
Di tengah tanah tandus sangat luas Xin Zhan berhenti berlari dan menghadap para Empat Unit Pengintai di sekitarnya. Perlahan dia menarik napas dalam demi mengembalikan tenaga sebelum akhirnya menangkap seorang penjaga dan membunuhnya langsung di depan mereka.
"Siapa dia-!?" Yang lainnya terkejut saling menatap.
"Sial! Ada penyusup!"
"Bunuh dia! Cepat!"
Serentak saja belasan orang berlari sambil mengacungkan pedang ke arahnya, Xin Zhan bersiap menyambut serangan itu dan merasa tidak perlu menggunakan tenaga dalam karena mereka hanya pendekar kelas teri.
Dalam satu ayunan pedang dua leher terpotong bersamaan, Xin Zhan bergerak lincah hingga melompat dengan tumpuan tubuh lawan kemudian menancapkan pedang miliknya tepat di ubun-ubun lawannya sampai ke bawah.
Bunyi retak tulang terdengar ketika Xin Zhan mencabut pedang itu kembali, lawan mengepungnya dari berbagai sisi. Dia merebut senjata lawan dan melemparkannya ke arah lain hingga gagang pedang tersebut menembus tenggorokan lawannya.
Tak terhitung berapa jeritan akibat pembunuhan sadis ini, para pendekar besar yang baru saja tiba setelah mendengar kegaduhan ini dibuat membelalak tak percaya.
"Apa pendekar sepertinya berasal dari aliran putih? Caranya memegang pedang dan kuda-kudanya mirip dengan orang-orang Kekaisaran Shang. Tapi kenapa dia membunuh orang seperti pembunuh yang baru saja diberikan pedang untuk menguliti manusia?"
"Kukira dia berasal dari kelompok aliran hitam juga, tapi kalau benar sepertinya jubah putih itu tak cocok untuknya?" Pendekar besar lain berpikir lagi, dia menggelengkan kepala dan bersiap membantu temannya di depan sana. Mereka sama sekali tak mengetahui bhawa yang datang ke sana adalah Xin Zhan. Atasan mereka sama sekali belum memberitahu permasalahan ini. Di mana Mereka baru saja mengirimkan utusan untuk membunuh Yan She, dan justru mengundang anak pertama Pedang Iblis ke persembunyian mereka.
"Salah satu dari kita minta bantuan sebanyak mungkin! Selebihnya bantu aku menghadapi dia!" Perintahnya tegas, pria itu hampir saja muntah saat melihat Xin Zhan mengeluarkan sebuah cahaya emas dari tangannya dan mencengkram perut lawan hingga ususnya pecah.
Xin Zhan semakin kehilangan kemanusiaannya. Dan dia merasa insting liar itu memang bagian darinya yang selama ini terkubur oleh ajaran kesopanan dan etika di Lembah Kabut Putih.
Kesadisan yang nampak di depannya itu membuat dia mulai ragu untuk melawan, langkah pendekar lainnya mulai gentar ketika Xin Zhan menatap mereka bengis.
"Maaf kalau terlalu sadis, dulu aku juga terbiasa membunuh binatang dengan cara seperti ini ketika mereka melukai adikku."
'Dan kau menyamakan kami dengan binatang!?' teriak lawannya tentu saja hanya dalam hati.
Lantas saja bulu kuduk lawannya terasa berdiri ketika pedang pusaka di tangannya terpantul cahaya kilat dari langit yang terus saja hujan deras.
"Kau... Sebenarnya apa salah kami padamu?"
"Salah kalian? Dari puluhan ribu manusia yang berhasil kalian bunuh, aku adalah satu orang yang kehilangan semua yang kumiliki setelah kejahatan kalian. Aku kehilangan kesempatan untuk membantu seseorang dan menyelamatkan nyawa Shui, aku kehilangan banyak sekali."
Pendekar lain yang telah putus asa buru-buru memohon ampun, dia segera memasang wajah memelas. "Kasihanilah aku, aku bukan orang yang telah membunuh keluargamu! Kau tahu, kan bagaimana rasanya kehilangan seluruh keluargamu? Bagaimana jika itu terjadi pada anakku juga?" Dia berlutut di tengah air banjir.
