
"kau memanggilku, heh?"
Seseorang jatuh berlutut, dorongan arus sungai membuatnya berkali-kali terjebak dan jatuh. Lelaki itu kehabisan banyak darah, sementara pikirannya semakin gila. Penyakit di dalam tubuhnya mulai menggerogoti hingga otaknya sama sekali tak mampu berpikir.
"Air Mata Iblis ..." Giginya saling bergemerutuk, langkahnya terhenti untuk beberapa saat, menengadah dan menatap jauh ribuan meter di hadapannya. Sebuah pegunungan yang bagian atasnya ditutupi oleh awan-awan putih, angin kencang berderu datang dari celah-celah gunung. Lalu dari satu di antara beberapa gunung yang berdiri itu, Qin Yujin dapat mendengar suara yang samar-samar berisik. Dia menarik senyuman bengis.
"Aku menemukanmu."
**
"Serigala terkenal akan kecerdikan pikiran dan ketangkasan tubuhnya, aku tak yakin orang sepertinya mampu mengatasi kehebatan ketua kita. Dia bukan orang yang selevel lagi dengan orang yang hanya murni bertarung mengandalkan kekuatan saja." Rubah Hijau masih sempat menengok ke arah Xin Chen yang saat itu berhadapan dengan Serigala Merah.
Lantas Yue Ling'er datang, sepuluh kuku tajam nya bersinar hijau lalu benda-benda kecil tajam muncul dan langsung menyerbu Rubah Hijau.
"Jangan mengalihkan perhatianmu, kau meremehkan ku?"
Rubah Hijau terkejut saat benda itu datang, seketika asap mengepul bersama ledakan racun di sekitarnya.
Yue Ling'er menarik senyuman penuh kemenangan.
"Aku kalah," suara Rubah Hijau penuh sesal. Tapi tak lama berganti dengan tawa menggelegar, "Kau berharap aku mengatakan itu? Hahahha!"
Asap yang mengerubungi Rubah Hijau lenyap saat angin kencang menyapunya, senyum di wajah Yue Ling'er kembali sirna saat dia melihat lawannya masih berdiri tanpa sedikitpun terluka di tubuhnya. Dan bahkan tanpa bergerak seujung kuku pun dari tempatnya.
"Sial, serangan itu seharusnya langsung mengenai bagian vitalnya. Apakah dia menangkisnya?" Yue Ling'er membaca pergerakan lawan sekaligus situasi, tapi yang tidak dia sadari lawan telah menghilang dari posisi dan tiba-tiba berada tepat di depan matanya.
"Hei, nenek tua. Hidup terlalu lama membuat matamu rabun ayam sampai tak menyadari aku di sampingmu?"
Mata Yue Ling'er terbuka lebar, dia segera menghindar sejauh mungkin namun satu serangan telak berhasil menggores kulit pahanya. Pupil matanya yang serupa mata ular membesar, wanita itu berusaha mencerna apa yang terjadi.
Perbedaan kekuatan di antara mereka sangat nyata. Rubah Hijau bahkan mampu berdiri tepat di sampingnya meski Yue Ling'er memiliki kepekaan tertinggi terhadap hawa kehadiran.
__ADS_1
Rubah Hijau tiba-tiba saja mengeluarkan satu gulungan yang bertuliskan mantra.
"Ilmu Pemanggil - Tiga Beracun!"
Sesaat Yue Ling'er harus memundurkan dirinya karena detik itu Rubah Hijau memanggil jenis siluman berbahaya, kalajengking, ular dan lipan. Sialnya ukuran tubuhnya sangat besar.
Rubah Hijau berteriak, "Serang!"
Yue Ling'er tak sempat menghindar sama sekali karena posisinya dikerubungi dan tak ada jalan untuk mundur. Hempasan ekor, serangan racun dan lilitan ular milik Rubah Hijau dalam seketika menghantamnya ke bumi. Membuat keadaan langsung berbalik dalam hitungan kurang dari dua menit.
'Mereka sangat kuat,' batin Yue Ling'er masih dalam cengkraman lilitan ular.
Tanpa diduga tiba-tiba Lian Ning datang menyelamatkan Yue Ling'er, wanita itu mulai mengutuk pemuda ceroboh itu. Bukannya menyelamatkan dia justru harus diselamatkan.
"Benar saja."
Kesal melihat Lian Ning tertampar begitu saja oleh capit kalajengking, dia tertindih di bawahnya sementara ekor beracun mahluk itu akan segera menusuk jantungnya.
