
Kepanikan menyelimuti seisi kediaman Klan Xin. Sejak beberapa jam yang lalu, Ren Yuan dinyatakan tak sadarkan diri atas sebab yang tak diketahui. Pembantu yang menjaganya menemukan Ren Yuan pingsan di kamarnya sendiri. Saat itu Xin Fai sedang dalam pekerjaannya, Xin Chen sendiri ke luar rumah. Sementara Xin Zhan mampir di toko untuk membeli sejumlah barang. Dia baru kembali beberapa menit setelah ibunya ditemukan pingsan.
Suara minta tolong pembantu itu mengundang banyak warga. Mereka menengok di halaman, khawatir. Memang keadaan Ren Yuan semakin memburuk dari hari ke hari. Namun bagian yang paling menyakitkannya adalah saat mereka tak tahu apa penyebab dan cara mengatasinya. Selain berdoa agar wanita itu selamat dari setiap maut yang hendak merenggut nyawanya.
Saat Xin Chen kembali, Xin Fai telah berada di dalam kamar, memeluk Ren Yuan erat-erat seolah dia akan kehilangan wanita terhebat itu selamanya. Sendu mewarnai wajah semua orang, termasuk Xin Zhan yang menunduk. Setetes dua tetes air mata jatuh, lalu bahu kakaknya itu bergetar hebat.
"Tidak mungkin ...."
Kaki Xin Chen seolah-olah dipaku di tempat, tak mampu bergerak dan melihat lebih dekat ibunya sendiri, Ren Yuan. Dia tengah terbaring. Bibirnya kering, kulitnya pucat pasi, sesekali angin dari luar jendela membelai rambut indah wanita itu. Isak tangis mulai terdengar, memancing tangis dari beberapa wanita yang ada di dalam ruangan itu.
Satu per satu keluar dari kamar bersama tangisan mereka. Hingga menyisakan hanya mereka bertiga. Keluarga Ren Yuan sendiri.
"A-apa yang terjadi ...?" Xin Chen sampai tergagap tanpa sadar, dia tahu apa yang terjadi tapi terlalu takut untuk mempercayai dugaannya.
Sialnya Xin Fai membenarkan apa yang dia pikirkan.
"Ibumu sudah tak bernapas lagi. Jantungnya berhenti. Aliran darahnya membeku."
Detik itu Xin Zhan menangis dengan terang-terangan, berteriak frustasi dan membanting segala sesuatu di atas meja. Murkanya telah sampai ke titik di mana dia amat siapa pun yang menakdirkan ini semua. Ibunya pergi di saat mereka telah utuh. Hanya diberikan satu hari untuk bersama. Padahal pagi tadi Xin Zhan pergi ke pasar menyiapkan bahan makanan untuk pesta makan malam. Hanya mereka berempat. Tak terbayangkan akan menjadi kenangan terindah untuknya.
Takdir kadang bercandanya berlebihan. Yang diberinya sekarang hanya kenangan menyakitkan bahwa Xin Zhan pernah merencanakan makan malam itu dan maut merenggut wanita itu dari mereka.
Bagaikan dihantam besi berton-ton beratnya, seluruh tulang Xin Chen seakan jatuh ke tanah. Dia jatuh, berlutut kedua kaki. Gemetar di tangannya semakin kencang. Xin Chen baru menyadari baru pertama kali sejak sekian lama tubuhnya bereaksi demikian. Bahaya semengerikan apa pun tak akan membuatnya gemetar seperti ini. Entah sebuah pertanda.
Mata biru itu menatap lama. Memahami ucapan Xin Fai dengan seksama. Namun tak ada yang berubah. Dia hanya menemukan Ren Yuan telah tiada.
"Tidak mungkin, tidak mungkin."
"Tidak mungkin apanya?!" Xin Zhan naik darah, napasnya berantakan. "Seharusnya kau di sini menjaganya! Aku sudah bilang padamu, setidaknya jaga ibu sebentar selagi aku pergi ke pasar!"
"Kenapa kau menyalahkanku? Ibu menyuruhku berkeliling-"
__ADS_1
"Berhenti kalian berdua-" Xin Fai berusaha melerai, merasa sakit saat melihat kedua anaknya bertengkar bukannya saling merangkul.
"Aku sudah menyuruhmu, Xin Chen! Aku menyuruhmu untuk tetap tinggal dan menjaganya! Sehari pun tidak bisa?! Aku menjaganya sendirian bertahun-tahun, semuanya baik-baik saja. Dan kau ..." geramnya dengan gigi bergemerutuk. Gemuruh di dadanya kian mengganas.
"Kau sekarang berlagak seperti pahlawan? Kau sadar situasi sekarang seperti apa?"
"Ibu sudah tiada, kau puas?!"
"Xin Zhan!" Xin Fai naik pitam. Putra pertamanya kian meradang.
"Siapa yang mengatakan ingin pergi ke Kekaisaran Wei, ha? Siapa? Kau ingin menyelamatkan ibu? Lihat, apa yang kau harapkan sekarang? Ibu memang sudah tak memiliki harapan untuk bertahan lebih lama bersama kita, Xin Chen! Lalu kau menyia-nyiakan waktu yang kau punya, hanya untuk harapan bodohmu itu-"
Xin Zhan tak mampu meneruskan kalimatnya, air mata tumpah sudah. Mencoba membentak lagi pun yang terdengar darinya hanya Isak tangis yang begitu menyakitkan.
