Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 134 - Lorong Labirin


__ADS_3

Hari itu dilalui tanpa harapan. Malam datang diselingi suara-suara berisik dari balik tebok labirin. Terdengar amat mengerikan. Sesekali terdengar keributan, mungkin salah satu siluman yang dikatakan Lang kalah dan menjadi santapan ribuan mayat hidup tersebut.


Xin Chen mendengarnya, suara usus yang ditarik dari perut dan kunyahan tulang-tulang. Keadaan Kekaisaran Qing yang dikatakan sangat mengerikan seribu kali lebih baik daripada Kekaisaran Wei. Mereka telah hancur dan menutup-nutupinya, tapi sisa dari mereka yang masih berdiri tetap melanjutkan hidup.


Satu-satunya yang Xin Chen takutkan saat ini adalah bahwa Kaisar Wei sengaja melakukan percobaan kepada masyarakatnya, seperti mayat hidup ini dan akan melakukan hal yang sama kepada Kekaisaran Shang. Membayangkan seluruh penduduk Kekaisaran Shang berubah menjadi mayat hidup dan saling memakan, itu bencana yang tak pernah ingin dia temukan di tanahnya sendiri.


Sunyi senyap di bagian tengah labirin yang hanya diisi oleh mereka bertiga perlahan memudar. Xin Chen bangun, tak tahan lagi menunggu dan hanya diam.


"Aku tak mengerti kenapa kalian melarangku menggunakan kekuatan roh."


Lang memiringkan telinganya, mendengar suara Xin Chen dan kembali tidur tanpa menghiraukan omongan pemuda itu. Luo Li membuat sebuah api unggun, angin malam terasa menusuk tulang mereka. Hanya terdengar bunyi gemeretak dari ranting yang dilalap api. Melihat tak ada yang menjawabnya, Xin Chen menggunakan kekuatan roh.


Pemuda itu terkejut ketika para roh yang seharusnya berada di dalam kendalinya bereaksi tak karuan dan pergi begitu saja menembus dinding labirin.


Lang terbangun dalam keterkejutan.


"Apa yang kau lakukan?!"


Serigala itu panik, bersamaan dengan Luo Li yang segera berdiri dalam keterkejutan. Tak lama benar saja, sebuah suara jeritan menggema di balik lorong labirin.


Puluhan roh yang lepas dari tangan Xin Chen merasuk ke tubuh mayat yang sudah tak berpenghuni, menjadikannya mayat hidup tingkat atas serta memiliki akal seperti halnya manusia. Mereka merangkak menaiki dinding, begitu cepat. Tiba di paling atas, Xin Chen dapat melihat mayat hidup itu menatap nyalang kepadanya. Suara jeritannya seolah-olah merobek langit, menimbulkan kekacauan luar biasa di balik tembok.


Xin Chen mundur. Ini benar-benar dunia yang tak pernah terpikirkan olehnya. Suara jeritan mayat hidup tersebut masih tak berhenti sampai menit pertama. Lalu dilihatnya dua belas dari mereka telah berhasil menaiki dinding labirin. Langsung melompat ke tanah sampai tulang mereka remuk, tapi hal itu tak berpengaruh sama sekali.

__ADS_1


Luo Li melemparkan suntik tapi tak satupun kena. Gerakan mereka begitu cepat sampai tak bisa diikuti oleh indera pendengarannya.


"Ini berbahaya, malam telah datang dan kita baru saja membunyikan bel makan malam mereka," gelisah Luo Li memindai sekitarnya dengan teliti. Suara jeritan dari kanan kiri membuat dirinya tak bisa memastikan dari arah mana saja musuh datang. Pemuda itu nyaris terkena gigitan di lengan andai saja Lang tak menghantam mayat itu dengan ekornya.


"Apa susahnya menunggu sambil kita mencari cara? Belum apa-apa kau sudah membuat masalah, kalau masalah kecil boleh saja. Tapi ini sudah kelewatan!"


Lang ingin mengomel lebih banyak tapi dia berhenti mengoceh sebab keributan di balik dinding labirin menarik perhatiannya. Para mayat hidup tersebut menggebrak pintu raksasa, perlahan-lahan tumpukan ribuan mayat itu membuat penahanan besinya melonggar. Luo Li yang mendengarnya hanya terdiam, tapi ekspresi wajahnya tak bisa bohong. Nyawa mereka sudah di ujung tanduk. Ibarat terperangkap dalam sebuah jebakan dan satu-satunya jalan keluar adalah pintu di mana mereka bisa mati hanya dalam hitungan detik.


