Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 221 - Menuju 206 Mil


__ADS_3

Setan Pengamuk yang ukurannya seratus kali lipat dari Ye Long mengangkat godam raksasanya, jatuh meluncur ke bawah begitu cepat.


Retakan besar disertai badai abu terjadi diiringi suara dentuman yang menggema ke seluruh penjuru.


Rubah Petir yang begitu khawatir dengan keadaan Ye Long datang, takut naga itu mati akibat amukan Xin Chen. Dan ketika dia sampai ke tempat naga itu tak ada yang tersisa di sana selain reruntuhan yang telah terpecah berkeping-keping. Dia menggeletakkan tubuh Fu Hua dengan sebelah tangannya yang telah berubah menjadi cakar yang lebih besar. Kembali ke wujud kecilnya dan mencari ke segala arah.


Kekuatan roh berasal dari depannya, namun tak sebesar sebelumnya dan bahkan semakin melemah. Rubah itu menatap keheranan, melihat Xin Chen ambruk di atas sebuah ukiran bergaris hitam. Lalu di sana Ye Long melindungi tubuh itu dengan sayapnya.


"Chen ... Kau tidak apa?" Mata hitam Ye Long menatap nanar, Xin Chen membuka matanya. Sadar dengan apa yang telah terjadi, dia melihat semua yang dilalui Ye Long dan merasa bersalah.


"Maaf aku menyakitimu, Ye Long."


Xin Chen bisa melihat mata Naga Hitam itu sampai berkaca-kaca, matanya berair penuh haru.


"Lama tak bertemu kawan, kau pasti sangat sedih..."


"Aku ..." Ye Long makin terlihat sedih. "Aku lapar."


Lalu terdengar bunyi perut naga itu, merusak suasana di sekitarnya. Entah kenapa rubah petir tiba-tiba kesal dan ingin menyetrum Ye Long. Meski naga itu tengah terluka parah.


"Kau masih bisa berjalan?"

__ADS_1


"Menggelinding sampai ujung bumi juga bisa." Ye Long membuka kedua sayapnya dan ketika mencoba terbang dia langsung kesakitan.


"Setidaknya kau masih bersamaku," ucap Xin Chen berusaha menepis semua kesedihannya. Menepuk-nepuk kepala Ye Long sampai naga itu kebingungan sendiri.


"Aku akan mencari sisanya, kau ikut bersamaku?"


"Seharusnya kau tak perlu mengamuk, Chen. Kau akan menemukan mereka kembali." Rubah Petir berkata dari belakangnya, Xin Chen menoleh ke belakang dan seketika matanya menangkap tubuh yang tengah terbaring di atas satu reruntuhan besar.


"Gadis itu membutuhkan pertolongan segera. Masih ada kemungkinan untuk selamat," usul Rubah itu.


"Bagaimana mungkin-?" Xin Chen tak menangkap tanda-tanda kehidupan di wajah Fu Hua.


"Kalau begitu kita harus cepat!" Ye Long berteriak, "Tapi sebelum itu kita cari makanan dulu."


"Cih pikirkan makananmu nanti naga jelek, orang sedang berada antara hidup dan mati dia sibuk memikirkan makanan." Seperti biasa Rubah Petir mengomelinya tak senang.


"Kita ke Kekaisaran Shang?" Xin Chen melihat ke depan, kehancuran besar tengah terjadi di depannya. Dia seperti belum sanggup melihat apa yang sedang terjadi.


"Chen," panggil Rubah Petir. "Aku baru menyadari sesuatu dari petunjuk yang kita temukan. Jika kita pergi sekarang mungkin semuanya belum terlambat."


Xin Chen tak langsung menjawab melainkan berpikir serius. "Aku akan mendengarnya lebih dulu."

__ADS_1


"Hu Yaongi, Teluk Barat, 206 mil. Itu bukan hanya satu petunjuk saja, melainkan tiga petunjuk yang berbeda."


"Apa maksudmu, Guru?"


"Hu Yaongi dan Teluk Barat terletak agak berjauhan. Kita telah melewati desa Hu Yaongi sebelum bertemu dengan sebuah tempat yang disebut Teluk Barat. Kastil yang ketika temukan itu berada di jalur Teluk Barat."


"Guru ingin pergi ke Teluk Barat lagi?"


"Tidak. Menuju 206 mil dari sana."


Xin Chen nyaris tak percaya. 206 mil bukanlah jarak yang dekat, membutuhkan waktu paling cepat 4 hari jika mereka menggunakan kecepatan penuh.


"Tapi kalau menggunakan sayapku kita bisa mencapainya dalam dua hari," celutuk Ye Long penuh percaya diri, mengepakkan sayapnya yang sudah bolong-bolong.


"Percaya diri sekali dengan sayap compang-camping seperti itu," sindir Rubah, Ye Long memberenggut kesal.


Sementara Xin Chen tersenyum, pada dasarnya Ye Long telah memiliki kekuatan Api Keabadian di dalam tubuhnya. Dia menyalurkan sebagian kekuatannya, bagian yang telah terkoyak diisi oleh lapisan api biru yang perlahan menyatu dengan tubuh sang naga. Memperbaikinya dalam sekejap mata.


"Baiklah, kapal perang siap berperang!"


"Perahu bebek iya." Rubah Petir tampaknya tak begitu senang melihat Ye Long bersenang-senang, naga itu menulikan telinganya, mulai terbiasa dengan Rubah itu. Paling tidak dia tidak dimakan sang rubah.

__ADS_1


__ADS_2