Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 182 - Iblis Tua


__ADS_3

Zing Yongxe menggigil di tempatnya. Lilin di ruangan mati tiba-tiba, lalu api biru terang muncul menggantikan api sebelumnya. Dia berusaha menoleh ke segala arah dan tak menemukan siapa pun. Lelaki itu berniat keluar dari pintu, perasaannya sudah tak enak sekali. Tapi apa yang terjadi tidak seperti harapannya.


Tanpa pergerakan, tanpa suara, seseorang telah berada di depannya. Menyatu dalam bayangan nan gelap, tatapan mata tajam menghujam ke arahnya. Lelaki itu jatuh termundur, berusaha menjauh secepat yang dia bisa. Namun sosok itu makin mendekat hingga ujung telapak kaki mereka saling berhadap-hadapan. Zing Yongxe menengadah melihat jelas wajah tersebut.


Menyeramkan.


"A-anda Tuan Muda Xin kedua-?!" Dia tergagap penuh ketakutan, lalu mengalihkan pembicaraan. "Bukankah tidak sopan memasuki kamarku sembarangan?"


"Kalau kita masih bermain sopan, orang-orang seperti Jiang Cho tak akan berada dalam Pilar Kekaisaran."


Dibalikkan seperti itu dia mati kutu. Zing Yongxe tahu ke mana arah pembicaraan ini, matanya melebar. Tubuhnya berusaha mundur lagi.


"Bisakah kita bicarakan ini baik-baik?"


"Menurutmu," alihnya ke lain hal. "Selain untuk melindungi, pedang diciptakan untuk apa?"


Bingung, Zing Yongxe menjawab sekadarnya.


"Bertarung."


"Membunuh orang sepertimu, lebih tepatnya."


"Hei hei, kita bicarakan ini baik-baik. Kau pasti paham maksudku, kan? Kau butuh informasinya? Aku bisa mempertimbangkannya dengan beberapa syarat."


"Pertama, aku punya hak istimewa. Kurasa kau paham soal ini. Aku bisa menghakimimu sekaligus pilar tulang karet itu. Dengan bukti dan saksi yang ada. Jika aku tak mendapatkannya darimu, aku cari dari orang lain."


Zing Yongxe kelihatan risau, seolah-oleh kemungkinan yang dikatakan Xin Chen benar adanya. Tak menjamin informasi tentang kursi Pilar Kesepuluh hanya dia dan Jiang Cho yang tahu. Laki-laki itu berkeringat dingin. Seiring dengan berkurangnya suhu di ruangan, membuat tulangnya seperti membeku.


"Jadi, kau memilih hidup atau memberikan informasi itu tanpa syarat?"


Xin Chen menghunuskan pedang di depan lehernya, mata keruh laki-laki itu sangat ketakutan. Dia tak berani bergerak, bahkan bernapas pun sekalian di tahannya. Zing Yongxe memejamkan mata, mengutarakan keengganannya di tengah situasi yang bisa saja merenggut nyawanya.


"Jika aku tak membuat persyaratan, maka kau akan membuatku terlibat dalam hal pelik. Kemungkinan besar namaku tercoreng dan aku akan kehilangan pekerjaan ini. Aku tidak bisa menerima itu."

__ADS_1


"Kau sudah menerima itu semenjak mulai mengotori tanganmu."


Xin Chen tak mau mengalah.


"Jika begitu aku tak akan memberikan apa pun padamu!"


Xin Chen mulai dipenuhi amarah. Kekuatan roh mulai membuat seisi ruangan bergetar, beberapa buku jatuh dari rak bersama kertas beterbangan oleh angin di sekitar Xin Chen. Zing Yongxe sempat ciut, tak peduli akan yang terjadi dan mulai tersenyum licik.


"Tuan Muda ..."


Zing Yongxe menyunggingkan senyum menyeramkan setelahnya.


"Kau kira aku akan memberikan informasi ini cuma-cuma?"


Xin Chen berhenti dengan kekuatan roh, menyadari bunyi derit pintu di belakangnya dan puluhan pengawal telah berada di balik punggungnya. Dia terkesiap. Belum sempat bereaksi tiga orang pria besar langsung menangkap dan mengikatnya, mereka begitu cepat. Yang lain menyelamatkan Zing Yongxe. Lelaki itu menyapu beberapa debu di pakaiannya.


Sepertinya dia pandai mengulur waktu sampai pengawal ini menyelamatkannya. Zing Yongxe tersenyum puas. Sambil membawa kipas di tangan kirinya, dia mengibas benda itu akibat gerah.


