
Gelembung air naik ke permukaan, Fu Hua tersentak dan membuka matanya segera. Tubuhnya mulai merespon dan bergerak naik ke permukaan.
"Aku tidak boleh berhenti di sini ..." batinnya, dia baru saja pingsan beberapa detik yang lalu dan dengan ajaibnya kesadarannya kembali. Dengan seluruh kekuatan tangannya berenang, terus naik ke puncak. Hingga dia dapat bernapas kembali, Fu Hua menarik napas sangat dalam. Memasok kembali udara ke paru-parunya, matanya buram selama beberapa detik, tak dapat melihat sekitar dengan jelas.
Hanya gambaran yang begitu padat, tumpukan besar tersumbat di sungai. Fu Hua mencari tempat untuk menepi ke daratan, lalu saat dia berhasil berdiri di atas tanah, dapat dilihatnya seluruh tubuhnya bau oleh amis darah.
Fu Hua merinding hebat ketika usus melingkari lehernya, dia membuang benda itu hampir menjerit. Tumpukan yang sebelumnya dia lihat adalah mayat-mayat yang bertumpuk oleh batang pohon besar yang melintang menghalangi arus sungai. Mereka membusuk, lalat dan burung pemakan bangkai berpesta pora di sana.
Hampir muntah, Fu Hua segera mengeyahkan pandangan dari sana. Menelan ludah sembari menahan napas, melihat di daratan tak beda tragisnya dengan di sungai.
"Tidak ... Kenapa ada manusia sekejam mereka?"
Kemungkinan besar, orang-orang itu adalah masyarakat miskin yang bertahan hidup di hutan. Fu Hua berjalan masuk ke dalam, menemukan satu pemukiman yang telah hancur lebur, bukan oleh serangan terinfeksi. Namun dia dapat melihat bekas pertarungan di sana, jejak langkah prajurit dan tapal kaki kuda, serta anak panah yang menancap di punggung mayat. Mereka tampak baru terbunuh sekitar 2-3 hari. Meski begitu beberapa dari mereka mulai membusuk.
Dengan terpaksa Fu Hua melangkahi mayat tersebut, dia sempat melihat ke mayat yang dilangkahinya sambil menutup mulut. Tengkuknya dingin. Mata mayat itu terbuka, mulutnya mulai bergerak. Lalu dalam sekejap, kakinya ditarik hingga tubuhnya terjatuh.
Kaget, Fu Hua merangkak mundur.
Begitu cepat semua itu terjadi, Fu Hua tak menyadari dia baru saja menapaki kandang terinfeksi. Mayat-mayat itu bangun mencium bau tubuhnya. Merinding, Fu Hua sampai membeku di tempat.
__ADS_1
Bekas luka di kepalanya tiba-tiba berdenyut, sakit hingga membuatnya terdiam. Tak memikirkan apakah terinfeksi itu akan menggigitnya, mereka bertambah semakin banyak. Saat Fu Hua hendak kabur, mereka telah menutup segala arah. Fu Hua mundur, tak menemukan cara untuk kabur. Dia hendak kabur, tapi tangan-tangan tersebut mulai mencengkram tubuhnya. Dengan panik Fu Hua berusaha melepaskan diri.
Terinfeksi itu menjauh darinya tiba-tiba, Fu Hua menurunkan alisnya. Heran tapi juga lega. Dia melihat Jamur Api tergeletak di atas tanah. Cahaya bahkan lebih terang dari sinar matahari sendiri. Sekilas dia tak begitu memahami mengapa mereka membenci tanaman tersebut, desisan penuh ancaman dari mereka mengatakannya, maka dari itu Fu Hua bisa tahu.
"Kenapa aku baru teringat soal ini." Dia menggenggam Jamur Api itu, melihat di depannya barisan terinfeksi seolah-olah menunggunya datang, dia melangkah lebih berani lagi. Mengarahkan Jamur Api ke segala arah, membuat mereka menjauh.
Dengan sedikit mempercepat langkah, Fu Hua akhirnya tiba di gerbang kota yang bersebelahan dengan Kota Guiza, di perbatasan nanti dia akan semakin dekat dengan Sungai Weizu.