Sejenak nampak ekspresi tak tega membuat sang pendekar itu mulai tersenyum lega, ketika dia menengadah lagi rupa-rupanya wajah mengerikan sudah menyambutnya di sana.
"Kalau begitu salahkan anakmu yang malang mengapa bisa memiliki ayah seburuk dirimu."
Pedang pusaka miliknya kembali memancarkan sinar yang tidak biasa bagi sebagian orang, ukiran emas mulai mengisi gagang pedang tersebut hingga cahaya kilat terpancar dari badan pedang.
Xin Zhan semakin tidak sabar ingin membalaskan kemarahannya. Emosi yang ganjil ini terus membuat tangannya seperti tak mau berhenti membunuh, tidak habis sampai di situ ratusan pendekar lainnya datang bergerombol bahkan beberapa bersiap dengan panah api.
Xin Zhan mencengkram pedang saat
Dalam sedetik saja pendekar di depan Xin Zhan terpotong menjadi dua, dan orang yang berdiri di belakangnya juga tak luput dari tebasan itu. Tanah tempat mereka pun mulai berwarna merah pekat dan terus mengalir hingga yang tampak kini adalah seperti tanah pembantaian.
Tidak puas menghabisi sisa pendekar di dekatnya Xin Zhan beralih mengejar orang-orang yang hendak mengincarnya di depan sana. Mereka yang awalnya berniat mengepung Xin Zhan malah ingin mundur saat tatapan mengerikan melayang kepada mereka.
"Apa-apaan tatapannya itu-!?"
"Dia seperti manusia iblis yang baru saja dilepaskan!"
Tidak ada waktu lagi untuk mengundurkan diri dari tempat ini, para pendekar memilih bertahan sebisa mungkin tapi dalam kurun waktu cepat jumlah mereka berkurang sangat cepat.
Pisau cahaya dan tebasan beriringan menghancurkan tubuh musuh-musuhnya tanpa ampun, Xin Zhan terus menerobos ke depan hingga korbannya bertambah banyak dalam waktu singkat.
Kontan saja keributan ini mengundang banyak Empat Unit Pengintai yang lainnya, mereka berdatangan dalam jumlah yang tiga kali lebih besar dibandingkan sebelumnya. Di tempat yang dari luar terlihat sederhana itu ternyata terdapat banyak ruang bawah tanah, dari sanalah mereka keluar seperti semut.
Tentu saja sorot mata heran terlihat jelas saat ratusan anggota mereka telah terkapar tak bernyawa dan satu orang dalam jubah penjaga markas berdiri di tengah tumpukan mayat tersebut.
Banyak dari mereka yang mengira Xin Zhan adalah seorang yang handal dari kelompok pembunuh bayaran namun permasalahannya saat ini mereka memiliki hubungan baik dengan kelompok tersebut.
"Cih, pasti para pembunuh bayaran dari kekaisaran Qing mulai berkhianat setelah melihat keadaan pertempuran yang memakan waktu sangat lama ..." decih salah satunya.
Mereka tidak peduli lagi pada kematian rekan-rekan mereka dan melakukan perlawanan kuat setelahnya.
__ADS_1
Xin Zhan mengangkat pedang pusaka sambil melihatnya.
"Pedang pusaka ini sangat tajam, memotong tulang siluman saja bukan masalah apalagi manusia."
Lamat-lamat terdengar suara teriakan mulai mendekat ke arahnya, Xin Zhan melajukan langkahnya semakin kencang hingga akhirnya kedua kubu saling bertabrakan.
Area sekitar Xin Zhan bertarung menjadi seperti pusaran kematian yang terus merenggut nyawa, tidak terhitung sudah berapa manusia yang berhasil dibantainya hari ini, mungkin bisa melampaui jumlah bunuhan terbanyaknya selama ini.
Selang beberapa waktu akhirnya Xin Zhan berhenti bergerak, di sekitarnya lautan darah semakin menjadi hingga bau amisnya terasa menusuk hidung. Dia berdiri di atas tubuh mayat sambil menengadah ke langit yang terus menurunkan hujan deras.
"Aku minta maaf Ayah, dan guru-guru ku. Dan kepada ibu, sekarang aku tak ada bedanya dengan musuhku sendiri ..."
Dia menunduk. "Dan mungkin seperti Xin Chen."
