Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 225 - Jasad Terbakar


__ADS_3

Abu yang telah terbakar terseret oleh angin, langit diamuk oleh badai yang masih mengamuk di atas Kota Fanlu. Seolah tak percaya, Xin Chen menapakkan kakinya semakin dekat, melihat kenyataan yang tak pernah ingin dilihatnya.


Rumahnya kembali hancur.


Rumah yang begitu indah dan hangat, tanaman yang semula tumbuh terawat di halaman rumahnya dan canda tawa yang sering terdengar di dalamnya. Tempat yang menjadi tujuannya untuk pulang kembali hancur.


Hanya beberapa penyangga yang masih berdiri, barang-barang hangus. Dan di sekitar mereka puluhan terinfeksi mulai mengendus aroma tubuh mereka. Rubah Petir tak mengeluarkan sepatah kata, dia tahu bagaimana perasaan Xin Chen saat ini. Kedua kalinya melihat hal yang sama, pemuda itu pasti akan menyalahkan dirinya kembali.


Kepalan tangan yang begitu erat di kedua sisinya menggambarkan seberapa kecewa Xin Chen atas dirinya sendiri.


"Ke mana Ayah, Ibu dan Xin Zhan?"


Ye Long satu-satunya yang melihat mereka terakhir kali menjawab, "aku tak bersama mereka ketika semua ini terjadi. Terakhir kali aku melihat ayahmu telah kembali dari misinya. Xin Zhan mengurus sesuatu di alun-alun kota dan ibumu ... Dia bersama Xiu Qiaofeng, mungkin."


Xin Chen mengangkat wajahnya, "pertama-tama kita cari Xiu Qiaofeng. Jika dia selamat seharusnya dia tau di mana ibu berada."


"Tapi kau yakin soal itu?"


"Mereka pasti baik-baik saja ... Mereka pasti baik-baik saja ..." Xin Chen terus mengulang kalimat itu di dalam hatinya, untuk sesaat tangannya gemetar. Merasakan firasat yang begitu buruk di depan mata.


Barang-barang penting di rumah telah habis terbakar, itu artinya tak satupun dari keluarganya yang mengemas barang lalu pergi, atau mungkin mereka terlambat dan tak dapat melarikan diri. Xin Chen menepis segala ketakutan yang mulai menguasai pikirannya. Menapakkan kaki di pintu rumah yang telah hancur, merasakan hawa yang begitu berbeda dari sebelumnya. Bagian atap rumah hampir delapan puluh persennya hancur sehingga membuat sinar cahaya matahari yang redup masuk ke dalam.


Mata Xin Chen terbuka lebar. Dia mundur, tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan mata. Sekujur tubuhnya dingin membeku.


Rubah Petir melihat Xin Chen berhenti tiba-tiba dan melihat ke arah pandangnya. Dia sangat terkejut, tak menyangka semua yang disangkakan akan terjadi dan dilihat Xin Chen secepat ini.


Jasad wanita yang sudah terbakar hampir seluruhnya itu begitu mirip dengan Ren Yuan. Xin Chen terus mundur refleks, tak sanggup melihat mayat yang mati terbujur membelakangi mereka. Hanya punggungnya saja yang terlihat tapi Xin Chen tahu itu adalah sosok yang begitu dikenalnya.


"Tidak mungkin ..."


"Chen, tenangkan dirimu," suara Rubah Petir ketika dia tiba-tiba merasakan sebuah kekuatan dalam jumlah besar mulai terasa di tubuh Xin Chen.


Ye Long mendekati mayat itu dan menggerakkannya, wajah itu kini menghadap Xin Chen yang gemetar melihat rupa tersebut. Telah habis dimakan api. Nyaris tak bisa dikenali sama sekali


"Tidak, kenapa semuanya bisa begini ...? Aku sudah menjaga mereka dari semua hal mengerikan di luar sana tapi mengapa ..." suaranya terdengar hancur, bersamaan dengan itu sebuah gelombang menakutkan yang akhir-akhir ini menjadi teror menakutkan di Kekaisaran mana pun terdengar. Itu adalah gelombang terinfeksi yang agresif. Mereka mengincar mangsanya begitu cepat dalam jumlah yang di luar nalar.

