
"Cari pembunuh itu sampai dapat! Aku yakin dia bersembunyi di sekitar sini!"
"Kami sudah menggeledah di semua tempat dan tidak menemukan apa pun." Prajurit bawahan melapor, dari semua petugas yang berpencar tak satupun melihat sosok pembunuh dengan ciri-ciri yang dikatakan.
"Tidak mungkin dia kabur lebih jauh, aku mendapatkan laporan soal seorang pemuda dan seekor serigala telah melewati perbatasan Sentral. Seharusnya dia tak begitu jauh dari sana. Tempat ini adalah pilihannya untuk bersinggah. Tetap lanjutkan pencarian!"
Namun ketika petang hendak turun pun, mereka tetap tidak menemukan ke mana perginya si Mata Biru. Lantas kepala prajurit memberhentikan pencarian dan memulai tindakan lain yang sudah di luar batas. Dia mengumpulkan sekumpulan pemuda Perkemahan Tenggara dan mengikat mereka.
Orang tua dan anak-anak panik, sebab di sekeliling pemuda yang ditahan tersebut berdiri puluhan prajurit dengan pedang diangkat oleh kedua tangan. Para pemuda itu saling berdempetan ketakutan, jelas sudah mereka akan dibunuh sebentar lagi.
"Katakan yang sebenarnya, apakah kalian menyembunyikan pembunuh itu?!"
Suara menggelegar tersebut mengundang lebih banyak orang dari Perkemahan Tenggara datang melihat situasi di tengah Perkemahan. Para wanita menutup mulut dan menyuruh anak-anak mereka masuk, pertumpahan darah bisa saja terjadi. Di sisi lain, Ketua mereka datang. Menatap kepala prajurit dengan dingin.
"Ini adalah kawasan kami, meski kau suruhan dari pemerintah kau tidak berhak mengambil nyawa mereka."
Pria itu makin congkak, dia mendekat dengan wajah sombong sembari menyodorkan kertas berisi perintah.
"Menemukannya adalah tugas kami, terlepas dari cara yang kami perbuat untuk menemukannya. Lagipula, instingku tak pernah salah. Orang itu ada di sini, aku tahu dari wajah-wajah pendudukmu ... Kalian tahu sesuatu dan berusaha menyembunyikannya."
Nyali Yu sempat ciut, ketika pria itu menambahkan.
"Kehilangan seluruh orang-orangmu hanya untuk satu Pembunuh. Kau rela? Solidaritas apanya jika semua orang harus berkorban untuk satu orang tak berguna ..."
Lantas dia berbalik badan, menatap para pemuda di tengah lingkaran yang ketakutan setengah mati. Kebanyakan dari mereka bahkan belum berusia 20 tahun dan masih begitu muda.
"Betul apa yang aku katakan?" tanya lelaki itu langsung kepada para pemuda di sana, semuanya tak berani mengangkat kepala. Menunduk ketakutan.
"Apa yang kalian takutkan? Kemarahan ketua kalian karena melihat kalian berkhianat? Apakah itu lebih penting daripada nyawa sendiri?"
Lelaki itu kian memancing, dia menaikkan alisnya ketika melihat wajah-wajah ketakutan itu mulai bereaksi. Mereka hendak angkat bicara. Beberapa dari mereka mengangkat wajah dan menatap lelaki itu langsung.
"Katakan, tidak perlu takut. Kau akan kami lindungi dan mendapatkan imbalan yang besar jika mengatakan di mana pembunuh itu. Tidak perlu takut, Nak." Kepala prajurit berjongkok di hadapan seorang pemuda berambut cokelat, napas pemuda itu berantakan dan sesekali dia mencuri pandang ke arah Yu. Wanita itu kini mengepalkan tangan, merasa terancam akan kata-kata yang hendak keluar dari mulut pemuda tersebut.
"Kau tahu imbalannya? Ratusan juta ... Kau akan jadi orang terkaya. Kau tidak akan membutuhkan orang-orang bodoh ini yang rela berkorban nyawa untuk seorang pembunuh ..."
"A-aku ..." Mata pemuda itu berkali-kali menatap Yu dengan gelisah, bibirnya bergetar sama seperti kedua bahunya.
"Katakanlah."
Pria itu menunggu jawaban dengan sabar.
