Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 205 - Reruntuhan Raksasa


__ADS_3

Fu Hua menggeletakkan tubuh laki-laki yang tadi dibunuhnya ke pinggir, menyeretnya sekuat tenaga. Armor di tubuh laki-laki itu membuat berat badannya menjadi dua kali lipat.


"Ini mungkin tidak sopan, tapi aku perlu identitasmu agar bisa masuk ke dalam. Maafkan aku." Fu Hua sempat merenungi perbuatannya sendiri, tapi dia tak punya pilihan lain. Gadis itu mengganti pakaiannya dengan seragam Serikat Sentral Pusat. Terakhir, dia mengikat rambutnya yang panjang lalu memasang pelindung kepala. Penampilannya nyaris menyerupai laki-laki jika mengenakan pakaian tersebut.


Fu Hua menarik napas sedalam-dalamnya. "Ini semua pasti akan berakhir." Berusaha meyakinkan diri dia mampu melalui ratusan prajurit di depannya. Fu Hua tak boleh membunuh apalagi sampai ketahuan, tak ada jaminan dia selamat di sana.


"Jika aku tak selamat maka Xin Chen pun sama, aku tak akan membiarkan itu terjadi."


Langkahnya yang berat perlahan-lahan menyusuri jalan yang diterangi oleh Jamur Api. Semakin dekat dengan jalan belakang Kincir Angin, semakin banyak pula ditemukan Jamur Api yang sengaja dipasang untuk menghalau jalan terinfeksi. Namun di bagian depan Kincir Angin itu, mayat hidup membludak. Hanya dibatasi oleh benteng kayu tinggi yang runcing di atasnya.


Kepalanya terus bergerak ke kanan kiri, mempelajari seisi tempat di depannya. Dari kejauhan terdapat sebuah gerobak berisi beberapa manusia yang dikurung seperti hewan ternak, mereka akan digantung seperti manusia lain di kincir angin raksasa.


Fu Hua tersentak ketika salah satu tahanan kabur, seragamnya betul-betul mirip seperti seragam yang Xe Chang kenakan. Lelaki itu berlari memeluk kakinya.


"Selamatkan kami! Kumohon, ini tidak adil ...! Tidak perlu menyelamatkanku juga tidak apa, tapi teman-teman ku di dalam kurungan itu-!"


Lelaki itu adalah Wen, puluhan prajurit datang menyeret laki-laki itu agar kembali dalam kurungan. Wen menangkis kasar, begitu yakin saat bicara dengan satu prajurit yang tertahan karena dirinya, itu adalah Fu Hua.


Gadis itu bisa melihat nama identitas orang tersebut di seragamnya, tapi tak mengerti mengapa dia datang kenapa Fu Hua. Tangannya terkepal, berusaha berbicara dengan berbisik.


"Aku datang ke sini juga untuk menyelamatkan temanku."


Wen yang ditarik menjauh tampak pias, bibirnya yang pucat kering bergetar. Tubuhnya terbanting ke dalam kurungan, seorang prajurit menyepak kepalanya sampai tertahan ke kayu di belakangnya. Hidung lelaki itu mengeluarkan darah banyak, kurungan ditutup dan Wen mencengkram kayu kurungan.


"Tolong ..."


Fu Hua segera teralihkan ketika suara menggelegar merobek gendang telinganya, datang langsung dari depan mukanya hingga dengan paksa Fu Hua memundurkan wajahnya.


"Apalagi yang kau tunggu?! Kerjakan tugasmu, jangan bengong seperti orang bodoh! Kau sudah terlambat masih tak tahu diri!"


Tampaknya yang baru saja menghardiknya adalah orang yang jabatannya cukup tinggi, perawakannya menakutkan dan wajahnya kaku seperti kayu. Tapi ketika dia marah, raut wajah itu serupa monster. Fu Hua berjalan secepat yang dia bisa dan masih mendapatkan pukulan dari lelaki itu.


Tungkai kaki kirinya terkena sepakan, tulang keringnya berdenyut perih. Dengan pincang Fu Hua memasuki bagian dalam Kincir Angin yang tak disangka begitu besar. Dari bawah Fu Hua menengadahkan ke atas, menyadari kincir itu jauh lebih raksasa dari yabg dilihatnya dari kejauhan.


