
Ye Long tak diam saja melihat patung-patung itu dihancurkan oleh Xin Chen. Dia menggertak tak terima.
"Hei, hei, ini bukan rencana kita!"
"Hah?" Xin Chen sampai perlu menunda kekesalannya lebih dulu, tak mengerti kenapa naga itu tiba-tiba menghalaunya dari depan.
Naga itu memekik, "Ini bukan yang kita sepakati!"
"Minggirlah, aku harus menghancurkan patung-patung jelek ini sebelum penjaga datang."
Ye Long masih menahannya, membuat Xin Chen kelimpungan sendiri. Naga itu secara tiba-tiba melarangnya menghancurkan patung-patung yang sudah jelas amat dia benci. Patung yang bukan lagi melambangkan pelindung Kekaisaran ini, melainkan patung yang menjadi titik mula kesengsaraan Kekaisaran Shang.
"Apa maumu, Ye Long?!"
Xin Chen menggertak kesal, pakaiannya nyaris dibuat robek oleh Ye Long. Naga itu sendiri tak peduli dan masih sibuk bertengkar dengan majikannya. Sampai Xin Chen kembali menebaskan pedang ke kepala patung ke delapan, Naga itu memunggungi Xin Chen sambil berkata. "Bagi duaaa..."
Ye Long memakan kepala patung bulat-bulat dan menelannya tanpa tersedak, tak sampai di sana saja. Sampai patung terakhir naga itu menghabisinya, bekas retakan di leher patung tersebut lebih terlihat seperti baru saja diguncang gempa. Xin Chen termangu melihat keganasan peliharaannya itu.
Bahkan patung pun bisa masuk ke dalam perut karetnya. Kepalanya mulai memikirkan harga tertinggi jika naga ajaib ini dijual, tapi entah manusia mana yang mau memelihara mahkluk seperti Ye Long. Bangku kayu saja dimakannya seperti kerupuk.
Telinga kiri Ye Long turun, pertanda dia mendengar sesuatu dari arah lain. Xin Chen juga tahu akan hal itu dan segera memasang sikap waspada. Dalam gerakan yang cepat, Xin Chen mengakhiri misi rahasianya dengan meninggalkan satu pesan rahasia.
Dia mengukir sebuah tulisan baru di sepotong papan berukuran kecil.
'Era Baru Telah Dimulai.'
Lantas, kesepuluh patung Pilar Kekaisaran mereka tinggalkan. Retakan di patung-patung itu berceceran. Bahkan beberapa bagian wajah patung yabg tidak sempat dimakan Ye Long naga itu bakar dengan apinya. Sehingga wajah pilar tersebut menjadi hitam serupa arang.
__ADS_1
Udara yang begitu dingin di langit berubah hangat ketika sinar hangat matahari datang, burung-burung terbang melintas di sebelah Ye Long. Xin Chen menatap ke depan, sesekali menghela napas panjang.
Benar, usai perang itu pundaknya terasa lebih ringan. Akan tetapi tugasnya tak berhenti sampai di situ saja. Ada tugas yang harus dipikulnya. Dan dirinya sendiri sudah berjanji pada Xin Fai untuk menjaga Pedang Manusia Iblis dan Pedang Kaisar Langit dengan tangannya sendiri.
Lagipula di depan sana, begitu banyak masalah harus dia pecahkan. Mencari orang yang membawa kabur permata siluman Rubah Petir salah satunya. Rubah itu pastinya masih sekarat di ruang dimensi Shui dan terus menunggu Xin Chen menyelamatkan dirinya. Kota Fanlu mulai dimeriahkan oleh semarak kebahagiaan atas kepulangan Xin Fai. Bisa terlihat dari jalan-jalan yang tadi pagi masih sepi kini telah padat oleh penduduk.
Semua bahagia. Tapi Xin Chen masih belum selesai dengan tugasnya. Mengingat penyesalan yang sempat dia lupakan.
Kematian Rubah Petir adalah salahnya. Ketika perang yang terjadi hari itu, Xin Chen bertindak egois. Rubah bermata perak itu mengorbankan seluruh kekuatan yang dia simpan jutaan tahun hanya untuk satu pertarungan. Rubah Petir mengorbankan segalanya, termasuk nyawanya.
Namun apa yang Xin Chen perbuat adalah pergi meninggalkannya. Mengurung diri ketakutan. Larut dalam kesedihannya sendiri sampai lupa bahwa semua orang menanggung kesedihan yang lebih. Saat Rubah Petir sekarat, Xin Chen tidak ada di sana. Siluman itu dikejar-kejar dengan keadaannya yang sudah babak belur. Dan ketika Xin Chen menemukannya, Rubah Petir telah kehilangan nyawa di dalam sebuah goa.
