Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 47 - Sedikit Kesadaran


__ADS_3

Xin Zhan jatuh berlutut, napasnya tiba-tiba terasa berat. Kepalanya tertunduk sepenuhnya menatap tanah, yang dia lihat saat itu hanyalah tetesan keringat yang jatuh ke tanah. Dia seperti baru saja menghadapi pertarungan yang amat melelahkan meskipun yang di alaminya tadi hanya semacam ilusi. Hujan Darah nyaris merenggut nyawanya dan entah bagaimana caranya, Xin Fai menolong Xin Zhan keluar dari sana.


"Siapa laki-laki itu?" Xin Zhan menatap ke depan. Melihat Xin Fai masih sama seperti sebelumnya, dia tengah dikendalikan oleh sebuah kekuatan lain milik seorang lelaki dari klan Dou. Xin Zhan sendiri tak mengerti bagaimana jurus milik klan itu bekerja. Apakah penggunanya berada dari jarak yang cukup dekat dari tempatnya? Atau justru bisa mengendalikan Xin Fai dari jarak yang amat jauh. Dugaan tersebut sama sekali tak menjawab pertanyaannya.


Dibandingkan itu, Xin Zhan yakin betul apa yang mengendalikan ayahnya sama seperti halnya kutukan. Saat bertarung dengan jarak dekat dengan Xin Fai, Xin Zhan dapat melihat sebuah mata dengan bola mata hitam pekat muncul dari kulit lengan ayahnya. Letaknya tersembunyi oleh jubah lengan Xin Fai yang lebar.


Tak menutupi kemungkinan pula mata itu akan muncul di tempat lain. Xin Zhan sempat merasakan kekuatan aneh dan asing dari Xin Fai. Dan letaknya berada di balik punggung ayahnya itu. Jika benar inti dari mata hitam itu berada di sana, mungkin menghancurkannya mampu mengembalikan kesadaran Xin Fai.


"Mata Terkutuk, ya?"


Xin Fai sama sekali tidak berbicara. Selain gerak-geriknya yang terus tertuju pada Xin Zhan. Xin Zhan memaksa bicara.

__ADS_1


"Jawab aku. Aku tahu kau bukan lagi ayah yang ku kenal. Siapapun yang mengendalikanmu ... Sebenarnya apa tujuan mu menggunakan ayah? Membantu sekutumu untuk menang dengan menggunakan musuhmu sendiri sebagai senjata?"


Xin Fai tersenyum sinis.


"Apa tujuan kalian yang sebenarnya?"


Xin Fai menapakkan kaki pelan. Lalu sepersekian detik setelahnya hanya abu yang tersisa dari tempatnya berdiri. Terdengar suara gesekan pedang yang amat melengking, Xin Zhan tetap berdiri tegap dengan kuda-kudanya yang kokoh. Menahan tekanan dari lawannya.


Xin Zhan dapat mendengar retakan dari besi itu. Dia melepaskan pegangannya sehingga membuat senjata tersebut terlempar jauh. Sebelum bilah pedang lawan berhasil menembus tulang tengkoraknya, Xin Zhan lebih dulu menangkapnya dengan tangan kosong.


Siapa pun yang melihat tindakan Xin Zhan saat itu pasti akan berpikir bahwa dirinya sudah gila. Ibu jarinya nyaris terpotong menahan pedang lawannya yang semakin mendesak maju memotong leher. Darah jatuh bercucuran membasahi baju Xin Zhan.

__ADS_1


"Ayah ... Berjuanglah! Kau harus kembali, selagi itu kami akan bertarung untuk membantumu."


Perih dan sakit bercampur aduk dalam satu waktu. Xin Zhan menarik napas dalam-dalam, perlahan dia mengendurkan pegangannya pada pedang lawan. Xin Fai yang menaruh tekanan besar pada besi tersebut tiba-tiba kehilangan keseimbangan saat Xin Zhan menghentikan perlawanan.


Memanfaatkan kesempatan emas itu, Xin Zhan lantas melepaskan diri. Dia menyepak tangan Xin Fai yang sedang memegang pedang, membuat benda itu terlempar ke atas.


Xin Zhan menangkapnya. Seketika darahnya berdesir hebat.


Kekuatan macam apa yang sudah mengalir dalam pedang itu. Hanya dalam sepersekian detik sebelum kekuatan kegelapan itu kembali ke tubuh Xin Fai, Xin Zhan dapat merasakan sesuatu yang amat besar.


Xin Fai menahan kekuatan besar itu agar tak begitu menyakitinya. Xin Zhan tahu itu. Andai Xin Fai kehilangan seratus persen kesadarannya, dirinya yakin nyawanya telah lebih dulu melayang sejak beberapa jam terakhir.

__ADS_1


__ADS_2