Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 190 - Pengendalian Kekuatan


__ADS_3

Kunang-kunang beterbangan di langit malam yang begitu pekat, mereka naik ke atas, ikut terbang tinggi ketika tangan Rubah Petir terangkat ke atas.


Namun kunang-kunang itu bukanlah serangga biasa, ukuran mereka lima kali lebih besar dari yang asli. Bentuk mereka terwujud dari kekuatan petir milik rubah. Perut mereka bercahaya, mengandung inti kekuatan petir yang terbilang kuat. Cukup untuk meledakkan satu kepala sampai hancur lebur.


"Mungkin kita perlu mengetesnya ke beberapa korban."


Rubah Petir menerbangkan kunang-kunang itu ke sekumpulan prajurit yang berada beberapa ratus meter dari mereka. Kunang-kunang itu beterbangan jauh dan cepat, menukik tajam ketika melihat targetnya.


Lalu dari tempat Rubah Petir berada, terdengar jeritan bersusulan. Disertai ledakan yang bertubi-tubi. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai kembali senyap seperti semula. Xin Chen mencium aroma darah yang begitu kental datang dari tempat di mana suara itu terdengar.


"Begitu, kan?"


"Guru sepertinya tertarik dengan mahkluk-mahkluk itu, ya?" tanya Xin Chen, membaca sedikit ketertarikan di wajah Rubah Petir.


"Bukan berarti aku tak waspada. Kita bisa mengubah kekuatan, seperti kataku, kenali medan perangmu. Dengan itu kemenangan ada di tanganmu."


Xin Chen berpikir sejenak, mempelajari kekuatan rohnya.


"Kelemahanku adalah kekuatan roh ini."


"Bukan itu kelemahanmu."


Selaan dari Rubah Petir membuat kening Xin Chen berkerut, "tapi andai kekuatan ini tidak menyerang terinfeksi dan membuat mereka semakin kuat, aku bisa bertarung lebih baik lagi."


"Lalu permasalahannya ada di dalam dirimu sendiri," timpal Rubah, meletakkan kedua tangan di dekat api unggun. Bulunya dingin oleh angin malam yang membawa angin badai.


"Aku tidak mengerti," keluhnya.


Namun sesaat Rubah Petir meliriknya dengan ekor mata, "Kekuatanmu adalah milikmu sendiri. Kau masih ingat dengan salah satu pelajaran dasar seorang pendekar?"


"Pengendalian kekuatan."


"Tepat sekali," ujar Rubah sekaligus menyambungnya, "Saat kau bisa mengendalikannya seratus persen, maka kau bisa menciptakan banyak hal baru dari kekuatan itu. Kau memerlukan itu untuk menguasai medan perang di Kekaisaran Wei. Musuhmu bukanlah prajurit, pendekar atau pun seorang jenderal. Mereka hanyalah ribuan manusia yang telah mati."


Xin Chen bertanya lebih lanjut lagi, "Lalu bagaimana cara aku mengendalikan-"


"Aku mau tidur. Pikirkan sendiri, kau pakai otakmu yang seluas koin perak itu sekali-kali. Memang tidak ada gunanya selain dipajang di kepalamu?"


Rubah Petir rebah dan memunggunginya, menyisakan Xin Chen yang baru saja tertohok dengan kalimatnya. Dia menyahut lagi, Rubah itu sudah tidur. Xin Chen menarik napas, menambah kesabaran.


Tapi dia merasa beruntung, dengan adanya Rubah Petir mereka bisa mempersiapkan banyak hal. Rubah itu cerdik dan memiliki pemikiran yang tajam. Tadi saja dia menciptakan tipe serangan yang bisa membuat terinfeksi hancur lebur.


"Baiklah, saatnya berpikir sendiri. Pakai otak yang katanya hanya seluas koin perak."


Gumaman Xin Chen nyaris membuat Rubah Petir yang berpura-pura tidur terbahak. Dia berbalik badan, "Bagaimana? Sudah ketemu dengan jawabannya?"


"Baru juga satu menit." Xin Chen mendecak, "Mungkin-"


Rubah beralih ke hal lain, "Kau punya peta atau apa pun itu tentang lokasi-lokasi di Kekaisaran Wei?"


"Peta aku ada." Xin Chen mengeluarkan kertas selebar ukuran meja itu, memberikannya pada Rubah Petir yang setelahnya diam memandangi seluruh bagian di dalam kertas. Xin Chen kembali dengan pikirannya.


Kekuatan roh adalah kekuatan yang disebut sebagai malapetaka oleh orang Kekaisaran Qing. Dalam masanya, kekuatan ini membludak dan membantai ribuan manusia. Sering kali pengendali rohnya mati oleh kekuatannya sendiri, karena kekuatan roh membutuhkan tumbal sebagai makanan mereka.


Meski diberi banyak nyawa, kekuatan ini masih sulit dikendalikan. Mereka mengganas dan bisa merasuk ke dalam jiwa si pemilik. Menghancurkannya jiwa tersebut dan kasus paling parahnya, sang pengendali lupa ingatan lalu mulai menyerang manusia.