Xin Zhan membiarkan wajahnya basah oleh air hujan, berharap Ayahnya tak akan terkejut jika tahu apa yang dilakukannya sekarang. Tapi, sekarang laki-laki itu tak ubahnya orang asing yang sama sekali tak mengenalnya.
Namun tiba-tiba sebuah serangan datang hendak menebasnya, sebuah cambuk iblis menjulur dan siap menghantam tubuhnya secara cepat namun Xin Zhan sudah lebih dulu menyadarinya.
Pedang pusaka dan cambuk iblis saling beradu, Xin Zhan mengalihkan tatapannya ke arah musuh dan dia dapat mengenali siapa orang tersebut.
"Kau-!?" Pemuda yang berdiri tak jauh darinya membelalakkan matanya selebar mungkin. "Kau masih hidup dari perang itu? Bukankah semua orang bilang Putra Pertama Pedang Iblis tewas oleh Hujan Darah?"
Jelas sekali pemuda itu tidak mempercayai apa yang terlihat di depannya, dia dapat merasakan hawa begitu mencekam sedang tertuju ke arahnya. Tak bisa dipercaya. Dia tahu benar siapa Xin Zhan, meski pemuda di depannya sama sekali tak tahu dia siapa.
"Kau siapa? Apakah kau memiliki hubungan dengan Qin Yujin?"
Tidak ada jawaban. Pemuda itu ingin kabur, sial sekali nasibnya kenapa dia ceroboh lewat di depan musuh pakai menyerangnya segala. Xin Zhan kini tak lagi memakai topeng gagak akibat pertempuran yang membuat dia bergerak begitu cepat hingga penutup wajahnya terlempar entah ke mana.
**
Yung Yen-pemuda dengan cambuk itu merasa kapok sendiri karena pergi tanpa membawa pasukan, dia baru saja datang ke markas untuk melihat-lihat sedang para anggota yang datang bersamanya dia perintahkan untuk misi rahasia.
Akan tetapi pemuda itu masih percaya diri, dia menggerakkan cambuk begitu sombong. "Mau mencabut nyawaku? Jangan kira kekuatanku sama seperti kekuatan mu."
"Lebih lemah dariku berarti?" Xin Zhan berkata balik sontak saja kata-kata pedas itu membuat Yung Yen tertohok. "Kau akan merasakan sendiri kekuatanku ini!"
Yung Yen tak terima dikatai lemah, padahal dia sudah menghabiskan banyak pil-pil berharga dan juga latihan berat demi bisa menjadi kuat, dalam kurun beberapa bulan ini dia telah berhasil mendapatkan posisi petinggi ke-11 Empat Unit Pengintai hanya menunggu waktu hingga kelompok mereka kembali mendapatkan wilayah kekuasaan mereka di Lembah Para Dewa. Yung Yen tak sabar menanti itu, mereka pasti akan melakukan dominasi besar-besaran di Kekaisaran Shang. Tentu saja seusai perang ini berakhir.
Satu tendangan telak menghantam pipi Yung Yen begitu kencang, bibirnya seketika robek mengeluarkan darah dan tubuhnya terpental sangat jauh.
"Hanya karena pedang itu kau berniat membantai kami semua!?" Yung Yen berteriak kebingungan atas alasan Xin Zhan melakukan ini semua, tindakan beresiko ini tentu saja akan membuatnya menjadi buronan para Empat Unit Pengintai kelak. Karena dia yakin organisasi itu akan menjadi organisasi terbesar yang tak terkalahkan.
Xin Zhan berjalan pelan menuju Yung Yen yang tengah merangkak di tempatnya, "Bukan karena pedang itu. Tapi karena tekad kuat yang ada dalam diriku." Ucapannya berhenti saat pedang pusaka terangkat tinggi-tinggi hendak memotong tempurung kepala Yung Yen.
Pedang meluncur deras hingga hampir mengenai kepala Yung Yen, di detik itu juga pedang lain menghalang pergerakan pedangnya.
Xin Zhan menoleh singkat melihat orang yang kini menghadangnya, dia mengulas senyum kecil. "Hanya pedang seperti ini tidak akan menghentikanku..."
Hal mengejutkan kembali membuat Yung Yen ketakutan, pedang milik rekannya kini telah terpotong dan bersiap mengenai batok kepalanya.