Seperti sebuah pohon raksasa ajaib dalam dongeng-dongeng, tapi ini versi yang buruknya. Yang menggantung di sana bukan apel apalagi penyihir, melainkan manusia hidup yang diumpankan kepada para terinfeksi. Lebih terlihat seperti pembantaian. Fu Hua tak mengerti lagi apa yang terjadi ke Kekaisaran ini.


Langkahnya tertahan ketika dua orang tengah mengobrol rahasia, berbisik-bisik satu sama lain sambil bekerja.


"Menurutmu Kaisar sengaja memelihara terinfeksi itu untuk uji cobanya?"


"Ini akan menjadi hal yang mengerikan sepanjang sejarah ... Dia akan memberikan obat terbaru, memperkuat terinfeksi itu dan kudengar ..." Dia berbisik semakin kecil hingga Fu Hua tak dapat mendengar apa pun selain kata 'menyebarluaskan'.


"Hoi, cecunguk. Jangan menghalangi jalanku kalau tak mau mati." Seseorang sengaja menyenggol bahunya dari samping, Fu Hua baru menyadari dia berada di tengah-tengah ruangan. Sebelum ditegur lagi seperti tadi, dia segera mencari bagian dalam Kincir.


Saat memasuki sebuah pintu yang dijaga satu prajurit, Fu Hua ditahan dengan pedang di silang di depan dadanya.


"Oi, oi mau ke mana kau?!"


"Ah, eh ... Aku dipanggil untuk tugas kemari. Menggantung manusia itu ... Ke Kincir Angin?" jawabannya terdengar mencurigakan, laki-laki itu tak memakai topeng apa pun sehingga nampak jelas kecurigaan di wajahnya, membuat Fu Hua cemas.


"1503, kau ..." Laki-laki itu membaca tulisan di baju Fu Hua.


Fu Hua memotong cepat. Dia sengaja merendahkan nada bicaranya sehingga terdengar seperti laki-laki, "Aku anak baru di sini, jadi belum begitu paham pekerjaan ku."


Harap-harap cemas prajurit itu tak menaruh curiga kepadanya, lelaki itu mendekat. Tersenyum penuh arti, "baumu seperti bau wanita."


Fu Hua siap-siap mengambil pisaunya jika terjadi hal buruk, menelan ludah mewanti-wanti situasi terburuk. Dia terkepung sepenuhnya jika lelaki itu membaca identitasnya.


"Kenalkan satu wanitamu padaku, jangan kau simpan sendiri hahah." Tawa meledek terdengar darinya, Fu Hua tertawa kikuk. Kedua jarinya seperti membeku dalam seragam berlapis armor yang seharusnya pengap. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak bisa melakukan apa-apa jika tak mendapatkan informasi.


Sepintas dirinya teringat dengan laki-laki bernama Wen ketika sebuah kurungan diangkat dengan gerobak besar. Melihat begitu banyak manusia menjadi korban atas kebengisan ini. Dia juga tak tahan, nyaris meneteskan air mata melihat para wanita dan anak-anak mengemis minta diampuni.


"Hei, tunggu apa kau di sini? Tempat kerjamu di sana," tunjuk laki-laki itu ke ruang sebelahnya. Fu Hua mengiyakan dan segera masuk ke pintu sebelah. Penjaganya tak mengatakan apa-apa dan membiarkan Fu Hua masuk begitu saja.

__ADS_1


Dia menaiki anak tangga satu per satu yang mengantarkannya ke puncak kincir angin. Tengah malam tepat ketika bulan berada di atas kepala, Kincir Angin itu berhenti. Para prajurit yang bertugas di atas memotong tali manusia-manusia itu dengan bantuan alat sehingga mereka bisa melakukannya di tempat kendali.


Jeritan melolong panjang, menjadi pertanda makan malam untuk para terinfeksi di bawah sana. Teriakan kematian dan raungan para terinfeksi bersatu dengan bunyi air hujan, para manusia yang masih hidup digantung menjerit. Tahu kematian mereka tak lama lagi. Lalu dalam satu kali hentakan, ratusan lebih tali terpotong.


