Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 239 - Enam Tuan Rumah XI


__ADS_3

"Diriku sendiri bahkan membenciku..." Fu Hua memeluk lutut, saat memejamkan mata yang dilihatnya adalah sosok dirinya yang tadi. Dipenuhi dendam dan amarah, ruang kosong di hatinya membesar. Gadis itu menundukkan wajah, menangis, tak tahu dari mana rasa sakit itu berasal.


Dia mulai lelah.


"Tidak apa-apa kalau kau ingin menangis,"


"Suara ini.."


Cahaya yang begitu menyilaukan membutakan matanya, Fu Hua tak bisa melihat siapa yang berada di depannya. Saat mendapatkan penglihatannya kembali, muncul seseorang di depannya. Bayangan menutup wajah sosok tersebut. Dia berjongkok di depan Fu Hua.


"Kau berlari sangat jauh sampai babak belur begini, tak ada yang salah jika kau menangis. Tidak akan ada yang membencimu."


Tetesan air mata mengalir di pipi Fu Hua, suara itu sangat lembut menenangkan hatinya.


"Kau juga tidak akan membenciku?"


"Aku akan selalu ada di sisimu saat seisi dunia membencimu. Jadi tak perlu takut."


Bibir Fu Hua bergetar saat menyebut nama sosok itu.


"Kau..."


"Jantungnya berdetak kembali!"


Ren Yuan tak percaya keajaiban datang, dia mendengar suara detak jantung walau sangat lemah. Feng Yong yang lebih dulu mengetahui hal itu langsung mengambil obat yang telah Ren Yuan racik sebelumnya.


Ren Yuan sendiri mengambil tindakan cepat, dia menyalurkan kekuatan untuk mengobati Fu Hua lagi. Jika gadis itu masih bernapas, maka beberapa organ dalamnya yang gagal fungsi kemungkinan masih bisa disembuhkan.


Untuk kali ini, Ren Yuan tak akan membiarkan gadis itu pergi.


"Bertahanlah..." Ren Yuan tak peduli jika dia memakai kekuatannya secara berlebihan, Feng Yong menegur karena tahu apa yang akan terjadi jika Ren Yuan memaksakan diri.

__ADS_1


"Kalau Nyonya memakai kekuatan terlalu banyak Anda bisa pingsan sampai tiga hari-"


"Xin Chen tak pernah meminta pertolongan padaku meski dia sendiri kesusahan. Aku tahu dia segan melakukan itu. Tapi jika dia sampai melakukannya..." ujar Ren Yuan menatap sayu pada Fu Hua.


"Berarti gadis ini sangat berharga baginya."


*


Berjam-jam berlalu dengan pertarungan yang seakan tidak ada ujungnya. Satu pohon ambruk di belakang Xin Chen, menimbulkan bunyi nyaring dalam beberapa detik, pemuda itu menatap lurus ke depan di mana musuhnya masih berdiri tegap tanpa kehilangan sedikit pun kekuatan.


Serigala Merah menurunkan tangannya, tepat saat itu bebatuan tinggi di belakangnya ambruk berserakan di tanah.


Keduanya baru saja melepaskan serangan bersamaan, sama sekali tak ada yang berhasil mengenai lawan masing-masing. Selain mengenai sesuatu di belakang mereka. Xin Chen berdecak.


"Aku bisa membaca semua pergerakan mu. Kau kira Mata Ilusi dan jurus-jurus murahan itu cukup untuk mengalahkan ku?" Ada kemarahan terdengar dalam ucapannya.


Mata Ilusi yang sebelumnya digunakan Xin Chen untuk menyerang Serigala Merah benar-benar tak mempan. Laki-laki itu tahu Xin Chen akan menggunakan jurus tersebut dan membiarkannya.


Lalu dengan mudahnya, Serigala Merah menyerang bulan berbentuk mata di langit, meski hanya ilusi tapi lawannya itu mampu menghancurkannya tanpa ragu.


Penguasa Empat Elemen dengan kemampuan khusus membaca masa depan itu tak membuka celah, jika ada pun yang ada dirinya yang merasa ditipu karena Serigala Merah sudah lebih dulu tahu apa yang terjadi. Itu benar-benar tidak menguntungkan tapi benar adanya.