Yung Yen buru-buru menyelamatkan diri sebelum nyawanya habis hari ini, tak sampai di situ ketika dia berlari kencang ratusan pisau cahaya menusuknya dari belakang hingga sekujur tubuhnya mengucurkan darah.
"Arrrghh!" erang Yung Yen ambruk ke tanah dalam kondisi mengenaskan, sedang para anggota Empat Unit Pengintai yang baru saja datang menyadari hal sangat buruk tengah terjadi.
"Gawat! Jangan sampai petinggi sebelas juga terbunuh!"
Xin Zhan tidak ingin nyawa Yung Yen selamat kali ini, dia yakin pemuda itu akan menyumbang kontribusi terbesar terhadap perkembangan Empat Unit Pengintai ke depannya dan dia harus dimusnahkan secepat mungkin. Dia membunuh orang yang tadi menghalanginya dan kini beralih mengejar Yung Yen yang tidak begitu jauh.
Tidak membiarkan Yung Yen bernapas saat sedang meregang nyawa Xin Zhan mengangkat senjata tinggi-tinggi. "Berterimakasihlah karena aku sudah mengurangi rasa sakitmu ini."
Napas Yung Yen berhenti di ujung tenggorokan setelah beberapa detik tersiksa, dia telah tewas di atas genangan darah. Para anggota Empat Unit Pengintai yang tidak sempat mengejar menjadi panik luar biasa hingga keributan terdengar bersama dengan langkah kaki mereka. Entah bagaimana mereka akan mengatakan kematian Yung Yen kepada atasan, nyawa mereka akan habis setelah ini.
"Apa? Kalau kalian takut Qin Yujin membunuh kalian semua nanti, aku akan membantu sedikit," ucap Xin Zhan bersama derasnya air hujan malam itu. "Dengan membunuh kalian lebih dulu, jadi kalian tidak akan merasakan kemarahan orang itu, bukan?"
Perkataan Xin Zhan sama sekali tidak membantu, mereka akhirnya saling bertarung ketika saling bersinggungan.
Sejak awal pertarungannya Xin Zhan hanya sedikit menggunakan tenaga dalamnya karena dia butuh untuk memulihkan luka dalamnya, tapi kali ini dia mengeluarkan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Tidak ada yang berhasil selamat setelah ayunan pedang pusaka tersebut mengincar leher korban, bahkan saat ini mereka mulai menyadari tindakan ini hanya seperti mengantarkan nyawa melihat betapa mengerikannya pemuda bermata hitam ini.
__ADS_1
Yang terjadi berikutnya puluhan nyawa terus melayang dan akan bertambah setiap detiknya, cuatan darah mengucur di mana-mana dalam waktu yang agak lama hingga Xin Zhan berhasil membantai orang-orang Empat Unit Pengintai dengan caranya yang sadis.
Xin Zhan hampir muntah melihat akibat perbuatannya sendiri, wajahnya pucat pasi. Tangannya mulai bergetar hebat, seolah-olah ada iblis berbisik di telinganya dan menggerakkan seluruh tubuhnya untuk melakukan pembunuhan massal yang keji ini. Dia sadar betul, musuhnya masih manusia yang berhak hidup walaupun kesalahan yang diperbuat adalah kejahatan yang tak termaafkan.
Namun rasa amarah yang menguasai kepalanya tak kunjung mereda, dia semakin ingin membunuh para pendekar ini sampai ke akar-akarnya. Xin Zhan bergerak menuju tenda-tenda besar dan membunuh anggota yang tersisa di tempat. Mereka mati tanpa tahu siapa yang telah membunuhnya.
Tidak ada angin atau pun hujan markas itu kini tak lebih dari sebuah tempat pembantaian yang sangat mengerikan.
*
Seorang pendekar menengah berlari pontang-panting di bawah kilat petir yang terus menyambar, malam panjang itu bagaikan maut yang terus menghampirinya. Dia ingin sekali menangis kala melihat seseorang sedang mengejarnya dengan cepat dari belakang.
"Tamatlah riwayatku..."
"Berhenti atau aku potong kakimu!"
"Percuma saja, kau pasti akan membunuhku!" teriak pendekar menengah itu ketakutan, dia sendiri sudah melihat betapa kejamnya cara Xin Zhan menghabisi musuhnya. Pemuda itu bukan tandingannya, perbedaan kekuatan ini membuat dia terpaksa melarikan diri.