Itulah yang sering terjadi di Kekaisaran Qing dulu. Xin Chen mengeluarkan sebuah buku yang terakhir kali dibacanya ketika perang di Lembah Para Dewa dimulai. Buku pemberitahuan Jun Xiaorong, ayah Jun Xiang salah seorang anggota Unit Satu.

__ADS_1


Dia sendiri mendengar bahwa Jun Xiaorong berhenti bekerja di Kekaisaran Qing dan kembali ke Kekaisaran Shang. Kaisar Qin memberi penghargaan padanya sebagai mata-mata pemberani, mengabdikan dirinya untuk Kekaisaran Shang tanpa pamrih.


Buku itu dibukanya, sudah begitu kusam. Mungkin saja sudah berusia hingga seratus tahun, karena saat Xin Chen membalik tiap halaman dia merasa kertasnya akan hancur menjadi abu. Pencahayaan dari api unggun menerangi kitab tersebut. Xin Chen sudah membaca semuanya, dia memastikan sekali lagi dan masih tak mendapatkan petunjuk atas apa yang dikatakan Rubah.


Dia berniat menutup kitab tersebut.


Lalu menatap Rubah Petir, keningnya berkerut lagi, semakin dalam.


Tangannya buru-buru membuka lembaran, mencari tiap-tiap halaman. Tak ada yang baru di sana. Tapi Xin Chen melihat satu lembar yang kelihatan ganjil. Dia memisahkan satu halaman itu dengan menariknya ke atas. Kertas itu tampak gembung. Seperti sesuatu dimasukkan ke dalamnya. Ketika Xin Chen melihat setiap pinggir kertas, terdapat perekat di sana.


Xin Chen merobek kertas tersebut. Menemukan satu buku yang sangat-sangat tipis, bersampul hitam. Dia bahkan merasa buku itu tidak dibuat dari kertas, melainkan sayap kupu-kupu yang cukup besar. Tulisan di atasnya diukir dengan tinta hitam, nyaris tak terbaca.


Di dalam buku itu tertulis beberapa hal mengejutkan.


'Kekuatan berbahaya, tidak diperuntukkan bagi pemula.'


Dia membalik halaman berikutnya. Tak percaya bagaimana bisa seorang manusia menulis dan membuat gambar manusia dengan menggunakan kertas berupa sayap kupu-kupu. Buku ini sangat ganjil. Xin Chen merasakan aura buruk darinya, sangat kuat.


Dari gambar yang di lukis di sana, terlihat satu bentuk manusia yang duduk bersila. Aliran kekuatan di tubuh tersebut hanya berfokus di kepala. Makna di dalamnya rumit di jelaskan, bahkan oleh Xin Chen sendiri.


"Guru Rubah, kau mengerti ini?"


Rubah Petir melirik sedikit, "Oh, aku tahu."


"Artinya apa?"


"Artinya ...."


Rubah itu membolak-balik peta, tak melepaskan pandangan dari kertas peta itu. Membiarkan jeda lama sehingga membuat Xin Chen menunggu.


Saat rubah itu tiba-tiba menengoknya, Xin Chen semakin menunggu.


Tawa puas terdengar dari Rubah Petir, Xin Chen mengelus dadanya sesabar mungkin. Kembali pada kertas tersebut.


"Kekuatannya stabil?"


Dari arah kekuatan dari beberapa petunjuk di sekitar tubuhnya, Xin Chen dapat memastikan ilustrasi itu mengatakan bahwa hanya kekuatan roh yang stabil bisa bekerja untuk kekuatan tersebut. Di halaman berikutnya, terlihat gambar dua orang pria.


Salah satunya pengendali roh dengan kekuatan stabil, menyerang manusia yang satunya lagi.


Hanya ada gambar tanpa penjelasan, mana mungkin Xin Chen bisa paham apa yang dijelaskan di dalamnya. Tiba-tiba saja di lembaran berikutnya manusia dalam gambar itu mengamuk. Sang pengendali roh melakukan sesuatu. Tapi bukan membunuh musuh dengan kekuatan roh, Xin Chen masih bertanya-tanya mengapa di lukisan sebelumnya orang itu mengamuk.


Lembar selanjutnya hanya penjelasan yang makin tidak bisa Xin Chen pahami. Dia hanya melihat sebuah gambar terakhir.


Seluruh tubuh manusia pengendali roh itu dipenuhi oleh ukiran hitam, seperti sebuah segitiga dengan mata di jantungnya. Garis-garis hitam abstrak saling bersambung dari ujung kaki hingga kepala.


Ditutupnya buku itu sejenak. Merasa kepalanya penuh sampai tak bisa memikirkan apa pun lagi.


"Sudah ketemu?"


Xin Chen terperanjat kaget.


"Sampai kaget begitu. Kau membaca apa?" Rubah itu terheran-heran, tak biasanya melihat muridnya kaget.