__ADS_1


"Aku sudah menjaga mereka ..."


"Chen, kita harus pergi dari sini."


"Persetan dengan menyelamatkan diri. Aku bahkan tak mampu menyelamatkan keluargaku sendiri, lebih pantas mati bersama para terinfeksi itu. Manusia tak berguna seperti ku apa masih pantas hidup?"


"Jangan menyalahkan dirimu, Chen! Cepat pikirkan hal lain dan pergi dari sini, kita membawa dua nyawa yang sedang berada dalam ancaman." Tegas Rubah Petir dengan menyebut Fu Hua dan Feng Yong.


Xin Chen bahkan tak percaya, di situasi seperti ini pun Rubah Petir sama sekali tak mau mengerti apa yang dia rasakan.


Kehilangan seorang ibu yang telah menjaganya sedari kecil, membimbingnya penuh kesabaran dan menunggu dirinya sepanjang waktu dari misi. Wanita itu adalah wanita pertama yang begitu dia cintai, kehilangannya adalah luka paling menyakitkan yang mungkin tak akan pernah sembuh.


"Kau egois, Guru Rubah."


Rubah Petir seketika terdiam. Dia menengok ke arah mayat wanita itu dan melihat kembali ke luar jendela.


"Kita tidak diberikan waktu untuk berduka, maafkan aku Chen."


Getaran di permukaan bumi semakin hebat, Rubah Petir tahu itu bukan lagi getaran akibat gelombang terinfeksi yang tengah berkejaran ke arah mereka. Namun kekuatan roh di tubuh Xin Chen mulai mengamuk, sang pemilik mulai kehilangan kendali lagi. Rubah Petir sudah melihatnya, ketika Xin Chen kehilangan kendali sebelumnya masalah lain datang. Roh Tanpa Nama akan menguasainya.


Sang rubah menatap muridnya itu, sedikit merasa bersalah atas ucapannya sebelumnya. Mata biru itu tak memiliki harapan hidup lagi. Kecewa, marah dan sendu bercampur satu.


Pemuda itu terlihat hampir menangis. Belum bisa menerima apa yang baru saja dia lihat di Kota Fanlu.


Pertanyaan seperti ke mana Ayahnya, di mana Xin Zhan, dan mengapa mereka berdua membiarkan ibunya tewas di sini mulai membakar hatinya.


Atau bahkan Xin Fai dan Xin Zhan tak selamat.


"Aku mulai merindukan kematian," akhirnya sembari menatap langit Kota Fanlu yang sama murungnya. Tetesan air hujan membasahi kulit pipinya hingga rintik tersebut berubah menjadi hujan yang sangat deras.


Sedih telah berubah menjadi amuk. Xin Chen mengeratkan genggaman tangannya, berjalan ke luar rumah dan melihat sendiri dari seluruh sisi mereka telah dikelilingi oleh terinfeksi yang terus mendekat.


"Jangan katakan itu, Chen."


Rubah Petir memang tak memahami bagaimana perasaan Xin Chen saat ini, tapi dia tak akan membiarkan Xin Chen melakukan hal bodoh. Dia bersiap dengan kekuatan petirnya untuk menghadapi kemungkinan paling buruk: bertarung dengan muridnya sendiri.

__ADS_1


Angin yang begitu kencang menerbangkan jubah hitam Xin Chen, bunga api menyala begitu terang. Mata biru itu menatap lurus ke depan, mengangkat kedua tangan dan bersamaan di saat itu pula Garis Hitam seperti sebelumnya keluar.


