
"Sudah cukup pertemuan haru biru kalian," usik Shui kesal, Xin Chen menautkan alis. Mana mungkin ini disebut pertemuan haru biru, baru bangun saja Rubah sudah memukulnya.
Shui menunjuk jidat, pipi serta pelipisnya yang berdarah dan lebam.
"Kau tahu apa ini Rubah?" Dia tampak jengkel sekali, Rubah Petir sama sekali tak merasa berdosa.
"Pertama," katanya. "Kau membuatku terpental ke dinding sampai pipiku lebam."
"Kedua giliran jidatku terhantam tanah. Lalu tiba-tiba duarr kau berubah raksasa dan menghantamkan cakaran luar biasa sampai pelipisku berdarah dihantam reruntuhan."
"Oh." Rubah Petir menyahut, sama sekali tidak antusias.
"Oh? OH SAJA?"
Xin Chen melihat Shui sudah mulai melipat lengan bajunya, mau berkelahi sepertinya. Urusan wajahnya yang jadi korban Shui tak pandang bulu siapa yang akan dihadapinya. Xin Chen berusaha melerai, "Sabar ... Shui, orang sabar disayang Rubah."
"Tahan aku, Chen. Tahan!"
Rubah Petir kesal sendiri melihat kelakuan Shui, menyetrum siluman itu sampai berhenti mengoceh. Dia meminta tali dan langsung mengikat Shui, mengurungnya di kamar sendirian.
"Sebenarnya aku ingin kau istirahat dulu sampai tubuhmu pulih. Tapi aku juga harus menjaga ibu di Kota Fanlu."
"Kalau begitu kita langsung ke sana. Dari ceritamu tadi, kelihatannya keadaannya masih belum baik." Rubah Petir menutup pintu saat Xin Chen keluar. Memerhatikan Huo Rong baru saja selesai dengan perbaikan markas.
"Tapi tidak ada salahnya merayakan acara kecil-kecilan. Ikutlah. Nanti sore baru kita berangkat."
Gegap gempita mewarnai suasana di markas Empat Unit Pengintai. Hampir semua pekerjaan telah diselesaikan, sebagian berpesta arak. Daging-daging dibakar bersama makanan lainnya untuk memeriahkan acara.
Alat musik dimainkan mengiringi acara tersebut. Unit Satu berkumpul di halaman, di sana dia dapat melihat semua rekannya yang masih selamat dari perang dan kini berdiri semakin kokoh membentengi Empat Unit Pengintai.
Yun Shan, terakhir kali keadaannya sekarat. Dia mendapatkan perawatan serius dalam beberapa minggu terakhir sebelum bisa kembali bergabung di Empat Unit Pengintai.
"Bagaimana keadaanmu?"
Yun Shan tersenyum sebelum menjawab. "Sudah lebih baik, Ketua. Senang melihatmu kembali. Dan turut bersukacita atas kepulangan ayahanda Tuan Muda."
"Kau juga."
Di sebelahnya, Nan Ran baru saja bergabung. Xin Chen tahu apa yang terjadi pada adiknya, Nan Yin yang dibakar yang di saat peperangan.
"Turut berduka atas adikmu, Nan Ran."
Nan Ran menunduk, "Terima kasih."
Sebagai kakak yang selalu melindungi adik perempuannya, pasti Nan Ran begitu terpukul setelah kepergian gadis itu. Sejak kecil mereka selalu bersama, bertahan hidup tanpa orang tua dan mengandalkan satu sama lain untuk terus hidup.
Nan Ran terlihat lebih murung. Xin Chen memaklumi perasaannya, dia menepuk pundak pemuda itu sambil berkata, "Adikmu bertarung dan gugur dengan terhormat. Jika kau merasa kehilangan, ingat kami semua adalah keluargamu."
"Aku tahu itu. Terima kasih sudah mengingatkannya ..." Nan Ran memalingkan muka, air mukanya sembap hampir menangis. Makanan dan minuman yang dihidangkan mulai berdatangan lagi. Siapa lagi kalau bukan Tian Xi yang mengurus semuanya.
Xin Chen mengambil minumannya, tangan Tian Xi tiba-tiba menggeplak.
"Heh, yang di sebelah sana belum habis jangan dulu ambil yang sini, dasar ikan teri."
Muka Tian Xi berubah sekaget-kagetnya ketika melihat korban geplakannya adalah Xin Chen.
"Aih, ketua rupanya. Di sini minumannya para rakyat jelata, kenapa malah gabung ke sini?"
"Terus di mana juga."
__ADS_1
"Di belakang sana," Dia menunjuk diikuti pandangan Xin Chen yang saat itu langsung mengerutkan alisnya.
