Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 151 - Menuju Sentral


__ADS_3

Xin Chen merasa beruntung dia sempat mendapatkan peta, sehingga sekarang dirinya tahu harus pergi ke mana. Saat itu malam turun begitu cepat, perjalanannya harus dihentikan sementara. Tubuh roh tidak selamanya bisa dia gunakan di tempat ini, terlebih ketika sudah melihat kawanan terinfeksi di arah depan.


Xin Chen menemukan satu rumah, lampu di dalamnya menyala dan terlihat bayangan seseorang dari bilik jendela. Dia mengetuk di pintu depan, menunggu si pemilik keluar.


Betul saja, seorang laki-laki keluar dari rumahnya tapi tampangnya sama sekali tak bersahabat.


"Apa? Mau numpang makan? Pergi sana!"


Pintu dibanting kencang-kencang sebelum Xin Chen sempat mengutarakan maksudnya. Angin malam datang berhembus di belakangnya, Xin Chen memutuskan untuk tidur di atas sebuah batu.


Dia meninggalkan Lang di Perkemahan Tenggara. Entah itu adalah keputusan yang benar atau salah, dia pasti akan kembali setelah menyelesaikan semuanya. Tapi yang ditakutinya, serigala itu akan mengejarnya dan menghabisinya di tempat-


"Anak biadab!!"


Satu tendangan meluncur gesit menghantam tengkoraknya, Xin Chen terguling di tanah dengan rasa pening hebat menjalar di saraf otaknya. Saat matanya terbuka yang dapat dilihatnya adalah cahaya emas yang berkilat garang. Siapa lagi kalau bukan Lang, serigala itu sudah kehabisan kesabaran.


"Kita ke sini berdua! Kau meninggalkanku seperti sampah di belakang?! Seenaknya saja!"


Xin Chen terbaring. Sampai serigala itu kelelahan sendiri mengomel. "Terlalu berbahaya membawamu ... Kau tunggu saja aku kembali, aku akan membawa obat itu dan membawamu pulang ke Kekaisaran Shang."


"Kau kira besok semuanya selesai langsung, hah?" repetnya kian menjadi.


Xin Chen seakan-akan tak peduli.


"Hei, tungau!"


"Jangan memakiku dengan bahasa kutu!"


"Makanya katakan kenapa kau pergi begitu saja?!"


Xin Chen menghela napas berat sekali, semuanya bergejolak di dalam kepalanya tapi dia tetap tenang seperti biasa.


"Aku punya banyak hal yang harus dikerjakan. Membawamu hanya akan membuatmu terbebani."


"Kau pasti punya sesuatu yang kau sembunyikan. Muka polos-polos bangsat itu, sudah dari jaman ayahmu aku tahu. Grrrhh!"


Lantas ekor Lang menghantam mukanya, Xin Chen terbatuk-batuk. Dia kira dirinya akan mati betulan. Dalam posisi duduk, dia memasang wajah kesal.

__ADS_1


"Kau ini sampai mendapatkan jawabannya seperti masih akan terus mengganggu. Ini sudah malam, nanti dipeluk terinfeksi bisa ke akhirat bersama kita."


Lang masih menggerutu. Xin Chen terpaksa mengatakan yang sebenarnya meski berat.


"Aku berkhianat pada Pelindung Malam. Bekerja sama pada Fraksi Militer Pusat dan mencari kunci Laboratorium B-1."


Tak percaya, Lang sampai tak berkutik.


"Kita akhirnya keluar dari sana dan bisa pergi ke Sentral Pusat. Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa ikut keluar? Bukankah pintu dijaga ketat?"


"Saat kau pergi tadi, penjaganya mati ditembak. Sisanya aku tendang yang menghalang jalan pintu."


"Sampai penyet?" tanyanya.


"Sampai penyet." Lang membenarkan. Terbayang sudah bagaimana jadinya kaki Lang ketika menendang kepala manusia. Bukan pingsan, tapi langsung lewat.


"Tapi beruntungnya kita bisa melewati ini. Di dalam sana perang sedang terjadi. Setelah ini pasti lebih sulit untuk mendapatkan izin." Lang menggumam sekadarnya, melihat langit yang tampak begitu berdebu. Pucat. Awan hanya tipis menutupi, bulan tak terlihat sama sekali. Benar-benar langit yang berbeda dari Kekaisaran Shang.


"Mulai merindukan Kekaisaran Shang?" Xin Chen iseng bertanya, melihat wajah Lang tertekan sekali.


"Mulai merasa diperlakukan seperti kucing yang disuruh menjaga rumah."