Manusia-manusia itu berjatuhan dalam lautan mayat, dimakan dan dicabik tanpa ampun. Fu Hua menyaksikannya sambil menutup mulut, tak sanggup melihat tapi matanya tak mampu berpaling. Ini adalah tragedi yang tak pernah terjadi sebelumnya. Gadis itu berusaha menenangkan diri, meski kedua kakinya mulai menggigil.


Dia ditugaskan untuk membawa para sandera ke ruang terpisah, Fu Hua mulai mengerjakan tugas itu dengan biasa.


Seseorang di sampingnya membantu, Fu Hua merasa hanya itu kesempatannya untuk mendapatkan informasi.


Dia mencari satu pertanyaan menjebak,


"Kudengar beberapa manusia itu akan dibawa ke Laboratorium Baru untuk diteliti."


Laki-laki di sampingnya tak menaruh curiga dan langsung menanggapi, "Tahu dari mana?"


"Dari yang lain. Mereka akan dibawa ke ujung sentral tempat Laboratorium Baru berada."


Lawan bicaranya menanggapi skeptis, "Kau tidak salah? Sejak kapan Laboratorium Baru ada di ujung sentral,"


"Oh? Lalu? Memang kau sendiri tahu di mana?" tanyanya semakin memancing.


"Kau tahu aku sudah sejak awal melayani Kaisar terdahulu. Laboratorium Baru sudah lama dibangun dan tak pernah pindah, memang kau tidak akan menemukan lokasinya di peta mana pun. " Tangan laki-laki itu terus sibuk memilah, Fu Hua mulai gerah.


"Kau tidak memberi tahu lokasinya, dari mana aku percaya kalau kau memang tahu segalanya. Ujung sentral lebih aman, tentu di sana Laboratorium Baru berada."


Sepersekian detik lawan bicaranya tersinggung usai mendapatkan jawaban Fu Hua, "Di terowongan yang di bangun di bawah Sungai Weizu, perbatasan kota Guiza. Kau pasti baru mendengarnya, kan, anak baru? Bocah baru kemarin jangan berlagak. Kerja yang benar."


Fu Hua tak akan tersinggung karena dia benar-benar butuh informasi tersebut, dia mengangkat tangan dengan hormat. "Siap laksanakan."


Sekarang Fu Hua sudah mengetahui lokasi tersebut, dari peta yang diberikan Lian kepadanya Sungai Weizu hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari tempat ini.


"Lalu ... Bagaimana cara kau tahu soal ini? Bukankah seharusnya rahasia?"


"Kadang aku ditugaskan mengantarkan barang ke sana"


Fu Hua mulai mencari cara untuk menjalankan rencananya, dia mengambil sebuah botol bulat berisi cairan kental kekuningan. Terdiam sebentar ketika mendapatkan satu barang lain yang cukup penting, yaitu bom asap. Dia mengantonginya diam-diam. Lalu membuat gerakan ceroboh sampai botol itu pecah dan terciprat ke pakaian prajurit tadi.


"Oh, hei, apa yang kau lakukan?" Terdengar nada geram di sampingnya, Fu Hua mengelak. "Ada serangga di botol itu, aku kaget dan membantingnya."


"Sial, baunya seperti telur busuk. Arghh, bikin kerjaan saja anak baru ini," dumelnya sambil berjalan ke tempat lain. Semacam kamar mandi. Fu Hua menguntit dari belakang, memejamkan mata meminta diampuni atas perbuatannya sampai masuk ke kamar mandi laki-laki.


Laki-laki itu menggantungkan seragamnya asal, masuk ke dalam kamar mandi. Fu Hua dengan sigap mengambil lencana dan tanda pengenal di baju laki-laki itu, menukar dengan miliknya dan kabur secepat yang dia bisa.


Sejauh ini pergerakannya masih mulus. Fu Hua kembali ke tempat kerjanya, berniat mencari jalan keluar dan justru terkunci pada satu titik di mana dia melihat laki-laki yang berasal dari Fraksi Militer Pusat tengah menatap ke arahnya. Itu Wen.