"Aku tidak akan membunuhmu kalau kau menuruti perkataanku."
Langkah pendekar menengah itu terkejar dalam beberapa saat kemudian, nampak sekali pria itu panik hingga melayangkan pedangnya ke samping. Namun pedang tersebut terhempas begitu saja saat senjata lawannya menyambut.
"Aku butuh informasi darimu, dan akan membiarkan kau hidup dan memberikanmu bonus emas. Bagaimana?"
Pendekar menengah tersebut menggelengkan kepala.
"Lima ratus keping emas?"
Lelaki itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya ketakutan.
"Enam ratus?" Tanya Xin Zhan masih sabar, namun jawabannya tetap saja sama.
Wajah Xin Zhan berubah mengerikan. "Seribu keping emas atau aku akan membunuhmu sekarang juga."
Ancaman itu lantas saja membuat pendekar menengah mengangguk kepalanya kuat-kuat, matanya berlinangan air mata. Dia tidak kuat lagi harus menatap mata Xin Zhan dan memilih menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau inginkan dari orang sepertiku?"
"Informasi tentang keberadaan Qin Yujin?"
Pendekar menengah itu terdiam ragu hingga pedang milik Xin Zhan kini telah berada tepat di lehernya. "Ba-baiklah tidak usah mengancamku seperti ini!"
Lelaki itu langsung saja menyebutkan nama kota dan desa tempat markas Empat Unit Pengintai lain yang mungkin menjadi persinggahan Qin Yujin saat ini. Lelaki itu tak ada di sini, dia memiliki beberapa urusan yang tak bisa dilepaskan. Xin Zhan mengingat baik-baik nama tersebut dan segera memberikannya ribuan keping emas.
Berarti Xin Zhan masih hadus melakukan pencarian. Tak disangka semua akan berjalan serumit ini. Sementara dia hanya punya satu hari lagi sebelum kembali ke Lembah Para Dewa. Adiknya itu mungkin sudah tak sanggup lagi menahan Xin Fai dan Naga Kegelapan. Dia harus cepat tapi keadaan memaksanya.
Pendekar menengah masih tak percaya nyawanya dibebaskan, saat berjalan dia berulang kali menoleh ke belakang takut-takut jika Xin Zhan tiba-tiba menyerangnya tetapi dia sama sekali tidak melakukan pergerakan apapun.
Xin Zhan membiarkan luka di tubuhnya meneteskan darah banyak hingga mengundang para binatang buas di sekitarnya, Xin Zhan tersenyum kecil.
"Tentu saja aku tidak akan membunuhmu, tapi bukankah setelah ini kau akan mengatakan bahwa perbincangan ini kepada atasanmu agar bisa diberi keringanan jika nanti terjadi masalah?"
Dalam sekejap mata teriakan minta tolong terdengar dari mulut pria itu ketika binatang liar tiba-tiba datang mencabik-cabik dagingnya dan memakannya. Pria itu tak sempat mengutuki Xin Zhan hingga nyawanya habis di lingkaran para binatang tersebut
.
Xin Zhan menatapi jasad pendekar tersebut yang kini terpisah-pisah dan binatang liar di sekitarnya sepertinya juga hendak menyerangnya.
Aura pembunuh membuat para binatang liar tersebut mengurungkan niatnya dan pergi dari tempat itu, Xin Zhan mengembuskan napas, melihat sebuah peta yang beberapa tempatnya ditandai.
"Untung saja aku membunuhnya, dia pikir bisa membodohi ku dengan memberikan letak markas yang salah? Orang-orang aliran hitam memang sulit dipercaya."
Setelah menyimpan peta berisi letak markas kelompok Empat Unit Pengintai, Xin Zhan segera beranjak pergi dari hutan dan memilih bergerak langsung menuju markas mereka yang lain.
Ye Long tiba-tiba muncul dan mendarat mulus.
"Aku melihat tempat persembunyian mereka yang lain! Di sana kemungkinan orang itu berada. Laki-laki dengan sebelah tangan palsu yang dilindungi banyak penjaga."
Xin Zhan mengingat saat Xin Fai memotong sebelah tangan Qin Yujin. Akhirnya, dia akan tiba pada musuh utama mereka.
__ADS_1
***