"Serigala kecil yang begitu sensitif. Ahaha."


"Daripada satu lelaki mengkhawatirkan yang tidak mendapatkan rumah untuk menumpang. Cuih."


Entah apa yang terjadi sampai tawa di wajahnya pudar seketika, Xin Chen tak tahu bagian mana kalimat Lang yang menusuk tapi dia betul-betul tersinggung saat ini.


"Memang benar. Hobinya suka sekali menyakiti hati orang."


"Oh, sudah jadi anak kecil yang begitu sensitif?"


Lang membalikkan kalimatnya lagi, lalu tidur di rerumputan sambil tersenyum puas. Tak peduli dengan lawan bicaranya yang saat ini ingin sekali mencakar pohon.


Lang sudah tidur.


Xin Chen memastikan dengan memandang jauh, dari jarak tersebut seharusnya tak ada terinfeksi yang akan mendekat. Dia berbaring di atas batu. Berpikir besok akan menjadi hari melelahkan lainnya. Bayangan kematian masih terus mengintainya di Kekaisaran Wei.

__ADS_1


Setelah dipikir-pikir, selama di tempat ini dia kembali merasakan rasanya takut akan kematian.


"Lang," panggilnya pelan. Serigala itu tak menanggapi. Mungkin sudah tertidur.


"Apa obat untuk ibu ada di sana? Ini mungkin sudah hampir sebulan semenjak kita berangkat dan kita bahkan belum sampai ke Sentral Pusat. Ditambah lagi untuk meracik obat itu mungkin membutuhkan waktu lama ..."


Dia mulai menggumam sendirian.


"Yu benar. Sekarang semuanya adalah tentang kemungkinan kecil."


Kotak itu lagi. Xin Chen harus menghentikan Qin Yujin. Sebelum Kekaisaran Shang mendapatkan kesengsaraan akibat perbuatan busuknya. Tapi ketika membayangkan dirinya berada di sebuah tempat seperti Laboratorium B-1, sendirian dan ketakutan. Sementara tubuhnya tak mau merespon seperti yang diinginkannya.


Xin Chen takut jika Ayahnya tahu bahwa dirinya yang sekarang semakin hancur. Menjadi bagian dari terinfeksi yang bisa kapan saja melukai orang-orang. Penyesalan selalu datang saat dirinya terdiam. Xin Chen tak sanggup lagi memikirkan semua hal itu, memilih mengeluarkan seruling dan memainkannya.


"Arghhh!"


Lang memelototkan matanya, merasa tercekik di bagian leher. Bangun-bangun serigala itu dikagetkan oleh sesuatu yang mengejutkannya. Xin Chen berperilaku aneh, taring di kedua giginya muncul dan dia tengah mencekik Lang. Hendak membunuhnya. Mata biru itu berkilat berang.


Lang sampai tak bisa bergerak di tempatnya.


"Menyingkir ... Lang, lari ...!"


Xin Chen berusaha mengendalikan diri dan selalu gagal, Lang berhasil lepas. Dia menjauh mencari jarak aman dan mulai mempelajari situasi. Sepertinya saat terakhir kali diserang Terinfeksi Tipe A, virus itu masih bersemayam di dalam tubuh Xin Chen.


"Chen ... Apa yang terjadi padamu?"


Tak ada jawaban darinya. Masih terus menahan tangannya yang gemetar. Urat-urat di lehernya terlihat, dia seperti akan berubah. Lang menggeleng. Tidka mungkin, dia datang ke sini dengan membawa putra sahabatnya dan sekarang pemuda itu telah terlepas dari pengawasannya.


"Bagaimana bisa aku membawamu pulang dengan keadaanmu seperti ini?"


Lang mulai membayangkan apa yang akan dikatakan Xin Fai.


"Tidak ada pilihan lain. Tidurlah sebentar."


Dia menyerang Xin Chen tepat di leher, hingga pemuda itu pingsan. Barulah Lang membawanya pergi ke tempat lain. Serigala itu berjalan menghindari manusia, karena sadar dirinya hanya akan dikejar-kejar oleh mereka.


Langkahnya yang kencang membawa mereka ke sebuah deretan perumahan dengan kebun dan peternakan sapi. Tak ada satu pun manusia di sana, hanya ada sisa-sisa bangkai dari kehidupan yang pernah ada. Lang mengambil air, menyiramnya ke wajah Xin Chen yang begitu pucat.

__ADS_1


"Kau mungkin belum makan. Bangunlah, setelah itu aku akan mencari cara untuk mengatasi perilaku anehmu itu."


__ADS_2