
Di tempat lain pertempuran sengit tengah terjadi antara Xin Chen dan Naga Kegelapan. Nyaris tak ada jeda sunyi akibat pertarungan keduanya. Getaran di permukaan air tergenang semakin membesar, Xin Chen berhasil mengenai ekor Naga Kegelapan yang membuat siluman itu jatuh ke permukaan tanah. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Xin Chen lantas menghajarnya dengan Pedang di tangannya.
Satu tancapan berhasil menembus hingga separuh pedang, meski hanya mengenai bagian kulit keras naga tersebut. Xin Chen tak sempat menyerang lebih jauh ketika melihat lawan bergerak memberontak, dia mundur secepat mungkin sebelum menerima serangan balasan yang jauh lebih berbahaya.
"Tipe seranganmu sebenarnya mudah dibaca, ya?"
Xin Chen bergumam, Naga Kegelapan tak mungkin mendengar apa yang didengarnya. "Menyerang mengikuti insting dan emosi. Tapi apa yang membuatmu jauh lebih unggul dari Siluman Penguasa Bumi lain dan selalu menang dalam pertarungan?"
Tampaknya dirinya harus selalu siaga untuk serangan kejutan yang mungkin jauh di luar dugaannya. Tubrukan di atas tanah bebatuan berbunyi nyaring, Naga Kegelapan melibaskan ekornya ke segala arah, memutar ekor tersebut ke arah Xin Chen yang tiba-tiba saja menghilang dari sana. Siluman itu bersuara menandakan kemarahannya sudah berada di titik tertinggi.
Xin Zhan yang tengah bertarung di tempat lain sempat tertegun merasakan perubahan suhu yang kian naik. Suhu di sana menjadi jauh lebih panas dan membakar, bahkan untuk menarik napas saja paru-paru seakan sedang digores oleh debu-debu tajam.
Xin Chen menghentakkan kakinya di atas kepala Naga Kegelapan, menciptakan wujud tangan roh berukuran sama dengan kepala naga tersebut dan mencengkram lehernya.
Berbagai serangan yang dilakukannya tak berpengaruh banyak, tapi setidaknya Xin Chen bisa menghancurkan bagian kulit luar naga itu. Sedikit demi sedikit.
Hingga dia mulai berpikir apa yang dilakukannya sia-sia. Kekuatannya tak akan sanggup bertahan sebelum naga itu tumbang. Xin Chen menelan ludah.
Dia menatap pedang di tangannya. Corak merah dan keemasan yang begitu menawan, Xin Chen merasa tak pantas untuk memilikinya. Gabungan dari Pedang Iblis dan Pedang Kaisar Langit yang amat dijaga oleh ayahnya bahkan dengan nyawa laki-laki itu sendiri. Sekarang pedang itu seakan tak ada gunanya jika berada di tangan Xin Chen.
Bahkan untuk memenangkan pertarungan ini keraguannya semakin membunuh semangatnya bertarung.
Keterpurukan.
__ADS_1
Entah mengapa itu selalu menghancurkannya setiap waktu. Dia menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi di depannya.
Sementara gaung dan getaran di sekitarnya semakin mendekat, Xin Chen memejamkan mata pelan. Menetralkan pikirannya, membuang segala hal-hal buruk yang mulai meracuni hatinya. Pedang di tangannya menghilang, berganti dengan sebuah seruling yang kini bertengger di mulutnya.
Irama yang lembut, mendayu-dayu dan berbisik pelan. Menyiratkan sebuah pesan yang tak terucap. Pengap yang merajai sekitar musnah, berganti hawa dingin dan tenang. Suara seruling itu makin menggema menguasai sekitar.
Setetes darah jatuh di ujung daun kering, lalu merah darah membara pudar. Sisa mayat-mayat yang telah menggosong untuk kesekian kalinya lenyap, berubah menjadi debu hitam yang naik ke atas permukaan.
Suara seruling masuk pada nada melengking, terdengar seperti seruan perang yang dilantunkan dalam irama. Lalu debu hitam itu berputar di satu tempat, menciptakan sebuah topan aneh yang tak pernah terjadi di belahan bumi mana pun.
Xin Zhan terperangah.
Kali ini apalagi yang dilakukan adiknya. Napas Xin Zhan tercekat, pemandangan yang terjadi di beberapa ratus meter di di belakang sana amat mengerikan. Manusia gila mana yang mau datang untuk melihat ke dekat sana, bahkan orang gila sendiri akan lari saat melihat peristiwa itu terjadi di depan mata. Topan besar itu menggulung membawa debu-debu hitam naik ke atas. Dan di tengah-tengah topan itu, Xin Zhan merasakan kekuatan adiknya tengah berkumpul.
