Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 33 - Kejadian yang Terulang


__ADS_3

Seolah-olah tak ada ujungnya, pertarungan demi pertarungan yang memakan waktu berhari-hari terus berjalan. Tidak ada pemenang ataupun pecundang. Lebih tepatnya, tidak ada titik temu tentang siapa yang kalah atau menang. Xin Chen kehabisan akal untuk menghabisi Li Baixuan dan Li Baixuan mati-matian melawan dan bertahan.


Prajurit-prajurit dari kedua Kekaisaran masih saling menghabisi. Mereka masih mengangkat senjata, berteriak sekeras mungkin untuk menggentarkan semangat lawan masing-masing. Di antara mereka, salah seorang prajurit dengan pedang berat mengangkat tinggi-tinggi senjatanya. Setengah wajahnya telah berlumuran darah, bahkan luka sobek di sekujur badannya nyaris membuat siapa pun akan muntah melihatnya. Kerutan di wajah lelaki itu, menampakkan gelora semangatnya yang terbakar habis-habisan. Dia berduel melawan puluhan orang sekaligus, tanpa sedikit pun rasa gentar.


Orang itu berasal dari Kekaisaran Qing. Dan dia merupakan salah satu prajurit baru dari Distrik-1. Meski masih baru namun Jenderal-1 menaruh perhatian lebih pada potensi dalam dirinya dan berkata bahwa usai perang ini, dia akan direkrut dalam anggota inti-dengan beberapa syarat tentunya.


Laki-laki itu benar-benar tak sabar lagi untuk memenangkan peperangan ini. Dia ingin segera mendapatkan gelar itu. Kehormatan baginya adalah segala-galanya. Keluarganya akan bangga melihat dirinya menjadi bagian dari Distrik-1. Karena di desanya dulu, dia bukan siapa-siapa selain keturunan d seorang petani miskin yang hidupnya sungguh melarat.


Zha Yu menyabetkan pedangnya ke sana kemari. Seperti sedang menari. Dia menikmati perang yang seharusnya menjadi hal mengerikan bagi semua orang.


Satu per satu kepala tergeletak di tanah, beberapa tergeletak dengan mata terbuka dan memasuki sela-sela genangan banjir yang kotor. Hiruk-pikuk di telinga Zha Yu mendengung. Lalu tanpa dia sadari seseorang mencegatnya dari arah depan. Wajahnya tampak tenang, tapi Zha Yu tahu dari tatapan yang sinis itu. Lawannya memasang sikap menentang.


Lao Zi, si pemanah dari Kekaisaran Shang. Hanya mereka yang merupakan bagian dari mata-mata Kekaisaran yang mengetahui identitasnya. Pemuda itu tak menjaga jarak sama sekali dari Zha Yu.


Tanpa banyak basa-basi Zha Yu langsung mengincarnya. Diiringi dengan teriakan darinya. Lao Zi memiringkan badannya, membiarkan pedang Zha Yu menebas udara yang begitu tipis nyaris mengenai dadanya. Dengan busur di tangannya, Lao Zi menahan hempasan pedang berat yang menyusul bagian kepalanya.


"Bajingan seperti kau, apa maumu menghalangi ku dengan wajah sombong seperti itu?!"


Lao Zi masih sempat menoleh ke balik badan Zha Yu. Matanya yang teduh kembali menatap Zha Yu, mulutnya berucap penuh penyesalan.


"Aku tak akan membiarkan kau membunuh rekan-rekan ky lebih dari ini."

__ADS_1


Lao Zi melepaskan diri dari tekanan pedang Zha Yu, dia memutar badannya dan menendang kaki laki-laki itu hingga jatuh tersungkur mencium tanah.


Tak ingin kalah dari Lao Zi, Zha Yu menyerangnya habis-habisan. Gerakannya yang ceroboh dan terlalu terbawa emosi membuatnya tak bisa berkutik ketika menyadari tahu-tahu Lao Zi menggunakan senjata rahasianya. Sebuah jarum beracun tertancap di bahu Zha Yu. Bekas tusukan jarum tersebut menyebar di kulitnya dan menimbulkan bercak-bercak merah yang terus membesar. Hanya dalam hitungan kurang dari satu menit laki-laki itu mati rasa dan kehilangan kendali atas tubuhnya. Lalu, tak lama terdengar rintihan kesakitan yang tertahan di batang tenggorokannya. Laki-laki itu sekarat dan mati.