"Sesuatu yang aneh. Kekuatan berbahaya katanya, tapi sepertinya sangat berbahaya."


"Coba jelaskan."

__ADS_1


"Aku saja tidak mengerti," ucapnya, terdiam beberapa detik menatap Rubah. Membayangkan dua orang tadi adalah dia dan Rubah.


Xin Chen mengeluarkan kekuatan roh, dari yang dilihatnya hanya sebagian kecil dari mereka untuk menyerang musuh.


Buntu juga pada akhirnya. Sudah mencoba berapa kali pun Xin Chen tak menemukan apa pun.


"Ah sudahlah, daripada lembar aneh itu lebih baik berpikir soal mengendalikan kekuatan roh." Batinnya.


Xin Chen melatih kembali kekuatan roh, menggunakan alam bawah sadarnya untuk waktu yang lebih panjang.


Malam tanpa bintang itu hanya diisi oleh suara jangkrik, hingga akhirnya pagi yang masih gelap menyusul. Xin Chen kembali membuka matanya.


"Aku menemukan caranya."


"Oh, sudah ketemu?" Rubah Petir baru saja membakar ikan yang ditangkapnya dari sungai, sedang membakarnya untuk makan pagi.


"Bukan. Maksudku cara mengendalikan kekuatan roh agar seperti yang kulihat dari kitab semalam. Tapi ini sedikit mengganggu pikiranku. "


Rubah Petir mengernyit. Tapi tanpa banyak tanya mempertajam mata, melihat aliran kekuatan hitam di dalam tubuh Xin Chen berpusat di kepala. Dan juga di dadanya.


"Lalu?" Rubah Petir menambahi, "Kita tidak punya waktu berlama-lama untuk latihanmu. Pagi ini mungkin sekumpulan prajurit akan datang."


"Baguslah, aku ingin mengetes sesuatu."


Sesuai dugaan Rubah Petir, lima belas laki dengan zirah berat, perisai lengkap, helm dan pedang kuat datang. Mereka bukan prajurit sembarangan. Salah satu dari mereka mengetahui keberadaan mereka dan langsung menunjuk.


Sontak saja kelima belas orang itu mengangkat pedang tinggi-tinggi, siap bertempur. Xin Chen berdiri di depan rubah. Menyalurkan kekuatan roh di tubuhnya, mengendalikan aliran tersebut dengan fokus tingkat tinggi. Xin Chen sampai tak mendengar suara keributan di sekitarnya, hanya bunyi aliran kekuatan itu yang terdengar.


Sebuah kekuatan roh bergerak ke arah seorang prajurit, melintas di kepala prajurit tersebut-seperti yang dicontohkan dalam kitab semalam.


Yang terjadi di luar dugaan.


Tapi bukan yang Xin Chen harapkan. Kekuatan roh tersebut menghantuk helm prajurit tersebut sampai kepala lelaki itu oleng. Tapi dia tetap berdiri, hanya butuh beberapa detik untuk kembali sadar.


"Bajingan, apa tadi itu?"


"Sial ... Gagal." Xin Chen tersenyum kikuk ketika menatap wajah jengah si rubah.


"Dua puluh kali pukulan untuk yang ini." Rubah mengeluarkan ranting pohon kesayangannya.


"Ampun guru, aku cuma mencoba."


"Bunuh mereka!!!"


Satu suara menggelegar, seperti kilat di pagi hari. Lalu mereka mengeluarkan petasan sebagai sinyal kepada prajurit lain. Xin Chen dan Rubah tak punya pilihan lain selain menghadapi mereka.


Dengan saling membelakangi, Xin Chen dan Rubah Petir bertarung melawan puluhan prajurit dengan zirah tebal. Butuh tiga kali tebasan untuk melepaskan zirah dan membunuh mereka.


Satu per satu dari mereka jatuh. Sampai yang terakhir Xin Chen menggunakan kekuatan petir dan menusuk diperutnya dengan Pedang Baja Phoenix. Hanya sekali serang, musuh tewas.


"Lagi-lagi nyawa puluhan manusia kau renggut," gumam Rubah Petir yang masih dapat didengar muridnya.


"Kita tidak diberikan pilihan. Hari ini aku membunuh puluhan dari mereka. Tapi jika dibiarkan, di masa depan mereka membunuh ratusan dari kita."


Kekuatan roh keluar, memakan tubuh para manusia yang jatuh bergeletakan di atas tanah sampai tak tersisa apa pun selain zirah dan pedang. Mereka mengelilingi seisi hutan sampai yang terlihat hanya kabut hitam.


Xin Chen melihat satu mayat yang tak dimakan roh, memandang datar. Lalu menyatukan kedua jempol dan telunjuk menjadi segitiga.

__ADS_1


Saat itu dia hanya iseng memasukkan satu kekuatan roh ke dalam tubuh mayat tersebut.


Xin Chen mundur, melihat mayat itu bangun dari kematiannya.


__ADS_2