
Xin Chen mengelak dari serangan musuhnya yang kian menggebu-gebu, tak bisa dielakkan lagi beberapa serangan sempat mengenai nya. Dan lebih parah lagi, kenyataan bahwa Xin Fai juga memiliki kekuatan roh membuat posisinya terancam.
Hanya kekuatan itu yang dapat mengenainya secara langsung, jika serangan fisik hanya mengenai beberapa persen dari dampak aslinya. Maka kekuatan dari ilmu Kitab Tujuh Kunci yajg dimiliki Xin Fai bisa membuat dirinya mengalami luka berat.
Begitu pun yang dialami Roh Dewa Perang, mereka sama-sama tak cocok mengahadapi lawan seperti Xin Fai. Belum lagi level kekuatan laki-laki itu jauh lebih tinggi.
Xin Chen menangkis berulang kali, menggunakan Api Keabadian dalam wujud pedang di sebelah tangannya yang lain sementara pedang pusaka gabungan dia gunakan di sebelah tangan kanan. Alur serangan Xin Fai yang selayaknya binatang buas memiliki keunikan di mana dalam satu serangan saja beberapa arah bisa menjadi daerah rawan yang mendapatkan serangan tak trduga.
Xin Chen menebaskan pedang di sela-sela posisi terpojok, berhasil mengenai kepala Xin Fai yang langsung terhempas jauh.
Detik itu, Xin Chen membuang jauh-jauh identitas laki-laki itu sebagai ayahnya. Jika ingin hidup lebih lama, Xin Chen harus menganggap laki-laki itu sama seperti dia menganggapnya sekarang; Sebagai musuh yang tidak saling mengenal.
__ADS_1
Serangan beruntun Xin Chen lancarkan dalam kecepatan penuh, tubuh laki-laki itu terkena langsung dampak serangan dan terdorong kuat hingga jatuh ke tanah. Menimbulkan bekas hantaman, tanah retak ke dalam. Xin Fai tak terlihat menunjukkan pergerakan. Tapi di beberapa detik kemudian, dari kejauhan tiba-tiba saja laki-laki itu sudah melayang ke arahnya dan mengepalkan tinju.
Tangan Xin Fai berubah menjadi setengah roh. Mengenai telak wajah Xin Chen yang langsung mundur kehilangan keseimbangan, dia menahan sakit luar biasa saat itu. Tak menyangka bisa lalai beberapa detik dan membiarkan lawan mengenainya.
Tinju tadi membuatnya cukup gentar untuk melakukan kesalahan selanjutnya. Xin Fai musuh berbahaya, bahkan Roh Dewa Perang tak mau lagi berurusan dengannya dan memilih meladeni Naga Kegelapan ketimbang laki-laki itu.
"Aku tak yakin bisa bertahan lebih lama jika merska tak segera kembali, kekuatan ku mempunyai batasan. Menghadapi mereka membutuhkan banyak kekuatan. Bahkan ratusan ribu roh saja tak cukup dan untuk menumbangkan mereka."
"Harapan kita hanya pada Kakakmu."
"Aku justru tak yakin mereka berhasil sampai lebih dulu di banding orang itu." Xin Chen tersenyum pasrah, ucapan itu sempat membuat Roh Dewa Perang tertegun tak mengerti kekalahan apa yang sebenarnya akan mereka alami.
__ADS_1
"Kau bilang-"
"Fu Qinshan mengejar mereka. Aku melihatnya pergi saat Ye Long membawa Kak Zhan ke tempat yang dikatakannya. Dan sekarang, mereka belum kembali. Seharusnya perjalanan ke sana tak membutuhkan waktu banyak sampai dua hari lebih. Itu artinya terjadi kendala tak terduga."
Xin Chen menjelaskan panjang lebar, rautnya semakin buruk menceritakan semua dugaan yang beberapa hari ini memenuhi kepalanya.
"Kemungkinan terburuk Kakak diserang dan gugur karena luka di tubuhnya yang begitu parah membuat dia tak bisa bertarung seimbang. Lalu, Ye Long akan kembali sendirian ke sini. Membawa kabar buruk."
"Berhenti menduga-duga, itu belum tentu terjadi-"
Di tengah pertarungan Xin Chen dapat melihat sesosok pria dari kejauhan datang melewati api-api biru yang berkobar. Tak tampak ketakutan di wajahnya, meski begitu tubuhnya masih memiliki luka yang seharusnya dirawat. Orang itu adalah Lan An, mantan Pilar Kekaisaran yang kini sedang bertarung dengan suhu panas di Lembah Para Dewa, membantu kedua keturunan Xin yang tengah memerangi perang sendirian.
__ADS_1
"Paman Lan?!" dia tersentak kaget melihat kehadiran lelaki itu.