
Mulanya Xin Chen sedikit ragu dengan keputusan menggunakan tubuh manusia. Tubuh manusianya lebih rentan terhadap luka fisik dan racun. Meski ketahanan tubuhnya berada di tingkat atas rata-rata manusia biasa, tapi dia tetap harus waspada akan racun yang diciptakan orang Kekaisaran Wei.
Mereka mengikuti jejak Lang. Perlahan semuanya tetap tenang, hanya terdengar suara derap kaki yang menggema. Luo Li tak begitu menggubris air becek yang dilaluinya. Hingga tiba-tiba Lang berteriak nyaring.
"Jangan diinjak-"
Sebuah bom meledak ketika Luo Li menginjak sebuah benda yang bentuknya menyerupai batu. Sontak bunyi dari bom itu mengundang siluman serangga yang bersembunyi di atap terowongan dan lorong-lorong lain. Luo Li berhasil diselamatkan Xin Chen. Tapi mereka berdua terkurung di antara para siluman yang sudah siap menerkam kapan saja.
Lang menggigit salah satu siluman kalajengking, menghantamkan siluman itu ke kawannya yang lain. Tiga siluman tumbang bersamaan. Tapi celakanya pertarungan itu justru memicu bom peledak lainnya yang tak sengaja dipencet tiga siluman tadi.
"Sial, sial, sial. Baru sampai beberapa detik saja sudah begini." Lang mengumpat kesal. "Bergerak!"
Keduanya hendak mengekor langkah Lang, tapi langsung tertahan sebab di hadapan mereka kini telah berdiri dua puluh orang dengan seragam aneh yang serba tertutup dan sebuah topeng masker yang mengeluarkan asap.
Salah satunya mengarahkan sebuah alat yang mengeluarkan gas beracun. Begitu cepat terjadi. Xin Chen tak sempat menolong Luo Li yang langsung jatuh pingsan, sementara Lang hanya bertahan beberapa detik dan langsung tak sadarkan diri.
Ketika dirinya hendak menumbangkan dua puluh orang itu, sebuah suntik telah tertancap di leher kirinya. Cairan itu menyebar ke seluruh tubuh dan membuatnya mati rasa hanya dalam hitungan tiga detik.
"Yang terakhir ini ... Mungkin akan menjadi objek yang menarik. Bawa mereka." Pemimpin kelompoknya itu segera berbalik badan diikuti yang lainnya, membawa Xin Chen, Luo Li dan Lang ke sebuah tempat di mana semua permasalahan baru dimulai.
**
Langit cerah tanpa setitik pun awan.
Mata biru pucat itu mengerjap berulang kali, mengenali langit yang begitu asing di matanya. Dia terbaring di sebuah lapangan-atau lebih tepatnya sebuah tanah kosong luas yang hanya ditumbuhi rerumputan dan satu pohon apel. Tenggorokannya terasa sakit, efek samping dari obat yang disuntikkan di tubuhnya kemarin. Pemuda itu berusaha bangun, merasakan seluruh tulangnya terasa sakit. Sudah lama dia tak merasakannya, karena dirinya selalu menggunakan tubuh roh.
Tapi Xin Chen tak bisa mengabaikan peringatan dari lelaki yang mengantarkan mereka ke Kekaisaran Wei.
Dan kini Xin Chen kebingungan, dia tak tahu tempat apa yang dilihatnya.
Hanya sebuah tempat luas yang dipagari oleh tembok seratus meter. Sangat aneh di matanya tapi yang dia lihat benar-benar nyata. Di atas mereka, langitnya terasa janggal. Xin Chen tak melihat satu pun awan ataupun angin.
__ADS_1
"Kau bangun? Heh, selamat datang di neraka." Sambutan pertama dari Lang cukup membuat Xin Chen terdiam cukup lama. Mempelajari dunia di sekitarnya, amat ganjil.
"Kau tahu tempat ini?"
"Kemungkinan ..." Lang menatap ke atas langit, nada bicaranya terdengar buruk. Bahkan sangat-sangat buruk. Lang sampai terdiam juga, tak sanggup berkata-kata ketika dirinya menyadari mereka dalam bahaya terbesar.
"Sialan. Apa-apaan ini." Lang mundur, menyangkal pemikirannya sendiri.
"Apanya yang sialan. Katakan dengan jelas."
Luo Li terbangun.
