
Selepas pamit kepada Xin Xia, Xin Chen berniat mencari Kakak dan Ayahnya.
Jalanan telah padat oleh penduduk. Xin Chen menutup wajah dengan tudung jubah karena takut jalannya terhambat jika dirinya dikenali, saat ini yang terpenting adalah mencari mereka berdua.
Berjalan agak jauh melewati kerumunan masyarakat, Xin Chen tiba di halaman sebuah rumah yang sama seperti yang dikunjunginya tadi. Hanya perbedaannya sekarang tempat itu mulai didatangi banyak orang.
Langkah Xin Chen terhenti mendadak ketika mendengar suara lengkingan wanita, panik dan ketakutan di muka pintu. Dan baru saat itu juga Xin Chen menyadari bahwa Xin Zhan dan Xin Fai telah sampai ke rumah.
"Tuan Muda-! Akhirnya Anda kembali, Nyonya Ren tidak bernapas! Ku mohon Tuan Muda, lakukan sesuatu!!" Air mata bercucuran sudah di wajah pembantu itu. Suaranya bergetar hebat.
Xin Zhan dan Xin Fai yang panik langsung menghambur ke dalam rumah, tempat itu kini dipenuhi oleh tabib dan beberapa ahli obat. Air muka mereka pucat pasi, kehilangan semangat untuk menghadapi kondisi Ren Yuan saat ini.
Kedatangan mereka berdua memberikan harapan pada mereka yang ada dalam ruangan. Xin Zhan menyentuh pergelangan tangan Ren Yuan, denyut nadinya sangatlah lemah. Detak jantung Ren Yuan sendiri begitu lambat sampai dia nyaris tak bisa mendengarnya.
Xin Fai mencoba memahami situasi yang terjadi, melihat wajah kesakitan istrinya kala itu, dia tahu benar bahwa penyakit yang bersarang dalam tubuh Ren Yuan sudah makin mengganas. Tak ada yang tahu dari mana semua ini bermula, sementara itu Xin Zhan lebih tahu banyak tentang penyakit Ren Yuan saat ini.
Dengan cekatan Xin Zhan meracik beberapa obat, hanya obat sederhana yang tak begitu mempan. Raut wajahnya cemas tak karuan. Xin Fai sendiri telah mengupayakan beberapa cara, tak ada yang berhasil.
Perhatian mereka terkunci pada Xin Chen yang masuk ke dalam kamar, tak beda khawatirnya dari mereka semua.
"Chen, ibu sekarat!" Xin Zhan panik, dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Sementara mengadu pada tabib, mereka semua menggeleng-gelengkan kepala tanda tak memiliki cara untuk menyelamatkan Ren Yuan.
Sejauh ini sudah beberapa kali keadaan Ren Yuan memburuk secara tiba-tiba dan mereka selalu mempunyai obat untuk menanganinya. Namun hanya sampai di sana, sekarang keadaan Ren Yuan semakin parah dan obat-obatan yang sebelumnya manjur tak mempan lagi kepadanya.
"Ibu sakit apa?"
__ADS_1
"Bukan saatnya mempertanyakan hal itu, bodoh! Lakukan sesuatu!"
"Kau sama saja meminta dokter menyembuhkan mu tanpa mengatakan apa penyakitnya," protes Xin Chen ikut naik darah. Xin Zhan menarik napas panjang, di tengah kepanikan ini dia harus tenang. Usai menarik napas, pemuda itu menatap Ren Yuan sambil berkata, "Belum ada yang tau penyakit apa yang diderita ibu, tapi ada yang bilang, penyakit ini dibawa dari Kekaisaran Qing. Hanya itu yang aku tahu. Cepat cari cara untuk menyelamatkan ibu."
Selagi mereka berunding Xin Fai melakukan pengobatan dengan Bunga Api, salah satu pengobatan yang dia ciptakan sendiri dengan memanfaatkan kelebihan dari kekuatan Bunga Api di keningnya. Beberapa energi murni yang terhisap akan disalurkan ke tubuh pasiennya, memperbaiki jaringan-jaringan tubuh dan organ yang rusak. Meski kadang, efektivitasnya tak cukup mempan untuk menghadapi penyakit ganas.
Dalam ketegangan di ruangan itu, ketika Ren Yuan menarik napas pelan barulah semuanya lega. Xin Zhan yang mukanya paling pucat saat itu dan ketika dia melihat Ren Yuan kembali bernapas, kedua tungkai kakinya seakan-akan luruh. Dia terduduk di atas lantai.
"Hei, kau tak apa?" Xin Chen menepuk pundak Xin Zhan yang masih merenung, tampaknya dia belum begitu pulih dari terkejutnya.