"Jika kau tak menjawab dengan hitungan sepuluh, maka satu per satu temanmu akan mati."
Pemuda tersebut semakin ragu, dia menoleh cepat seketika mendengar suara Yu.
"Tempat ini telah melindungimu, jangan pernah lupakan itu, Ian."
Mata pemuda itu kian berair, dia melihat ke belakang di mana satu prajurit telah mengangkat pedang di atas kepala temannya.
"Satu ..."
"Dua ..."
__ADS_1
Geram, kepala prajurit mencengkram rahang si pemuda yang dipanggil Ian tersebut.
"Sembilan." Hitungan sengaja diper cepat, Ian berusaha membuka mulut tapi suaranya tak mau keluar karena sebegitu takutnya.
"Sepuluh!"
Teriakan menyusul usai hitungan ke sepuluh, cipratan darah membasahi punggung Ian. Sebuah kepala menggelinding di sebelahnya, mata rekan sebayanya itu masih terbuka dan bahkan menatapnya melotot. Ian merangkak ketakutan, menjauh sebisanya tapi kepala prajurit menahan serta mencekik keras leher Ian.
Tangisan berderai do belakang, keluarga pemuda yang dipenggal hanya bisa menjerit. Satu korban telah jatuh, Yu tak bisa mengambil keputusan sementara keadaan kian genting. Dia tak boleh kehilangan para pemuda itu karena kelak mereka akan menjadi penerus Pelindung Malam.
Tapi jika dia mengatakan yang sebenarnya, mungkin hanya dirinya yang selamat dan dianggap telah menyerahkan pembunuh itu. Tapi tidak dengan orang-orangnya, mereka dipastikan akan dibakar satu perkemahan.
"Sekarang aku hanya menghitung sampai tiga! Jika kau tak memberitahu maka aku akan membunuh semua orang ini!"
"Tidak, jangan ..."
"Kumohon Tuan, ampuni nyawa anak kami ...!"
"Ian lakukan sesuatu!"
Tangis dan jerit di sekitar Ian membuat pemuda itu semakin bimbang, dia tak mampu lagi berpikir setelah melihat kepala yang dipenggal di belakangnya. Rasa bersalah serta takut menelusup di dalam hatinya.
Mata Ian berubah kosong.
"Satu!"
Protes dan jerit di sekitar Ian kian memuncak, pemuda itu nyaris tak mendengarnya dan yang ada di telinganya hanya dengung yang timbul tenggelam. Ian menoleh, Perkemahan Tenggara berubah menjadi tempat yang suram. Dan sebentar lagi mungkin akan menjadi tempat pembantaian.
"Dua!"
"Tiga!"
Pedang diangkat kembali, teriakan dan jerit mulai terdengar menjadi saksi dari pembantaian di Perkemahan Tenggara. Usai para pemuda itu, mungkin anak-anak, lansia atau wanita akan menjadi sasaran berikutnya.
"Aku tahu di mana tempatnya!"
Ian menjerit sejadi-jadinya, air mata menetes di pipi seputih pasir Ian. Pemuda itu menatap kepala Prajurit ketakutan, lelaki itu mengangkat tangan menghentikan bawahannya dari memotong kepala pemuda di sana.
Lelaki itu berjongkok, mendekatkan muka ke Ian yang berusaha membuang pandangan karena ketakutan.
"Kalau begitu beri tahu aku di mana." Seringai puas tercetak jelas di kedua sudut bibir lelaki itu, dia melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Ian. Mendorongnya untuk segera berjalan.
Yang paling khawatir di sana adalah Yu. Ian bergerak menuju tempat persembunyian Xin Chen berada.
Tak bisa dipungkiri, beberapa orang prajurit mengikuti di belakang. Bersama Yu serta orang Perkemahan. Terdapat sebuah persimpangan dua arah, Yu tahu jika Ian berbelok kanan mereka akan sampai di tempat masuk persembunyian rahasia.
Namun Ian justru berbelok kiri.
Jalan itu buntu. Seharusnya begitu, tapi ketika Yu mengingat-ingat kembali memang terdapat sebuah jalan yang sudah lama diblokir. Tempat yang dulunya menghubungkan Perkemahan Tenggara dengan markas Pembelot. Tempat itu ditutup karena membawa begitu banyak masalah.
