Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 61 - Seperti Aku Menjaganya


__ADS_3

Di lain sisi Xin Chen sedang menghadapi Naga Kegelapan bersama Roh Dewa Perang, setelah berhasil membuat Xin Fai tak bisa bergerak dan menyegelnya dengan membuat perangkap serupa Garis Hitam yang menutupi seluruh tubuh Pedang Iblis. Mereka hanya punya waktu paling banyak sepuluh menit sebelum Garis Hitam dibuat lenyap oleh Xin Fai.


Serangan bertubi-tubi dilancarkan dari dua sisi, Roh Dewa Perang tak sekalipun mengendorkan serangan kepada Naga Kegelapan yang juga membalasnya dua kali lipat lebih parah. Hingga benturan dan hantaman nyaris tak menyisakan jeda setiap detiknya.


Xin Zhan berhenti menatap kekacauan yang terjadi di sana. Berfokus untuk menyalurkan kekuatannya dan memulihkan bekas-bekas luka di tubuh Huo Rong. Namun aktivitasnya terhenti seketika, begitu pula dengan Huo Rong yang seakan membeku saat menengok ke sampingnya.


Terlebih lagi Xin Zhan saat ini. Terhenyak beberapa detik hingga dia menyadari bahaya sedang mengincar nyawa keduanya. Dia buru-buru meletakkan tangan Huo Rong di belakang lehernya dan membawanya kabur secepat mungkin sebelum ratusan pisau cahaya jatuh menghantam bumi.


Xin Fai telah lepas dari jeratan perangkap Garis Hitam dan kini menjatuhkan ribuan pisau angin. Tak pernah terduga bahwa sosoknya dapat menghancurkan perisai yang dibuat Roh Dewa Perang sebegitu mudah, bahkan Naga Kegelapan saja kesulitan meloloskan diri dari teknik tersebut. Deru angin berhembus kencang menerbangkan butiran debu dan pasir, dalam sekali waktu terjadi guncangan besar.


Xin Zhan menepis semua pisau angin dengan pedangnya, satu dari mereka terlolos, merobek lengan jubahnya yang langsung mengeluarkan darah tipis. Tak habis sampai di sana, dua serangan besar menyusul beruntun mengejar Huo Rong dan Xin Zhan.


Sementara mereka dikejar-kejar oleh Xin Fai, lagi dan lagi Xin Chen kehilangan atensi atas mereka. Perhatiannya seluruhnya tersedot pada lawan di depan matanya yang begitu ganas. Nyaris tak memberinya wkatu hanya sepersekian detik untuk melihat sekitar. Jika sudah begitu, bisa dipastikan lawan yang dihadapinya saat ini bukan lagi tipe lawan yang sembarangan.


Xin Zhan paham betul kali ini dia tak bisa mengganggu Xin Chen seperti sebelumnya. Dia juga tak ingin diselamatkan lagi, membuatnya semakin terlihat lemah dari pada adiknya sendiri. Berusaha bangkit sekuat tenaga, Xin Zhan meletakkan tubuh Huo Rong ke tempat yang sekiranya aman meski dia sendiri tak yakin keselamatan Huo Rong akan terjaga di tangannya. Tubuh siluman itu belum sepenuhnya pulih, dia yakin saat itu siluman tersebut masih menanggung rasa sakit yang amat luar biasa di sekujur tubuhnya. Tanpa perlu menjelaskannya lagi, terlihat dari kerut wajah Huo Rong sendiri. Meski di waktu yang bersamaan Huo Rong bersikap seolah dia tak merasakan apa-apa.


"Bertahanlah sampai aku kembali. Aku akan menghentikan ayah sejenak. Dan kembali untuk menyembuhkan lukamu."


"Jaga dirimu."


Sepeninggalan Xin Zhan, Huo Rong membuang napas pelan. Matanya perlahan berangsur menatap Shui di kejauhan yang telah jauh dari tempat mereka sekarang. Tak ada pergerakan dari Naga Air itu. Yang jelas kini membuat Huo Rong cemas, dia mencoba berdiri semampunya dan berjalan menuju tempat di mana Shui tergeletak. Dengan nyawa atau pun tidak.


*


Dentingan pedang bertemu, indahnya percikan bunga api turun ke bawah. Kedua pedang berhenti saat dua bilahnya yang tajam tertahan satu sama lainnya. Dengan gesit Xin Zhan melepaskan diri sebelum dirinya terkunci, benar saja tak lama kemudian entah dari mana asalnya ratusan rantai saling bertubrukan tepat di tempat di mana dirinya berdiri tadi. Jelas saja dia masih bisa selamat berkat insting bertarungnya yang semakin terlatih semenjak bertarung dengan Xin Fai.


