Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 104 - Luka yang Kembali


__ADS_3

Xiu Qiaofeng nyaris tak percaya.


Dia ingat betul bagaimana rupa seseorang anak kecil nakal yang setiap hari menggaduhkan kebun warga dan merecoki barang dagangan orang. Kini telah tumbuh menjadi pemuda tampan yang jauh berbeda dari bocah tengil dulu. Mata biru yang membuatnya tak bisa berkata-kata masih terus memindainya, membuat Xiu Qiaofeng salah tingkah.


"Sial ... Jangan menatapku begitu." Gadis dari klan Xiu itu sampai lupa barang bawaannya yang seharusnya amat penting itu kini telah meresap ke dalam tanah.


Sementara Xin Chen masih menatapnya lama. Jelas saja Xiu Qiaofeng tambah mati gaya. Saingannya saat masih kecil dulu sudah berbeda, hampir menyerupai saudaranya Xin Zhan. Tapi jika membandingkannya dengan Xin Zhan, mungkin adiknya lebih tinggi dari abangnya sendiri.


"Kau terlalu terpesona sampai tidak bisa berkata-kata, hah?" Mulanya Xiu Qiaofeng sengaja memasang wajah galak, sebagai gadis berdarah klan Xiu dia memiliki ego dan harga diri yang tinggi. Tak sembarangan laki-laki bisa mendekati bahkan berbicara dengannya. Terhitung sampai umurnya yang sekarang, sudah puluhan bangsawan tampan melamar, bahkan ada yang berasal dari luar Kekaisaran sengaja datang hanya untuk melamarnya.


Tapi Xiu Qiaofeng menolak semua lelaki itu dan tetap pada prinsipnya. Menjadi seorang pendekar wanita yang kelak akan dihormati seluruh masyarakat Kekaisaran Shang.


Keinginannya untuk melampaui Xin Chen agaknya sudah tak lagi bisa diraihnya. Dia sudah lebih dulu mendengar kabar kembalinya anak Pedang Iblis kedua itu, dan kabar bahwa dirinya menantang Naga Kegelapan dan bertarung dengan Ayahnya sendiri bersama kakaknya Xin Zhan.


Makin kebingungan Xiu Qiaofeng karena Xin Chen tak langsung merespon. Dia mendongak dengan alis bertaut. "Oh, sekarang kau terpesona sampai mulutmu menjadi bisu?" Dia melipat kedua tangan di dada, mengangkat wajah dengan pembawaan sombong.


"Kau terus mengoceh seperti orang yang tidak waras. Memang kau siapa bisa tahu namaku?"


Sebaris kalimat yang diucapkan tanpa jeda itu menusuk jantung Xiu Qiaofeng, sakit tapi tidak berdarah. Andai dia lupa Xin Chen adalah anak Pedang Iblis sudah dari tadi dia mencakar wajah pemuda itu.


"Bisa-bisanya kau lupa denganku?! Aku Xiu Qiaofeng, bodoh!!"


Teriakan Xiu Qiaofeng memancing perhatian dari orang-orang yang sibuk di depan halaman kediaman Klan Lan.


"Oh ..." Xin Chen membuka mulut, seperti teringat sesuatu. Xiu Qiaofeng mendengkus pelan, akhirnya pemuda itu ingat dirinya.

__ADS_1


Xin Chen melanjutkan, "Kau penjaga kedai teh di depan jalan itu, ya?"


"Arrrghhh! Mana mungkin! Aku ini Xiu Qiaofeng, kau tidak ingat?! Orang yang kau sebut Gorila Betina waktu kecil!?" Xiu Qiaofeng berbicara sampai urat-urat di wajah cantik nya kelihatan membiru.


"Oh, kau rupanya. Xiu Qiaofeng saudara Senior Xiu Juan."


Mata gadis itu melotot seperti akan menggelinding di tanah, nama Xiu Qiaofeng pemuda itu tak kenal. Tapi sebutan Gorila Betina dia hafal. Sepertinya Xin Chen memang ada dendam terpendam padanya.


Malas mendebat lebih jauh yang hanya akan membuat Xiu Qiaofeng makan hati, gadis itu beralih memungut beberapa botol obat. Tampangnya merengut, kesal habis-habisan. Tambah kesal lagi Xiu Qiaofeng saat tiba-tiba tangannya yang hendak meraih botol terakhir di kayu pagar ditepis oleh Xin Chen.


"Kembalikan botolnya!"


"Apa ini?"


