
Suara tapak kaki ketiganya menjadi satu-satunya bunyi di bangunan putih sunyi tersebut. Mayat-mayat berserakan di mana-mana, mereka membusuk tanpa dimakamkan. Kebanyakan dari mereka mati dibunuh tepat di kepala.
Cukup lama berjalan dan hanya berakhir di jalan buntu, akhirnya mereka menemukan satu jalan keluar yang dikunci dengan besi berat. Lang berhasil membobolnya dengan tiga kali serangan yang menimbulkan suara berisik. Sontak Xin Chen sedikit gelisah, takut bunyi tersebut memancing mahluk yang berada di bagian ruangan lain bangunan ini. Dia masih dapat mendengarnya meski agak jauh.
Tapi tak menutup kemungkinan mahkluk itu akan datang akibat bunyi tersebut.
Saat ketiganya telah keluar, Xin Chen masih sempat-sempatnya mengunci pintu. Lang menoleh. Antara ingin tertawa atau kasihan melihat wajah tertekan pemuda itu.
"Oh, sepertinya kau benar-benar takut dengan mayat hidup?"
Xin Chen memasang wajah dongkol.
"Aku pernah dengar dari ayahmu kalau kau takut dengan hantu. Hei, mayat hidup itu sama dengan hantu, mereka dulunya juga manusia. Hanya saja mayat hidup ini sepuluh kali lebih mengerikan karena mereka nyata dan bisa bergerak-gerak atau bahkan menggigit mu bukan?"
"Terima kasih sudah menjelaskannya dengan lengkap," gerutu Xin Chen sembari memalingkan wajahnya ke sisi lain.
Detik itu mereka bisa menarik napas, jalan di depan sana sudah terlihat. Namun belum sepenuhnya menarik napas, Xin Chen terpaku pada satu titik lainnya yang lebih tragis daripada pemandangan yang dilihatnya sebelumnya.
Di depan mereka berjejer mayat ratusan manusia yang ditutup dengan kain putih, mereka dibiarkan tergeletak di atas tanah yang dipagari besi tinggi. Xin Chen bisa melihat pagar tersebut dipasangkan sesuatu seperti kekuatan listrik miliknya. Siapa pun yang terkna benda itu dipastikan akan tersengat sampai pingsan, malah bisa saja lumpuh.
Tampaknya dari mereka hanya Xin Chen yang paling khawatir ratusan mayat itu akan bangun lagi.
"Tidak ada waktu untuk melihat-lihat, cepat," perintahnya langsung mengambil barisan terdepan yang maju, mencari jalan agar mereka dapat melewati pagar besi.
Kobaran Api Keabadian yang membakar pagar besi perlahan-lahan melenyapkan pagar tersebut. Xin Chen berniat keluar dari sana, tak disadarinya di sepanjang jalan telah dibanjiri oleh mayat hidup. Kakinya mundur secara refleks. Gelombang mayat itu bukan main banyaknya, jika dia memaksa maju tubuhnya akan berakhir sama seperti rusa yang kini terbaring di jalan, digerogoti sampai ke usus-ususnya.
"Tak mungkin ..." Luo Li baru menyadari sesuatu, "pagar besi ini diciptakan sebagai perlindungan dari mayat-mayat itu. Kita tak bisa menerobos, mereka sangat banyak."
__ADS_1
"Keputusan yang buruk, Chen." Lang ikut mundur. Teriakan dari depan menggentarkan nyalinya. Daripada menghadapi pendekar atau perompak yang bisa dijatuhkannya dalam satu kali serang, melawan manusia-manusia ini jauh lebih sulit. Harus dibunuh tepat di kepala atau tidak mereka masih hidup dan menggigit. Satu kali saja jatuh akan jadi bulan-bulanan ribuan dari mereka.
Xin Chen melihat bulu ekor Lang berdiri.
Sama seperti yang dirinya pikirkan. Mahluk aneh ini mengerikan.
Api Keabadian milik Xin Chen tercipta di depan mereka, membentuk pagar tinggi yang berkobar membakar satu per satu dari mereka. Xin Chen mengangkat tangannya, menciptakan panah petir dan membidik tiga sekaligus dalam satu kali tembakan.
Dia tersenyum pahit. Manusia biasa hanya perlu waktu satu sampai lima detik untuk mati oleh petirnya. Mayat hidup itu memakan waktu sampai satu menit agar benar-benar berhenti.
"Siapa pun yang membuat wabah ini pasti sedang merencanakan kehancuran dunia."