Tapi tak selamanya Xin Zhan beruntung sebab tak berapa lama kemudian lawannya kembali menggunakan kekuatan roh. Kali ini, Xin Fai seperti yang dikatakan Dou Jin sebelumnya, laki-laki itu bertarung dengan 'caranya' sendiri. Tanpa sedikitpun kendali dari Dou Jin. Pengaruh laki-laki itu telah hilang-meski tak seluruhnya.


Xin Zhan menguatkan pijakannya, bersiap-siap akan benturan yang mungkin sebentar lagi akan membuatnya terjungkir balik. Dan di malam yang mendung itu, Xin Zhan masih dapat melihat sekelebat pantulan sesosok laki-laki dari bilah pedangnya yang berkilau. Dia segera membalikkan badan, refleks. Menebaskan lurus sejajar dengan lehernya dan berakhir hanya memotong udara.


Diam. Tak ada serangan susulan. Xin Zhan makin menaikkan tingkat kewaspadaannya. Kali ini, cara bertarung Xin Fai mungkin akan berubah lagi. Dia harus mengantisipasi itu sebelum jatuh ke dalam jurang kematian. Langkahnya mundur, pandangannya terus mengitari sekitar. Xin Zhan meningkatkan kemampuan keseluruhan inderanya. Tak ada hawa kehadiran yang dapat dia lacak selama itu dan ditambah lagi, derasnya hujan membuat pandangannya melemah. Dan juga pendengarannya ikut terpengaruh.


Sekejap gelombang suara kecil terdengar dari riak air, Xin Zhan menoleh menemukan lawannya telah berada di sisinya, dengan mata pedang bergerak ke arah wajahnya. Dia tak sempat menghindar karena serangan itu begitu cepat. Meski bisa dikatakan dalam hal refleks dia sangat bagus, dalam pertarungan kali ini, refleksnya justru tak berarti apa-apa.


Arah serangan yang seharusnya telah menusuk bola matanya meleset menancap di bahu kiri, Xin Zhan menggunakan mata pedang miliknya, berusaha melepaskan senjata lawan yang bersarang di tubuhnya. Namun tak bisa, Xin Fai berhasil membuat senjata itu menembus ke dalam hingga tulangnya merasakan sakit yang luar biasa. Tak mau membiarkan dirinya berada dalam bahaya lebih jauh, Xin Zhan berniat menjauh.

__ADS_1


Tapi terlanjur rantai-rantai yang merayap dari segala sisi menyergap tubuh pemuda itu. Mengikatnya di sekujur tubuh. Tangan dan kakinya dililit tanpa satu jengkal pun tersisa, napas Xin Zhan tersendat-sendat. Lehernya dijerat begitu erat, untuk menarik napas saja dia sangat kesulitan.


Ditatapnya Xin Fai yang kini melepaskan pedang yang tadi menancap di tubuhnya. Bola mata cokelat keemasan milik laki-laki itu kosong, tak seperti yang biasanya.


"Ti-tidak ..." ucap Xin Zhan di sela-sela napasnya yang tertahan, "... Tersisa kah sedikit saja ... Ingatan mu-"


Bola mata Xin Zhan terbuka lebar. Apa yang baru saja terjadi sehingga membuat tubuhnya tiba-tiba dingin. Matanya menangkap semburan darah meluncur tepat di depannya, bagaikan cipratan air hujan. Kaget, dia nyaris tak berkedip. Mulai merasakan rasa sakit menjalar ke lehernya.


Salah satu rantai tadi. Menembus batang tenggorokannya. Hingga tembus sempurna ke belakang, dan darah itu adalah darah miliknya. Kalut dan takut bercampur aduk. Di mata Xin Fai sekarang, Xin Zhan tak melihat sedikit pun belas kasih.


Rantai-rantai itu bergerak layaknya ular yang sedang memangsa kelinci. Ekornya melilit semakin kuat, lalu kepalanya perlahan-lahan memakan mangsa. Hingga tak satu pun tersisa darinya.


Di tengah ketakutan itu. Di belakang Xin Fai, Xin Zhan dapat melihat sesosok pemuda yang beberapa waktu lalu ditemuinya. Berjalan dengan senyuman mengukir lebar di kedua sudut bibirnya.


