
Xin Fai masih diam di tempatnya meski pertarungan di sekitar mulai terjadi dan dentuman demi dentuman mulai memanasi situasi sekitar. Dia tak boleh lengah dari Gajah Abu-abu. Perihal mencuri pandangan ke belakang kurang dari satu detik saja lawannya itu bisa langsung menyerang. Kapak Tulang di tangan Gajah Abu-abu mulai mengeluarkan suara, lelaki di balik topeng Gajah mencengkeram erat.
Dia menunduk, menarik kembali kapaknya yang menghantam lengan Xin Fai yang dilindungi besi armor. Bahkan tanpa pelindung besi itu pun, Kapak Tulangnya tak akan mudah membuyarkan pertahanan sang Pedang Iblis.
Selagi menunduk samar dan pelan terdengar kikikan dari mulutnya, tawa yang semula kecil mulai menggelar. Dia sampai mengangkat kedua tangannya, tertawa tiada habisnya.
"Ketua memang sangat tahu aku benci menghadapi keroco-keroco dan memberikan ku kesempatan untuk melawanmu!"
"Kalian sudah mengetahui kami akan datang ke sini?"
Gajah membawa kapak tulangnya ke atas bahu, berkacak pinggang. "Tak perlu mata-mata, dengan pemikiran tajam ketua dia mampu membaca sesuatu yang akan terjadi di masa depan dan menyusun rencana sebaik mungkin. Anakmu sangat tak beruntung harus menghadapi orang sepertinya."
"Apa maksudmu orang sepertinya?"
Sang Gajah tampak sombong dan angkuh, "Kau belum tahu? Serigala Merah mungkin masih sepantaran dengan anakmu. Namun dia dianugerahi oleh kekuatan yang benar-benar sebuah berkat, dia adalah si Anak Spesial. Sehebat apa pun anakmu, dia tak akan mampu menandingi Ketua."
Xin Fai menurunkan alisnya, masih bertanya-tanya tentang maksud Anak Spesial yang dimaksud sang Gajah.
"Kekuatan Spesial seperti apa?"
"Tidak salah seorang Pedang Iblis menanyakan langsung Kekuatan musuhnya dengan musuhnya sendiri?"
Tawa itu semakin menjadi, Xin Fai tetap tenang. Dia lebih mementingkan keadaan Xin Chen saat ini.
"Ah, walaupun kau tahu pun kau tak akan mampu mengalahkan Sang Serigala Merah. Dia memiliki kemampuan ..."
Gajah menjatuhkan kapak Tulang di atas tanah, mulai terlihat serius untuk bertarung dan tak ingin membuang waktu terlalu lama setelah melihat Rubah Hijau mampu menjatuhkan lawannya dalam waktu cepat.
"Melihat masa depan."
"Apa? Mana mungkin kekuatan seperti ada-"
Tapi sebelum menyelesaikan kalimatnya Xin Fai kembali terbungkam saat pikirannya mulai menangkap satu informasi yang menjurus ke kekuatan tersebut dan secara tidak langsung membenarkan apa yang dikatakan Gajah Abu-abu.
Klan Wan. Xin Fai pernah mendengarnya dalam buku catatan kriminal terbesar di seluruh benua. Klan itu terkenal karena memiliki gaya bertarung yang begitu gesit, lincah serta cerdik. Namun di balik kehebatan itu ada satu kekuatan yang baru terungkap usai pembantaian terbesar terjadi di Kekaisaran Wei ratusan tahun silam.
Klan Wan ternyata memiliki kekuatan turun-temurun yang diwariskan dengan kekuatan mata, sama seperti Klan Dou dengan Mata Pembunuh. Maka Mata dengan kemampuan spesial ini juga dirahasiakan keberadaannya dan sering kali dianggap sebagai 'senjata' bagi Kekaisaran.
__ADS_1
Adanya ketimpangan antara klan biasa dan Klan Wan membuat kerusuhan hingga berakhir dengan pembunuhan hidup-hidup laki-laki, wanita dan anak-anak yang mewarisi darah Klan Wan.
Namun di antara semua yang telah mati, ada satu anak yang selamat saat api besar menyala dan membakar puluhan anggota Klan Wan.
"Dan dia adalah sosok yang berdiri di depan anakmu sekarang."
Xin Fai ingin sekali menghadapi Serigala Merah saat itu juga, dia merasa anaknya dalam bahaya besar. Satu-satunya anak yang dikatakan selamat dari pembakaran massal klan Wan adalah Wan Xuiyang. Sosok paling mengerikan yang sempat menggemparkan Kekaisaran Qing dengan terbunuhnya Sepuluh Dewan inti.
Bukan hanya menyikat orang-orang dengan nama besar, tercatat dalam buku kriminal Wan Xuiyang juga menghabisi 18 klan yang berjumlah nyaris menyentuh angka 500 orang, seorang petinggi Kekaisaran Qing dan membantai lima desa di umurnya yang mungkin hanya 18 tahun atau lebih.