Saat semua tak melihatnya, Zing Yongxe menggunakan pisau kecil untuk menyayat kulit lehernya. Xin Chen yang tengah diseret-seret menuju istana sempat melihat kejadian barusan.


"Tua bangka setan ...."


Dari dalam kereta kuda Xin Chen masih dapat mendengar suara tawa dari lelaki tua itu. Membuat hati dan otaknya terbakar.


**


Benar saja, dia harus berhadapan dengan persoalan rumit jika itu tentang Zing Yongxe. Dalam hitungan satu jam kurang, kabar ini telah menyebar sampai ke telinga para elit dan bangsawan. Banyak yang tak menyangka perbuatan Xin Chen, ada banyak berita melebih-lebihkan seperti Xin Chen menusuk leher Zing Yongxe sampai berdarah, bukti tulisan di atas kertas, dan juga salah seorang pengawal tewas akibat penyerangan Xin Chen.


Peringatan dari Fu Hua memang benar adanya. Zing Yongxe bukanlah musuh yang bisa dianggap sama seperti musuh lainnya. Dalam satu pagi saja, nama Xin Chen telah tercoreng habis-habisan dan menjadi topik paling hangat di pasar. Bagaimana tidak, semua orang juga tahu siapa Zing Yongxe.


Lelaki yang telah mengabdikan hidupnya untuk Kekaisaran Shang, apalagi kalau bukan itu. Tak pernah terdengar kabar buruk tentangnya, riwayat hidupnya begitu baik. Tak pernah terdengar hal buruk-dan jika pun ada sudah duluan dibungkam sebelum menyebar.


Xin Chen dibawa ke dalam aula istana di mana di depan sana Kaisar Qin telah duduk di singgasananya. Penuh keterkejutan, rupanya kabar yang disampaikan benar. Dan putra kedua Pedang Iblis telah sampai di istananya.

__ADS_1


Dengan membawa berita buruk.


Kaisar Qin tak ingin terlihat condong ke mana pun. Dia bersikap tegas. Dan lalu pintu istana di buka dan terlihat seorang laki-laki bersimbah darah berjalan sempoyongan.


Keadaan Zing Yongxe membuat Kaisar Qin tiba-tiba berdiri, wajahnya tak percaya dan langsung menoleh Xin Chen. Marah dan ingin meminta penjelasan.


"Yang Mulia ...! Uhuk-uhuk!"


Tiba-tiba Zing Yongxe memuntahkan darah sehingga karpet di istana penuh oleh darahnya, dia meminta maaf sambil melanjutkan jalannya yang semakin sempoyongan.


Xin Chen sangat ingat, dia meninggalkan Zing Yongxe tidak separah itu. Mana mungkin pedangnya menyentuh leher Zing Yongxe. Dan juga sampai ke perutnya juga darah itu merembes.


Lelaki itu mulai mendramatisir, "Ampun Yang Mulia, saya baru saja diserang oleh Tuan Muda Xin kedua!" Dia terbatuk makin keras sampai memukul-mukul dadanya, menangis kesakitan.


Beberapa pengawal datang membantu Zing Yongxe berdiri. Sama kasihannya seperti Kaisar Qin.


"Benarkah itu, Xin Chen?"


Marah murka menguasai wajah Kaisar Qin. Cukup melihat keadaan Zing Yongxe sekarang, dia sudah tahu seberapa buruk keadaan penasehatnya itu. Tak bisa menerimanya meski yang melakukannya adalah anak dari sahabatnya sendiri. Karena salah tetaplah salah.


Para bangsawan dan elit mulai berdatangan memenuhi panggilan, menyaksikan keadaan Zing Yongxe dengan wajah prihatin. Laki-laki itu menambahkan dengan mulut berdarah.


"Pagi buta, dia menyerang halaman klan dan membunuh pengawal kami. Kami punya saksi dan bukti! Lalu dia masuk tanpa izin ke kamarku, menusuk leherku dan menyayat beberapa bagian tubuhku!"


Semua menggeleng tanpa bisa berkata-kata, tak percaya Xin Chen tega melakukan itu pada laki-laki baik seperti Zing Yongxe.


Zing Yongxe berjalan mendekat ke kursi Yang Mulia.


"Salah satu nyawa telah melayang akibat perbuatannya! Kami menuntut hukuman yang setimpal, Yang Mulia!"


Kaisar Qin begitu serius untuk permasalahan kali ini, menatap ke arah Xin Chen dengan tajam sebelum berucap.


"Ada pembelaan?"

__ADS_1


__ADS_2