
Di lain tempat perang pecah dengan semakin ganasnya. Tak terhitung berapa nyawa telah melayang hanya dalam kurun waktu beberapa hari. Tidak ada kata mundur. Berganti waktu, langit mulai menunjukkan corak-corak merah. Sinar matahari mengeluarkan warna yang sedikit merah, tak beda dengan tanah yang tengah dipijaki ratusan ribu manusia di bawahnya.
Sementara itu, pertarungan yang paling mengerikan telah berlangsung setengah hari lebih. Menghancurkan apa pun yang mengenai dua orang tersebut.
Lebih gilanya, tak satu pun dari mereka kehabisan tenaga meskipun telah bertarung habis-habisan.
Li Baixuan mengejar Xin Chen ke bawah. Melepaskan kekuatan dari tangannya hingga membentuk kekuatan dahsyat yang seketika membuat lubang besar di tanah. Saat tubuhnya terjatuh ke permukaan tanah, satu hantaman susulan membuat tanah bergetar hebat.
Terjadi diam dalam sejenak. Tak satu pun dari prajurit yang berada di sekitarnya berani berkedip. Hingga akhirnya tinju Li Baixuan kembali terkepal, menghantam sesuatu yang menjadi targetnya. Lubang tanah di mana Li Baixuan berada semakin dalam.
Debu tebal bertebaran, melayang tak tentu arah mengikuti angin yang ditimbulkan. Kepulan debu tersebut mendadak berpencar ketika tinju Li Baixuan beradu dengan tinju lawannya.
Lantas laki-laki itu terpental. Meski dia tak mendapatkan luka sama sekali dan hanya bermaksud mengulur waktu untuk mengembalikan kekuatannya yang telah terkuras banyak.
__ADS_1
"Sepertinya aku terlalu berlebihan menganggapmu kuat." Dia memasang senyum licik dan nada bicara mengejek. "Kau tidak ada apa-apanya jika tanpa kekuatan Roh itu."
Xin Chen tak menjawab apa pun. Pikirannya kacau dibuat Roh Dewa Perang yang sibuk mengoceh dan berulang kali berusaha keluar. Kebencian Roh Dewa Perang terhadap Li Baixuan membawa hawa negatif yang begitu besar dalam diri Xin Chen.
Li Baixuan sedikit heran awalnya, aura hitam di sekitar Xin Chen semakin pekat. Tapi rasanya itu bukanlah hal berbahaya baginya karena jika dilihat-lihat, lawannya mati-matian menahan kekuatan besar tersebut.
"Kau terganggu dengan kekuatan ini? Atau ... Ketakutan itu yang justru membuatmu terganggu?"
"Tunjukkan padaku apa yang kau punya!" Lagi dan lagi, Li Baixuan memamerkan kekuatan besarnya yang seolah tak ada habisnya.
"Jika itu maumu ..."
Xin Chen mengepalkan tangan kirinya sehingga lenyap semua kekuatan hitam di dalam tubuhnya. Kakinya kembali menapak ke tanah dengan posisi tangan memegang pedang.
__ADS_1
"Huh? Kau memakai wujud manusiamu?" Li Baixuan semakin tertarik, kumisnya naik antusias. Dia tak menyembunyikan sedikitpun rasa senangnya. Dia melanjutkan. "Bukankah dengan begitu, apa pun kerusakan yang kau dapat dari tubuh manusiamu akan berpengaruh langsung terhadap tubuh rohmu?"
"Lakukan jika kau sanggup."
Li Baixuan membelalak perlahan. Seumur hidupnya, dia tak pernah melihat sosok pengguna roh yang memegang pedang dengan cara yang sama layaknya pendekar sesungguhnya. Kuda-kuda itu, telah menjelaskan banyak hal bahwa Xin Chen bukan sosok yang bisa diremehkan dalam ilmu berpedang.
Mendadak laki-laki itu mendecih lalu tertawa puas. "Inilah yang sangat kunantikan. Duel sebagai seorang petarung sejati. Aku benci dengan kekuatan roh itu. Jujur saja."
Laki-laki itu mulai memasang kuda-kudanya, dengan sebelah tangan memegang pedang. "Tapi apakah kau sanggup bertarung melawan seseorang yang telah menguasai ilmu berpedang jauh lebih lama darimu?"
"Biarkan pedang ini menjawabnya."
Tak lama Li Baixuan mulai memahami bahwa tak seharusnya dia mengharapkan pertarungan biasa dengan Xin Chen.
__ADS_1