Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 226 - Kapal Miring, Kapten!


__ADS_3

"aishh ke mana perginya kadal albino dan cicak terbakar itu? Dicari-cari tidak ketemu, minta digampar satu-satu," celoteh seorang laki-laki dengan jubah merah bercampur emas, begitu sulit hidup yang dilaluinya sampai menarik napas saja sudah membuatnya kesal.


"Di saat seperti ini, ke mana kau Chen'er-?" Tatapannya jatuh pada pintu rumah yang diikat oleh jalinan tali-tali kerang. Menarik napas dalam sebelum sesuatu mengejutkannya, dia hampir terjungkal.


"Kapten!!"


"Ya ampun-" Xin Fai benar-benar kaget, tak merasakan hawa kehadiran itu. Tiba-tiba saja sudah ada di depan hidungnya. Dia hampir terjatuh saat Xin Chen mengatakan sesuatu dengan keras.


"Kapal miring, kapten!"


"Aisshhh kau pulang juga, langsung patah pinggang ayahmu kau buat." Xin Fai tak jadi terjatuh karena Xin Chen menahannya sambil menahan tawa yang mulai membuat perutnya keram.


"Aku kira kau tak akan kembali dalam waktu dekat, syukurlah kau datang."


Xin Fai melemparkan senyuman hangat, seperti biasanya. Satu hal yang sangat Xin Chen rindukan dari sosoknya.


"Aku mengkhawatirkan kalian, ternyata semuanya ditangani dengan cepat."


Mereka duduk saling berhadapan di sebuah meja kecil sederhana, sinar matahari yang kekuningan masuk melalui celah-celah jendela kayu. Xin Fai menjelaskan beberapa lama kemudian.


"Saat Kaisar Qin mendengar informasi yang kau berikan terkait Qin Yujin dan pergerakan yang dilakukan oleh Kaisar Shi, dia mempersiapkan banyak hal. Dan seperti yang kau katakan, 'kiamat' itu benar-benar terjadi."


"Benarkah?"


Ren Yuan menambahkan, "Saat ini pihak medis dan ahli obat telah diarahkan untuk menciptakan ramuan penawar virus, meski belum dapat menyembuhkan mereka yang terkena namun Yue Ling'er berhasil menciptakan satu ramuan yang sangat berguna untuk masa-masa seperti sekarang," jelas Ren Yuan terpotong, Xin Chen menyahut. "Ramuan yang berguna?"


"Obat untuk memperlambat pergerakan terinfeksi ini. Disebarkan melalui udara, untuk misi penyelamatan ini akan diperlukan."


Xin Zhan ikut memperjelas, "Saat ini Kaisar Qin sedang fokus untuk menyelamatkan masyarakat kita yang terjebak dan berniat memindahkan ke cabang-cabang Perlindungan Awan. Setiap Kota dan Desa memiliki tempat seperti ini meski belum semua. Yang Mulia mengambil tindakan serius atas informasi yang kau dapatkan sebagai Pilar Bayangan."


Xin Chen bahkan tak menyentuh sup hangatnya yang telah mendingin hanya untuk mendengar penjelasan tersebut.


"Kerja bagus, anakku."


Pujian itu keluar dari mulut Ayahnya, cengiran khasnya terpampang di wajahnya.


Xin Chen menunduk, ada kesedihan di wajahnya. Yang pertama kali menyadarinya adalah Ren Yuan. Wanita itu bertanya lembut, "ada apa, Chen'er?"


"Tidak ... Hanya saja," ujarnya tertahan, seperti ada sebuah batu besar yang menyumbat tenggorokannya.


"Di luar sana semua orang menyalahkanku, aku tak mampu melindungi kalian dan orang-orang Kekaisaran Shang. Begitu pun menghentikan Qin Yujin. Untuk apa memujiku seperti itu, aku semakin merasa tak berguna."


Xin Fai sungguh terkejut mendengarnya.


Telah lama tak berada di sisi Xin Chen membuatnya lupa banyak hal dilalui putranya itu dan mengubah sebagian besar cara berpikirnya.


"Sejak kapan kau membebankan semua hal ini di pundakmu?"


Xin Fai mengakuinya, dia juga pernah merasa demikian. Merasa tak berguna padahal dirinya yakin dapat melakukan sesuatu.


