
Di tempat lain getaran dahsyat sampai di istana Kaisar. Lelaki itu memperhatikan ke luar dari jendela panjang seukuran tubuhnya, dapat terlihat jelas mendung hitam melingkupi seluruh distrik satu. Awalnya dia mengira itu hanyalah badai biasa.
Namun salah satu roh yang menyasar ke tempatnya membuat wajah Kaisar Yin tegang.
"Malapetaka.."
Kalimat pertama yang meluncur dari mulutnya disertai takut akan masa lalu. Kekuatan itu pernah menjadi momok menakutkan, bahkan sebelum masa kepemimpinannya Ayahnya kewalahan menghadapi kekuatan roh yang dinilai sebagai ancaman terbesar pada masa tersebut.
Loncatan kekuatan berkumpul di tengah distrik bersama cahaya biru terang.
"Apakah itu kekuatan aslinya?"
Wajahnya sangat tegang. Satu kali getaran selanjutnya diiringi dengan angin yang membuat jendela retak.
"Yang Mulia, ada panggilan dari Leluhur Sebelas. Ini darurat," ucap seorang laki-laki kepercayaannya. Kaisar Yin menoleh, mencoba menghapuskan pikirannya barusan. Rapat tertutup sudah berulang kali dilakukan dan mereka masih tak menemukan solusi untuk menghadapi krisis ini. Sekarang, para leluhur pasti akan menyindir kebijakannya yang mulai dipertanyakan. Keadaan semakin memburuk, orang-orang mulai mengiranya tak becus.
"Aku akan segera ke sana."
Rumah pribadi Leluhur Kesebelas hanya berjarak beberapa meter dari istana, dengan pengawalan super ketat laki-laki itu tiba di sana. Beberapa petinggi lain sudah berkumpul, keadaan laki-laki yang disebut sebagai Leluhur Sebelas semakin buruk.
"Wabah ini telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, hanya ada satu cara untuk menghentikannya.."
Suaranya bergetar hebat, tubuh lelaki renta itu kejang-kejang di pembaringan. Kaisar Yin mendekat, ikut berduka melihat keadaan salah satu orang yang penting di Kekaisaran Qing. Pelayan mengatakan laki-laki itu demam tinggi disertai kejang-kejang. Nyawanya mungkin sudah tak lama lagi, tapi sejak beberapa jam yang lalu Leluhur Sebelas terus meminta Kaisar Yin untuk datang ke kediamannya.
"Seorang yang mewarisi darah iblis... Kekuatan yang besar dan jiwa yang pemberani ..." Mata yang telah putih sebagian itu menatap langit-langit, mulutnya terbuka menahan sakit.
"... Lembar Segel Pemusnah berada di penjara bawah tanah Kekaisaran kita. Setahun setelah kematian sang Anak Iblis ... Seseorang membawanya ke sini dan menyegelnya di..."
Tubuhnya semakin kejang-kejang, bukan sekali dua kali dia sampai hampir melompat dari kasur. Beberapa orang menutup mulut, mungkin Leluhur Sebelas sedang menemui ajalnya. Kaisar Yin memejamkan mata, tak sampai hati melihat pemandangan tersebut.
"Arrghhhh!!" Dia mencekik tenggorokan sendiri, berteriak tidak ketentuan, mulai mencakar orang di sekitar. Sontak orang di dalam ruangannya panik dan mulai mundur, hanya Kaisar Yin yang berada paling dekat.
Leluhur Sebelas melompat dan mencekik Kaisar Yin, menggigit tangan laki-laki itu ketika dia berusaha melepaskan diri. Para prajurit masuk ke dalam ruangan segera, mengikat Leluhur Sebelas dengan sigap.
__ADS_1
Kepanikan tergambar di wajah semua orang, tetesan darah masih berjatuhan di lengan tangan Kaisar Yin.
"Ya-yang Mulia ..." Salah satu leluhur mulai khawatir.
"Mengapa dia menyerang tiba-tiba?" Seorang wanita mulai memprotes, tidak ada yang mengatakan soal penyakit Leluhur Sebelas dengan jelas selain hanya demam atau kejang-kejang. Salah satu pelayan bersujud, ketakutan setengah mati.
"Ampun, Nyonya. Tapi Leluhur Sebelas menyuruh kami untuk merahasiakan ini, karena dia tahu akan dibunuh sebelum mengutarakan maksudnya meminta kalian ke sini." Dia sampai bersujud.
"Leluhur Sebelas telah terjangkit. Dan ini hari ketiga setelah dia tergigit."
Di antara semua orang yang jelas-jelas panik, Kaisar Yin justru terdiam. Walaupun begitu wajahnya pucat pasi.
"Ini adalah masalah besar! Siapa pun, carikan penawarnya! Kekaisaran akan membayar berapa pun untuk membelinya!!"
Perintah salah satu dari mereka, puluhan prajurit bubar menyebarkan berita.
"Yang Mulia, Anda tidak kenapa-kenapa?"
"Yang Mulia! Tolong tenanglah, kami akan mencari obatnya secepat mungkin!"
Suara-suara mulai menggema, panik bercampur takut bersatu dalam ruangan tersebut bahkan hingga Kaisar Yin dibawa ke tempatnya di istana.
Jatuhnya Kaisar Yin adalah awal dari kekalahan besar, saat krisis terjadi dan justru pemimpin mereka mati, tak ada yang bisa menjamin kekaisaran itu akan selamat atau tidak dari wabah tersebut.