Dendam yang membakar dadanya atas kematian seluruh klannya membuat dia gelap dan berpikir seperti binatang. Tak kenal ampun, dia menculik banyak kepala klan Kekaisaran Wei saat itu dan meminta uang tebusan.
Namun saat uang tebusan telah dikirimkan, orang-orang hanya mendapatkan kepala yang terpenggal dikembalikan olehnya.
Cerita tentangnya mungkin hanya didengar oleh segelintir orang karena terlalu mengerikan. Bahkan Kekaisaran Wei berusaha menutup-nutupi soalnya dan membunuh siapa pun yang mengusik tentang Klan Wan.
Tak heran mengapa Wan Xuiyang bergabung dalam Serigala Malam. Dia menginginkan kehancuran untuk orang-orang yang telah membuatnya kehilangan seluruh klannya.
Satu hal yang masih menjadi misteri hingga saat ini.
"Kau khawatir? Sudah terlambat."
Xin Fai menapakkan kaki, berniat mengejar Xin Chen yang mengikuti perginya Serigala Merah dari markas. Namun Gajah Abu-abu mencegalnya dan langsung melayangkan serangan kapak. Xin Fai mengelabuinya dengan gerakan memutar, tapi tampaknya gajah itu juga memiliki kapasitas otak yang besar. Dia justru menangkap tangan kiri Xin Fai.
Kini keduanya saling mematung.
Tangan kanan Xin Fai yang memegang pedang tajam berada tepat di kulit Gajah Abu-abu. Dan Kapak Tulang Gajah Abu-abu terangkat di atas pundak Xin Fai. Siap jatuh menimpa tubuhnya kapan saja.
"Kau mau mengajariku arti kematian atau berlari ketakutan karena takut anakmu yang mati?"
Sinis terpampang di wajah musuh.
"Kau takut saat pulang nanti istrimu bertanya 'di mana anak kita' sementara kau sebagai ayahnya tak dapat melindunginya? "
Panas juga akhirnya telinga Xin Fai, dia belum bisa bergerak sembarangan. Menyelamatkan Xin Chen tampaknya sama sekali tak memungkinkan sekarang.
"Tenang saja, aku akan membantumu. Kau tak perlu pulang, mati saja di sini bersama anakmu!" Kapak Tulang melayang begitu cepat hendak menghantam tulang leher Xin Fai.
__ADS_1
*
"Kabut Putih."
Singa Hitam berjalan menyusuri lorong-lorong markas. Mereka sudah cukup jauh dari tempat di mana semua orang bertarung, lelaki tua dari Kuil Teratai itu berhasil menguji kesabarannya.
Singa mengharapkan pertarungan yang membuat gejolak di dadanya pecah.
Sialnya sekarang dia malah bermain petak umpet dengan laki-laki tua.
"Tidak menemukan ku juga? Hahaha. Apakah aku perlu menghitung, biar lebih menghayati permainan masa kecil ini?"
"Satu ..." Tao Gui Xiang menghitung, membuat Singa Hitam memanas. Serasa penghinaan yang paling menyakitkan. Dia mengutuk mengapa dari sekian banyak lawan harus dihadapkan dengan laki-laki tua yang masa kecilnya kurang bahagia.
"Dua..."
Kabut Putih semakin tebal setiap detiknya, Singa Hitam mengepalkan tangannya yang dilindungi oleh besi tajam berbentuk cakar besar. Tak tahan dipermainkan oleh Tao Gui Xiang
"Ti...."
Singa Hitam menyadari angin menerbangkan kabut putih ini dari satu sisi, dia segera menangkis. Seketika kabut putih terpecah.
Singa Hitam tak pernah menyangka kakek tua itu menyerangnya dengan tendangan kaki. Tinju mentah melayang di rahangnya, lelaki itu belum selesai menyerang. Kali ini dengan kekuatan asli yang diturunkan di Kuil Teratai dia merapalkan sesuatu.
"Kitab Teratai Biru - Telapak Pengunci."
Kedua tangannya bergerak, lalu telapak tangannya berada tepat di balik punggung Singa Hitam.
Sesaat Tao Gui Xiang yakin Singa Hitam tak bisa ke mana-mana laki, jurus itu mengunci pergerakannya seratus persen tanpa terkecuali.
Namun itu salah, dia bahkan lupa Singa Hitam juga cepat sepertinya dan dalam sekali berkedip saja Singa Hitam telah menghilang.
Cakar tajam telah berada di balik punggung Tao Gui Xiang, padahal jelas-jelas tadi dia ada di depan Tao Gui Xiang dan keadaan berbalik begitu cepatnya. Guru Besar Kuil Teratai mulai menyadari bahwa Singa Hitam tak seperti yang dibayangkannya, peringatan Kaisar Qin akan begitu hebatnya enam pendiri ini tanpa terkecuali memang masuk akal.
Mereka lebih kuat dari yang Tao Gui Xiang bayangkan.
"Mati kau."
__ADS_1