"Seperti biasa, Tuan Muda Xin Pertama sangat mengkhawatirkan ibunya. Wajar dia masih kaget." Suara seorang tabib, dia baru bisa berbicara setelah melewati detik-detik menegangkan tadi. Xin Fai menyahut pelan. "Aku belum tahu jelas penyakit apa yang istriku tanggung. Tapi jika penyakit ini belum diketahui di tempat kita, sebaiknya segera siapkan beberapa ahli obat. Kita harus mencari tahu seluk-beluk penyakit ini."
"Dan untuk menyelamatkan Ren Yuan."
Kesedihan di wajahnya tak bisa digambarkan lagi. Setelah dirinya yang harus diselamatkan, sekarang justru Ren Yuan harus diselamatkan pula. Mereka seperti dipaksa dipisahkan oleh situasi yang sama sekali tidak ramah. Apa yang bisa Xin Fai lihat adalah putra keduanya, dia tak melakukan apa-apa. Tapi di dalam kepalanya terjadi kecamuk hebat.
Penjelasan ketua tabib itu sudah cukup menjelaskan, pihak mereka sama sekali belum bisa membantu.
"Ibu akan baik-baik saja," gumam Xin Chen. Meski semuanya tahu bahwa nyawa wanita itu tadi hampir saja terenggut. "Tidak perlu takut, aku ada di sini. Ayah dan Kakak juga. Tidurlah sebentar. Akan aku buatkan sup."
Xin Chen pergi dari sana, menuju dapur yang saat ini telah berantakan total. Beberapa tanaman obat dan alat-alat tumbuk kecil berceceran.
Di sisi lain, Xin Zhan mulai merasa bersalah. Dia melihat adiknya barusan, senyuman di wajahnya tak pernah bertahan lama. Dan dalam waktu lama ini, Xin Chen tak pernah mengetahui penyakit tersebut. Xin Zhan yakin pasti sekarang Xin Chen sedang berpikir cara menemukan obat untuk penyakit Ren Yuan. Dengan apa pun caranya.
Tabib pamit pulang sejak beberapa waktu lalu. Hanya beberapa pelayan dan pengawal tinggal, itu pun tak lebih dari tiga orang karena di keluarga mereka sendiri mereka tak mau menyewa siapa-siapa.
__ADS_1
Aroma sup tercium dari ruang tengah di iringi suara tapak kaki yang menuju ke arah kamar. Xin Fai dan Xin Zhan menghentikan obrolan mereka ketika melihat Xin Chen datang dengan sepanci sup. Tapi ada yang aneh dari mukanya. Dia seperti enggan menatap kedua orang itu.
"Kau memasak sup?" Xin Zhan menautkan alisnya heran.
"Ha, kenapa?" Adiknya menjawab sedikit menyolot. Langsung saja Xin Zhan berdiri, mengambil sendok dan mencicipi masakan tersebut. Xin Zhan hampir saja menyemburkan isi mulutnya, "Kau buat sup atau ramuan pahit bau ketiak ayam?!"
"Jaga mulutmu, Kak. Ini sup aku buat susah payah. Aku memasukkan beberapa bahan herbal yang-"
"Makanan ya makanan, obat ya obat! Habiskan sendiri makananmu itu!"
Xin Chen mengomel kesal, "Memang ada ku bilang aku memasak ini untukmu?!"
Tersinggung berat Xin Zhan. Padahal baru kemarin mereka anteng-anteng dan bertindak selayaknya orang dewasa. Balik ke rumah kelakuan bocah mereka kembali muncul.
"Baru pulang kau sudah mengajak kelahi. Baiklah, aku ikuti permainanmu. Mau berduel sekarang?"
"Siapa takut. Kalau kau kalah, kau habiskan makanan satu panci ini ya," ancam Xin Chen sungguh-sungguh. Xin Zhan tersentak.
"Suruh ayah saja yang habiskan."
Kedua putranya menatap Xin Fai yang sibuk menenggak teh hijau, giliran laki-laki itu tersentak. Tapi bibirnya seketika kelu tak bisa menolak masakan Xin Chen, anak keduanya itu berharap akan jawabannya. Dan Xin Fai tak ingin menghancurkan ekspektasi anak keduanya itu terhadap masakannya.
"Tentu saja, masakan Chen'er memang tidak ada bandingannya! Cepat kelahi saja sana. Perlu apa? Tombak, panci, karung atau bom? Ayah kasih! Cepat pergi sana, hush, hush." Niatnya selagi dua anaknya bertarung Xin Fai kabur diam-diam, tapi agaknya Xin Chen sudah tahu akan rencananya lebih dulu.
"Ayah mengusir kami agar bisa kabur ya?"
__ADS_1
Ketiganya tertawa-tawa, sampai akhirnya terdiam tiba-tiba saat mendengar suara lainnya ikut tertawa.
****