Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 152 - Tuan Rumah Dai Cho


__ADS_3

Lang baru selesai membakar sapi, walaupun cara masaknya sedikit mengerikan. Sapinya diikat dan dimasak hidup-hidup dengan api yang entah dari mana di dapatnya. Dilihatnya Xin Chen tak kunjung bangun. Wajahnya persis seperti orang sakit. Tapi serigala itu pun tak tahu apa yang harus dilakukannya selain membuatkan makanan.


Dia mengambil potongan paha, meletakkannya di sebelah Xin Chen.


"Bangun. Makan."


Lang menunggu. Waktu terus berlalu, tapi pemuda itu tak kunjung bangun. Dia melihat sesosok berjubah serba putih dari kejauhan, di lehernya disangkutkan seperti biji-biji besar beserta kepala yang nyaris tak ada rambut. Lelaki itu tampak ramah, dia mengayunkan sebelah tangan dari kejauhan.


"Ah ... Boleh aku singgah sebentar untuk meminum air?" ungkapnya sambil menunjuk sebuah sumur air yang masih berfungsi di halaman rumah, Lang mengiyakan. Sambil kembali melihat Xin Chen yang hanya terbaring di bawah pohon. Daging yang diletakkannya beberapa jam yang lalu sudah mulai dikerumuni semut.


Lelaki yang baru saja minum tadi berhenti sejenak ketika melihat Xin Chen.


"Boleh aku memeriksanya?"


"Silakan." Lang mundur beberapa langkah, membiarkannya mengecek suhu tubuh dan keadaan Xin Chen.


"Dia pernah tergigit?" Pria itu sedikit membuka kerah bajunya, memerhatikan bekas sayatan di dekat bahunya.


"Begitulah."


"Sudah berapa lama?"


"Mungkin ... Dua Minggu atau lebih."


"Tak bisa dibiarkan. Dia akan berubah semakin parah, jika dibiarkan dia akan kehilangan ingatan dan berakhir seperti para terinfeksi itu. Ikutlah denganku, kami punya beberapa obat dan tenaga handal untuk mengatasi orang-orang sepertinya."


Lang mau tak mau mengiyakan. Di situasi seperti ini dia tak tahu harus meminta tolong ke mana. Perjalanan misi tak akan bisa dilanjutkan jika Xin Chen sakit. Terkadang dia berjalan terlalu jauh tanpa peduli luka di tubuhnya sendiri. Lang sedikit lega, lelaki yang membawa mereka bernama Dai Cho. Dia juga salah satu ahli obat yang bermukim di bawah kaki bukit Shimei. Beruntung lelaki itu membawa salap herbal yang langsung dioleskan ke kulit Xin Chen.


Sepanjang perjalanan Dai Cho menjelaskan panjang lebar, bahwa di tempat mereka sudah lebih dari setengah penduduk terkena penyakit yang sama. Terdapat beberapa obat yang dijual meski tak begitu manjur. Malam tiba begitu cepat, Lang terpana melihat sebuah perkampungan penuh dengan kelap-kelip lampu. Layaknya pedesaan pada umumnya, begitu ramai akan orang-orang. Rasanya pemandangan seperti ini amat mustahil ditemukan di sini.


Dia membawa Xin Chen ke rumah Dai Cho, di sana kedua putrinya yang masih berumur belasan tahun telah menunggu.


"Ayah!" Kedua putrinya langsung memeluk kaki laki-laki itu. Lang mencari ke dalam.


"Ke mana istrimu?"

__ADS_1


"Ahahaa, istri. Aku tak punya. Dua anak ini anak angkatku. Masuklah, anak-anak kecil ini sudah terbiasa dengan mahluk sepertimu jadi jangan sungkan lagi. Bawa temanmu ke kamar."


Lang terus berada di sisinya ketika obat-obatan herbal diberikan ke tubuhnya. Terutama ke bagian tubuh bekas gigitan yang masih terbuka.


"Ada satu cara untuk mengangkat virus dalam tubuhnya."


"Katakan."


Lang menatap mata yang sudah sedikit memutih itu, tampak ragu-ragu ketika berucap.


"Tapi ... Aku takut ini akan berakibat buruk karena aku belum pernah mempraktekkannya langsung kepada pasien. Resikonya sangat tinggi."


"Obat dan vaksin saat ini hanya mampu menunda atau mematikan virus sementara. Belum ada yang benar-benar ampuh mengatasinya. Tapi jika cara ini berhasil ... Aku yakin orang-orang bisa diobati."


