Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 236 - Enam Tuan Rumah VIII


__ADS_3

"Zian'er, kau tidak apa-apa?!"


Panik, Lian Ning berusaha mencapai tempat Zian Ning yang pingsan tak sadarkan diri. Namun sebelum itu terjadi Kera Kuning lebih dulu menghalau dengan melepaskan tendangan menyakitkan yang membuat Lian Ning memuntahkan darah dari mulut.


"Zian ..." Lian Ning terpental menghantam sebuah batu besar, dia menopang tubuh dengan sebelah tangan, tapi tiba-tiba Kera Kuning sudah berjongkok di atas punggungnya. Melompat lalu menginjak telapak tangan. Jika hanya injakan biasa, Lian Ning tak akan menjerit sekeras yang dia lakukan sekarang. Injakan itu disertai hempasan kuat dengan dialiri tenaga dalam. Retak besar terlihat di bawah tangan Lian Ning karena begitu kuatnya tekanan dari kaki Kera Kuning.


Zian Ning kesusahan untuk bernapas, dia mencoba bangun. Tak bisa melihat jelas apa yang terjadi di sekitarnya.


Namun melihat Lian Ning sedang disiksa oleh lawan, seketika hatinya tidak terima. Zian Ning mengeluarkan panahnya, senjata yang ditakuti oleh musuhnya. Zian Ning begitu ahli dalam hal memanah. Selain itu kecepatan dan daya serang dari senjata itu tak bisa diragukan lagi. Dia pernah membunuh kepala kelompok penjahat kelas dengan hanya satu bidikan, tak lebih.


Kuda-kudanya sudah mantap, Zian Ning menarik busur sambil membidik ke arah Kera Kuning yang masih fokus dengan Lian Ning. Satu tembakan dilepaskan lalu mata anak panah tersebut melesat cepat, mengarah ke balik punggung sosok tersebut.


"Kena!" Zian Ning mengepalkan tangan, tapi seketika ekspresinya berubah tegang. Panah yang seharusnya begitu tajam dan cepat itu memantul saat tiba di tubuh Kera Kuning. Sementara injakan di tangan Lian Ning telah berhenti sesaat akibat gangguan.


Kera Kuning menoleh sedikit ke belakang dan melihat Zian Ning telah bangun


"Lupakan soal kau dulu, aku akan menghabisi adikmu yang menyebalkan ini."


Dia melakukan sebuah jurus, kedua tangannya mengatup bersamaan.


"Kitab Tanah Suci - Kungkungan Kayu."


Hendaknya Lian Ning berlari sejauh mungkin tapi terlambat, sebuah penjara kayu muncul dari bawah tanah dan seketika mengurung pemuda itu. Lian Ning mencengkram kayu-kayu tersebut, berteriak.


"Lepaskan aku!"


"Lihatlah pertarungan adikmu dan pastikan kau tak melewatkan bagian kematiannya," sinisnya. Cengkraman tangan Lian Ning semakin erat, di matanya dia dapat melihat adiknya sedang bersiap untuk pertarungan tak diduga. Dia tak yakin adiknya itu mampu menghadapi Kera Kuning sendirian karena bagaimanapun dilihat Zian Ning tak setara dengannya.


"Sial, kau pengecut! Takut menghadapi kami secara bersamaan, ya?!" Lian Ning mendobrak kungkungan itu tapi terdapat sebuah segel kuat yang membuat kayu itu tak bisa dihancurkan.


Zian Ning berdiri kaku di tempat, bulir keringat turun membasahi pelipisnya.


'Pertarungan jarak dekat dengan orang ini sangat tidak menguntungkan untukku. Dia menguasai teknik bela diri yang menakutkan. Selain itu... Kitab Tanah Suci yang dia sebutkan barusan, bukankah itu adalah salah satu kitab hebat yang katanya dicuri dari Kekaisaran Qing?'


Zian Ning mencoba menganalisa lebih jauh soal musuhnya tapi Kera Kuning tak berniat memberikannya waktu untuk berpikir. Segera saja sebuah serangan masuk, Kera Kuning melompat sangat gesit. Pergerakannya secepat kilat, sering menghilang tiba-tiba dan muncul di tempat tak terduga.

__ADS_1


Zian Ning membuka mata lebar-lebar, tiba-tiba saja sebuah tangan dengan bola cahaya berwarna kuning tiba di depan mukanya. Gadis itu menahan dengan kedua tangan kosong, kakinya termundur hingga akhirnya jatuh terlempar puluhan meter. Bola kuning tersebut meledak di tempat Zian Ning terpental.


Tak habis sampai di sana saja, Kera Kuning datang dengan serangan tinju yang mematikan.


"Kitab Tanah Suci - Tinju Harimau Besi!"


Bahkan sampai garis-garis angin terlihat jelas dari balik jari-jari Kera Kuning, tinjunya menjadi sekeras besi dan tak usah diragukan lagi apa yang terjadi jika serangan itu mengenai Zian Ning. Paling beruntung saja tulang rusuknya hanya hancur tiga.