"Kematian orang-orang bukan sepenuhnya salahmu. Kita semua gagal, bukan hanya kau. Berhenti berpikir bahwa semua orang akan menyalahkan mu karena semua hal yang terjadi. Tak ada yang menyalahkanmu, Chen'er."


Tanpa Xin Fai sadari sebelah tangan putranya terkepal erat.

__ADS_1


"Jadi apa yang aku dengar dari mulut mereka hanya ilusi."


Xin Chen mengingat betul tiga orang wanita yang tadi membicarakannya dan menyalahkannya akibat perbuatannya membunuh Kaisar Shi.


Xin Fai tersenyum pahit. Ternyata omongan itu telah lebih dulu sampai kepada Xin Chen. Sebagai Ayah, dirinya juga merasakan sakit yang sama saat anaknya di perlakukan demikian. Dia tahu Xin Chen sedang berusaha melindungi.


"Chen'er, lihat Ayahmu."


Kali ini Xin Fai bahkan tak yakin putranya yang keras kepala itu akan mendengarkannya.


Terakhir kali saja, Xin Chen membangkang padanya tanpa ampun. Membuatnya gagal menjadi ayah yang baik.


Kepala itu menoleh ke padanya, Xin Fai diam beberapa lama sama seperti Ren Yuan dan Xin Zhan.


"Apa yang ingin ayah katakan?"


Baru pertama kali rasanya Xin Chen benar-benar meminta pendapatnya, laki-laki itu sampai berkaca-kaca. Dia menyembunyikan haru itu segera.


"Lihat, ayahmu, ibumu dan kakakmu. Kita adalah keluarga paling bahagia di muka bumi ini, jadi kau jangan bersedih. Jika mereka membencimu, maka kau masih memiliki banyak orang yang menyayangimu. Itu dikatakan sebagai keseimbangan."


"Kau mengerti?"


"Sepertinya."


Seseorang mengetuk pintu dengan tergesa-gesa, saat itu Xin Fai langsung cepat berdiri dan membukanya. Melihat satu orang pria pembawa kabar datang, segera berucap saat pintu terbuka.


"Laporan! Tim tiga yang kita kirim habis terbunuh di barat Kota Jungi. Pelakunya sudah dipastikan adalah Serigala Malam."


Xin Fai menggemerutukkan giginya dengan geram. Akhir-akhir ini tensi darahnya cepat naik ketika nama organisasi itu disebutkan, tak menyangka nama itu akan kembali keluar dengan tewasnya satu tim terbaik yang dikirimkan untuk mengevakuasi belasan orang tersisa di Jungi.


Xin Fai tak memiliki waktu untuk beristirahat, dia segera mengemas beberapa barang. Sempat menoleh ke belakang, lebih tepatnya pada istrinya. "Maafkan aku, aku harus pergi lagi."


"Ke mana?" Xin Zhan berdiri, mereka telah berjanji malam ini akan mengadakan makan malam bersama Xin Xia dan saudara yang lain. Namun mengharapkan sosok Pedang Iblis membagi waktu kepada mereka adalah permintaan yang sulit.


Saat ini semua orang membutuhkan Pedang Iblis. Dia bergegas, "Aku akan kembali. Chen'er, sebaiknya kau temui Kaisar Shi dan melaporkan beberapa hal yang kau temui di Kekaisaran Wei. Ingat posisimu sebagai Pilar Bayangan, lakukan tugasmu dengan baik."


Xin Fai menghilang. Xin Chen mengangguk, hingga keheningan merayap di antara mereka. Ren Yuan duduk sambil menuangkan minuman dan makanan ke piring.


"Makanlah, anak ibu sudah besar-besar. Apa perlu ibu menyuapi kalian?" Tawa kecil terlihat di wajahnya, Xin Zhan tertawa kecil.


"Anak kesayangan ibu saja, dia sepertinya semakin kurus gara-gara memakan rumput kering di luar."


"Hahhh? Ulangi lagi." Xin Chen mendadak jengkel. Mana bisa dia mempertahankan sikap tenangnya kalau mulut tajam Xin Zhan mulai menyakiti perasaannya.