Gadis itu mendekat, "Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" Bisiknya sambil berpura-pura mengerjakan tugas. Wen terkejut, dugaannya tak meleset. Lantas Wen menjawab cepat-cepat, "Alihkan perhatian mereka dan beri aku waktu untuk membuka kurungan ini."


Fu Hua mengedarkan pandangan, melihat satu penjaga yang dia tandai sejak tadi. Laki-laki itu membawa kunci yang menggembok kurungan, jumlahnya cukup banyak. Gadis itu berjalan, melakukan tipu muslihat yang sama seperti sebelumnya.


Bentakan dan makian langsung meluncur deras menghentamnya, Fu Hua mengangguk-angguk, meminta maaf karena menyenggol laki-laki itu dan kembali ke tempat kerjanya.


Wen yang berada tak jauh darinya melihat ke bawah, Fu Hua menyeret kunci itu dengan kakinya.


"Aku berikan kau tujuh detik. Selamat atau tidak, itu semua tergantung padamu." Fu Hua melemparkan sebuah bom peledak di bawah kurungan Wen.


Gadis itu pergi ke tempat lain, dia mencari tempat berlindung di balik kotak besar. Mengeluarkan panahnya dan mulai membidik ke arah lilin dan penerangan lainnya di ruangan tersebut.


Dalam hitungan tiga, satu per satu anak panah menyambar lilin. Menghancurkan botol kaca berisi minyak hingga kebakaran mulai menyebar di mana-mana.


Dalam detik berikutnya Wen meledakkan bom asap. Tanpa diduga jangkauannya cukup luas sehingga satu ruangan itu penuh dengan asap tebal. Wen dengan sigap bergerak, menghancurkan beberapa kurungan. Teman-temannya dari Fraksi Militer Pusat yang hampir digantung ikut keluar, dengan mengambil senjata mereka bertarung melawan musuh.


Fu Hua keluar dari persembunyiannya, mendekati Wen sambil berkata, "Aku akan meledakkan Kincir Angin ini. Bawa orang-orangmu keluar, cepat."

__ADS_1


Wen tak bisa membiarkan manusia lainnya terbunuh, dia membuka beberapa kurungan selagi Fu Hua meletakkan peledak, dalam hitungan dua puluh detik lima peledak yang sangat kuat akan merobohkan tempat itu.


Fu Hua mengambil langkah cepat, lari sebisanya ketika prajurit tak menyadari maut tengah mengintai mereka, menghitung detik demi detik.


Wen kabur bersama tahanan lain, kebanyakan dari rakyat yang kabur dibunuh ditempat. Hanya beberapa selamat. Tapi sepertinya lebih baik daripada mati dijadikan umpan. Tiga orang dari Fraksi Militer Pusat ikut bersama Fu Hua termasuk Wen. Mereka berlari sejauh mungkin, memanjati atap dan melangkah dengan terburu-buru.


Dua puluh detik berlalu, Fu Hua membalikkan badan ketika satu ledakan besar mulai terdengar. Menghancurkan tiang penyangga bawah Kincir Angin hingga tubuh bangunan itu mulai oleng. Ledakan dua dan ketiga bersusulan secara bersamaan, Wen dan temannya nyaris tak percaya. Lubang besar tercipta di kaki Kincir Angin, bunyi yang menandakan Kincir Angin Raksasa itu akan roboh mulai terdengar.


Fu Hua menelan ludah, ledakan keempat bangunan itu hancur parah tapi masih berdiri kokoh. Dia menunggu ledakan kelima dan lima detik berlalu, ledakan itu tak terjadi.


"Tidak ... Salah satu dari mereka pasti menghentikan bom itu-"


Ledakan kelima membuat Fu Hua terkejut bukan main, getaran hebat mulai membuat kaki mereka kehilangan keseimbangan. Wen tak mengedipkan mata, menyaksikan kehancuran berskala besar yang dilakukan tanpa ragu oleh seorang gadis muda."Nona, sepertinya sehabis ini kau akan menjadi buronan besar."