Mereka berhasil keluar lewat jalan samping, mayat hidup dari depan berlari mengincar ketiganya.
Di sepanjang jalan, lagi-lagi mereka harus kejar-kejaran. Meski saat ini sedang siang dan gerakan mahkluk itu tak seagresif pada malam hari tapi jumlah mereka yang banyak membuat Xin Chen berulang kali mengumpat. Jalan selalu ditutupi oleh mereka.
"Kau melakukan hal yang tidak berguna, bodoh! Mereka akan terus bertambah walau kau membunuhnya sampai kau tua!" Serigala itu menyingkir, nyaris menabrak pohon. "Kau pikir saja pakai otak, kecuali otakmu sudah tak berfungsi seperti mereka."
"Sedang dikejar-kejar pun masih sempat menghina."
Panah api di tangannya telah lenyap, Xin Chen mengeluarkan pedang asli. Memotong kepala di sepanjang jalan. Kecepatan tangannya membasmi mayat-mayat itu membuat Luo Li menahan napas. Tak percaya, mendengar suara cipratan darah dari leher yang terus-menerus berulang.
Jalan yang mereka lewati kini penuh dengan darah. Xin Chen meledakkan bom asap, menghancurkan sembilan mayat hidup di dalam bom asap itu dengan tebasan dan tendangan. Lang tak habis-habisnya mengumpat, dia sudah memperingatkan Xin Chen agar tidak terlalu terpaku pada mereka.
Tapi tampaknya naluri pembunuh anak itu lebih besar daripada logikanya. Pergerakan mereka melamban.
Lang berteriak dari kejauhan. "Cepat kau setan! Jangan memperlama!" Lang naik pitam, taringnya bermunculan. Keadaannya dan Luo Li begitu terdesak. Kanan kiri depan belakang semua dikelilingi oleh mayat hidup.
__ADS_1
"Pergi duluan!"
"Kepalamu! Jangan membantah, cepat bergerak-"
Mata emas itu melebar ketika melihat mahluk yang mereka takutkan benar-benar keluar. Lang telah mencium hawa keberadaannya semenjak berada di bangunan penuh mayat tadi. Mahkluk itu berhasil keluar dari pintu. Penampakannya sangat-sangat mengerikan, dengan tubuh penuh otot dan urat, lubang mata yang telah tertutup oleh kulit serta gigi bergerigi.
"Xin Chen!!"
Mahluk berukuran tiga kali lipat manusia dewasa itu menerjang Xin Chen, pemuda itu sudah menyadari gerakannya. Dia menusukkan pedang di dahi mahluk tersebut.
Dia tidak tumbang.
Kepanikan menguasai wajah Xin Chen, cipratan darah dari kepala mahluk itu mulai menetes. Tiba-tiba saja tangannya bergerak, memukul Xin Chen sampai terpental ke dinding bangunan yang cukup jauh. Retakan terdengar. Lang kesusahan keluar dari lingkaran mayat hidup itu.
"Kau tak bisa membunuhnya di kepala, lupakan soal membunuhnya! Kita harus kabur lebih dulu atau mereka akan bertambah makin gila!"
Xin Chen agak ragu, dia ingin sekali menghabisi musuhnya itu. Tapi di sisi lain dia tak tahu apa-apa tentang yang sedang dihadapinya. Ditambah lagi, dia tidak bisa merasakan hawa mereka. Itu adalah bagian penting dalam pertarungan. Mayat hidup yang nyatanya telah mati tak memiliki hawa apa pun. Jika salah satu dari mereka bergerak di belakangnya tanpa suara, bisa dipastikan Xin Chen akan kecolongan.
Wajah ayahnya saat memperingatinya untuk tetap berhati-hati terlintas.
Xin Chen mengalah untuk yang satu ini. Dia berdiri, memutuskan untuk mundur bersama Lang dan Luo Li. Sebelum itu dia membakar puluhan dari mayat hidup itu. Memenggal sisanya dan bergerak menyusuri jalan yang entah akan membawa mereka ke mana.
Seseorang di lantai dua sebuah rumah kosong baru saja melepaskan teropongnya. Tersenyum.
"Dia kuat. Dalam satu kali jalan saja sudah menewaskan tiga ratus dua puluh satu terinfeksi. Pasti bukan orang biasa."
Lelaki berkulit hitam di belakangnya menanggapi, "Menurutmu apa kita harus menyelamatkan mereka?"
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir. Mereka akan bertemu teman kita di jalur depan."