Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 233 - Keberadaan yang Tidak Diharapkan


__ADS_3

"Apa pun yang terjadi jangan lepaskan pandanganmu dari Fu Hua, aku akan meracik obat untuk mengurangi luka dalamnya!"


Seorang wanita berteriak di sebelah kanan kupingnya, terdengar amat panik. Suara itu asing sekali baginya. Namun entah mengapa dia merasa akrab, sebuah perasaan yang aneh.


"Jantungnya telah bocor sebagian, aliran darahnya tersendat dan sekarang dia sudah kehilangan banyak darah! Dia tak akan selamat!"


Kali ini suara seorang lelaki, terdengar cempreng dan melengking. Tapi terasa familiar, dia pernah mendengarnya di alam bawah sadarnya.


"Lakukan sesuai perintahku, mengerti?"


Kepanikan itu terus menggema di kupingnya, Fu Hua tahu tubuhnya sekarang mati rasa dan dia bahkan tak dapat membuka matanya sendiri. Namun satu hal yang membuatnya begitu senang detik itu, ketika masih ada orang yang peduli atas kehidupannya.


Selama ini satu-satunya yang mengharapkan kehadirannya hanyalah Fu Qinshan. Dia tak pernah mendapatkan kasih sayang meski dari orangtuanya sendiri, mereka tiada saat dirinya masih kecil.


Ren Yuan yang sedang menyiapkan alat-alat untuk menangani keadaan kritis Fu Hua terhenyak sesaat.


Mata Fu Hua yang kini terpejam meneteskan air mata, diam-diam dan tanpa suara. Ren Yuan yakin detik itu gadis itu dapat mendengarnya dan segera berkata.


"Bertahanlah, Fu Hua. Kami akan menyelamatkanmu, dengar? Pertahankan kesadaranmu, tarik napas mu dalam-dalam..."


Fu Hua tak dapat mendengar lagi apa yang Ren Yuan katakan, hanya suara seperti dirinya tenggelam di kedalaman air. Dia berusaha menggerakkan jari-jarinya, sampai matanya terbuka dan melihat cahaya yang begitu silau memasuki mata. Dia menghalangi sinar yang begitu terang itu dengan lengan tangan.


"Di mana ini?"


Hanya sebuah ruangan terang tanpa apa pun, hampa dan kosong. Suaranya bahkan bergema berkali-kali karena begitu sepinya. Gadis itu menatap tangannya, melihat banyak luka yang dia dapatkan.


Dan saat dia melihat tubuhnya sendiri, dia terkejut. Ada lubang besar di tengah dadanya, lebih terkejut lagi saat tiba-tiba seseorang yang sangat mirip dengannya berdiri di depan Fu Hua.


Menatap penuh benci disertai amarah yang seakan tak akan pernah redup. Itu adalah dirinya. Fu Hua tak tahu apakah dia sedang bermimpi atau telah mati.


Tangannya berusaha menggapai sosok tersebut, sosok dirinya yang lain itu menangis tanpa suara. Menatap penuh benci kepada dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kau ..." Fu Hua tak sanggup melihat sosok itu, sangat menyedihkan. Tapi tanpa dia sadari dirinya sendiri yang telah membuatnya menjadi demikian. Ruang kosong di hatinya seperti yang Qin Yujin katakan telah melenyapkan dirinya. Fu Hua hanya berkedip sekali tapi tiba-tiba saja sosok anak kecil muncul di depan kembaran dirinya tadi.


Anak kecil yang begitu bahagia, sehat dan disayangi oleh kakaknya. Dia berlari-lari memainkan boneka kayu pemberian Fu Qinshan, dan dari belakang sosoknya yang lain muncul Fu Qinshan. Tertawa-tawa mengejar anak kecil tadi.


Fu Hua menutup mulutnya, menahan isak yang memaksa matanya untuk menangis.


Anak kecil yang polos dan penuh akan kebahagiaan itu telah berubah menjadi seorang pembenci dan pendendam.


Fu Hua ingin menghentikan semua itu, tapi semuanya muncul begitu saja di depan matanya. Si anak kecil yang bermain di sekitarnya tiba-tiba berhenti, ketakutan. Seorang laki-laki datang mencekiknya, memusnahkan si anak kecil tadi. Mengubah tawa di wajah Fu Qinshan menjadi seringai iblis. Laki-laki itu merangkul kakaknya dan sosok dirinya yang lain.


"Tak ada yang menginginkan kehadiran mu. Kau dilahirkan untuk sendiri, kau ditakdirkan untuk hidup saat teman-teman dan keluargamu mati, kau ditakdirkan untuk membusuk di peti mati yang dingin tanpa ada satu pun yang peduli untukmu."


"Kau sebegitu inginnya untuk disayangi? Lihat betapa menyedihkannya dirimu, Hua'er. Sampai menyelamatkan orang yang kau sayangi mati-matian, kau paling ketakutan saat orang yang mengakui keberadaanmu pergi... Lalu menyalahkan orang yang kau tunjuk sebagai pelakunya sampai akhir hayatmu."