Fu Hua menatap ke depannya, di mana secara perlahan di atas langit gelap puncak Kincir Angin mulai tumbang. Bunyi reruntuhan menggema, manusia-manusia yang digantung tak sempat diselamatkan. Lalu tubuh raksasa Kincir Angin itu terhempas ke arah para terinfeksi, menghancurkan benteng tinggi yang melindungi para prajurit Serikat Sentral Pusat bersama debu tebal yang berterbangan hingga ke tempat Fu Hua dan yang lain berada.


Dentuman besar melanda, angin kencang berhembus hingga membuat baju mereka berkibar kencang selama beberapa menit. Fu Hua membuka penutup kepalanya, angin membuat rambutnya berterbangan. Kedua mata safirnya menatap lekat-lekat, ketika Kincir Angin itu menghantam bumi. Menimbulkan gempa yang cukup besar. Lalu kematian tak terhindarkan, ribuan orang di sana menjadi korban. Bersalah atau tidak.


"Bagaimana caranya mereka membangun Kincir Angin sebesar itu dalam hitungan minggu?"


"Tempat itu dibangun dengan kayu, beberapa rancangan sudah disiapkan sepertinya dan aku melihat mereka membangun itu dengan tenaga ribuan orang. Tak perlu heran bisa berdiri satu raksasa mengerikan itu hanya dalam hitungan minggu," timpal Wen juga miris melihat apa yang terjadi di depannya.


"Tapi ... Jika aku menjadi buronan, setidaknya aku memiliki satu teman buronan juga."


"Maksudmu, Chen?" Wen menanggapi, tak melepaskan pandangannya dari pemandangan tragis di depan. Saat para terinfeksi berpesta memakan para manusia. Prajurit yang berada di jalan mulai dikejar-kejar. Beruntung mereka berada di atap bangunan yang cukup aman.


"Kau juga tahu dia."


"Ya?"


"Seseorang berseragam sama seperti mu juga mengenalnya, dia adalah Jenderal. Namanya Xe Chang."


"Jenderal-!" Wen tertegun. Fu Hua bertanya langsung.


"Kau mengetahui aku bukan musuhmu dari mana?"


Wen membalas tatapan Fu Hua, "Aku tak sengaja melihatmu membunuh orang Serikat Sentral Pusat dan mengambil pakaian mereka ketika diseret dalam gerobak kurungan."


Dia menambahkan, "Instingku kuat, kau pasti teman pemuda itu. Dan benar saja."


Pertanyaannya terjawab sudah. Fu Hua mengangguk dan diam cukup lama.


Setidaknya hatinya sedikit lega. Kini tak akan ada lagi calon manusia yang digantung di kincir angin itu meski nanti kepalanya akan diincar. Dia tak begitu siap, tapi jika memang harus dilakukannya maka Fu Hua tak akan ragu.


"Tenanglah, kau tak sendiri. Kami bersama kalian, ini bukan hanya tentang memperjuangkan Kekaisaran Wei, tapi semua orang di dunia ini."


Fu Hua mengerti maksud Wen.


"Dan aku Wen, teman-temanku, Piao dan Qio akan membantumu. Kami berutang budi padamu, Nona ..." Wen menggantung kalimatnya.


"Fu Hua," tambah Fu Hua.


"Tapi aku akan melakukan misi ini sendiri," sela Fu Hua. Pandangannya jatuh pada sisa reruntuhan Kincir Angin raksasa. "Datanglah ke jembatan di dekat laut. Jenderal kalian akan datang ke sana besok."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku ..." Ada ketakutan yang menyelusupi hatinya, namun peringatan Lian membuatnya takut akan kehilangan kesempatan jika membawa banyak orang bersamanya.


"Akan pergi ke Laboratorium Baru sendirian."


Wen, Piao dan Qio terkejut.


Piao memperingatkan, "Tempat itu jauh dari kata aman, kesempatan selamatmu bukan lima puluh banding lima puluh."

__ADS_1


Temannya Qio menambahkan, "di sana dijaga dengan ketat. Sangat-sangat ketat. Kau tidak bisa masuk sembarangan, sekali tertangkap bukan ditahan atau disandera, melainkan dibunuh ditempat."


"Berdoa saja itu tak akan terjadi."


__ADS_2