Andai Xin Chen bisa mati, maka dia sudah mati untuk ribuan kalinya karena tindakan nekatnya selama ini. Mengumpulkan kekuatan roh sebanyak itu, dan dipenuhi oleh energi negatif pula, Xin Chen bisa kehilangan kewarasannya. Semua mayat yang mati dalam perang ini sebagian besarnya adalah orang-orang yang matinya tak tenang. Mereka bahkan tak tahu apa yang membuat diri sendiri tewas ketika sambaran Api Keabadian menyambar dan seketika menewaskan ribuan dari mereka.
Gelisah menguasai pikiran Xin Zhan saat ini. Namun apa yang bisa dilakukannya hanya bertarung melawan Xin Fai dan membiarkan adiknya di sana. Entah apa yang akan terjadi setelah itu.
Roh Dewa Perang keluar dengan senyuman merekah di setiap sudut bibirnya.
"Akhirnya!! Aku keluar! Si manusia besi itu sudah tewas? Baguslah! Kau sudah membalaskan dendam ku hahahhahaha!"
Belum satu detik dia keluar, langsung berisik tak kira-kira. Xin Chen menepis kekesalannya sejenak.
__ADS_1
"Kau membutuhkan kekuatan ini bukan?"
Roh Dewa Perang melihat sekitarnya lebih jelas lagi, dan senyumnya semakin mengembang penuh makna.
"Ini sudah lebih dari cukup bagiku. Tapi sayangnya untuk mengaktifkan teknik keenam memiliki resiko besar. Jika jiwamu tak sanggup menahan besarnya kekuatan roh ini, tak menutup kemungkinan nyawamu melayang dan tubuh ini akan berpindah tangan padaku. Kau ingat, jiwa manusia cukuplah lemah. Ku tanya padamu, dengan ratusan ribu roh yang berada di dalam Kitab Pengendali Roh ini, apakah pikiranmu masih baik-baik saja seperti dulu?"
Xin Chen tak menjawab, Roh Dewa Perang menangkap itu sebagai jawaban tidak.
"Tapi kita juga tak punya pilihan lain. Serta dengan pedang itu ..." Roh Dewa Perang mendelik sejenak, memang dia merasakan kekuatan yang amat-amat besar dari sana. Tapi dirinya tak begitu tertarik dengan benda-benda semacam itu.
"Kita masih memiliki kemungkinan untuk menang."
Xin Chen mengangkat wajahnya. Sedikit harapan. Entah itu benar atau tidak, tapi dia sedikit lega mendengarnya.
Xin Chen kembali meniup serulingnya, suara Irama Kematian dengan nada yang begitu dalam menyusup di dalam udara. Mendekati Naga Kegelapan yang berusaha melawan suara terkutuk itu dengan lengkingan suaranya sendiri.
Pemberontakan dan penyerangan yang dilakukan Naga Kegelapan memang sangat-sangat menghancurkan daratan yang ada di bawahnya. Tak terkira berapa kerugian jika perang ini terjadi di jantung Kekaisaran Shang. Selain itu, Irama Kematian tampaknya mengganggu pendengaran Naga Kegelapan.
Sesaat Xin Chen teringat pada Ye Long. Kenyataan bahwa naga itu adalah anak dari Naga Kegelapan yang masih memiliki banyak misteri di dalamnya. Dan bagaimana kedua naga itu sama-sama membenci Irama Kematian.
Suara alunan seruling berhenti sejenak. Bertukar menjadi suara lembut dan terputus-putus. Xin Chen sendiri tak tahu mengapa dia menguasai lagu-lagu itu. Dia menciptakan alunan tersebut saat merasa sunyi, kadang sepi, atau ketika dirinya benar-benar putus asa.
Roh Dewa Perang terdiam. Meski tak mendapatkan pengaruh apa-apa dari suara tersebut. Apa yang dilihatnya hanyalah Xin Chen yang sibuk bermain seruling di tengah badai topan yang ganjil. Dan seekor naga mengamuk.
__ADS_1
Tatapannya berubah iba. Roh Dewa Perang tak mengatakan apa-apa selain bergumam dalam hati.
'Aku akan membantumu. Apa pun yang terjadi.'