
Malam hari terasa semakin membakar, pertarungan di Lembah Kabut Putih ketika itu tak pernah terbayangkan akan menimbulkan kehancuran yang begitu besar dan skalanya pun akan terus menyebar seiring berjalannya waktu. Yang tadinya bebukitan di sekitarnya hampir tak tersentuh oleh Peperangan kini habis termakan oleh api Keabadian, menjadikannya seperti tanah tandus yang baru saja diledakkan oleh bom raksasa.
Di pertengahan malam yang sunyi ketika Fu Hua baru menyadari kakaknya Fu Qinshan hendak pergi dari markas, gadis itu diam-diam membuntutinya. Dan mendengar percakapan antara Fu Qinshan dengan para bawahannya. Tentang misi untuk mencari Sese bernama Yan She.
Bukan hal sulit untuk mendengar percakapan antara Xin Chen dan Xin Zhan ketika mereka merencanakan pencarian untuk menemukan Ahli Obat Yan She. Dou Jin masih memiliki sedikit kesadaran milik Xin Fai saat itu. Dan dia masih bisa mendengar dari jarak jauh sekalipun tentang apa yahg mereka perbincangkan. Dan benar saja, seusai bayangan hitam bergerak begitu cepat di atas langit yaitu Ye Long yang membawa Xin Zhan ke tempat tersebut, Fu Qinshan langsung bergerak bersama anak buahnya.
Persiapan perjalanan, Fu Hua membunuh salah satu pengawal yang menemani Fu Qinshan. Dia menyamar, tentu saja aksinya tak akan diketahui sebab seluruh wajahnya tertutup oleh topeng. Dan selain itu, untuk berbicara dia hanya menggunakan bahasa isyarat, bukan hal aneh lagi bagi mereka yang notabenenya adalah mata-mata sekaligus utusan langsung dari Tuan mereka.
Fu Hua melihat pertempuran itu. Ketika sosok yang begitu mirip dengan Xin Chen datang menantang seluruh pendekar yang berjaga di tempatnya. Lalu naga hitam yang dulu nyaris membakar nya di hutan, mereka tak menyadari kehadirannya yang saat itu bersembunyi di dalam rumah panggung kayu, mengintip dari celah-celah kayu. Mata safirnya berkedip beberapa kali, terdengar suara seorang pria yang bekerja sama dengannya.
"Aku menemukan orang itu. Kita harus cepat sebelum Kakakmu."
__ADS_1
Lelaki itu dia tugaskan untuk mencari keberadaan Yan She jauh lebih cepat selangkah dari kakaknya. Jika saat itu Fu Hua terang-terangan menyelamatkan Yan She dalam pembunuhan yang digencarkan kakaknya, Fu Hua yakin seratus persen dia akan kehilangan benda yang dia cari malam itu.
Pintu ruangan terbuka, menampakkan sesosok lelaki sepuh yang menatap mereka dengan tatapan tenang. Belati di tangan Fu Hua sama sekali tak menggentarkan nyali Yan She, bergeming sebentar lalu lelaki sepuh itu bersuara.
"Apa yang kau inginkan?"
"aku tidak punya banyak waktu. Sebelum itu Aku ingin memberitahu bahwa sebentar lagi akan datang sekelompok orang yang ingin membunuhmu. Berhati-hatilah."
"Aku datang ke sini untuk sesuatu. Apakah kau pernah membuat semacam ramuan atau obat yang dapat mengembalikan ingatan seseorang yang dihancurkan dengan kutukan?"
Lelaki itu mengusap-usap janggutnya, sekilas tatapannya kembali beredar ke arah Fu Qinshan dan lelaki bertopeng gagak di depan pintu.
__ADS_1
"Kau yakin hanya itu?"
Fu Hua terdiam. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu kau datang atas dua alasan."
"Bagaimana kau bisa tahu-"
"Aku tahu kapan kematian ku, termasuk alasannya sendiri. Hahaha. Terlalu hebat membuatku ngeri juga."
Detik itu Fu Hua terdiam kembali. Jangan-jangan Yan She sudah tahu tentang kematiannya sendiri maka dari itu sikapnya terlaly tenang untuk seorang yang sebentar lagi akan menjumpai ajalnya.
__ADS_1
"Aku telah mempersiapkan keduanya. Ambillah di dalam kendi itu. Lalu pergi. Aku sudah tidak sabar menemui ajalku sendiri, kau tahu hidup terlalu lama menyebalkan juga. dan tempat ini sama sekali membosankan untuk lelaki tua kesepian seperti ku."