Tangannya menutup telinga, Fu Hua tak mau mendengar suara tersebut.


"Akui saja kalau dirimu memang pembawa sial, kau adalah malapetaka. Ayah ibumu mati untuk melindungimu, kakakmu mati di tanganmu sendiri, kau telah membunuh banyak kawanmu hanya untuk bertahan hidup. Satu nyawamu itu adalah pengorbanan dari belasan orang yang lebih layak untuk hidup dibandingkan mu."


Qin Yujin. Nama yang telah menjadi sumber kebencian terbesar dalam hatinya. Fu Hua berusaha menyingkirkan bayangan Qin Yujin dari Fu Qinshan dan dirinya, tapi sosok itu hanya tembus dan tersenyum sambil melotot. Terus berbicara.


"Kau tak mampu menyelamatkan siapa pun. Kau mengecewakan. Setiap orang yang kau jumpai akan menemui ajalnya karena kau adalah pembawa sial."


"Tidak ... Tidak!"


Fu Hua menutup kepalanya dengan kedua tangan, air matanya menetes tak karuan. Dalam kekacauan yang melanda dirinya tiba-tiba saja sesuatu berkelebatan di depan matanya. Fu Hua tak yakin apakah yang dilihatnya hanyalah ilusi, tapi semua terasa begitu nyata.


Bayangan itu, ketika sebuah desa diserang dan rumah-rumah dibakar. Fu Hua melihat seorang anak kecil yang dipeluk erat oleh ibu dan ayahnya di atas kasur, tertidur lelap sampai sekelompok orang datang. Membunuh ayahnya dan ibunya dengan tombak, ibunya menyuruh Fu Hua untuk kabur dan bersembunyi di balik meja. Ketakutan, tak berdaya dan sangat putus asa.


Fu Hua yang masih kecil hanya mampu menatap kematian kedua orang tuanya. Sampai sosok yang menancapkan tombak itu melirik k arahnya, begitu kasihan.


"Anak yang malang."

__ADS_1


Mata Fu Hua kini melotot lebar, ingatan yang telah terkubur itu tiba-tiba memberitahunya satu fakta yang telah dilupakannya.


Qin Yujin adalah pembunuh ayah dan ibunya.


Fu Hua yang masih kecil ditarik oleh Fu Qinshan, lari dari desa dan menjadi gelandangan di desa orang. Sampai di situ Fu Hua baru mengingat sisanya yang terjadi. Berbulan-bulan mereka hidup menjadi yatim-piatu tanpa rumah, saudara dan pekerjaan. Hanya mengandalkan belas kasih orang untuk makan hingga Fu Qinshan berkali-kali dipukuli karena mencuri.


Tak ada yang mau memberikannya pekerjaan untuk bertahan hidup. Lalu di saat mereka kedinginan saat badai salju datang, tidur hanya berlindung dalam jerami dan perut kelaparan. Orang itu kembali datang.


"Qin Yujin."


Sekali lagi Fu Hua memanggil nama itu, matanya telah dibutakan oleh amarah. Kedua tangannya mengepal, dia berteriak sekencang-kencangnya.


"Matilah kau manusia b*adab!!!"


Dia meninju bayangan Qin Yujin, hanya tembus semata tapi Fu Hua tetap meninjunya. Saat dirinya sadar, ketiga sosok tadi telah menghilang dan hanya tersisa dirinya sendiri.


Fu Hua jatuh terduduk, menangis dan berteriak frustrasi sampai dia tak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Dia telah kehilangan kontrol. Ketakutan akan kesendiriannya dan marah pada Qin Yujin. Semua yang dikatakan Qin Yujin benar.


Dia hanya takut sendirian.


Fu Hua memeluk lututnya, tatapan matanya kosong. "Lebih baik mati daripada terus membawa sial. Aku tak lebih dari malapetaka, pembawa sial, musibah, aku dibenci semua orang.. dan bahkan dibenci oleh diriku sendiri.." Fu Hua teringat akan sosok dirinya yang tadi, dipenuhi dendam dan amarah saat menatapnya. Dia menundukkan wajah, menangis terisak-isak.


Di tempat lain Ren Yuan tak menyangka Fu Hua tiba-tiba menjerit di atas brankar. Memberontak saat cairan dimasukkan dalam tubuhnya, bertujuan untuk membantu menyembuhkan luka di dalam tubuhnya.


"Kabar buruknya dia mulai kehilangan kesadaran, jika itu terjadi kita tidak tahu apakah dia bisa bangun selanjutnya atau justru .." Feng Yong menyingkirkan kain penuh darah Fu Hua. Gadis itu tak merespon dan hanya diam membatu, tubuhnya mulai dingin. Ren Yuan mendekatkan telinga ke jantung Fu Hua, hendak memastikan lebih akurat lagi.


Namun tampaknya sesuatu yang buruk telah terjadi, meski Ren Yuan sudah mengatakan untuk Fu Hua mempertahankan kesadaran.


Feng Yong bertanya, "Bagaimana?"


"Dia tidak bernapas."

__ADS_1


__ADS_2