"Pikirkan cara!"


"Setidaknya kau beri tahu soal mayat hidup ini! Selain siluman yang ada di dalam lorong labirin itu!" Xin Chen berteriak agar Lang dapat mendengarkannya, karena situasi terlanjur berisik. Luo Li ikut membesarkan suaranya.


"Mereka akan terpancing oleh keributan!"


Terpikirkan olehnya, jika memang dugaannya benar maka tentu saja orang-orang tersebut perlu mengambil sampel untuk diteliti. Pasti ada jalan masuk ke dalam labirin tersebut.


"Pasti di sini ada seseorang yang mengawasi kita, entah di mana mereka berada. Kita harus menemukan lokasi persembunyian mereka!"


Gedoran di pintu semakin mengganas, tumpukan mayat hidup menaiki bagian paling atas pintu dan mulai jatuh menghujani bagian tengah. Kejar-kejaran di mulai, Lang menghabisi beberapa yang menerjang ke arah mereka.


Xin Chen sendiri berlari ke arah pintu pusat di mana ratusan dari mereka mulai masuk. Membuka pintu raksasa tersebut. Membuat Luo Li dan Lang sama-sama menahan napas.


"Apa lagi yang kau lakukan, bocah tengik?!" Lang merasakan jantungnya seperti berhenti ketika tumpukan manusia mati yang memanjati pintu itu jatuh berhamburan seperti semut. Jarak dengan mereka hanya hitungan meter lagi.

__ADS_1


"Jangan diam saja di sana, kalian hanya akan mati tanpa bisa berlari ke mana pun!" teriak Xin Chen. "Setidaknya kita harus keluar dari tempat ini, kita bisa menemukan jalan di luar."


Luo Li dan Lang terlalu panik dan langsung menyusul tempat di mana Xin Chen berada. Dikelilingi mayat yang Sepuluh kali lebih agresif saat malam hari.


Xin Chen mengeluarkan sebuah petasan yang selama ini dia simpan dalam cincin ruangnya. Melempar benda itu ke tempat paling jauh. Benar apa kata Lang, para mayat hidup itu tertarik oleh suara.


Mereka berkumpul k tempat di mana petasan itu berbunyi berisik di tanah.


Luo Li hendak maju ketika jalan di depan mereka mulai lengang. Xin Chen menahan, memaksanya untuk berdiri di balik dinding tembok. Sementara itu pintu raksasa tersebut akan menutup dengan sendirinya, sedangkan mereka masih di sana. Membiarkan mayat hidup itu kembali bergerak ke tempat semula dan memenuhi tiap ruas jalan


"Apa yang kau tunggu?" Kepala Lang keburu ditundukkan dengan paksa.


"Merunduk!" Xin Chen memaksa Lang dan Luo Li menunduk ketika seekor siluman yang ukurannya seperempat dari labirin ini menerjang kawanan manusia, menghancurkan mereka dengan tapak kakinya. Siluman itu menyerupai harimau gunung, tapi bagian kaki dan tangannya berselaput. Salah satu bentuk percobaan yang gagal dan ditelantarkan begitu saja.


Tak hanya siluman itu, beberapa siluman lainnya berdatangan. Semakin lama mereka menunggu, pintu tersebut semakin menutup. Xin Chen menunggu tak sabar. Dia berbicara secepatnya ketika siluman terakhir telah memasuki bagian tengah labirin


"Bergerak! Bergerak!" Tepat saat mereka masuk ke dalam pintu lorong kerumunan mayat hidup mengejar mereka. Petasan telah mati. Dan kembali terjadi, pintu raksasa tersebut digedor-gedor dari dalam.


Dan kini Xin Chen, Luo Li dan Lang dihadapkan oleh satu bencana lainnya.


Mereka harus berhadapan dengan ratusan ribu mayat hidup di lorong labirin tersebut. Di tengah malam yang dingin dan mencekam.


"Berdoa saja malam ini kita tak akan menjadi santapan makan malam."

__ADS_1


__ADS_2