Yang membuat Yu tak habis pikir adalah Ian membawa mereka ke sana. Keluar dari perkemahan, mereka mendapati sekumpulan lelaki berandalan tengah berpesta minuman keras. Mereka menatap nyalang ke arah mereka dan memasang wajah mengejek. Seakan-akan tahu masalah yang sedang melanda Perkemahan Tenggara. Salah satunya melemparkan botol minuman itu sembarangan. Sikapnya seperti menantang kepala prajurit dan Yu.
"Jangan berusaha menipuku, bocah sialan. Di mana pembunuh itu?" nada bicaranya terdengar geram, lelaki itu menatap ke depan dan kian membara emosinya melihat para berandalan di sana memasang pose aneh. Mengejek-ejeknya sambil tertawa terbahak.
__ADS_1
"Di-dia di sini ..." Ian mengatakannya ketakutan, keragu-raguan di mukanya berhasil ditebak oleh kepala prajurit, dia merasa ditipu oleh bocah tersebut.
"Kau akan tahu akibatnya jika menipuku!"
Kepala prajurit menarik Yu secara tiba-tiba, meletakkan mata pedang yang tajam di leher wanita itu. Yu yang sama sekali tak membaca pergerakan tersebut kaget. Keadaan jadi semakin runyam ketika puluhan berandalan itu ikut mendekat.
"Katakan atau aku akan membunuhnya! Beserta seluruh orang di Perkemahan ini!"
**
Xin Chen mendengarkan suara tangis dan jerit yang begitu gaduh di luar sana, dia bergerak ke pintu awal masuk. Lang menghadang, "Kau mau ke mana?"
"Aku tak bisa membiarkan mereka mati karena melindungiku, Lang."
"Kau tahu jika tertangkap, bukan nyawamu jadi taruhannya lagi. Tapi nama ayahmu."
"Aku tahu itu. Kita keluar dan mencari cara, mereka tak seharusnya dikorbankan akibat perbuatan ku."
Xin Chen nyaris keluar dan tiba-tiba di ujung pintu Yian mencegatnya.
"Dengarkan, ini perintah Ketua. Kau kembali ke dalam sampai keadaan mereda."
"Aku tak bisa."
Xin Chen memaksa untuk ke tempat di mana keributan terjadi. Yian mencengkram lengannya.
"Aku menerima perintah dari ketua. Tolong dengarkan. Kau tunggu di dalam, biar kami bereskan di luar."
"Bilang aku kabur. Lang masih menunggu di dalam."
Xin Chen tak mempedulikan lagi apa kata Yian. Dia berlari mengejar, saat di persimpangan jalan kecil gerombolan orang terlihat di depannya. Mereka tidak menyadari Xin Chen di arah jalan lain dan berjalan menuju ke sebuah jalan dengan satu pintu yang membawa mereka ke luar Perkemahan.
Tempat yang kini menjadi wilayah dominasi pembelot telah dipenuhi para prajurit. Ian makin ditekan oleh suara menggelegar kepala prajurit. Matanya menatap nanar Yu, tak tahu harus berbuat apa sementara nyawa orang-orang tergantung padanya.
"Katakan di mana pembunuhnya!" Kelewat marah, kepala prajurit menampar Ian hingga jatuh terjerembab.
Kepala prajurit kebingungan ketika melihat pemuda itu tak lagi bergerak, dia menyuruh bawahannya memeriksa.
"Anak ini memotong lidahnya sendiri sampai mati!"
Nenek Ian yang mendengarnya di antara kerumunan menangis kencang, cucunya telah kehilangan nyawa. Sekarang Yu menjadi sasaran.
"Ini kesempatan terakhir sebelum aku benar-benar membakar satu perkemahan ini. Di mana pembunuhnya?"
Suara penuh penekanan itu telah berubah sangat dingin, puluhan prajurit bawahan mulai menyiapkan api dan akan menghabisi mereka sebentar lagi.
Xin Chen baru saja tiba di belakang kepala Prajurit, bersiap menghabisi lelaki itu dan antek-anteknya.
Dia membuka mulut hendak berteriak.
"Akulah pembunuhnya!"
Suara keras tersebut memancing perhatian ke satu titik di mana kepala prajurit seketika berpaling dan menyadari ada yang tidak beres.
__ADS_1
Xin Chen sendiri terkejut. Suara itu bukanlah suaranya, lantas siapa yang baru saja berteriak.