Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 145 - Sebuah Kebohongan


__ADS_3

Komandan Fraksi Militer Pusat menunggu cukup lama untuk jawaban Xin Chen, wajahnya tampak rumit. Pastinya memang hal sulit mempertimbangkan kepercayaan orang-orang Pelindung Malam dan kesempatan untuk sampai pada tujuannya.


"Aku menyetujuinya."


Jawaban yang memuaskannya itu mencetak senyum lebar di wajah pria itu.


"Kau mengambil keputusan yang tepat. Ini juga tentang keselamatan penduduk Kekaisaran Wei, dalam artian kau bukan hanya membantuku tapi juga membantu orang-orang di luar sana."


Komandan Fraksi Militer Pusat mengulurkan tangan.


"Kembalilah dalam waktu tiga hari. Kita bertemu di jembatan bawah tanah, rekanku yang lain akan memberitahukanmu posisinya."


Xin Chen menyambutnya.


"Lalu bagaimana dengan keinginanmu? Aku juga belum mengetahuinya. Katakan."


Xin Chen menjeda sejenak sebelum mengutarakan tujuannya ke Kekaisaran Wei. Pemuda itu menatap Komandan Fraksi Militer Pusat beberapa detik sebelum bicara.


"Aku ingin ke Sentral Pusat."


Komandan Fraksi Militer Pusat terdiam, menyahut sedikit terkejut setelahnya. "Sentral Pusat-?"


"Kau bisa mengantarkanku ke sana, kan?"


Komandan Fraksi Militer Pusat tampak gelisah, antara cemas dan sedikit tak mampu untuk menjelaskannya pada Xin Chen.


"Ini adalah tawaran yang sulit." Dia menjelaskan. "Jalan untuk ke Sentral Pusat memang dijaga sebagiannya oleh orang-orang ku. Tapi bukan berarti aku punya kuasa untuk mengeluarkan dan memasukkan orang. Aku tak memiliki hak spesial itu. Yang memilikinya adalah orang yang jauh di atasku. Ini terlalu beresiko untuk Fraksi Militer Pusat."


Kecewa terlihat di wajah Xin Chen, "Jadi Kerjasama kita batal?"


Komandan Fraksi Militer Pusat menahan, berbicara dengan wajah tegas.


"Aku bisa mengusahakannya. Meski ini akan mempertaruhkan nyawaku sekalipun. Sama seperti kau turun ke Laboratorium B-1, kau juga mempertaruhkan nyawamu di sana. Kita impas."


Usai pembicaraan tersebut Wen kembali datang dan mengantarkan Xin Chen ke sebuah ruangan, mengambil kotak kecil berisi vaksin.


"Ada tiga di dalamnya. Sementara vaksin ini sulit untuk dibuat, jadi kau harus menghematnya kawan. Kalau mau lebih aku punya permen untukmu."


Wen menyodorkan permen pada Xin Chen yang hampir tak percaya.


"Eeeh, aku bukan anak kecil." Xin Chen membalasnya, "lagipula mana ada laki-laki berumur empat puluh tahun menyimpan permen di dalam sakunya."

__ADS_1


Wen tertawa begitu heboh sambil menepuk-nepuk punggung Xin Chen. Pemuda itu hampir saja terbalik dibuatnya.


"Hahaha, kau benar juga. Tapi jangan salah paham."


Wen menatap permen di tangannya dengan senyum yang berubah menjadi sendu.


"Suatu saat nanti ketika akhirnya aku bisa menemukan anak-anakku, aku akan memberikannya pada mereka."


Xin Chen memperhatikan lamat-lamat wajah Wen, sama seperti Tiga, semua orang kehilangan keluarga yang disayanginya. Dia pernah merasakan hal itu dan benar-benar dibuat tak berdaya oleh keadaan. Tangannya menepuk pundak Wen sedikit keras.


"Ayolah, jangan menangis, Wen. Sebagai Ayah kau harus cukup kuat untuk memperjuangkan mereka."


"Pernah mendengar sebuah kalimat, seorang pria menangis bukan karena lemah, dia menangis karena dia kuat terlalu lama."


Xin Chen sedikit terbayang ketika melihat Ayahnya menangis di tengah malam, ketika semua orang sudah tertidur. Ada hanya duduk di halaman rumah sendirian. Dia begitu kagum dengan sosok seperti mereka, juga termasuk Wen.


Lelaki itu merangkul Xin Chen. "Sudah, sudah. Kita harus segera keluar. Orang-orang Pelindung Malam akan curiga jika kau berada di sini terlalu lama."


Wen sempat menawarkan ingin mengantarkan Xin Chen sampai ke tujuan, tapi Xin Chen khawatir anak buah Yu akan melihat dan menyadari hal tersebut.