Lao Zi menatap lawannya beberapa detik. Dia sudah terbiasa membunuh selayaknya seorang pembunuh bayaran. Menghabisi lawannya di balik bayangan tanpa rasa kasihan.


Wajahnya kemudian menatap khawatir di kejauhan. Pemimpin Empat Unit Pengintai sedang bertarung di luar sana.


"Maafkan aku hanya bisa membantu sedikit, menangkan perang ini, Tuan Muda. Kekaisaran Shang sangat membutuhkan mu."


Mendadak langit yang kelabu menunjukkan tanda-tanda aneh, angin badai bertiup kencang membawa hawa menusuk. Menerbangkan debu-debu dan aroma amis darah yang telah menyatu dengan bau hujan beberapa hari lalu. Udara kering dan dingin secara bersamaan, terasa begitu aneh bagi mereka. Hingga salah satu dari prajurit di antara mereka berteriak sembari menunjuk ke atas.


"Lihat!" Wajahnya perlahan menjadi pucat tanpa sebab, tak pernah melihat fenomena alam yang cukup membuat bulu kuduknya berdiri hanya dalam beberapa detik. Kompak teman-temannya melihat dan memasang ekspresi yang sama.


Entah hanya khayalan semata, mereka merasa seperti sesuatu yang besar tengah mengawasi di atas sana. Sinis dan penuh kuasa.


"Chen ...."


Xin Zhan berdiri kaku, seperti kakinya telah membatu di bawah sana. Tak mampu bergerak lagi, bibirnya kelu usai itu. Pemandangan yang membawa ingatannya kembali pada tujuh tahun silam. Xin Chen masih sama seperti yang dulu. Dia memaksakan pundaknya untuk ditimpa oleh banyak hal berat; melindungi orang-orang dengan menggunakan dirinya sendiri. Hanya dirinya sendiri.


Saat itu, Xin Chen menghabisi musuhnya Han Wu. Dengan kekuatan petir yang diberikan oleh Dewa Petir. Itu masih membekas jelas di ingatan Xin Zhan.

__ADS_1


Gemetar mulai terlihat di kedua tangan Xin Zhan. Pikirannya mulai kacau kembali.


'Bagaimana jika memang semua akan terulang kembali?'


Dia menelan ludah. Melihat kekuatan petir semakin mengganas. Menarik bebatuan kecil ke atas langit, angin menerbangkan dedaunan kering di sekitar adik kembarnya. Orang-orang di sekitarnya melindungi kepala dengan lengan tangan, kekuatan tersebut semakin tak terkontrol.


'Jika Li Baixuan adalah sosok Han Wu dari masa lalu ....' Xin Zhan tak ingin mencocokkan peristiwa lama dengan apa yang dialaminya kali ini. 'Akan ada kemungkinan munculnya lawan yang setara dengan Ratu Iblis?'


Li Baixuan dapat merasakan kekuatan dengan level yang jauh berbeda dari sebelumnya. Sumringah yang biasanya senantiasa bertengger di sudut bibirnya musnah. Lelaki itu menengadah, matanya yang tajam memikirkan jelas-jelas tentang apa yang akan dihadapinya.


"Hahahaha!!" Li Baixuan mendadak tertawa di tengah kacaunya keadaan, "Aku tahu ini! Aku tahu, kekuatan ini ...!"


Lalu tawanya terdengar makin keras dari detik ke detik, tombak di tangannya kembali menyala merah.


"Inilah yang ingin ku lihat seumur hidup! Kekuatan yang menandingi kekuatan dewa, jurus yang membunuh roh Han Wu tujuh tahun silam!"


Sebagai Satu Terkuat Li Baixuan tentu saja tahu rumor tentang perang tersebut. Tak menyangka Xin Chen akan berbuat sedemikian jauh untuk menghabisinya. Tentu saja Li Baixuan merasa Xin Chen menganggapnya sebagai musuh yang hebat. Tak bisa disembunyikan lagi tawa puas yang keluar dari mulutnya.


***


A/N: Terlalu banyak hal yg menyita emosi dan pikiran akhir-akhir ini. Author meminta maaf untuk yg keseribu kalinya, do'akan keadaan membaik secepat mungkin:)) semoga aja bisa up rutin mulai hari ini yaa

__ADS_1


Jangan lupa bersyukur. Jangan lupa bahagia. Jangan lupa bernafas. :D sayang readers semuah :DD


__ADS_2