
Perkemahan Tenggara, salah satu wilayah yang dilindungi Pelindung Malam. Dikelilingi oleh hutan pinus dan bersebelahan langsung dengan markas besar Fraksi Militer Pusat. Anak-anak, wanita dan para lansia hidup tentram di sana, para laki-laki sibuk bertarung dan mencari sumber makanan. Tak satupun dari para manusia itu berkeinginan untuk pergi ke luar. Mereka terlalu putus asa untuk mencari sebuah tempat pengungsian yang lebih aman.
"Harapan pada nyatanya hanyalah tentang kemungkinan kecil." Wanita dengan topeng rubah bergaris merah yang sempat bertepuk tangan kepada Xin Chen tadi mulai berbicara. Kini mereka berada di sebuah pondok kecil yang dibuat dengan kayu. Melihat ke depan di mana semua orang-orangnya sedang sibuk beraktifitas. Senyum di wajahnya pudar.
"Karena itu, aku tak ingin kehilangan lebih banyak orang-orang ku. Mereka adalah harapan terbesar yang aku miliki. Harapan untuk terus bertahan hidup."
Beberapa orang berlalu lalang dan sempat menyapa keduanya. Wanita itu menatap Xin Chen di sebelahnya, mengulurkan tangan. "Di sini kami lebih sering menyembunyikan identitas. Tapi kau bisa memanggilku Yu."
"Baiklah. Panggil aku Chen."
Yu terdiam, melihat sekitar tiga pria setengah berlari ke arahnya, tampang mereka sama sekali tidak menunjukkan membawa kabar baik.
"Sumber air kita direbut!" Kalimat pertama diucapkan oleh yang sampai paling duluan, yang lain menimpali. Sejenak Xin Chen dapat melihat luka di tubuh mereka, jelas-jelas mereka baru saja bertarung dan berakhir kalah oleh musuh.
"Para pembelot itu sesuka hatinya saja! Hampir tiga puluh dari mereka menjaga tempat itu! Kita harus mengusir mereka sebelum bertambah lebih banyak!"
Yu berdiri, rumit mengisi pikirannya. Dia melihat kanan kiri, memikirkan upaya terbaik untuk menyingkirkan Pembelot tersebut tapi sayangnya hanya bertemu jalan buntu.
"Aku sudah mengerahkan hampir seluruh Pelindung Malam ke selatan. Tak ada satupun yang tertinggal ...."
"Gawat. Gawat. Gawat. Tanpa air itu kita tidak bisa bertahan lama di sini. Jangan bilang kita harus pergi dan mencari markas baru, kita akan kehilangan banyak anggota untuk menerobos kawanan terinfeksi itu lagi." Yu menggumam pada dirinya sendiri, pikirannya kacau balau.
"Apa kau bisa membantu kami?" Yu yang telah kehabisan harapan tak punya pilihan lain selain Xin Chen di depannya.
"Aku akan membentuk pasukan segera. Apa kau bersedia?" tegasnya sekali lagi. Xin Chen berpikir beberapa detik sebelum menjawab.
"Tak perlu mencari anggota. Aku akan pergi sendirian. Kalian butuh orang-orang itu untuk mempertahankan markas."
Dia menunjuk Tiga dan yang lainnya, hanya tersisa beberapa yang bisa bertarung di Perkemahan Tenggara. Yu sedikit ragu sekaligus tak percaya.
"Kau sendiri?"
"Di mana lokasinya?"
Wanita itu menjawab pertanyaan pemuda itu, "Aku akan memberitahumu sebelum pergi."
Dia menambahi. "Berhati-hatilah dengan mereka. Mereka memiliki persediaan senjata api yang banyak. Entah karena perdagangan ilegal. Jangan meremehkan mereka."
__ADS_1
"Aku akan berhati-hati."
Yu menunjukkan lokasi tersebut di peta yang digeletak di atas meja, di sana Xin Chen melihat keseluruhan wilayah Kekaisaran Wei. Menghafal kamp-kamp Pembelot dan markas Fraksi Militer Pusat. Terdapat banyak daerah rawan dan pusat kawanan terinfeksi. Dia harus berhati-hati di tempat itu
Tanpa banyak basa-basi, Xin Chen segera pergi ke sumber air. Letaknya sekitar tiga ratus meter dari Perkemahan Tenggara.
Seperti nasehat yang dikatakan Tiga, berjalan di jalan kota hanya akan mengantarkannya pada kematian. Xin Chen melihat seluruh kota yang telah hancur ini telah diubah sedemikian rupa. Setiap bangunan dan rumah memiliki akses satu sama lain. memungkinkan mereka untuk berjalan di atas atap. Tali, pijakan dan tempat untuk memanjat mempercepat perjalanannya sampai ke sumber mata air.
Dan benar saja, di sana berkumpul orang-orang dengan baju serba hitam dan senjata berat tengah berjaga. Mereka sibuk tertawa, merayakan kemenangan mereka. Di sekitarnya orang-orang Pelindung Malam terbunuh, sekitar sepuluh sampai dua belas pria.