Hanya ada beberapa petunjuk di tangan Xin Chen. Dan setelah ini dia pasti akan menemukan sampai ke akar-akarnya, siapa pun yang mencelakakan rubah itu. Harus mempertanggungjawabkan perbuatan kejinya.
Mata biru miliknya sempat terkunci pada keramaian di bawah sana, sekelompok rombongan datang. Di tengah-tengah mereka, seorang wanita dengan gaun cantik diikuti pengawalnya yang membawa seorang anak yang tak kalah cantik dari ibunya datang. Xin Chen tak bisa mengatakan apa pun. Sementara itu Ye Long hanya mengawasi dari atas kejadian di mana wanita tadi pingsan dan menyebabkan kehebohan di pelabuhan.
"Bibi?" Ye Long mengulang sambil menaik-turunkan telinga. Mulutnya kembali bersuara, "Seperti keluarga juga?"
Xin Chen menjawab kelu. "Ya. Tapi sepertinya habis ini dia tak akan menganggap ku keluarga jika aku menceritakan apa yang terjadi di Lembah Para Dewa."
Keraguan dalam tiap untaian kalimat Xin Chen semakin bertambah sewaktu dirinya menyadari sosok bermata hitam pekat di bawah sana telah menyadari keberadaan mereka. Xin Chen mengembuskan napas kasar.
"Sepertinya kembaranku sendiri mulai membenciku." Xin Chen berbicara, nadanya terdengar ketir.
"Atau dia hanya membenci kebohongan mu?"
"Tidak. Ini memang salahku. Andai aku bisa menghentikan ayah sebelum Paman Lan datang ..."
__ADS_1
"Berhenti omong kosong, majikan. Menyesal tidak ada gunanya." Ye Long terbang rendah, menjauhi kerumunan manusia yang bisa saja menyadari keberadaan mereka di atas.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Naga itu menatap sekeliling agak lama, masih tidak terdengar jawaban hingga akhirnya Xin Chen menjawab.
"Ke rumah Bibi."
Ye Long mengikuti rombongan keluarga Lan dari belakang. Pelayan dan beberapa saudara dari sebelah klan Ren mengawal Xin Xia kembali ke rumah. Memang di tengah kepanikan itu tak ada yang dapat berbuat apa pun selain bertanya-tanya, bagaimana bisa nasib buruk menimpa lelaki yang telah menjaga Kekaisaran Shang mati-matian setelah Pedang Iblis menghilang?
Jawaban itu masih terkunci rapat di mulut Xin Chen.
Dan ketakutan mulai menggerayangi hati Xin Chen.
Wanita itu, Kakak sepupu dari ibunya. Orang yang sejak kecil selalu menghina dan mencaci maki kelemahannya. Wanita yang selalu menyalahkan Xin Chen atas kematian neneknya.
Jika wanita itu mendengar darinya bahwa kematian Lan An adalah akibat dari perbuatannya, mungkin seisi Kekaisaran Shang akan kembali membenci dan meremehkan dirinya.
Sudah berjalan sejauh ini, ketakutan yang dari dulu membuat mentalnya hancur masih sama. Keinginan untuk menjenguk Xin Xia mendadak hilang dalam keraguannya.
Ye Long yang tiba-tiba disuruh berhenti hanya bisa kebingungan.
Air muka Xin Chen terlihat keruh. Tak seperti biasanya. Ye Long memaksa turun dan kembali menghilang karena hari sudah amat terang. Warna tubuhnya yang hitam pasti akan langsung disadari oleh manusia yang melihat ke atas langit. Sementara itu kini Xin Chen berdiri di gerbang ujung rumah Klan Lan. Tak ada penjaga di luar karena mereka sedang sibuk sekaligus panik. Dan lagi, banyaknya saudara yang Xin Chen kenal di tempat itu membuat pemuda itu ragu untuk bertamu ke dalam.
Ketika dia hendak berbalik badan, seorang gadis yang tengah terburu-buru tak sengaja hampir menabraknya dan justru terpeleset menyerempet pagar. Tangannya berdarah dan obat cair yang dibawanya habis jatuh berceceran.
Matanya yang sedang kesal berapi-api menatap Xin Chen hendak memaki. Tapi belum mengeluarkan sepatah kata, dirinya dibuat kaget.
"Kau ...? Xin Chen?"
__ADS_1