Xin Chen tak pernah berpikir akan mendapatkan lawan sehebat ini-lebih tepatnya tak percaya ada manusia yang memiliki kekuatan tak masuk akal seperti Serigala Merah.


'Kemampuan membaca masa depan sepertinya terdengar berlebihan,' batin Xin Chen. Empat jam bertarung bukan berarti dia tak memerhatikan lawan bertarung nya. Serigala Merah dapat membaca setiap serangan dan pergerakan Xin Chen. Seolah-olah pertarungan itu sudah ada dalam genggaman tangannya.


Tinggal menunggu Xin Chen membuka celah sedikit dan menghabisinya, saat itu sudah dipastikan Xin Chen akan kalah.


Xin Chen tak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Kitab Pengendali Roh - Hawa Kosong."

__ADS_1


Xin Chen mulai serius, satu-satunya jalan yang terpikirkan adalah menghajar Serigala Merah dengan kekuatan besar dalam satu serangan. Memang melawan musuh dengan level kekuatan berbeda seperti ini sedikit membuatnya kesusahan. Tapi Xin Chen bukanlah tipe orang yang langsung menyerah meski hampir dikalahkan.


"Akhirnya kau menunjukkan kekuatan aslimu."


Serigala Merah mulai tertarik, dia sudah lama menunggu Xin Chen terbawa suasana dan akhirnya menunjukkan kekuatan aslinya.


Bunga Api di keningnya bersinar terang sama dengan cahaya di matanya, Xin Chen mengumpulkan seluruh kekuatan di kedua tangan. Kekuatan kegelapan bercampur dengan kuatnya Api Keabadian, kali ini Xin Chen tak main-main lagi.


"Dia memiliki level kekuatan yang tinggi, kalau begitu pilihan ku adalah menyamai level kekuatan tersebut."


Tak seperti sebelumnya, Xin Chen maju lebih dulu dan menyerang secara terbuka. Serigala Merah tertawa-tawa, menyambut serangan itu dengan menggencarkan jurus air.


Keduanya saling bertubrukan. Ledakan kekuatan di antara mereka membuat tanah yang mereka pijak retak berkeping-keping. Kedua tinju beradu.


Serigala Merah dapat melihat jelas Bunga Api di dahi Xin Chen, berbeda dari yang Pedang Iblis miliki. Jubah hitam Xin Chen berkibar kencang, sampai Serigala Merah menambah kekuatan dan membuat tubuhnya terdorong.


Kekuatan air Serigala Merah mulai mengikis Api Keabadian miliknya. Xin Chen tertegun, tak pernah ada yang mengatakan bahwa kekuatan selevel Serigala Merah dapat menghancurkan Keabadian api tersebut.


"Kau terkejut? Tapi kuakui. Kekuatan roh yang amat besar, dan kau dapat mengendalikan mereka sekaligus. Pantas saja Kekaisaran Wei menaruh harga tinggi untuk mendapatkan kepalamu."


Serigala Merah mengangkat sebelah tangan lagi, bersiap untuk tinju berikutnya.


Tangan itu datang ke wajah Xin Chen, pemuda itu tak sempat menghalau dan tiba-tiba saja kekuatan sekeras tanah besi menghantam keningnya. Xin Chen terpental, jauh. Langsung dikejar oleh Serigala Merah, musuh duduk di atas dadanya dan terus meninju dengan tangan kosong.


Meski dikatakan tangan kosong tapi Serigala Merah menyalurkan kekuatan besar, Xin Chen tertoleh ke samping. Rasa sakit mendera, telinganya berdenging dan pandangannya memburam.


Kepalan tangan Xin Chen bergerak, nyaris mengenai Serigala Merah yang segera melompat jauh.


Musuhnya tak berbohong. Dia dapat membaca setiap pergerakan Xin Chen, walau hal kecil sekali pun. Xin Chen terbangun dengan keadaan yang semakin memburuk.


Tak terbayangkan bagaimana wajah Kaisar Qin saat tahu bahwa dirinya dikalahkan Serigala Malam. Xin Chen tak mau membuat siapa pun kecewa.

__ADS_1


'Berpikirlah, Chen. Ide gila apa pun, walau hanya trik sampah.. pasti ada satu cara untuk mengalahkannya.'


***


__ADS_2