Zian Ning menghindar secepat yang dia bisa, melangkah mundur dengan gegabah. Tapi gadis itu tak peduli lagi, dia harus menjaga jarak sejauh mungkin dari Kera Kuning. Lawannya telah menunjukkan perbedaan kekuatan yang begitu besar di antara mereka.


"Kau takut, hmm?"


Zian Ning yang tengah berlari kaget setengah mati ketika melihat seseorang telah menyamai langkahnya, bahkan bisa berlari lebih cepat dari pada dirinya. Tengkuknya dingin, Zian Ning menghentikan langkah tiba-tiba. Memutar balik arah dan membidik panah sambil berlari.


Kera Kuning lolos dari bidikan panahnya, Zian Ning menarik lagi kali ini dengan dialiri tenaga dalam di tangannya. Tembakan tersebut bergerak berliku, berputar dan sulit ditebak. Kera Kuning melompat saat panah itu menukik tajam ke bawah.


Begitu mudah menghindar serangan milik Zian Ning membuat Kera Kuning bosan.


"Apa-apaan aku harus melawan dua bersaudara bocah ingusan. Satu anak panahmu bahkan tak mampu mengenaiku. Pilar Kekaisaran seperti kalian seharusnya tidur di rumah dan mendengarkan dongeng pengantar tidur saja. Bertarung di sini tak ada gunanya, kalian tak mengubah apa-apa."


Ucapan selanjutnya menusuk Lian Ning dan Zian Ning. "Selain mati dan menjadi sampah Pilar Kekaisaran."


"Pertama, kami tak mempunyai orang tua dan tak pernah dibacakan dongeng tidur."


Mata Zian Ning tertutup oleh bayangan gelap, terlihat begitu marah dan masih mengubur emosinya. Saat dia mengangkat wajah tampak jelas murka tengah melalap sisa kewarasannya.


"Kedua, jangan samakan Pilar Kekaisaran dengan sampah seperti kalian!"


Kera Kuning tertawa singkat, masih setia mendengar gadis itu menyeloteh.


"Dan terakhir ... Kau yakin hanya satu anak panah?"


Kera Kuning tak bereaksi apa-apa, tak ingin terlihat gentar di mata lawannya yang memang tak akan sepadan jika disandingkan dengannya. Tapi di sisi lain dia mulai menyadari sebuah pergerakan yang tak biasa sedang meluncur ke arahnya.


"Kau hanya tahu aku sebagai pengguna senjata panah, jangan berlagak seakan kau tahu semua kekuatan ku!"

__ADS_1


"Meledak!"


Kera Kuning mundur tapi sudah tak ada waktu untuknya, tiba-tiba saja enam panah datang dari kanan dan kiri, menyerbu seluruh tubuhnya. Menghancurkan armor yang tersembunyi di balik jubahnya.


Kera Kuning mundur beberapa langkah, cukup terkesima.


"Heh, sekali lagi. Kau bahkan tak mengenaiku."


Kera Kuning melepas jubah hitamnya, lalu besi-besi di tubuhnya jatuh berserakan. Ketika Zian Ning melihat tubuhnya, Kera Kuning benar-benar tak mendapatkan luka walau segores pun.


"Sudah cukup main-mainnya, aku akan langsung membunuhmu."


"Kitab Tanah Suci - Tinju Harimau Besi."


Jurus yang sama, tapi kecepatan dan kekuatannya jauh berbeda dari sebelumnya. Zian Ning sampai tak sempat menggerakkan kakinya dan tiba-tiba saja lehernya sudah dicengkeram. Kakinya menggantung di atas udara.


Topeng kera itu sudah berada di depannya. Zian Ning membalas dengan mencengkram tangan musuh meski tak memberikan dampak apa-apa.


Tulang lehernya berbunyi retak, tubuh Zian Ning kehilangan daya dalam waktu singkat. Sakit mendera seluruh tubuh gadis malang itu.


Telapak tangan Kera Kuning tengah bersiap meluncurkan serangan berikutnya, salah satu jurus terkuat dari Kitab Tanah Suci.


"Kitab Tanah Suci - Tapak Pembunuh!"


Zian Ning terpental sangat jauh, darah bercucuran di kepala dan mulutnya. Gadis itu bahkan telah berhenti bernapas semenjak Kera Kuning mencekik lehernya.


Lian Ning yang masih dikurung berteriak sekencang-kencangnya, dia berusaha melepaskan diri. Matanya melotot, melihat adiknya terbujur tak berdaya di sana sementara yang dirinya lakukan adalah menonton seperti orang bodoh.


"Tidak ... Tidak ... Bertahanlah Zian'er!"


"Seperti yang kubilang. Apa kau melihatnya baik-baik, kematian adik tercintamu?"


"Keparat!!!"


Kungkungan kayu itu seketika hancur oleh sebuah kekuatan yang membludak secara besar-besaran, Kera Kuning mundur sigap. Cahaya kuning melunjak ke atas, meledakkan apa pun yang ada di sekitarnya

__ADS_1


Bahkan Xin Fai yang saat itu masih bertarung melawan Gajah Abu-abu sempat teralihkan oleh kekuatan yang sangat dahsyat itu.


"Jangan-jangan Lian-" Raut wajahnya berubah khawatir.


__ADS_2