"Oh, ternyata kambing ini bisa bicara. Berapa hari kau tidak mandi sampai baumu tercium sampai kota seberang?"


"Sudahlah Zhan'er, kau membuatnya marah," tawa Ren Yuan. Xin Zhan tak peduli sampai dia melihat sepasang kaki di depannya. Menengadah, yang ada dia menemukan satu orang yang tengah marah.


"Marah begitu tak akan membuatmu mengerikan, Chen. Tampangmu sudah seperti prajurit belum digaji saja. Duduk."


Xin Chen duduk, tak menyangka semudah itu diejek saudaranya. Dia mengeluarkan satu barang dari sakunya, sebuah tusuk rambut yang diukir dengan lambang klan Ren di bagian sampingnya.


Ren Yuan menerimanya terkejut, "bukankah ini milik-

__ADS_1


"Benar, Bibi Ren Su."


Xin Zhan terdiam sesaat. "Di mana dia sekarang?"


"Dia terlibat dalam rencana besar yang dibuat Qin Yujin. Dia mati di Laboratorium Baru karena tertancap pedang."


"Chen'er, kau membunuhnya?"


Ren Yuan tak siap mendengarkan jawaban Xin Chen, pemuda itu membalas tatapan Ren Yuan. Tahu apa yang ada di dalam pikiran ibunya.


"Tidak, dia berlari dan jatuh di atas sebuah pedang yang tertancap ke atas."


Ren Yuan memperhatikan lamat-lamat tusuk rambut di kedua tangannya, ada sendu di wajahnya yang tak bisa digambarkan. Bagaimana pun Ren Su masih saudarinya yang begitu disayangi oleh ayah ibunya, meski tak mewarisi darah klan Ren secara langsung.


"Apakah kau menguburnya dengan baik?"


Sialnya, Xin Chen lupa soal itu.


"Sepertinya orang-orang Kekaisaran Wei melakukannya untuk jasadnya." Dia buru-buru mengganti topik pembicaraan, "Seperti kata Ayah aku harus menemui Yang Mulia segera. Tak boleh ada waktu yang terbuang."


"Chen'er," panggil wanita itu.


Xin Chen menoleh sebelum pergi. Dia sedikit terburu-buru.


"Pakailah ini."


Xin Chen menerima pemberian itu. Sebuah jubah hitam yang dibuat langsung oleh Ren Yuan, berbulan-bulan lamanya membuat pakaian itu sebelum dia memberikannya pada Xin Chen. Ada kebahagiaan tersendiri di wajah Ren Yuan saat melihat putranya menerima pakaian itu.


"Kakak Zhan?"


Xin Zhan menutup matanya, menunjuk ke belakang di mana sebuah jubah yang sama digantung.


"Kita sudah seperti kakak adik paling romantis, gelang sama, baju sama, muka sama."


"Tapi setidaknya aku tidak sebodoh dirimu."


"Kau juga bodoh berarti."


"Sudah-sudah jangan bertengkar, Chen'er, kau lupa dengan tugasmu? Pergilah, Yang Mulia mungkin sedang menunggumu. Dan Zhan'er, biar ibu yang selesai kan pekerjaan di rumah. Pergilah bersama adikmu, kau bilang kau juga punya urusan sebentar lagi."


Jika Ren Yuan yang menyuruh Xin Chen dan Xin Zhan tak dapat mendebat.


"Ibu, boleh minta tolong satu hal?"


"Apa itu, Chen'er?" Ren Yuan ikut berdiri.


"Seseorang bernama Fu Hua ... Dia sekarat. Dia telah menyelamatkan nyawaku dua kali, aku ingin ibu menyembuhkannya. Karena ibu adalah ahli obat terbaik yang kutahu. Dia mungkin berada di tenda dekat pelabuhan."


Ren Yuan dapat mengingat siapa gadis itu, meski hanya sebagian kecilnya saja. Dia mengangguk.


"Tak perlu khawatir."


Xin Chen bisa pergi dengan tenang. Bersama Xin Zhan yang pastinya banyak mempersoalkan semua hal di perjalanan sampai telinganya berdenging.

__ADS_1


'Aku yakin kalau dia menikah pasti istrinya mati kutu mendengar omelan nya ini.'


__ADS_2