Xin Chen kembali tak percaya. Sekarang dia baru tahu mengapa dua orang itu memaksanya untuk tetap tinggal selama dua bulan. Karena mereka tahu umur Ren Yuan sudah tak lama lagi. Dan satu-satunya pilihan mereka hanyalah menghabiskan waktu lebih banyak bersama Ren Yuan. Hanya itu. Mungkin itu jugalah yang menjadi alasan mengapa terkadang Xin Chen melihat ayahnya menangis di tengah malam.
Xin Chen menggeleng sambil berjalan mundur, "Kenapa tak mengatakannya sedari awal?"
"Chen'er, terkadang ada sesuatu yang tak bisa kita perjuangkan. Kita manusia, takdir bermain dengan aturannya sendiri." Xin Fai terlalu putus asa untuk menjabarkan hal yang sudah di luar kuasanya. Satu-satunya kalimat yang dia gunakan untuk menenangkan Xin Chen hanyalah sebuah janji bahwa mereka sedang mencari obat untuk Ren Yuan.
"Tidak dengan kematian, Chen'er."
Debat telah habis. Kali ini Xin Chen kehabisan pembelaan. Air matanya tak mau berhenti turun, ini terlalu menyakitkan sampai-sampai kepalanya akan pecah memikirkannya. Dan menerima bahwa Ren Yuan tak lagi bersama mereka.
Pedang Iblis kehilangan sosok yang selalu berjalan di sisinya, dan dua anaknya kehilangan seseorang yang memberikan kehangatan dan kasih sayang sempurna kepada mereka. Di luar sana semua orang telah memenuhi kediaman. Berita tentang kematian Ren Yuan menyebar.
Ketiganya masih tak percaya. Linglung. Tak bisa menerima kenyataan. Beberapa orang datang tapi pikiran Xin Chen kosong.
Hanya ada sosok ibunya yang kini dikelilingi sejumlah tabib dan orang-orang penting. Dia mundur. Dan menghilang dari rumah.
Xin Fai memejamkan mata. Semua orang tahu, di saat-saat seperti ini dirinyalah yang paling terpukul. Dia berusaha menahan sesak di dadanya. Sakitnya terlalu mengerikan. Dan di saat-saat seperti ini, dia juga kesal akan sikap anak keduanya. Bagaimana bisa Xin Chen pergi ketika ibunya sedang membutuhkannya. Untuk sekedar melihat terakhir kalinya, atau memberikan kalimat terakhir sebelum bidadari itu dikebumikan.
__ADS_1
Semua orang mulai mempertanyakan sikap Xin Chen. Dan di saat yang sama pula Ren Su datang berhamburan bersama pengawalnya. Dia memutari sekitar dan tak menemukan Xin Chen. Jelas saja dirinya langsung menemukan bahan cemoohan baru.
Koar-koar dimulai. Seakan tak peduli dengan kematian Ren Yuan yang sebentar lagi akan diumumkan.
Jalan berdebu membawa hawa panas ke setiap pejalan kaki yang melintas. Mereka menutup mulut rapat-rapat saat debu makin menyebar sebab seekor siluman hitam berlari heboh ke segala arah. Mencari majikannya yang pergi entah ke mana.
Lama mencari tak ketemu, Ye Long terbang tinggi di langit, mencari-cari keberadaan Xin Chen dari atas agar lebih jelas. Dan dia baru menemukan pemuda itu setelah beberapa menit terbang. Di sebuah perbatasan kota, menerjang kawanan penjaga dan aparat kota. Menimbulkan perkelahian.
Bukan seperti Xin Chen yang biasanya.
Ye Long hanya tahu, Xin Chen benar-benar hancur sampai dia tak peduli lagi dengan sekitarnya. Dia hanya ingin menyelamatkan orang yang berharga baginya. Namun jalan yang ditempuhnya dipenuhi bara api.
Ye Long turun, mengeluarkan suara lengkingan sangat tinggi sampai semua penjaga yang menghalau Xin Chen mundur menutup telinga masing-masing.
Ye Long mengepakkan sayap, memberikan ancaman kepada siapa pun yang berani menghalau. Xin Chen berteriak. "Lepaskan tahanan yang bernama Luo Li, aku membutuhkannya sekarang. Ini darurat!"
"Kami tidak bisa, Tuanku!"
"Meskipun aku anak dari Pedang Iblis?" Baru pertama kali Xin Chen menggunakan nama tersebut untuk meminta bantuan.
"Sebentar," tahan seseorang yang baru sampai. Perawakannya seperti seorang ksatria, senjata dan baju perang lengkap disertai pedang panjang di sisi kanannya.
"Jika hanya berbicara, masuklah ke dalam."
"Tapi, ketua? Bukankah level bahaya dari orang bernama Luo Li ini sudah masuk kategori tingkat atas?"
"Aku takut karena tidak membantunya, aku akan menyesal di kemudian hari. Dia telah menolong banyak orang. Hanya hal sesepele ini saja kau tak mampu mengulurkan tangan?"
Xin Chen sangat membutuhkan bantuan itu saat ini dan begitu berarti baginya. Hingga dia masuk di sebuah ruangan di mana Luo Li sedang diinterogasi oleh tiga orang Pejuang.
**
__ADS_1
Itu yang bilang author ngiris bawang kebanyakan, kalian ndak tau saya nangis juga nulisnya?
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