Namun selalu saja sekelompok prajurit menghalang-halangi jalannya, Fu Hua tak akan bisa memasuki kota tersebut tanpa berhadapan dengan prajurit itu. Mereka berjumlah delapan orang, hanya memakai armor besi. Tanpa pelindung kepala.
Fu Hua berpikir, tapi dia tak menemukan jalan lain. Menggunakan kekuatannya melawan mereka hanya akan mengantarkannya ke jeruji besi atau paling tidak beruntung di bunuh langsung di tempat. Dia tak menginginkan akhir seperti itu. Gadis itu menoleh ke jalan yang terhubung langsung dengan jalan masuk ke gerbang. Dari kejauhan mendengar suara tapak kaki kuda dengan gerobak besar.
Dari balik lubang kecil, matanya dapat melihat puluhan bangunan berdiri megah, cahaya warna-warni melingkupi kota tersebut. Layaknya surga yang berada di tengah-tengah neraka. Tak begitu banyak manusia hidup di sana-atau mungkin karena dari puluhan tempat yang berdiri di sana, tak ada yang menyerupai rumah. Kebanyakan hanya benteng pertahanan, tempat produksi, laboratorium, menara dan tempat aneh lainnya. Fu Hua terdorong ketika kereta kuda berhenti tiba-tiba.
"Hei, kau bawa pesanan kami?"
Suara dari arah samping menyapa tidak begitu ramah, langkah kakinya mendekat. Pembawa barang menjawab takut, "Semua yang anda pesan, Tuan."
"Cih, jangan lupakan minuman yang kupesan jauh-jauh hari. Aku akan mengeceknya, awas saja kalau tidak ada."
__ADS_1
Dia berjalan ke belakang gerobak, mengangkat kain penutup dengan ujung mata pedangnya. Alisnya mengernyit, wajahnya mulai kesal.
"Tidak ada!"
Fu Hua menahan napas. Dia bersembunyi di bawah gerobak, andai saja kuda itu berjalan sudah pasti dia akan ketahuan. Lalu kemudian terdengar laki-laki tadi mengoceh tak habis-habisnya. Mereka berjalan menjauh dari kereta kuda. Fu Hua tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung kabur secepat yang dia bisa.
*
Aliran sungai mengalir deras, ketika itu hujan semakin sering turun. Membuat pepohonan lembab dan air sungai makin deras. Fu Hua mengikuti aliran sungai itu, yang membawanya ke satu tempat yang cukup besar.
Sebuah bangunan berbentuk bundar, ukurannya bahkan melebihi istana paling besar yang pernah dilihatnya. Ribuan penjaga berada di sekitarnya, penuh siaga dan nyaris tanpa celah. Ada banyak anj ing yang berjaga bersama mereka, beberapa senjata mematikan dipasang di dekat atap dan pasukan pengintai yang dapat Fu Hua lihat bersembunyi di tempat-tempat kecil.
Seperti kata Wen. Laboratorium Baru adalah mimpi buruk untuk seorang pengintai kelas teri sepertinya. Fu Hua tak berniat mundur, tapi keadaan tak memungkinkan di depannya membuat nyalinya menciut. Gadis itu telah melihat banyak hal menakutkan sepanjang perjalanan, tapi kali ini, dia tak yakin apakah bisa menghadapi mereka tanpa harus ketahuan.
Perlahan-lahan Fu Hua mengamati dari kejauhan, mengeluarkan peta pemberian Lian dan mencocokkan dengan Laboratorium Baru. Banyak hal telah berubah, tak ada jalan masuk rahasia. Di dalam peta itu disebutkan hanya ada dua pintu masuk, kedua sisi dijaga begitu ketat.
Dengan sisa keberanian yang tersisa, Fu Hua memberanikan diri mengambil jalan paling beresiko. Yaitu mengendap-endap langsung, ada beberapa tempat yang bisa dijadikan tempat persembunyian. Dan sekarang, Fu Hua akan sangat bergantung pada keberuntungannya.
"Dewa Keberuntungan, tolong jaga aku. Jika kau tak sudi menjagaku, kau harus sudi menjaga Xin Chen." Dia merapalkan itu dalam hati, yang membuatnya sedikit lebih berani meski sepuluh jarinya tak ubahnya es.
__ADS_1