Dia kembali ke Perkemahan Tenggara, disambut oleh muka terkejut Yu dan Lang.


"Akhirnya kau pulang juga!" Lang setengah menjerit, dia langsung melemparkan beribu pertanyaan.


"Istirahatlah sejenak. Kita akan membicarakan ini setelah kau pulih."


Xin Chen tak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan Yu. Dia segera kembali ke tendanya. Malam datang dengan cepat, Yu menyingkap penutup tirai Xin Chen, memanggilnya keluar dan makan.


Puluhan orang duduk mengitari api unggun setinggi dada orang dewasa. Makan bersama menghadapi hari-hari yang semakin tidak mungkin di Kekaisaran Wei. Canda tawa terdengar dari mulut-mulut mereka, Yu menyenggol lengan Xin Chen.


"Kau sampai ke rumah tabib itu?"


Xin Chen menggeleng. "Tidak."


Sepertinya laporan yang masuk kepadanya benar adanya, wajah Yu tampak bersalah.


"Kalian diserang terinfeksi?"


"Aku berduka untuk temanmu yang sudah tiada."


Terjadi hening di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Lalu bagaimana kau bisa selamat?" Pertanyaannya itu akhirnya keluar juga, Xin Chen mulai mengarang selogis mungkin untuk menutupi kebohongannya. Yu adalah tipe orang yang pemikir, dia sulit dikelabui.


"Saat aku jatuh sekelompok masyarakat datang, mereka bersenjata."


"Baju mereka?"


"Baju biasa."


Yu mengangguk kecil berkali-kali. "Kemungkinan kelompok lain di luar sana, selain Perkemahan Tenggara masih ada kelompok bertahan lain yang hidup di tempat ini."


"Mereka juga mengatakan demikian."


Tak ada sahutan untuk beberapa lama, tapi wajah Yu tampak serius setelahnya.


"Akhir-akhir ini terjadi bentrok antara Pelindung Malam dan Fraksi Militer Pusat. Orang-orangku tumbang, jumlahnya sekitar sembilan orang. Sangat disayangkan."


Tanpa ditanya Yu melanjutkan, dendam tampak jelas di kedua matanya.


"Salah satunya adalah tangan kananku. Kami sudah cukup muak kehilangan rekan-rekan kami akibat keegoisan mereka. Kali ini persediaan senjata kami dirampas oleh mereka."


"Ngomong-ngomong senjata itu kalian dapatkan dari mana?" Xin Chen menunjuk pada pembidik yang kelihatan mirip dengan senjata milik Fraksi Militer Pusat.


"Kami mendapatkannya dari orang-orang Fraksi Militer Pusat yang telah mati. Tapi itu tetap hak milik kami. Kami berhak untuk hidup."


Konflik di antara kedua kubu ini begitu rumit.


"Kami merencanakan penyerangan ke markas besar Fraksi Militer Pusat dalam tiga hari. Kau ikut?"


Pertanyaan yang langsung membuat Xin Chen terdiam cukup lama, di waktu yang sama dia akan bertemu dengan Komandan Fraksi Militer Pusat. Waktu yang saling bertabrakan. Wajah Yu berubah curiga.


"Atau kau sudah terpengaruh oleh pemikiran luar. Kau berpihak pada siapa? Orang-orang berseragam? Atau orang-orang biasa yang bertahan hidup mati-matian seperti kami?"


Yu terus mendesak, Xin Chen menjawab. Aku dan Lang berencana mencari petunjuk untuk pergi Ke Sentral Pusat dalam waktu dekat. Aku bisa membantumu hal lain, tapi kali ini aku tak bisa. Kesempatan hanya datang sekali, Yu. Kau sendiri yang bilang, di Kekaisaran ini semuanya adalah tentang kemungkinan kecil, kan?"


Kekecewaan nampak jelas di wajah Yu, tapi dia berusaha memaklumi Xin Chen.


"Bagaimana dengan bekas gigitan itu?"


"Katanya aku bisa saja berperilaku abnormal di waktu yang tak tentu. Jika waktu itu tiba, aku mungkin akan kesulitan mengendalikan diri."


"Kawan, kami akan mencari penawar untuk penyakitmu. Tenang saja, oke?" Yu menepuk pundaknya sambil berdiri, "tetaplah berhati-hati saat pergi keluar. Tak menutup kemungkinan terinfeksi lain akan muncul."

__ADS_1


Yu pergi. Xin Chen benar-benar merasa bersalah. Mengkhianati Yu yang kini tengah mengupayakan obat untuk kesembuhannya. Tak terbayangkan perasaan wanita itu jika tahu dia berkhianat.


__ADS_2