Feng Yong terbangun dari pingsannya ketika merasakan sesuatu yang tak wajar. Hawa sangat mencekam di sekitarnya hingga kedua pundaknya berat dan dia kesakitan menarik napas. Saat membuka mata untuk pertama kali yang dilihatnya adalah ribuan Garis Hitam raksasa yang lebih mirip seperti kaki gurita yang muncul dari bawah tanah. Meluluhlantakkan satu kota.


Hantaman dan terjangan mengguncangkan Kota Fanlu, rumah-rumah ambruk. Tubuh-tubuh mayat tersebut hancur berhamburan.


Beberapa terinfeksi berhasil memasuki rumah, Feng Yong yang sudah lebih dulu ngeri dengan pemandangan di depannya tak sempat melarikan diri. Dia jatuh pingsan lagi.


"Aish merepotkan orang tua ini," gerutu Rubah Petir, terpaksa harus menjaga tubuh Fu Hua dan Feng Yong yang kini pingsan.


Rubah Petir mulai merasakan pergerakan kekuatan yang tak wajar, roh-roh itu berkumpul di atas awan dan menciptakan satu jenis kekuatan roh tingkat lanjutan yang tak pernah dia lihat dari diri Xin Chen.


"Xin Chen, apa yang kau lakukan?" Jelas panik terpampang di wajahnya, Rubah Petir makin merasakan ada yang salah dan harus menghentikan hal itu sebelum Xin Chen kelepasan.


Dia menggunakan kekuatan petirnya untuk mengenai tangan Xin Chen. Percuma. Rubah itu melindungi Fu Hua dan Feng Yong dengan perisai petir dan bergegas ke tempat Xin Chen.


Awan-awan hitam itu bukan lagi awan biasa, itu adalah kumpulan kekuatan roh dengan warna yang begitu pekat kemerahan. Seperti warna darah hitam. Hanya terasa hawa negatif yang begitu jahat di dalamnya, Rubah Petir bahkan bisa mengatakan energi negatif itu setara dengan kekuatan milik Naga Kegelapan.


"Chen, kau memang keras kepala! Aku tidak peduli soal ibumu, tapi setidaknya jangan membunuh orang lain karena kau marah! Masih ada manusia hidup di tempat ini yang mungkin akan mati hanya karena perbuatan cerobohmu!"


Rubah Petir diacuhkan. Dia benar-benar ingin memukul Xin Chen saat itu juga. Kekuatan roh di atas sana mulai membentuk suatu wujud mengerikan. Rubah petir mengutuk.


"Chen, berhenti. Kau akan membunuh Ye Long dan teman-teman mu."


Dia kembali diacuhkan. Mata biru itu hanya peduli dengan sesuatu yang besar di atas langit. Menciptakan malapetaka selanjutnya yang dapat menghancurkan satu kota lagi.


"Pantas saja semuanya berubah buruk seperti ini, karena kau tak pernah mendengarkan orang lain dan hanya fokus dengan tindakan bodoh yang kau anggap benar!"


Xin Chen berhenti sesaat, menatap Rubah Petir benci. Tatapan sinis itu tak pernah diberikan padanya, meski Xin Chen semarah apa pun. Rubah Petir bersiap, dia tak tahu kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Tangan Xin Chen terangkat mengarah ke tempat Rubah Petir, sebuah kekuatan yang begitu besar berkumpul di telapak tangannya. Lagi-lagi kekuatan jahat itu, mungkin adalah kekuatan asli dari tahap ke empat. Menciptakan roh-roh yang begitu kuat dan jahat.


Satu tembakan menyerang Rubah Petir, rubah itu menengok ke belakang di mana serangan tadi jatuh dan menghancurkan tanah hingga retak puluhan meter.


Yang ditakutkannya terjadi, dia harus melawan Xin Chen yang kini bahkan sulit untuk diserang. Satu serangan yang kecepatannya sama sekali tak bisa rubah baca datang, siluman itu tak sempat menghindar.

__ADS_1


__ADS_2