"Pakai tanya." Gumamnya merebut benda itu, Xin Chen mengangkatnya ke atas, Xiu Qiaofeng makin meradang. Wajahnya padam, ingin mengamuk. Sempat-sempatnya Xin Chen mengerjainya.


Aroma botol itu, bukan aroma tanaman herbal yang biasanya digunakan sebagai obat. Tipis sekali, tercium aroma racun. Xin Chen segera berlari menerobos pintu. Beberapa penjaga sempat mencegat pemuda itu sampai mereka menyadari siapa yang datang dan langsung memberikan jalan.


Xiu Qiaofeng membuntuti dari belakang dengan bertanya-tanya. Hingga mereka masuk ke dalam kamar yang diisi oleh beberapa saudara jauhnya dan kenalan Xin Xia.


Ren Su, wanita yang masih memiliki ikatan darah dengan ibunya Ren Yuan sedang menuangkan sebuah cairan hijau dari botol yang persis sama seperti yang Xin Chen pegang di tangannya. Dengan gerakan cepat Xin Chen menepis botol itu dan membekap mulut Xin Xia agar terhindar dari tetesan cairan tersebut.


Sontak seisi ruangan kaget sekaligus heran.


Seseorang yang baru saja datang membawa keributan tiba-tiba menghentikan obat yang seharusnya bisa membantu Xin Xia cepat sembuh. Keadaan wanita itu pasca melahirkan tergolong buruk. Tubuhnya lebih kurus dan lemah. Setiap hari tabib datang untuk memberikannya obat agar cepat sembuh. Tapi bukannya sembuh, kesehatannya semakin memburuk dari hari ke hari.

__ADS_1


Keadaan yang tiga detik mendadak hening mulai diisi oleh bisik-bisik dan dimulainya ultimatum dari Ren Su.


Wanita yang selalu meremehkan Xin Chen di masa lalu dan membunuhnya dari dalam. Wajahnya terlihat lebih tua dan garang. Dan benar saja, beberapa tahun berlalu tanpa pernah bersua rupanya kata-katanya jauh lebih menyakitkan.


"Kau ...?! Kau anak gagal tidak tahu diri itu?!" Nada bicaranya cukup untuk membuat tuli orang-orang di dekatnya.


"Bertahun-tahun tak pernah kembali. Kau pengecut sampah. Setelah perang kau bersembunyi ketakutan dan sekarang ketika semuanya telah hancur lebur, baru kau kembali?!" Semburan pedas dari mulutnya masih terus terdengar, "Ibumu menangisi mu tiap malam, mendoakan kebaikan untuk anak tak tahu diri sepertimu! Dan kau tak berpikir sedikit pun untuk menemuinya?! Yang bisa kau lakukan dari dulu hanya menghancurkan ... Kau membuat orang lain terbunuh meski bukan dengan tanganmu sendiri. Kau paham dari dulu, sampai menjadi bangkai pun, aku akan tetap membencimu!"


Seketika Xin Chen kehilangan kendali atas tubuhnya. Dia hanya bisa mematung, bisu dan ketakutan. Seganas apa pun rimba yang selalu membahayakan nyawanya, nyatanya kepedihan kata-kata dari Ren Su selalu berhasil membunuh pikirannya.


"Setelah membunuh nenekmu, membuat ayahmu tertangkap musuh, membiarkan ibumu jatuh sakit dan membunuh pamanmu, Lan An. Sekarang kau menginginkan kematian bibimu?"


***


A/N: jujur aja, author lupa ingatan dengan nama-nama karakter di buku PPI 3 saking banyaknya karakter. Mulai dari PPI 1-3 mungkin nama karakternya udah ribuan.


Dan skrg author menemukan satu kejanggalan.


Nama Fu Yu kenapa tiba2 jadi Fu Hua Bambang! πŸ—Ώ Ingatan jangka pendek ini membuatku amgry. Heran sama ini otak, giliran kejadian gaje yg malu2in puluhan tahun silam masih teringat. Giliran nama karakter tiba2 amnesia. Ketularan virus amnesia Xin Chen nih keknya, nama org suka lupa akwowkwok. Masih banyak lagi kesalahan-kesalahan entah yg udh author sadari atau belum.


Jadi mohon dimaklumi ygy, beberapa nama tokoh mgkin berubah, sama seperti sikap dia ke kamu buahahah (β˜žοΎŸβˆ€οΎŸ)☞


Yg penting lanjud ah, puyeng saia. Entar author perbaiki~


#suatusaatnanti

__ADS_1


πŸ€ΈπŸ»β€β™€οΈπŸƒπŸ»β€β™€οΈ


__ADS_2