Lang menatap Xin Chen, lamat-lamat.


"Andai ayahnya ada di sini ..." Dia tak bisa memikirkan keputusan terbaik yang bisa diambilnya. Lang sendiri tak tega membiarkan Xin Chen terus meraung kesakitan.


"Kita coba saja. Kalau sewaktu-waktu resikonya bertambah tinggi, kita hentikan."


"Apa yang kau inginkan jika pengobatan ini berhasil?"


"Aku tak menginginkan apa-apa. Percayalah. Tak semua hal di dunia ini harus dikejar. Terkadang membantu sesama jauh lebih menyenangkan."


**


Seberkas cahaya masuk. Menyinari lantai papan rumah Dai Cho dan dua putri angkatnya. Lelaki itu sedang menjemur pakaian di halaman belakang sekaligus berbicara dengan Lang.


Langkah kaki pelan menyusuri rumah, di dalam rumah itu terdapat sebuah kolam dengan ikan koi begitu banyak. Pandangan matanya masih begitu buram, dia memaksakan diri untuk mengikuti sumber suara perbincangan.


Dai Cho berbalik badan. Sama seperti Lang dan dua putri angkat lelaki itu.


"Ya ampun ..." Dai Cho sampai kaget. Segera bangun merapikan jubah pemuda itu yang sudah berantakan.


"Biasa, anak bujangan. Matahari sudah di atas kepala begini baru ingat bangun. Mana baju hampir lepas. Tidak tahu malu sama tuan rumah."

__ADS_1


Xin Chen berdeham berulang kali, berusaha untuk berbicara. "Kita di mana?"


"Duduklah dulu, minum tehmu."


Dai Cho menyodorkan sebuah mangkuk berisi teh hangat, selesai menjemur dia ikut duduk di teras. Menghela napas berat.


"Orang ini yang telah menyelamatkanmu. Penyakitmu sudah bertambah parah dan kau hampir berubah menjadi terinfeksi. Berterima kasihlah padanya."


Xin Chen mencerna omongan Lang dalam diam. "Sembuh?"


"Kabar baiknya, virus dalam tubuhmu sudah diangkat. Sudah lima hari semenjak kau datang ke tempat ini. Seharusnya bekas jahitannya sudah membaik-"


"Lima hari?!" Xin Chen terbangun dari duduknya.


"Ya ampun." Dai Cho kembali membenarkan jubah putih yang dikenakan Xin Chen. Harap-harap tidak lepas dari sana.


"Kita ketinggalan, Lang. Kenapa tidak bangunkan aku." Xin Chen mulai panik, dia menghadap Dai Cho.


"Aku benar-benar berterima kasih atas pertolonganmu, tapi saat ini kami sedang dikejar-kejar oleh sesuatu. Ku harap kau mengerti ... "


Xin Chen hanya bisa melihat senyuman tulus di wajah tua lelaki itu.


"Pergilah, kapan-kapan kau ingin singgah datanglah kemari. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian."


Xin Chen berpamitan secara cepat. Setidaknya dia tahu nama lelaki itu, Dai Cho. Tubuhnya sendiri terasa sedikit berubah, Xin Chen tak mengetahui bagaimana Lang bisa bertemu dengan lelaki itu. Yang dipikirkannya sekarang adalah mengejar Qin Yujin dan membakar habis kotak bersamanya.


Lang mengejar Xin Chen yang berlari kencang, melewati jalanan berkilometer tanpa berbicara. Tapi setidaknya, dari apa yang didengarnya dari Dai Cho, Xin Chen masih memiliki kesempatan untuk sembuh. Pengobatannya baru bisa dikatakan berhasil jika perilaku abnormal itu telah hilang. Untuk itu Dai Cho menyuruhnya selalu mengawasi Xin Chen di mana pun dan kapan pun.


Waktu dua hari berlalu begitu cepat, langkah keduanya baru berhenti ketika di depan sana berdiri ratusan bangunan tinggi. Di tengahnya, salah satu tempat kediaman sang Kaisar. Kemungkinan besar di sanalah Qin Yujin berada.


Di luar pagar ini sendiri, Xin Chen masih menemukan beberapa terinfeksi. Dia melihat ke depan, sangat-sangat ketat penjagaan di dalam sana. Sulit untuk menembus masuk. Jika hanya dia saja mungkin bisa, tapi Lang juga harus ikut masuk bagaimana pun caranya.


"Lang, aku akan membukakan jalan. Masuk dengan rapi."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Lakukan saja."


__ADS_2