long Xu. Dia tak sampai hati merenggut nyawa wanita itu meski tahu setelah ini orang itu pasti akan hancur setelah tahu suaminya dibunuh.


Ini adalah permintaan anaknya.


Xin Chen menatap sekitar, tampaknya dia telat untuk kabur. Puluhan atau bahkan ratusan orang telah berkumpul di tempat tersebut dengan muka terkejut. Xin Chen sedikit tak menyangka jumlah mereka akan sebanyak ini sebab Shi Long Xu mengatakan bahwa seharusnya mereka hanya tersisa 40 orang.


Pengawal Kaisar yang berjumlah seratus sepuluh orang itu terdiam membatu. Melihat sesosok berjubah hitam dengan pedang dan muka tertutup jubah baru saja mengambil nyawa pemimpin mereka.


Seperti sedang didatangi malaikat pencabut nyawa yang kakinya sama sekali tak menapak di tanah.


Salah seorang dari mereka berusaha membunuh Xin Chen. Dan dalam sekejap sebuah kekuatan hitam menjalar. Garis hitam muncul dari dalam sungai, menembus jantung lelaki itu.


Kekuatan roh mulai bergerak, bercabang-cabang mengejar lelaki lainnya. Sementara kabut hitam mulai menyelubungi Sungai Fangzu. Menjadikannya sebagai tempat pembantaian berikutnya.


Sosok berjubah itu bergerak ke arah pengawal yang mulai ragu untuk maju, mereka termundur tanpa sadar. Bahkan ada yang pedangnya sampai terjatuh.


Jerit dan erangan sekarat terdengar di detik berikutnya sampai beberapa menit. Satu per satu tubuh terpotong, tak satu pun dapat melepaskan diri. Kekuatan roh keluar, mengejar para manusia itu dan membunuh mereka. Sebagian tubuh menghilang selainnya hanya teronggok di atas bebatuan sungai. Menjadi bukti pembantaian.


Xin Chen menusuk leher seorang lelaki, mengangkat pedangnya hingga lelaki itu tak menapak. Mautnya datang begitu menyakitkan. Di saat itu Xin Chen membakar sisa orang yang hendak membunuhnya dari belakang.


Pertarungan melawan seratus orang tersebut menjadi lebih cepat saat dia menggunakan kekuatan roh.


Kabut hitam perlahan memudar, Sungai Fangzu kembali cerah. Bekas darah, senjata dan mayat berserakan di mana-mana.


Tak ada yang selamat dari peristiwa itu. Kecuali istri Shi Yong Gu.


Hanya berselang beberapa menit usai pembantaian, serombongan orang datang setelah mendapatkan kabar mengejutkan itu.


Dan yang lebih mengejutkannya lagi, sosok bernama Shi Yong Gu benar-benar tewas di hari itu. Hal tersebut tentu akan menjadi permasalahan terbesar di Kekaisaran Wei dalam beberapa tahun terakhir. Tak ada yang menyangka laki-laki itu akan menemui ajalnya. Padahal tercatat seharusnya dia masih dikawal oleh hampir dua ratusan orang.


Dan yang lebih menyakitkan lagi dari dua ratus orang itu, semuanya mati.


Dalam kurun waktu kurang dari sehari, kabar itu menyebar luas ke seluruh penjuru Kekaisaran tak terkecuali orang-orang di luar sentral. Semua orang berduka dan mulai bertanya-tanya, siapakah pembunuh Shi Yong Gu?

__ADS_1


Karena dari berita yang beredar, dikatakan tak ada jejak tersisa dari pembantaian terbesar yang pernah terjadi dalam kekaisaran Wei. Di mana hanya satu orang saja mampu menghabisi dua ratus orang sekaligus. Termasuk Kaisar Kekaisaran Wei di dalamnya.


__ADS_2