"Aku takut kau bahkan tak bisa berduel denganku sebelum kematian datang menjemputmu."


***


Darah mengalir dari bekas tusukan di lehernya, Xin Zhan berusaha memegang lehernya sendiri, jarinya terlihat sedikit gemetar. Namun rantai-rantai itu tak membiarkannya bergerak walau dia sudah berontak. Darah itu harus segera di tutup atau jika tidak dia akan kehabisan banyak darah. Tangan Xin Zhan berhasil terangkat ke atas, hendak menyentuh lehernya. Melawan arus tekanan rantai yang memaksa tangannya untuk kembali turun.


Saat Xin Zhan baru saja mengangkat tangan, mata pedang Xin Fai telah menembus di telapak tangannya. Dia mengerang kecil. Napasnya semakin tak beraturan terdengar, antara menahan rasa sakit yang terus menjadi-jadi dan memikirkan cara untuk lepas dari situasi terpojokkan seperti ini. Padahal belum terlewat sepuluh menit setelah Xin Fai diperangkap. Tapi, Xin Zhan sudah hampir kalah dengan mudahnya. Andai kekuatan Xin Fai masih sama seperti ketika pertama kali mereka bertarung, dia masih sedikit percaya diri dengan kekuatannya.


Dan sekarang. Hampir tak ada harapan baginya. Bahkan melepaskan diri dari rantai yang seharusnya mudah baginya menjadi sesuatu yang begitu sulit.


Saat dia mengangkat wajahnya, Xin Fai ternyata sedang menatapnya lekat-lekat. Xin Zhan tersentak, dia tak boleh menatap mata itu. Sebelum sesuatu yang lebih berbahaya terjadi.


Lantas Xin Zhan memejamkan mata. Rasa tikaman di tangannya menghilang, itu artinya Xin Fai telah melepaskan pedangnya. Xin Zhan menarik napas lega.


Lalu dia membuka matanya. Terdiam membisu, tak mampu berkata-kata lagi selain mengutuk dirinya sendiri.


Hujan Darah kembali. Ditelannya ludah, berusaha tenang di saat seperti ini dan berpikir apakah kali ini dia masih memiliki kesempatan untuk selamat seperti sebelumnya?


Satu-satunya cara agar keluar dari dimensi yang satu ini adalah menghancurkan alam kesadaran Xin Fai. Tapi jelas itu mustahil baginya, Xin Fai terlalu kuat. Kekuatan milik laki-laki utu sudah jauh dari jangkauan Xin Zhan saat ini.


Dia mulai menghitung waktu, satu-satunya kemungkinannya untuk selamat adalah jika Xin Chen dan Roh Dewa Perang datang dan mengacaukan Xin Fai di dunia nyata sehingga dia memiliki kesempatan besar untuk menghancurkan alam bawah sadar Xin Fai ketika dirinya lengah.

__ADS_1


Tapi menunggu waktu sepuluh menit, itu artinya dia harus menunggu tiga menit empat belas detik di hitung dari sekarang. Sementara tubuhnya masih terikat oleh rantai. Dan bulan darah mulai bersinar terang di atasnya. Segala sesuatu yang ada di alam tersebut berwarna merah. Menghadirkan perasaan ngeri yang mendalam, lebih terlihat seperti alam kubur. Hanya saja tak ada Iblis di sana. Selain dirinya sendiri. Dan Xin Fai beserta Dou Jin sudah dipastikan akan muncul beberapa saat lagi.


Benar saja dugaannya. Dari balik asap-asap kemerahan tercipta wujud ayahnya. Kali ini tak ada sesuatu yang mengikatnya dari belakang seperti sebelumnya. Dia berjalan sendiri. Tatapannya hampa dan kosong. Tubuhnya terus bertarung, kehilangan perasaannya.


Detik itu Xin Zhan merasa kasihan. Padahal berapa kali dia hampir mati dibuat ayahnya sendiri. Rasa sayangnya kepada sang ayah tak pernah berkurang walau setitik air pun. Jika suatu saat dia harus mati di tangan laki-laki itu, Xin Zhan tak berkeberatan. Hanya saja dia harus memastikan Xin Fai kembali ke Kota Fanlu.