Sesuai dugaan, jumlah mereka bertambah. Xin Chen berada di atas atap meloncat, membuat mereka kaget.
"Ha?" Salah satunya bingung, mencari-cari sekitar lalu tertawa garing. "Ke mana kawan-kawan mu? Kau sendiri?"
"Hahahaha! Tidak punya kekuatan lagi? Perkemahan Tenggara sedang melemah, seperti kata Ketua. Hei ... Hei, mana si bodoh itu, yang mengayunkan parang saja tidak bisa?" Pembelot itu menarik salah satu kawannya.
"Kau hadapi satu cecunguk itu! Hadiahnya? Kau peloroti saja bajunya, hahahah."
Tawa mengejek dan hinaan terus terlontar ke arahnya, Xin Chen terlalu tuli mendengar omongan berandal tersebut. Sementara matanya terus mempelajari medan tempur di depannya.
Saat pria itu menebas Xin Chen. Mereka terkejut. Yang terbelah hanyalah kawan mereka sendiri. Sementara pemuda bermata biru itu seperti tak bergerak di tempatnya, tanda tanya dan ketakutan mulai menghiasi muka mereka.
"Maju!!"
Xin Chen berlari ke arah tong besi yang penuh oleh minyak, menendangnya ke belakang di mana para Pembelot sedang mengejar dan membidiknya dengan panah Api Keabadian. Ledakan membuncah, lima orang tewas seketika. Sementara yang lain terbakar dan sempat memadamkan api tersebut.
Dia mengandalkan pedang, cara paling cepat untuk membunuh mereka. Satu per satu musuhnya terpenggal. Dua orang melarikan diri ketakutan luar biasa. Xin Chen mencebik, ledakan tadi tampaknya mengundang terinfeksi ke tempat ini, tapi masih cukup jauh.
Darah bercipratan membasahi dinding tempat penyimpanan air, Xin Chen menikam lawannya yang terjatuh dan masih bergerak.
Pertarungan melawan hampir tiga puluh orang itu selesai ketika sore telah datang. Malam akan turun sebagai pertanda bahaya, Xin Chen harus cepat-cepat kembali.
Tapi baru beberapa puluh meter melangkah, dia tersentak saat teriakan minta tolong terdengar. Langkah kakinya mendekat, tiga orang yang berada di atas bangunan batu teralihkan padanya.
"Akhirnya!"
Mereka sempat diam ketika cahaya biru dari mata tersebut tampak begitu mengerikan. Asumsi mereka, pemuda itu adalah salah satu dari bagian percobaan. Situasi seperti itu tak ada yang sempat berpikir jernih.
__ADS_1
Seragam hitam, pelindung besi dan penampilan yang menggambarkan mereka sebagai seorang militer menjelaskan bahwa mereka adalah Fraksi Militer Pusat.
Xin Chen sepintas mengingat peringatan Tiga. Orang-orang ini bukanlah pihak mereka dan jangan ikut campur dengan urusan mereka.
"Kami membutuhkan pertolongan mu, teman kami akan mati!"
Xin Chen tak bisa memilih antara mundur atau mendekat. Seseorang yang terbaring di tanah tampaknya tengah sekarat, dia tidak tergigit tapi penyakit lain sedang mencoba membunuhnya. Bagaimana pun lelaki itu manusia, mereka tak bersalah. Xin Chen memutuskan untuk menolong mereka sebisanya dan langsung kembali ke Perkemahan Tenggara.
"Apa yang bisa kubantu?"
"Kau punya anti virus? Atau obat-obatan? Atau apa saja?"
Xin Chen berpikir sejenak.
"Aku hanya punya Jamur Api."
Mata kedua lelaki itu terbuka.
"Bagaimana mungkin-"
"Berikan satu pada kami!"
Xin Chen menepis keraguannya, mengeluarkan salah satunya. Cahaya biru terang keluar dari jamur tersebut. Mereka mengambilnya, memasukkan jamur itu ke dalam mulut rekannya.
Tak disangka, lelaki yang sempat sekarat tadi selamat dalam hitungan menit. Jamur Api benar-benar ampuh. Dia terbangun, meski napasnya masih kacau.
"Komandan, kau tak apa-apa?"
"Aku tak apa ..." Mata hitam kecoklatan itu menatap ke depan, seorang pemuda tengah berjalan menjauh di saat malam hendak bertamu. Dia melihat jubah tersebut, dan sempat melihat simbol di jubah depannya.
"Aku belum berterima kasih padanya. Kuharap kami bisa bertemu lagi."
Dengan tergopoh-gopoh, dua orang di dekatnya membawa lelaki itu ke markas Fraksi Militer Pusat. Nyawanya hampir terenggut, itu akan jadi bencana besar bagi Fraksi Militer Pusat tapi tak diduga orang asing baru saja menyelamatkan dirinya.
"Pastikan dia berasal dari mana. Aku belum pernah melihat wajahnya."
"Baik, Komandan!"
__ADS_1