Lingkaran angin hitam terus berputar di dalam distrik satu, kaki Garis Hitam menyunduk lubang raksasa hingga tubuhnya masuk sepenuhnya ke dalam. Mahluk hitam itu keluar dengan kaki-kakinya menyangkut tepian lubang. Menyeret ribuan terinfeksi berzirah jatuh ke dalam lubang.
Karena tak memakai umpan Xin Chen harus mencari cara lain. Dia memakai wujud manusia dan berlari ke segala arah, mengumpulkan terinfeksi itu di tepian lubang dan Garis Hitam akan menyeret mayat-mayat itu ke dalam lubang. Bersama dengan sisa reruntuhan kayu dan barang lain.
Xin Chen kembali ke posisi semula di lantai atas benteng, dia menggunakan kekuatan yang begitu besar untuk sampai sejauh ini. Distrik 1 memang sudah bersih meski tidak bisa dikatakan seratus persen. Garis Hitam menghilang. Sekarang sisa membakar habis makhluk-makhluk itu.
Xin Chen berniat menarik napas sejenak, tapi sebuah guncangan membuatnya kembali bangun melihat apa yang terjadi.
Tak diduga terinfeksi di dalam lubang itu mulai bertindak agresif. Tapi bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan kemampuan mayat-mayat itu untuk memanjati lubang yang tingginya ratusan meter itu.
__ADS_1
Dia tak pernah menemui pemandangan itu sebelumnya, Xin Chen tak boleh terlambat atau mereka akan melarikan diri dari sana.
Penjara Api Keabadian memancar dari lingkaran tepian lubang hingga ke atas. Dari bara api itu, satu per satu mayat merangkak keluar dan mulai berlarian ke tempat Xin Chen berada. Seharusnya mahkluk-mahkluk itu tak bisa mengetahui keberadaannya karena jauh, apalagi tubuh roh nya tidak memiliki bau manusia
Xin Chen terpaksa melayang ke atas, memperhatikan dari ketinggian. Rencana awalnya mulai hancur.
Salah satu terinfeksi di bawah meraung, gemanya amatlah keras, mereka sangat berbeda dari sebelumnya. Saat Xin Chen memperhatikan di tempat yang begitu jauh dari Kekaisaran Qing, sebuah sinar merah memancar menembus awan. Raungan terinfeksi begitu keras dari seluruh penjuru. Seperti sebuah kekuatan sedang membangkitkan sesuatu.
Xin Chen tak bisa menebak apa yang sedang terjadi, tapi jika ini semua berkaitan dengan Air Mata Iblis maka dia sudah tak memiliki banyak waktu lagi.
"Kali ini," Xin Chen menciptakan Garis Hitam kembali, akar-akar timbul dari bawah tanah, membawa para terinfeksi ke lubang dengan paksa. Membakar menggunakan api dengan keadaan mayat-mayat itu berusaha keluar dari lubang bukanlah ide bagus. Dia butuh berjam-jam untuk menghabisinya.
Hanya ada satu kekuatan yang mampu menghapuskan semua mayat itu dalam satu serangan singkat.
"Petir Kutukan," gumamnya.
Mendung berkumpul di atas kepala, cahaya matahari terbias, muncul di celah-celah awan. Meninggalkan suasana menakutkan. Cuaca yang ganjil itu mulai didatangi oleh petir-petir.
Gulungan awan masuk ke dalam, sebuah telapak tangan raksasa muncul. Sudah melihat beberapa kali pun Xin Chen pasti akan merinding. Kekuatan Dewa Petir sangat mengerikan, levelnya jauh berbeda dengan Dewi Api.
Tangan Dewa Petir yang berada di atas sana mengeluarkan mantra kuno bercahaya, terus bergerak berputar selagi kekuatan petir berkumpul di tangan tersebut. Dalam satu kali hentakan petir, gempa dahsyat menghancurkan tanah di sekitarnya hampir seratus meter. Xin Chen yang masih berdiri di tempatnya semula hanya menatap.
Kali ini tidak begitu sulit meminta si pemilik kekuatan menyumbangkan kekuatan untuk membantunya.
Petir Kutukan telah jatuh, Xin Chen nyaris tak percaya mayat-mayat berzirah itu tak lagi bergerak dan seketika terbakar kehitaman. Jika Api Keabadian membutuhkan berjam-jam Petir Kutukan hanya perlu tiga detik untuk memusnahkan mereka.
"Aku berterima kasih banyak kau selalu menolongku," gumamnya, walau dia tak yakin si Penguasa Petir mendengarnya.
Xin Chen terpaku saat melihat sosok pria bercahaya dengan rambut diikat sepinggang berdiri di benteng seberang. Pakaiannya bercahaya terang, berterbangan ketika angin berhembus kencang dari bawah. Dia memiliki pedang yang diukir oleh tulisan asing.
Mata putih mengerikan itu sejenak memandangnya, diiringi oleh dentuman kencang yang terus bertalu-talu. Tanah di sekitarnya retak dan mulai mengambang di udara bersama serpihan cahaya yang mengitari sosok tersebut.
"Lain kali jangan merepotkanku. Atau kau yang akan kujatuhi Petir Kutukan."
__ADS_1
Xin Chen bisa mendengar suara itu begitu dekat walau mereka berjauhan. Sedetik setelahnya, sosok itu menghilang begitu saja.
'Lebih galak dari Rubah Petir ternyata,' batinnya.