"Tak perlu lima menit untuk menyingkirkan nenek tua keriput sepertimu!"
Kedua belas rantai tersebut menancap di tubuh Yue Ling'er tanpa ampun. Zian Ning sempat menoleh ke tempatnya dan tak percaya bahwa Pilar Kekaisaran ketiga akan kalah dalam waktu secepat itu.
"Tidak mungkin ...." Yue Ling'er mengeluarkan darah hijau di setiap bagian tubuhnya yang tertusuk, lilitan ular mengendur dan membiarkan tubuhnya ambruk berdarah-darah.
Di depannya Rubah Hijau tertawa-tawa hebat, begitu bangga dengan kekuatannya dan berharap sang Serigala Merah akan memuji kerjanya.
Zian Ning memberanikan diri untuk datang mengejar menyelamatkan kakaknya, meski percuma sebab panahnya sama sekali tak dapat menembus kulit tebal kalajengking.
"Tidak, Kakak Lian-!" Zian Ning berteriak ketika sadar ujung ekor itu sudah begitu dekat.
"Berhenti," Seseorang menahan serangan itu, Rubah Hijau mengangkat wajah keheranan.
__ADS_1
"Heh?" Serangan kalajengking ditarik Rubah Hijau, "Apa?"
"Mereka adalah lawanku."
Kera Kuning, siapa lagi. Penampilannya agak lebih mencolok dibandingkan yang lain, di topengnya terukir lambang petir kuning. Pakaiannya hanya menutupi sampai ke bahunya, memperlihatkan ototnya yang kekar dari tangan hingga ke kaki.
Zian Ning yang sempat berada di dekat Kera Kuning merasakan sendiri aura kekuatan yang amat berbeda. Dia segera menyelamatkan Lian Ning sebelum terlambat.
"Kau tak apa?"
"Aku justru kenapa-kenapa karena musuh yang menyelamatkanku. Sok pahlawan sekali, ingin ku botak kan kepalanya."
Kera Kuning yang mendengarnya tertawa di balik topeng. "Ingin membotakkan ku?"
Entah mengapa Zian Ning sedikit gentar mendengarkan suara lelaki di balik topeng tersebut, mungkin terdengar marah dan tersinggung sampai-sampai Zian Ning ingin membungkam mulut kakaknya saat itu juga.
Kera Kuning memasang ancang-ancang yang begitu unik. Kini pertarungan dua lawan satu akan dimulai, siap tidak siap. Lian Ning bangkit tanpa sedikitpun keraguan di mukanya, "Siapa pun kau, ku akui kau adalah orang yang tangguh tapi kupastikan aku tak akan kalah darimu!"
"Asal kau tahu ..." Kera Kuning tak peduli dengan ucapan Lian Ning, "Aku memang tidak punya rambut!"
Baik Lian Ning atau bahkan Zian Ning tak dapat mengikuti pergerakan Kera Kuning setelah terakhir kali mendengar suaranya. Hanya angin kencang yang tersisa dari tempatnya berlari, Lian Ning membuka matanya lebar setelah itu.
Dia menoleh ke belakang, merasa lawannya akan datang dari arah sana. Karena hal itu selalu dilihatnya dalam pertarungan seperti ini, tapi tak ada siapa pun di balik punggungnya. Zian Ning melihat ke arah samping mencari-cari tapi tak menemukannya.
"Memangnya ada yang salah kalau tidak punya rambut?!"
Lian Ning dan Zian Ning terguncang seketika saat tinju yang begitu dahsyat datang dari bawah kaki mereka. Membuat tanah retak dan terlempar ke berbagai arah. Sosok Kera Kuning muncul dari sana, aura kuning mengitari tubuhnya yang kekar. Lian Ning segera menyetabilkan langkahnya dan mendarat bersama Zian Ning tak begitu jauh dari sana.
"Apa-apaan orang ini?" Lian Ning sampai menahan napasnya, tak percaya akan mendapatkan serangan dadakan yang amat brutal.
"Kalian lengah!"
__ADS_1
Lagi. Serangan selanjutnya datang bahkan sebelum mereka melihatnya, kakak beradik Ning itu terkunci. Tinju melayang menghantam pipi Lian Ning sampai hidungnya berdarah, dan tendangan keras menghantam perut Zian. Keduanya terpental jauh ke arah yang saling berbeda.