"Tempat mayat hidup dibuang. Ini pembuangan para manusia yang gagal. Mereka menciptakan sebuah labirin tanpa ujung agar para mayat hidup tanpa akal itu tak bisa keluar dari sini."
Wajah Luo Li pucat pasi, dia mencerna baik-baik.
"Labirin Kematian?"
"Sepertinya saat pergi bersamamu semua keberuntungan ku sudah habis." Lang berucap sedikit panik.
"Hei, hei. Kau mempermasalahkan apa? Memang apa yang kau takutkan dari pintu itu?"
Xin Chen berjalan ke satu-satunya pintu raksasa yang ada di tempat ini. Ketika jaraknya hanya sekitar satu meter lagi dari pintu tersebut, seperti diangkat oleh sesuatu pintu tersebut naik ke atas. Perlahan-lahan Xin Chen dapat melihat ratusan pasang kaki di sebuah lorong raksasa. Mereka bergerak tak karuan, wajah hancur dan mampu berjalan meskipun Xin Chen jelas-jelas melihat mereka sudah mati. Tak ada aliran darah di tubuh mereka dan jantung mereka sendiri tak berdetak.
Seketika ketika pintu menampakkan Xin Chen, ribuan mayat hidup di lorong itu berubah agresif. Mereka mengejar Xin Chen seperti makanan. Pemuda itu mundur, pertama kalinya gentar melihat musuh yang akan mereka hadapi.
Lang langsung menarik tuas di sisi pintu, memaksa pintu itu jatuh kembali dan menghimpit beberapa mayat hidup.
Luo Li mengeluarkan belati dari balik jubahnya, menghujamkan mata senjata tepat di kepala sampai semuanya berhenti bergerak.
"Kau takut ...?" Lang menatap Xin Chen yang hanya terdiam. Pandangannya terkunci pada pintu raksasa tersebut.
__ADS_1
Entah apa yang membawa mereka ke labirin Kematian ini, Lang sering mendengar tempat ini terletak di pusat Kekaisaran Shang. Dan tempat percobaan tergila yang memakan hampir lima belas persen wilayah Kekaisaran Wei. Di dalamnya terdapat seratus lima puluh ribu manusia hasil percobaan yang gagal.
"Aku tak tahu ..."
Tangan Xin Chen gemetar. Melihat ribuan mayat hidup yang sangat tragis itu. Pemandangan yang tak pernah dilihatnya seumur hidup. Dunia Kekaisaran Wei jauh berbeda dengan dua kekaisaran lain.
"Aku tak pernah ragu untuk membunuh musuh yang jelas-jelas berbuat kejahatan atau malapetaka." Xin Chen memandangi tangannya yang masih terus gemetar. "Membayangkan tangan ini akan membunuh ribuan orang tak bersalah itu ... Mereka hanya manusia malang. Kenapa ada manusia keji yang menjadikan mereka seperti itu?"
"Kau baru melihat satu saja. Yang ini belum seberapa." Lang membuang napas, mengibas ekornya. "Pada dasarnya mereka sudah mati. Jangan merasa bersalah. Justru dengan membunuh, mereka bisa beristirahat dengan layak."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Aku tak tahu." Lang menjawab ketus. "Aku sudah mencari ke segala tempat. Tidak ada jalan tersembunyi. Pintu itu satu-satunya jalan keluar."
"Itu artinya kita harus berhadapan langsung dengan ratusan ribu mayat hidup?"
Xin Chen kembali membayangkan pemandangan menakutkan tadi.
Lorong labirin yang seluas itu saja sudah penuh, dia yakin belum sedetik saja mereka sudah dikeroyok oleh mayat tersebut.
"Memang ada cara lain?"
Xin Chen dan Luo Li ragu.
"Paling antara mati dikeroyok mayat hidup atau dimakan siluman kelaparan di dalam sana. Sudah masuk ke sini, harusnya kau tahu kau juga berada dalam kematian. Namanya juga Labirin Kematian."
Dari omongannya saja Lang jelas-jelas tak memberikan harapan hidup. Xin Chen mengulang sebagian kata-katanya
"Siluman? Memang di sini ada siluman?"
"Siluman yang gagal diteliti. Mereka cenderung lebih kuat dari manusia. Biasa mereka berburu di malam hari, begitu yang aku dengar."
__ADS_1
"Mungkin mereka harapan kita satu-satunya."