"Satu tong itu kau suruh aku minum?"
"Haha. Bercanda, bandar ikan teri. Duduklah. Omong-omong rubah yang kemarin mengamuk itu tak bersamamu?"
"Ada apa mencariku?"
"Eh-"
Kaget untuk kedua kalinya, Tian Xi hampir melempar piring di tangan, dia mengusap dada sambil berucap. "Cepat mati aku dikagetkan terus. Tuan Rubah duduk dulu, kau mau minum air apa?"
"Air putih." Rubah membalas ketus.
"Air putih rasa air parit ada." Tian Xi menyiapkan satu cangkir air yang warnanya sedikit kekuningan. "Kami cuma punya ini, kalau tidak mau ya sudah."
Rubah Petir menyipitkan matanya, andai dia tak punya hati sudah disiramnya muka Tian Xi dengan air itu.
Tian Xi tersenyum-senyum sambil bekerja, membuat Xin Chen bertanya-tanya.
"Ada apa gerangan bahagia sekali?"
Dia mengangkat wajah sambil tertawa, "Aku berterima kasih padamu. Berkat perang di Lembah Para Dewa Ayah tahu bahwa aku bisa menyainginya. Ini adalah satu-satunya kebanggaan yang bisa aku kenang seumur hidup. Dengan begini aku tidak akan menyesal dengan keputusan meninggalkan klan Tian dan berkelana hingga ke Kekaisaran Shang."
Matanya yang selalu terlihat usil itu tengah berkaca-kaca, bagi orang lain mungkin ini adalah hal sepele. Tapi bagi Tian Xi, perang itu adalah segalanya baginya. Strategi perang dan semua rencana yang dia buat menjadi salah satu sebab kemenangan mereka.
"Ahli Strategi kami memang sangat berbakat."
Tian Xi tertawa sambil menundukkan wajah, bahagia dengan pencapaian terbesar yang pernah diukirnya.
"Jangan lupakan ketua juga menciptakan banyak ide gila. Aku bisa membayangkan wajah Ayahku saat melihat kehebatan perang ini ..."
Tian Xi memejamkan mata sambil menengadah, "Marah, dendam dan malu. Balas dendam terbaikku adalah dengan menunjukan pembuktian ini kepadanya."
"Kematian Paman Bai cukup menyakitkan. Kita kehilangan satu teman yang setia. Padahal aku dengannya sudah sangat akrab."
"Bagaimana dengan anak istrinya? Kau sudah memeriksa keadaan mereka?" tanya Xin Chen.
"Aku memberikan beberapa uang dan persediaan baju serta makanan. Anaknya bilang, jika sudah dewasa, dia ingin bergabung dengan kita," jelas Tian Xi. Rubah Petir menyahut, "Yang kalian bicarakan soal Bai Huang? Bukankah dia salah seorang Pilar Kekaisaran?"
"Ya. Dia mantan Pilar Kekaisaran."
"Perang itu merenggut banyak Pilar Kekaisaran juga?"
Tian Xi tertawa terbahak-bahak, "Jelaskan, Ketua. Biar dia tahu seberapa busuknya politik Kekaisaran ini."
Xin Chen memang belum menjelaskan soal itu kepada Rubah, "Bai Huang bukan lagi Pilar Kekaisaran, dia di lengserkan dari kursinya atas sebuah fitnah. Dan ketika perang terjadi, yang menjadi Pilar Kekaisaran adalah mereka yang sebagian besarnya berasal dari keturunan bangsawan elit. Tak ada satu pun yang turun ketika perang terjadi, kecuali Paman Lan An-"
Saat membahas laki-laki itu, dia kembali berduka. Rasanya sosok Lan An masih hidup dan sibuk mengurusi Kota Fanlu. Pada kenyataannya, laki-laki itu sudah tidak ada.
"Lalu apa yang terjadi padanya? Dia sahabat ayahmu, kan?"
"Dia ..." Xin Chen tak melanjutkan kalimat, terasa berat mengatakannya.
Tian Xi yang membaca situasi segera meneruskan, "Dia telah tiada."
Rubah itu terdiam. Memang pada dasarnya perang selalu merenggut nyawa, membuat anak-anak dan istri kehilangan ayah dan suami. Tak heran lagi dia mendengar banyak yang gugur dari mereka.
"Ini berita yang menyedihkan. Satu pahlawan lainnya gugur. Dan Pilar Kekaisaran lainnya hanya diam?"