Sesaat ketika dirinya sibuk berpikir, sekitarnya mulai menunjukkan pergerakan aneh. Genangan dan tanah yang lengket di tanah berdarah mulai menimbulkan tanda-tanda. Dari tanah lengket itu sesuatu mulai berdiri, membentuk wujud-wujud menyerupai manusia, tapi memiliki wajah menyeramkan disertai tanduk. Mereka sebangsa iblis. Tercipta oleh kehendak Xin Fai. Di mana dimensi itu sendiri berada sepenuhnya di tangan nya.


Xin Zhan dikerubungi oleh ratusan iblis yang mulai mencabik-cabik tubuhnya, rantai mulai merenggang tapi penyiksaan yang dia rasakan semakin menjadi-jadi. Kini tubuhnya terangkat di atas tonggak, tangannya terlilit di belakang tubuh oleh rantai. Satu per satu iblis kian ganas menggerogoti, tubuh Xin Zhan berdarah-darah. Seluruh tubuhnya terkoyak, bahkan beberapa ada yang sangat lebar.


Xin Zhan berkedip. Seketika itu, secara tak terduga iblis-iblis yang tadi menggerogoti tubuhnya hilang. Tapi bukan berarti dia selamat dari neraka yang diciptakan Xin Fai.


Tiga pedang tercipta, mengambang di udara. Xin Fai mengangkat tangannya. Saat tangannya bergerak, dengan cepat pula tiga pedang itu meluncur deras dan langsung menancap di tubuh Xin Zhan. Tak ada perlawanan.


Xin Zhan tak tahu lagi di mana harapan kecil untuknya tetap bertahan hidup. Laki-laki di depannya itu, tak mengingat dirinya. Ingatannya semakin parah. Tak ada sedetikpun Xin Zhan melihat sosok itu seperti sebelumnya, membebaskan Xin Zhan atau mengurangi kekuatannya.


Apakah Xin Fai benar-benar sudah pergi dari tubuh itu? Lelaki itu sudah mati dalam artian yang sebenarnya? Pertanyaan itu terus berulang-ulang di kepalanya. Apa yang sebenarnya sudah terjadi antara ayahnya dan Dou Jin.


Tak dirasakannya lagi nyeri dan sakit luar biasa di tubuhnya. Jantungnya mungkin sudah berhenti-atau jika dia beruntung dirinya dapat bertahan beberapa saat lagi.


Satu menit satu detik lagi. Seharusnya Xin Chen akan beralih dari Naga Kegelapan dan memastikan segel di tubuh Xin Fai. Tapi tampaknya Xin Zhan tak memiliki waktu sebanyak itu, sama sekali tak punya. Kedua sudut bibirnya mengeluarkan darah yang sangat banyak. Xin Zhan terbatuk, darah naik ke tenggorokannya, membuat napas yang dia tarik susah payah terhambat. Tak ada lagi udara yang bisa dipasoknya ke dalam paru-paru.


Paru-parunya kemungkinan bocor akibat tusukan pedang. Tiga pedang sekaligus bersarang di tubuhnya. Menyakitkan. Xin Zhan tak pernah menyangka sakitnya begitu luar biasa sampai-sampai dia bisa kehilangan kewarasan. Dibandingkan berteriak, Xin Zhan hanya bisa membisu menahan semua rasa sakit tersebut.


Menunggu ajalnya yang sebentar lagi datang. Xin Zhan setengah mati mengangkat wajahnya, darah dari mulutnya menetes bebas ke bawah tanah. Tetesan darah selanjutnya jatuh tepat di depan kaki Xin Fai.


Xin Zhan ingin sekali memanggilnya Ayah, entah untuk yang ke berapa kali. Dia berusaha tersenyum, sebaik mungkin walau pada akhirnya justru yang terjadi dia menangis. Tidak ada lagi ketakutan yang sedari tadi terpampang jelas di wajah Xin Zhan. Baginya, meski kini Xin Fai telah berbeda, dia tak akan membenci laki-laki itu. Wajah tersebut, selalu berhasil membuat dirinya merasa aman.


"A ... Ayah-" Xin Zhan memuntahkan darah sangat banyak, dia meringis.


Bibirnya bergetar. Satu pedang lain di tangan Xin Fai, kini menembus dadanya.


"Terima kasih, sudah menjadi ayah yang hebat. Kami selalu merindukan kepulangan mu. Kapan pun itu-"


Batuk Xin Zhan semakin parah, tapi menelan darah di tenggorokannya dengan paksa. Sebelum mulutnya tak mampu berkata-kata lagi.

__ADS_1


"Jika ... aku sudah tiada ... Tolong jaga Xin Chen. Seperti bagaimana aku selalu menjaganya."


__ADS_2