__ADS_1
"Mereka bersembunyi di rumah sendiri, ketakutan seperti tikus di dalam loteng." Tian Xi mendengus, meletakkan cangkir terakhir yang langsung diambil. Minuman habis dengan cepat, begitu pun dengan makanan. Antusiasme anggota Empat Unit Pengintai dalam acara kecil-kecilan ini terbilang sangat besar. Xin Chen mulai berpikir untuk menyelenggarakan acara berikutnya, yang lebih besar dan teratur.
Mengingat mereka telah kehilangan banyak anggota sebelumnya dan sekarang banyak anggota baru yang bergabung. Dia ingin menyambut kedatangan mereka sebaik mungkin.
Tentu saja, yang menjadi penanggung jawabnya adalah Tian Xi. Dia memang paling bisa diandalkan soal itu.
Menjelang sore hari, sisa arang telah menyatu dengan abu. Acara telah selesai, hanya menyisakan sisa barang yang berantakan.
"Nah para ikan teri, bereskan sisa makan dan minum kalian! Cepat!"
Tian Xi mengomel kesal, enak saja mereka langsung pergi habis membuat kacau. Lao Zi di sebelahnya menyahut, "Sudahlah, biar aku dan yang lain yang bersihkan. Kali ini biarkan mereka istirahat lebih awal."
Huo Rong, Nan Ran, Jun Xiang dan Lao Zi mulai bergerak. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan besok. Tian Xi memberikan kabar yang baru diterimanya pada Xin Chen.
"Ketua, aku punya kabar baik untukmu."
"Apa?"
"Kekaisaran memberikan kita dana yang besar untuk membangun markas. Kita punya banyak dukungan dari beberapa klan."
"Huo Rong sudah menandatanganinya?"
"Nanti aku kerjakan." Huo Rong membuang napas lelah, Xin Chen tersenyum tipis.
"Lakukan pekerjaan dengan baik. Aku harus kembali ke Kota Fanlu untuk sementara waktu."
Lao Zi merespon, "Kapan kembali?"
"Secepatnya. Aku belum bisa menentukan."
"Oh iya, ketua kan juga sudah diangkat menjadi Pilar Bayangan. Pasti mulai sibuk."
Di antara mereka hanya Huo Rong yang kelihatan tak setuju, itu artinya masa kepemimpinannya harus ditambah lebih lama lagi. Xin Chen merangkul si rambut merah itu sambil menguatkannya. "Tenanglah, anak-anak sini pasti senang kau memimpin Empat Unit Pengintai. Jangan dijadikan beban."
Huo Rong mengerti maksud Xin Chen. Tapi menjadi ketua sementara sangat melelahkan baginya.
"Benar kata Tuan Muda. Aku juga senang bekerjasama denganmu. Kecuali kalau Shui yang memimpin, markas ini akan berubah menjadi toko kecantikan dibuatnya," tambah Lan Zhuxian, Jun Xiang menyelutuk. "Hahaha, disuruhnya kita berendam sampai menjadi duyung."
Shui mendengarnya sambil mendumel kesal.
Tawa terdengar dari anggota Unit Satu. Xin Chen berpamitan ketika Ye Long sudah kembali. Rubah Petir ikut bersamanya naik ke atas naga hitam itu. Mereka segera beranjak kembali ke Kota Fanlu. Selagi langit cerah tak ada hujan.
Ketika tengah malam datang, Ye Long mendarat di halaman belakang rumah. Rumah terlihat gelap, tapi Xin Chen melihat satu lilin masih menyala di teras. Tampaknya Ren Yuan sengaja menaruhnya.
Baru saja kakinya menapak di jalan setapak, Ren Yuan sudah keluar dari rumah untuk menyambutnya. Xin Fai muncul setelahnya, sedikit kaget ketika melihat Rubah Petir.
"Kawan lamaku, lama tak berjumpa!"
"Ini sudah tengah malam, Ayah. Pelankan suaramu-"
"Masuk, masuk! Aih, memang kebiasaan anakku ini. Pulang-pulang sudah bawa tamu ke rumah, tahu saja rumah ini sepi."
Xin Fai menyambut kedatangan Rubah Petir dengan suka cita meski wajah siluman itu tampak tak bersahabat sama sekali.
"Aduh!"
Rubah Petir baru saja melibasnya dengan ranting sama yang dia gunakan untuk memukul Xin Chen.
"Aku sudah mendengar tentang perang itu dari Xin Chen. Sepertinya dalang dari semua itu adalah kau. Aku harus menghukummu habis ini."
__ADS_1
"Eh, apa-?" Xin Fai bisa melihat betapa menyeramkan ranting kayu biasa itu.
"Ayah, sudah malam." Xin Chen menegur lagi, orang rumah sebelah terbangun dibuatnya.